
Duta sudah mencari-cari rumah yang ada di Jakarta. Ia menolak menempati rumah dinas. Istrinya ingin mereka menempati rumah mereka sendiri. Karena menurut istrinya, jabatan itu hanya sementara, jadi lebih baik tinggal di rumah sendiri.
Duta berhasil mendapatkan rumah dengan harga masih normal. Yang ia pentingkan adalah fasilitas dari rumah itu. Ada 8 kamar, 4 kamar di lantai 2 dan 4 kamar di lantai 1. Kamar mandi 3 buah, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, ruang makan, ruang sholat, dan pantry.
Setelah dilakukan sedikit renovasi pada bagian cat tembok dan pencahayaan, rumah itu siap untuk ditempati.
Duta menggelar acara syukuran karena dirinya terpilih menjadi menteri dan akan pindahan memboyong anak dan istrinya. Laras juga sudah mengajukan surat resign.
Acara digelar di kediaman Duta dengan penuh khidmat. Trio mobat mabit yang biasanya bisa mencairkan suasana kali ini ikut terbawa suasana haru.
Mamah Aini, Umi, dan Abi, bahagia sekaligus sedih. A squad yang belum sepenuhnya mengerti menangis melihat keharuan yang terjadi.
"Kok pada nangis begini siih?" Duta mencoba menenangkan semuanya. "Kita sedih karena pisah sama A squad. Huhuhu. Kenapa gak kalian saja sih yang pindah, biar A squad disini sama kami?" ucap mamah Aini.
Laras menenangkan mamah mertuanya. "Ya gak bisa dong mamah sayang. Mereka adalah tanggung jawab kami. Mereka amanah dari Allah untuk kami. Masa mamah yang mau merawatnya?"
"Ya kenapa gak Duta saja yang pindah?" tante Meli ikut-ikutan melow.
"Tante, prioritas Laras adalah suami dan anak-anak Laras. Laras gak bisa membiarkan abang disana sendirian. Sudah ah, jangan pada sedih. Kan nanti kalau ada libur kami bisa pulang kesini"
"Liburnya saja belum tahu kapan" kata Umi. Duta tersenyum "Umii, nanti kalau umi kangen sama mereka telpon Duta, biar nanti dijemput. Bisa kan? Oh, ayolaaah, jangan memberatkan langkah kami"
"Berjanjilah untuk selalu menengok kami" ucap Abi. Duta memeluk mertuanya. "Pasti Bi, kalau Duta tak bisa pulang, nanti Laras dan A squad akan pulang. Duta akan menyusul belakangan"
Mereka menyeka air mata haru itu. Bayu mengambil gitar yang berada di ruang tamu. Ia mulai memetik gitar itu. Wisnu dan Candra mulai mencairkan suasana.
"Satu tembang untuk kalian semua, Kemesraan"
Suatu hari
Dikala kita duduk ditepi pantai
Dan memandang
Ombak dilautan yang kian menepi
Burung camar
Terbang bermain diderunya air
Suara alam ini
Hangatkan jiwa kita
Sementara
__ADS_1
Sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu
Mengalunkan melodi tentang cinta
Ada hati
Membara erat bersatu
Getar seluruh jiwa
Tercurah saat itu
Kemesraan ini
Janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini
Ingin kukenang selalu
Hatiku damai
Hatiku damai
Jiwaku tentram bersamamu
Semua terharu dan terhanyut dalam alunan lagu itu. Mereka manyanyikannya bersama-sama. "Kamu memang bobrok, tapi kamu memang kawan sejatiku. Tak oernah berubah. Selalu menjadi pria rendah hati. Pertahankan itu sobat. Aku selalu mendukung dan mendoakan kalian. Semoga kamu bisa mengemban amanah yang baru" ucap Bayu sambil berkaca-kaca.
Duta dan Laras tersenyum. "Ojo nangis to Bay, Huhu, aku malah melu-melu mewek ki lhooo (Jangan nangis dong Bay, huhu, aku malah ikut-ikutan mewek ini lhooo). Dut, Ras, selamat pindab kota. Jangan lupa sama kami. Doa kami selalu mengiringi kalian. Ojo lali, utangmu sing hidroponik durung lunas, ijeh kurang 1,5 juta (Jangan lupa, hutangmu yang hidpronik belum lunas, masih kurang 1,5 juta)" kata Wisnu.
Mereka tertawa mendengarnya. "Masih saja ingat, iyo, nanti aku bayar. Terima kasih semuanya, terima kasih atas rada sayang dan rasa saling memiliki diantara kita. Jawil aku kalau sampai lupa. Tegur aku jika dampai tak ingat. Kita mulai dari nol sampai sekarang. Insyaallah aku tak akan lupa akan hal itu kawan" sahut Duta.
Candra berpikir sejenak. "Kita mulai dari nol ya? Macam petugas pom bensin saja. Hahaha, nanti kalau kamu lupa bukan tak jawil ataupun tak tegur Dut, tak jewer tak cemplungke di empang lelemu. Biar kena patil sama lele-lelemu itu"
Mereka kembali tertawa. Farid bertanya tentang keberangkatan Duta dan Laras. "Besok berangkat jam berapa pak?"
"Karena bawa mobil sendiri jadi saya berangkat pagi bang. Jadi malam sudah bisa istirahat di rumah. Jam 6an lah. Sebagian barang juga sudah kami pindahkan kesana. ART kami juga sudah disana. Nanti kalau ada waktu main-main lah kesana"
Farid mengangguk. "Insyaallah pak"
Mereka kembali diam dalam keheningan. "Dut, maaf ya besok aku gak bisa mengantarkanmu. Aku juga besok harus ke Pati. Ngurus sana sini" kata Ari
Duta mengangguk. "Gak papa mas, salam untuk mertuanya mas Ari. Semoga lekas sembuh" Ari mengamini ucapan Duta.
__ADS_1
.
Pagi hari, Farid dan keluarganya, orang tua Ais, Abi, Umi, keluarga besar dari mamah Duta, Rena, Arjun, keluarga trio mobat mabit, Rama dan para pengawalnya sudah berada di rumah Duta.
Mereka mengantarkan Duta yang akan pindah. Rebana sudaj disiapkan untuk menyenandungkan sholawat. Duta dan Laras sampai terharu menyaksikannya.
Laras memeluk satu per satu perempuan yanh ada disana. Menitikkan air mata. Duta juga menyalami dan memeluk para sahabat dan orang terdekatnya itu. Para pemain rebana sudah menyenandungkan sholawat.
"Tholaal badrun alaina......" lantunan sholawat mengiringi mereka keluar dari rumah itu hingga masuk mobil. A squad digendong satu per satu oleh kakek neneknya. Mereka enggan berpisah dengan cucunya. Berat rasanya.
Duta dan Laras melambaikan tangan kepada mereka semua, mobil melaju meninggalkan rumah. "Hati-hati di jalaaaan. Pulang jika rinduuu dengan kamiiiii" ucap Candra menambah suasana makin haru.
Mobil sudah tak tampak lagi. Para sahabat berpamitan satu per satu untuk meninggalkan kediaman Duta. Mamah Aini mengitari rumah itu. Banyak kenangan yang terjadi disana. Mulai dari pertengkaran, kebahagiaan, hingga kelucuan. "Hhhmm, belum ada satu jam, mamah sudah rindu dengan mereka. Semoga kalian selalu dicurahi kebahagiaan. Dijauhkan dari godaan rumah tangga"
"Insyaallah mereka akan selalu dilimpahi kebahagiaan mbak" kata tante Rum. "Ayo pulang"
"Sepi Rum" kata mamah Aini dengan nada sedih. Nina tersenyum. "Ada Yohan budhee. Nanti Nina buatkan lagi yang banyak. Hahahaha"
"Hahahah, mbok kira lagi buat kue atau apa?" sahut tante Meli. Nina hanya tertawa.
.
Duta mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. A squad sudah mulai mengantuk, kecuali Adel. "Mah, nanti sekolahnya ikut pindah semua?"
Laras menoleh dan mengangguk. "Iya sayang. Nanti sekolahnya pindah disana"
"Terus nanti kalau kangen eyang mbah uti sama mbah kakung gimana?"
"Ya pulang kesana sayaaang. Kita naik pesawat. Adel belum pernah kan naik pesawat?" kata Duta. Adel menggeleng. "Nanti kita pulang naik pesawat. Oke?" Adel mengangguk.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
1 ep lagi tamat yeahhh
__ADS_1