
Penampilan mamah Arjun menjadi bahan gibahan bagi trio mobat mabit.
"Lil, lihat itu. Dia siapa ya? Lihat juga wanita itu. Alamaaaak, gelang bisa sampai banyak begitu. Kalung sampai dobel 3, cincin sampai banyak begitu. Gak takut apa?" tanya Ririn istri Bayu kepada Lila istri Candra.
Lila menyenggol Kayla istri Wisnu dan memperhatikan mamah nya Arjun.
"Itu toko mas berjalan. Coba sana tanya harga mas berapa?" kata Kayla. Membuat Lila dan Ririn tertawa.
"Coba lah tanyakan" ucap Ririn.
Kalau sama trio mobat mabit jangan main tantang menantang. Pasti dilakuin. Hadehhh.
Kayla mendekati mamah Arjun dan berbisik. "Misi bu, ini gelang cincin sama kalungnya banyak banget. Satu toko diborong semua ya?"
Lila dan Ririn yang dibelakangnya cekikikan dengan pertanyaan Kayla. Mamah Arjun hanya tersenyum menanggapinya.
"Sekarang harga emas berapa bu? Saya sih pengen juga kayak ibu begitu. Serasa toko mas punya kaki gituuu"
"Terus situ mau beli kalau saya kasih tahu harganya berapa? Emang situ mampu?" balas mamah Arjun kesal.
"Sombong amat! Nih ya bu, cincin yang saya pakai ini berlian asli. Kalau dibanding sama perhiasan yang ibu pakai tuh ya gak seberapa. Masih mahal ini bu" ucap Kayla tak kalah pedas. Lalu kembali ke tempatnya
Ririn dan Lila berbisik ke Kayla. "Emang cincin kamu beneran berlian Kay? Kaya amat mas Wisnu?"
"Ya gak lah, orang aku pinjem punya mamah. Hahahah. Orang sombong perlu disombongin balik" ucap Kayla enteng membuat mereka tertawa cekikikan.
Laras semakin kesal dengan sikap Arjun. Kenapa dia nekat sekali untuk melamarnya. Sudah jelas dia menolaknya 2 kali.
"Kak, gimana nih?" tanya Laras kepada Ais yang sudah memasang wajah sendu.
"Gak tahu lah Ras"
"Kok kakak jadi sedih begini siiih. Tenang saja sih kak, Laras tetap sama bang Duta. Tapi apa nantinya orang tua Arjun tidak akan malu? Yang jadi kekhawatiran Laras adalah itu" terang Laras.
Ais hanya diam tak menanggapi. Umi menyuruh Laras dan Ais keluar menyambut tamu yang datang. Laras dan Ais pun keluar.
__ADS_1
Tamu yang ada disana terhipnotis dengan penampilan Laras. Sungguh cantik nan anggun. Berbeda dengan Farid yang mencuri pandang ke Ais. Dia melihat raut kesedihan pada wajah Ais.
Dia kenapa? Masa Mbak Laras mau dilamar dia sedih sih? Batin Farid dalam hati.
Papah Arjun diberi kesempatan terlebih dahulu untuk mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke rumah Laras. Duta dan rombongan hanya mendengarkan tanpa berkomentar.
"Assalamualaikum semuanya, perkenalkan nama saya Priyadi, ini istri saya Fauziah, dan ini anak kami satu-satunya Arjun Priyadi.
Maksud kedatangan kami kesini adalah ingin melamar putri bapak untuk anak kami ini. Tapi sepertinya yang menginginkan anak bapak bukan hanya anak saya, tapi ada keluarga pak Bupati juga yang datang. Sekiranya niatan kami bisa terbalaskan dengan jawaban dari putri bapak"
Abi Laras menjawab niatan dari keluarga Arjun. "Waalaikum salam, pak Priyadi dan keluarga. Pertama saya sangat berterima kasih bapak dan keluarga sudah mau bersilaturahmi datang ke rumah kami. Haduh, gimana ya saya jawabnya.
Kedua, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Karena sebenarnya anak kami ini sudah kami ta'arufkan dengan Duta, yang tak lain adalah bupati kita. Tapi biar anak saya saja yang menjawab niatan keluarga bapak. Laras, hari ini ada 2 keluarga yang datang dan hendak memintamu untuk dijadikan istri. Tolong berikan jawaban terlebih dahulu kepada keluarga pak Priyadi" Laras menoleh ke Laras dan mendapatkan anggukan dari Laras.
Duta hanya memperhatikan dalam diam. Dia sangat yakin bahwa Laras akan menerima lamarannya. Jadi tidak ada yang perlu dicemaskan.
Bahkan saat kamu sudah menjawab istikharohmu kepada ku, aku masih harus berjuang mendapatkanmu. Meski aku sangat yakin kamu pasti memilihku. Kamu memang perempuan istimewa Ay. Batin Duta sambil melirik ke arah Laras.
"Dut, gimana kalau Laras milih orang itu?" tanya mamah Aini cemas sambil berbisik ke telinga Duta
Agus menenangkan mamahnya. "Jangan cemas mah"
"Assalamualaikum semuanya. Saya Ayu Larasati. Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga Arjun sudah bersilaturahmi ke rumah orang tua saya. Yang kedua, mohon maaf sekali. Saya tidak bisa menerima lamaran dari anak bapak, karena saya sungguh tidak mencintainya. Saya hanya menganggap Arjun hanya sebatas teman dalam satu pekerjaan. Tidak lebih. Sekali lagi saya mohon maaf"
"Cinta bisa tumbuh kapan saja nak" jawab Mamah Arjun seakan tahu keinginan anaknya.
"Tapi cinta saya bukan untuk Arjun bu, cinta saya untuk orang lain" sahut Laras dengan cepat. Heran dia dengan Arjun, harus pakai bahasa apa dia bilang dia tidak mencintainya.
"Dasar bupati sok ganteng! Ini semua salahmu! Kau merusak segalanya. Aku dulu yang mencintainya, kenapa harus kau yang mendapatkannya?" Arjun sudah hilang akal. Dia malah menyalahkan orang lain atas keegoisannya sendiri.
Duta yang dari tadi diam seperti tersulut api. "Maaf, merusak? merusak apa ya? Saya tidak pernah merusak apapun. Sekarang saya tanya kepada anda, siapa yang merusak moment saya ini? Saya atau anda? Setahu saya, saat saya dita'arufkan dengan Laras, dia tidak sedang dekat dengan pria manapun. Benar kan Ay?" Duta buka suara dan bertanya kepada Laras. Laras mengangguk mantap.
"See? Siapa yang harusnya dianggap perusak saat ini? Tolong kalau mau bicara dipikirkan dahulu. Kalau dulu Laras sudah ada yang mendekati saya akan dengan senang hati mundur" imbuh Duta menggebu-gebu.
Abi menengahi perdebatan antara Arjun dan Duta.
__ADS_1
"Ehm, maaf menyela. Bagaimana jika anak bapak dijodohkan dengan Aisyah, teman Laras yang sudah kami anggap anak sendiri?" tanya Abi.
Pak Priyadi menoleh ke Arjun. Arjun menggeleng. "Arjun hanya menganggap Ais teman pah, tidak lebih. Arjun hanya ingin Laras yang menjadi istri ku!"
"Nah, itu kamu tahu kan? Perasaan tidak bisa dipaksakan. Padahal kak Ais...." perkataan Laras terpotong karena tangannya dicengkeram oleh Ais.
Ais memberi kode kepada Laras agar tidak kelepasan bicara.
Papah Arjun tahu jika anaknya tidak diharapkan. Lalu dia mohon pamit pada keluarga Laras.
"Baiklah pak, kami mohon maaf jika kami mengganggu acara yang saat ini tengah berlangsung. Saya juga mohon maaf atas sikap anak saya. Kami mohon pamit, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh" Pak Priyadi sudah terlebih dulu berdiri disusul istri dan anaknya.
Dihalaman rumah Laras.
"Kamu ini bikin malu saja! Kayak gak ada perempuan lain yang mau nerima kamu!" Hardik papah Arjun.
"Papah, yang salah tuh si perempuan itu. Anak begini gantengnya, keluarga kita serba ada, masih ditolak. Nyesel dia nanti! Nanti mamah carikan anak teman mamah ya sayang, jangan sedih"
Arjun hanya diam. Dia tidak bisa menerima penolakan yang dilakukan oleh Laras.
.
.
.
Like
Komen
Vote
Tip
Usaha boleh, tapi maksa jangan. Semua sudah ada takarannya masing-masing. Yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurut Allah. Belajar dari si dokter Arjun ya gaes. 😘😘😘
__ADS_1