Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Rindu dan Tespack


__ADS_3

Arjun yang sedang ditahan di polres membuat jadwal dokter jaga menjadi kacau. Duta dan yang lain hanya bisa pasrah dengan keputusan Laras. Arjun setuju untuk menandatangani perjanjian itu. Perjanjian yang sudah dibubuhi tanda tangan di atas materai itu disimpan oleh Laras.


"Ingat ya Arjun, saya tidak main-main dengan surat perjanjian ini. Jika kamu melanggarnya, siap-siap saja kamu masuk bui. Kehilangan profesi kamu saat ini" tegas Laras terhadap Arjun.


Arjun hanya bisa pasrah dan membuang muka kepada semuanya yang ada disana. Setelah selesai, polisi membebaskan Arjun. Bukannya berterima kasih dia hanya cuek seakan tidak ada kesalahan yang dia lakukan.


"Wooo, dasar orang sombong. Sudah dibebaskan juga! Terima kasih kek!" ucap Ais marah.


"Tuh kan, apa abang bilang, dia itu tidak tahu terima kasih"


"Sudah lah sayang, biarkan saja dia. Laras yakin dia gak akan berani macam-macam. Dia itu bergantung sama profesinya. Karena dia tidak mau berkutat dengan tumpukan dokumen"


"Kok kamu tahu sih?" tanya Duta curiga.


Laras melirik kepada Ais. "Ehm, ada apa bu? Takut aku ditatap begitu"


Membuat Farid memicingkan matanya dengan tangan bersidekap. "Ooo, dulu mereka teman curhat ya bu? Sampai tahu alasan yang mendetail begini. Makasih ya bu infonya. Kenapa tiba-tiba jadi panas ya? Haduuh" ucap Farid sambil mengipas-kipaskan tangan ke wajahnya.


"Gak kok, cuma temen, bukan temen curhat" elak Ais.


"Halah, ngapusi (halah bohong)"


"Wes, kalau mau debat nanti saja. Ayo pulang. Sudah malam" ucap Duta


.


Hari berlalu dengan sibuknya. Laras 2 hari tak bertemu dengan Duta karena suaminya sedang menerima penghargaan. Dia memilih ke rumah Abi dan menginap hingga suaminya pulang. Dia malas jika harus ke rumah mamah Aini, karena ada Dirga disana. Meskipun Dirga sudah tak memiliki perasaan apapun tapi tetap saja. Laras tetap harus menjaga jarak dengannya.


Rasa rindu begitu menggebu di hati Laras. Hanya 3 hari, tetapi baginya itu terasa seperti 1 minggu baginya. Duta sengaja tidak memberitahukan kepulangannya. Dia juga sengaja menonaktifkan ponselnya membuat Laras kelimpungan, galau, dan tidak fokus.


"Kamu kemana sih bang? Kok ponselnya gak bisa dihubungi. Bikin khawatir saja deh kamu" ucap Laras sambil menatap foto mereka saat honeymoon dulu.


Begitupun dengan Ais. Dia merindukan sang calon imam. Farid menemani Duta ke Jakarta selama 3 hari. Memang benar kata pepatah, jika berjauhan maka rasa rindu itu semakin besar. Dia mencoba fokus tapi tetap tak bisa.


Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Waktunya untuk pulang. Laras dan Ais menuju parkiran. Mereka menuju mobil masing-masing. Ais yang terlebih dulu masuk mobil lalu diikuti seorang laki-laki jangkung yang masuk mobilnya. Ais sampai kaget.


"Maaaaaas, kangeeeeen" katanya sambil ingin memeluk Farid.

__ADS_1


"Hahahaha. Kangen ya? Maaf ya, mas gak ngabarin kamu" Farid memegang tangan Ais dan mengecupnya.


Laras pun kaget saat mendapati suaminya sudah berada di dalam mobil. "Assalamualaikum Ay" ucapnya sambil senyum.


"Waalaikum salam. Abang!" pekik Laras karena senang. Dia mencium tangan suaminya dengan senyum mengembang.


"Pak pri, pulang cepat ya pak. Ada yang kangen nih kayaknya" perintah Duta kepada sopirnya. Laras mencubit perut Duta sehingga membuat Duta meringis.


Tak bisa dipungkiri, memang ucapan Duta benar. Dia memang sangat rindu dengan suaminya. Tak lama mereka sampai di rumah. Keduanya menuju kamar mereka.


"Laras siapkan air untuk mandi dulu" sambil membuka pintu kamar mandi. Duta mengangguk. Laras mengambilkan baju ganti untuk Duta.


"Mandi bareng yuk?" ajak Duta sambil melingkarkan tangannya memeluk Laras dari belakang dan mencium curuk leher Laras.


"Laras masih bau sayang, jangan cium-cium dulu. Sana mandi, gantian" bujuknya kepada suaminya.


"Mandi bareng biar cepat"


"Bukan makin cepat bang, makin lama iya. Sana...." Duta menggendong tubuh istrinya masuk ke kamar mandi bersamanya.


"Bukain baju abang" perintahnya. Laras mengangguk dan mulai membuka satu per satu kancing baju Duta. Roti sobek itu terpampang nyata di hadapan Laras. Membuat wajah Laras merona merah.


"Lanjut nanti malam lagi ya sayang" ucap Duta mendaratkan ciuman di bibir Laras dengan sedikit luma*tan dan mengakhiri mandi panas itu.


Laras juga segera menyusul suaminya. Adzan maghrib terdengar mereka sholat berjamaah. Dan setelahnya Laras dibantu dengan ART menyiapkan makan malam. Dia memasak sop iga sapi. Sungguh menggiurkan.


Duta selalu takjub dengan hasil masakan istrinya. Menurutnya, sangat pas di lidahnya. Padahal di awal, Laras sama sekali tidak bisa memasak. Mungkin ditambahkan bumbu cinta disana sehingga sangat lezat.


Mereka menikmati waktu berdua sambil menonton tv. "Ay, si Arjun gak pernah gangguin kamu lagi kan sayang?"


"Gak bang, 3 hari lagi kak Ais dan mas Farid nikah. Kita belum beli kado untuk mereka. Mau beli kado atau nyumbang uang bang?"


"Kado saja, abang berencana membelikan tanah kosong untuk mereka. Biar nanti mereka bangun sendiri rumahnya. Gimana?"


"Setuju"


Duta memerintahkan Brata untuk mencari lahan kosong besok, lalu disuruh melakukan akad jual beli dengan segera.

__ADS_1


Selesai isya mereka menuju kamar. Laras memeluk tubuh suaminya. Menyesap aroma tubuh yang ia rindukan. Yang selalu ia nikmati bagai candu. Duta membelai rambut istrinya.


"Ay, sudah satu bulan kita menikah. Dan sepertinya kamu belum datang bulan. Kamu sudah tespack belum sayang?" tanya Duta memastikan.


Laras melepaskan pelukannya dan meraih ponselnya. Dia baru ingat, ternyata dia sudah telat seminggu. "Astaghfirullah, iya ih bang. Maaf Laras lupa. Besok beli tespack deh"


"Abang belikan malam ini ya, biar besok pagi bisa kamu cek. Semoga saja hasilnya positif"


"Kalau abang capek istirahat saja bang, besok pagi-pagi sekali kita beli"


"Gak kok, abang gak capek. Kan tinggal suruh pengawal. Hehehe"


"Hhmm, itu sih bukan abang yang beli namanya. Ya sudah lah, terserah abang saja"


Duta meraih ponselnya dan menghubungi salah satu pengawal disana. Menyuruhnya membeli alat tes kehamilan.


Duta menunda niatannya untuk menyentuh Laras. Mereka menunggu esok datang. Ingin melihat hasil dari ibadah mereka. Sudah kah berbuah atau belum.


Subuh menjelang, Laras mengambil tespack yang sudah dibeli suaminya semalam. Meskipun bukan Duta yang beli. Dia melakukan tes itu di dalam kamar mandi.


Duta terbangun karena mendapati ranjang sebelahnya kosong. Terdengar gemericik air di kamar mandi. Dia ikut bangun. Laras keluar dari kamar mandi dengan hasil tespack ditangannya.


"Gimana?" wajah Duta tiba-tiba menjadi tegang.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Happy reading all 😘😘😘


__ADS_2