
A squad memilih pulang bersama mamah Aini. Laras dan Duta bisa leluasa mampir ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan.
Tapi saat di perjalanan, Laras merasa ada sesuatu yang keluar dari bawah. Dia merasa tak nyaman. Tapi ia tak memberitahu suaminya. "Nanti papah saja ya yang turun beli alatnya? Mamah di mobil saja. Capek"
Duta mengangguk. "Iya Ay, nanti biar abang yang turun. Kalai capek bobok dulu gih. Mumpung anak-anak lagi sama eyangnya"
Laras memejamkan matanya. Duta melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Dia berhenti sebentar di apotek untuk membeli testpack. Lalu melajukan kembali mobilnya.
Setelah sampai dia membangunkan istrinya. "Ay, bangun sayang. Kita sudah sampai rumah"
Laras menggeliat. Kembali dia merasakan ada sesuatu di bawah sana yang keluar. Jangan-jangan datang bulan nih.
Laras turun dari mobil lalu segera masuk rumah. Duta menyusulnya. Laras dengan ceoat ke kamar mandi dan memastikan sesuatu. "Ay, ini alatnya"
"Taruh situ dulu bang, Laras mau memastikan sesuatu" teriak Laras dari dalam kamar mandi. Dan ternyata dugaan Laras benar adanya. Dirinya datang bulan lagi. Dia takut membuat suaminya kecewa lagi. Dia segera keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya sedang berganti baju.
Dia memeluknya dari belakang. Membuat Futa sedikit terkejut. "Eh, kenapa nih istri abang? Kok tiba-tiba main peluk?"
Laras berdecak. "Memang gak boleh peluk suami sendiri?"
Duta tersenyum dan berbalik. "Boleh dong, abang kan milik kamu" ucapnya sambik mencubit dagu Laras.
__ADS_1
Laras tak bisa lagi menyembunyikan rasa sedihnya. Tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca. Membuat Duta kebingungan. "Lhoh, kok malah nangis? Kenapa sayang?"
Laras memeluk Duta lagi. "Failed, bang" ucapnya singkat. Duta masih tak mengerti arah pembicaraan istrinya. "Failed, failed apa sih yang failed?"
"Laras.... Laras.... Laras datang bulan sayang" ucap Laras sendu. Duta diam tak menjawab pernyataab Laras. Sungguh, diapun ikut kecewa mengetahui kenyataannya, bahkan sebelum dilakukan tes.
Dia memeluk istrinya erat. "Jangan bersedih. Abang gak papa kok. Kita coba lagi. Oke? Abang ikhlas atas jalan yang Allah tulis dan gariskan untuk kita. Kita sudah punya 4, abang sudah bahagia dengan yang kita punya. Jangan seperti ini, seakan kita ini kufur nikmat sayang"
Laras menghapus air matanya. Lalu mendongak. "Abang gak kecewa?"
Duta tersenyum dan menarik tangan istrinya untuk duduk di sofa. Dia membelai kepala istrinya. "Kecewa itu tetap ada sayang, karena kita menginginkannya, tapi yang Allah putuskan pasti lebih baik dari yang kita inginkan. Kalau memang rezekinya punya 4 ya alhamdulillah, kalau ditambah lagi semakin alhamdulillah. Jangan sedih ya? Abang gak papa kok. Abang ikhlas atas ketetapan Allah"
Duta mengangguk. "Iya sayang, ada atau tidaknya nanti yang dititipkan Allah dalam rahimmu, rasa cinta abang ke kamu tak akan pernah luntur dan berkurang sayang. Malah setiap hari semakin bertambah"
Laras mencubit perut Duta pelan. "Gombal ih"
Duta mendekap tubuh istrinya dan mencium keningnya. "Abang gak pernah gombal Ay, semua yang abang katakan nyata adanya"
"Hahahah, meskipun Laras suka ngomel?" Duta mengangguk. "Meskipun Laras suka marah, rasa cinta abang makin besar untuk Laras?" Duta mengangguk kembali.
"Abang mencintai segala yang ada pada dirimu sayang. I love you Ayu Larasati"
__ADS_1
Laras tersenyum "I love you too mantan buapti kesayanganku" Duta menghujani Laras dengan ciuman. Saat hendak turun menjejaki leher jenjang Laras, Laras menghentikan aksi Duta.
"Eits, tahan sayang. Laras lagi mens" ingat Laras kepada Duta. Duta menjatuhkan kepalanya kasar di samping telinga Laras, membuat Laras tertawa.
"Sabar ya sayang"
"Aku hanya bisa pasrah" Ucap Duta dengan wajah sedih.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1