Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Proposal (Bonus 5)


__ADS_3

Duta dan Laras baru saja sampai rumah setelah berjalan-jalan seharian. Rumah sedang tenang-tenangnya, karena A squad tidur di rumah Dirga dan Nina semua. Duta kegirangan karena ini moment jarang untuknya.


"Bang, jemput anak-anak gih" Laras menyuruh Duta untuk menjemput A squad. Hatinya resah. Bukan apa, ini pertama kalinya A squad tidur di rumah orang lain.


Duta malah sibuk membaca buku bisnisnya. "Kenapa dijemput sih? Biarin aja mereka tidur disana, gak usah terlalu khawatir deh Ay"


"Ih, abang mah. Nanti kalau mereka pada ngrepotin om dan tantenya piye? Atau tengah malam minta pulang gimana?"


Duta menutup bukunya dan berbaring. Laras yang selesai merawat kulitnya kesal dengan sikap Duta. "Abaaaaaanngggg....."


"Apa sih Ay? Sudah lah, jangan terlalu khawatir. Mereka sudah besar sayang. Nanti kalau mereka minta pulang tengah malam, Dirga pasti telpon. Biarkan mereka disana. Nemenin si Han" Duta menarik tangan Laras hingga Laras ikut berbaring di sampingnya.


Laras diam dengan wajah kesal. "Jangan marah dong, sayang. Ini momen langka lhoooo" Duta merayu Laras dengan mencubit dagu Laras.


Laras memejamkan matanya. Dia tahu kenapa suaminya tak mau menjemput A squad. Itu karena Duta ingin bermesraan dengannya. Dia berpura-pura tidur agar suaminya tak menggodanya.


"Jangan pura-pura tidur, abang tahu kamu masih melek sayang" Duta sudah tersenyum jahil kepada istrinya.


Laras tak kunjung membuka matanya. Duta semakin gemas. cup. Duta mencium bibir Laras.


"Abang ih" protes Laras sambil memanyunkan bibirnya. "Apa?" jawab Duta lembut sambil memainkan rambut Duta.


"Jangan menggoda deh" Duta tertawa keras saat Laras berkata seperti itu. Itu artinya rayuannya hampir berhasil.


"Ay, abang mau mengajukan proposal sama kamu?" Laras membuka matanya dan menoleh ke arah suaminya yang sedang dalam posisi miring itu.


"Proposal? Proposal apa?"


Duta membelai rambut istrinya. "Tapi janji dulu proposalnya bakalan di acc"


"Ih, maksa. Laras lihat proposalnya saja belum kok minta diterima. Coba mana berkasnya?"


"Gak pake berkas-berkas segala. Proposal ini keinginan abang yang paling dalam" kata Duta sambil menaik turunkan alisnya.


Laras semakin bingung dengan proposal yang dimaksud suaminya. "Apa sih yank? Laras beneran gak mudeng ini? Jangan main tebak-tebakan. Otak Laras lagi gak mau kerja keras"


"Abang ingin... mengajukan proposal sama kamu untuk.... untuk... punya baby lagi" Ucap Duta sambil menatap netra istrinya lekat-lekat.


Laras menganga mendengar proposal yang diajukan suaminya. "Proposal ini enak lho sayang, banyak untungnya, ruginya sama sekali gak ada, gak meras otak buat mikir, cukup kerja keras nengokin kamu saben hari aja modalnya. Enak kan?"

__ADS_1


Laras mencubit perut Duta dan menggeram. "Apa 4 itu belum cukup, sayaaaaaaang??"


"Aw aw aw, sakit Ay, ih, cubitan kamu bener-bener gak berubah ya. Tetep sakit. Terima dong sayang proposal abang. Ya ya ya?" Pinta Duta sambil mengerdip-kerdipkan matanya.


Laras memutar bola matanya malas dan memejamkan matanya. "Ih, kok malah merem lagi sih sayang. Gimana? Acc kan?"


Laras berdecak. "Yang benar saja dong sayang. Kita sudah punya 4 lho. Masih mau nambah lagi?"


Duta mengangguk semangat. "Abang kangen tangisan bayi. Abang beneran pengen punya anak lagi dari kamu"


"Terus abang ngajuin proposal ini biar Laras lepas IUD Laras gitu maksudnya?"


"Iya, mau kan punya anak lagi? Pahalanya gede lho sayang" Duta masih mencoba meyakinkan Laras.


"Laras ngantuk"


"Ih, kok gitu, kalau kamu diam abang anggap kamu acc proposal abang"


Laras membuka matanya lagi. "Umur Laras sudah masuk resiko tinggi sayang, sudah hampir 35 tahun"


"Semua yang menentukan Allah, yang penting bikin dulu. Gimana?"


Laras nampak berfikir. "Abang gak takut dibilang produksi anak terus sama orang-orang?"


"Laras pertimbangkan dulu"


"Abang pengen nambah cowok lagi di keluarga kita. Kasihan Archee gak ada teman mainnya"


Laras menautkan alisnya. "Modus abang tuh, Archee dibawa-bawa dijadikan alasan. Memang Archee minta adek cowok?"


Duta nyengir dan menggeleng. "Ya gak sih, tapi kalau ada anak laki lagi di rumah ini pasti pada happy"


"Hoam, tidur yuk. Laras sudah mengantuk"


"Jawab dulu ih" Duta tetap memaksa.


"Kan Laras sudah bilang, akan Laras pertimbangkan dulu yank"


Duta berdecak, "Pertimbangan sama siapa sih? Tinggal bilang iya apa susahnya sih?" Duta kesal dan membalikkan badan memunggungi Laras.

__ADS_1


Laras tersenyum melihat tingkah suaminya. "Dosa saling memunggungi begini"


Duta tak bergeming. Dia tetap tak berbalik kepada Laras. Laras mencoba menggelitikinya. Tapi tangannya ditepis oleh Duta. "Angel, wes nek ngene iki angel (Susah, sudah kalau seperti ini susah)"


Laras duduk dan membalikkan posisi suaminya. Dia menindih tubuh Duta. "Marah?" tanya Laras. Duta membuang mukanya ke sisi kanan. Terlihat leher jenjang Duta yang sangat menggoda untuk dinikmati.


Cup cup cup. Laras mencium leher Duta dan membuat jejak kepemilikannya. "Berani kamu bangunin macan tidur ya?" Duta tersenyum jahil kepada istrinya.


Laras membuka piyama tidurnya. Membuat Duta tersenyum. "Tahu aja obatnya kalau abang lagi ngambek" ucap Duta dengan senyum penuh kemenangan.


"Proposal di acc, besok Laras lepas IUDnya"


Duta tersenyum sumringah dan memeluk istrinya. "Makasih sayang" Duta mencium bibir istrinya sangat lama. Hingga ciuman itu berubah menjadi lum*atan. Lidah sudah saling bertaut. Saling menjelajahi rongga mulut masing-masing.


Laras berada di atas. Dia menjelajahi semua tubuh Duta. Membuat Duta senang. Istrinya sudah tak malu-malu lagi untuk memimpin.


Duta meremas benda yang sangat menggiurkan itu. Dia menghisapnya seperti bayi. Laras menikmati hisapan itu. Membuat mereka sama-sama melenguh nikmat.


Laras memasukkan milik Duta bersatu dengan miliknya. Dia mendorong dan menarik miliknya bersatu dengan milik Duta. Menjepit milik Duta.


"Aaahh... pintar sekali istriku" puji Duta di sela-sela aktivitas mereka. Laras hanya tersenyum dan semakin membuat suasana menjadi panas.


Semakin panas dan semakin menuju puncak kenikmatan. Duta membalik posisi istrinya dengan cepat dan melakukan pelepasan.


"Aaaahhhh...." lenguh Duta dan Laras bersama-sama. Seperti biasa, Duta akan mengecup kening istrinya dan mengucapkan terima kasih.


"Makasih Ay, kamu selalu bisa memuaskan hasrat abang"


Laras menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos. "Sama-sama sayang"


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2