
Ais pamit ke toilet, karena rasanya sungguh mual sekali. Cepat-cepat dia masuk ke toilet tanpa melihat orang-orang sekitarnya.
"Hoeeeeek.... hoeeeekkkkk.... hoeeeekkkk...." Ais sedang muntah di toilet. Ada 2 orang masuk ke toilet.
"Git, untung lo gak diceraikan mas Arman" kata salah seorang perempuan itu. Ais mendengar dengan jelas nama yang disebut adalah Arman dan Git. Mungkinkah itu mas Arman dan mbak Gita yang sama?
Ais ingin keluar dari toilet tapi niatnya diurungkan. Dia mencari ponsel di tasnya, karena kemanapun Ais pergi harus selalu bawa tas, karena perlengkapan kebersihannya ada di tas itu semua.
Dia mulai merekam semoga mendapatkan jawaban. Terdengar suara gemericik air. "Kan yang nyuruh gue mas Arman sendiri. Dia minta ke gue supaya bantuin dia pas pemilu, gue juga awalnya ogah, tapi karena dia janji nambahin uang bulanan dan uang jajan gue makanya gue mau disuruh foto bareng si Duta"
"Gilaaaaaaa..... suami macam apa mas Arman. Tapi serius kan? Lo cuma foto bareng doang kan? Kan lo juga begitu, ada yang lebih bening dan tajir langsuuuuuung samber"
"Kalau bukan mas Arman yang ngefotoin gue waktu itu, mungkin icip-icip sedikit boleh lah. Hahaha" kata Gita sambil memoleskan lipcream di wajahnya, tak lupa pula menambahkan bedak di wajahnya.
"Dasar bocah sinting, paling bisaaaaa kalau suruh begituan. Otak lo emang mes*um"
"Udah yuk ah, keburu arisannya dikocok, semoga kali ini gue yang dapat. Mau beli berlian yang kemarin gue. Haduuuuh seneng gue lihat benda itu"
"Yuk, gue juga udah selesai"
"Katanya buang air kecil?" tanya Gita.
"Gak jadi, gak sabar lihat siapa yang dapat. Ayo buruan" lalu mereka meninggalkan toilet. Ais mengintip di sebalik pintu. Memastikan orang-orang itu telah pergi meninggalkan toilet, barulah dia keluar. Dia mengecek seluruh toilet. Hanya dirinya sendiri, lalu dia memutar rekaman itu.
"Terbongkar kalian" kata Ais dengan nada penuh kelicikan.
Ais kembali bergabung dengan yang lain. "Lama banget yank, muntah banyak?" Ais hanya tersenyum dengan wajah serius. Farid mendapatkan telpon dari wakil bupati.
"Halo, assalamualaikum pak"
Waalaikum salam. Mas Farid bisa ke resto x sekarang? Ada yang ingin saya tanyakan terkait dana APBD
"Nggih pak, saged (ya pak, bisa)"
Segera ya mas, saya tunggu
"Nggih pak, ini sudah mau jalan"
Assalamualaikum
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarokatuh" Farid menutup telponnya. Duta tersenyum. Dia maklum kepada wakilnya, karena sudah agak berumur jadi pemahamannya agak lama.
"Bapak lihat sendiri kan? Padahal saya sudah menjelaskan 2 kali pak. Hadoooh. Poseeeeeng" Semua tertawa karena tingkah Farid.
__ADS_1
"Suabarrrrr mas ku sayaaaaang, ya gimana dooong, apa kamu mau, kamu yang jadi bupatinya saja?"
Farid menoleh. "Wegah, jadi ajudan saja, pulang terlambat kamu wowowowowo" Ais tersenyum kepada semuanya karena saat ibi sedang membekap mulut Farid.
"Sudah ya maskuuuuu, mending berangkat giiiihh, nanti aku pulangnya ikut mas Ari saja, mau ke rumah papah. Kamu nanti susulin aku kesana ya?" lalu melepas bekapannya. Yang lain hanya tersenyum melihat pertikaian kecil mereka.
Farid pamit terlebih dahulu kepada mereka dab bergegas di resto x. "Balik yuk, pegel nih badanku" Ais merengek minta pulang.
"Ya sudah, ayo pulang. Sudah mau maghrib juga" kata Laras. Lalu mereka berpamitan.
"Biar aku saja yang bayar mas Duta, hitung-hitung mentraktir untuk acara nikahan. Kan kemarin gak ada resepsi" kata Ari.
"Wah. Alhamdulillaaaah, dapat rejeki nomplok kita yank" jawab Duta.
"Makasih ya mas Ari mbak Amira" ucap Duta dan Laras kompak.
"Sami-sami mbak" Lalu mereka keluar dari kafe, sedangkan Ari berjalan menuju kasir. Berpapasan dengan Gita yang juga hendak membayar tagihannya.
"Mas Ari??" sapa Gita. Ari menoleh dan tersenyum tipis tak membalas sapaan Gita. "Sombong kamu sekarang, disapa cuma senyum doang. Mana istri kamu yang baru?"
Ari masih diam tak membalas pertanyaan Gita. Entah Amira muncul dari mana, suaranya mengagetkan Ari dan Gita disana. "Ada yang mencari saya?" katanya tenang tapi tegas. Mereka menoleh ke sumber suara.
"Sudah sayang bayarnya?" tanya Amira menunjukkan kemesraan di depan Gita.
"Matanya masih mau utuh di tempatnya kan? Gak pernah lihat orang sesempurna saya?" Amira risih dipandangi oleh Gita. Ari hanya menggeleng pelan. Setelah urusannya selesai Ari merangkul istrinya dan meninggalkan Gita sendirian.
"Dasar tukang pamer!" kata Gita.
.
Farid sudah berada di resto x, bertemu wakil bupati. Farid menyalaminya lalu langsung membahas ke intinya. Setelah beberapa saat dan beberapa kali menjelaskan tentang dana APBD yang dimaksud barulah pak wakil mengerti. Dia terlalu tua untuk mengerti sekaligus penjelasan Farid. Jadinya harus bolak balik bertanya. Bukan tak ikut dalam menentukan dana ini, tapi memang, dirinya sering kurang paham.
Setelah urusan dengan pak wakil selesai, Farid segera keluar dan menuju parkiran. Matanya menangkap sosok Arman dan Bagus sedang bersama dengan dua orang wanita yang tak dikenal Farid. Feeling Farid mengatakan bahwa akan ada kejutan nantinya, akhirnya dia memilih untuk mengikuti kemana Arman dan rombongannya.
Farid menghubungi Brata untuk ikut membantunya. Farid menjaga jarak agar tak ketahuan oleh Arman. Hingga mobil itu menuju ke sebuah hotel.
"Hotel? Mau apa mereka kesini? Sepertinya akan ada pertunjukan sirkus yang menghibur hati" kata Farid.
Brata menghampirinya, dia bergabung di dalam mobil Farid. "Mas, saya buat surat perintah penggeledahan palsu"
Farid membaca surat itu. "Kerja bagus mas Brataaaa, sepertinya hari ini hari keberuntungan kita" ucap Farid senang kareba sekarang Brata bisa memutar otak untuk menggunakan akal liciknya saat diperlukan.
Saat Arman dan Bagus sudah hilang dari meja resepsionis barulah Brata dan Arman bergerak. Mereka menunjukkan surat palsu itu dan minta langsung disambungkan dengan managernya.
__ADS_1
Pihak hotel hanya bisa pasrah membaca surat itu. "Saya ingin menggeledah cctv nya terlebih dahulu" Manager itu langsung mengarahkan Farid ke ruangan kontrol cctv.
Farid membutuhkan rekaman yang menampilkan Arman dan Bagus masuk ke kamar hotel. Lalu setelah mendapatkan rekaman itu, Farid kembali ke resepsionis dan meminta daftar tamu.
Karena setiap tamu yang masuk harus meninggalkan KTP mereka, memudahkan Farid menambah bukti baginya dan Brata.
"Peraturan disini memang harus meninggalkan KTP begini?"
"Iya pak" jawab manager itu.
Farid membaca status dari para wanita itu. Pantas bisa lolos berduaan, status mereka kawin. Kan pihak hotel tidak tahu mana pasangan sah mereka. Ah, masa bodoh. Yang penting dapat bukti dulu
"Kenapa begitu?" tanya Farid lagi. "Untuk mencegah kasus prostit*usi pak"
"Harusnya yabg diminta bukan KTP, yang diminta buku nikah kalau tujuan kalian itu. Status di KTP tidak menjamin pasangan itu memang benar-benar suami istri. Paham?" kata Farid diajawabi anggukan oleh manager itu.
Brata ditugaskan Farid untuk mengambil foto mereka. Dengan kata lain, Brata harus menunggu sampai mereka selesai melakukan aktivitas mereka di hotel itu. Farid pamit terlebih dahulu.
"Terbongkar kebusukan kalian" kata Farid saat sudah di mobil.
.
Ais menunjukkan hasil rekamannya kepada Ari dan Amira. "Tuh kan bener ini semua setingan mereka. Pasangan licik!" geram Ari.
"Sabar sayang, tapi apa bukti ini cukup kuat, karena hanya suara saja tanpa ada visualnya. Pasti nanti mereka berkelit, nama kan bisa saja sama. Itu alasan utama mereka. Itu bukan suaraku alasan kedua mereka. Kami tadi memang bertemu, tapi kan tidak pas kejadian itu"
Ais dan Ari tampak berpikir. "Iya juga dek"
"Tenang, kejahatan merrmeka sebentar lagi akan terbongkar" Farid muncul dari ambang pintu dan bergabung dengan mereka. Menunjukkan hasil pengintaiannya tadi.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1