
Laras kembali ke rumah sakit untuk mengambil kain dan segera memasukkannya ke mobil. Duta membantunya. Adzan maghrib berkumandang. Duta memutuskan untuk sholat dahulu di masjid rumah sakit. Laras menunggunya hingga selesai sholat. Setelah selesai mereka menggunakan mobil masing-masing menuju rumah Laras.
Setelah beberapa saat mereka tiba di rumah abi Laras. Mereka disambut oleh Abi dan Umi.
"Assalamualaikum" ucap Laras dan Duta bersamaan dan mencium tangan kedua orang tua Laras.
"Waalaikum salam" jawabnya.
"Umi mau peluk Duta?" tanya Duta melihat mata umi berkaca-kaca. Umi pun mengangguk. Abi hanya bisa tersenyum.
Duta memeluk umi. "Umi manja sekali sama Duta. Laras saja belum pernah Duta peluk lho mi. Heheheh" ucapnya bercanda.
"Hahaha, kamu ini. Nanti ada saatnya kamu peluk dia" sahut umi sambil melepaskan pelukannya.
"Ayo masuk dulu, umi mu sudah masak makanan kesukaan mu tuh" Abi mempersilahkan Duta masuk.
"Waaah, umi repot-repot banget sih. Mi, ajarin Laras bikin pecel Lele ya. Biar nanti waktu sudah jadi istri Duta dia masakin Duta tiap hari"
"Tuh Ras dengerin. Makanya belajar masak"
"Iya-iya mi, Laras belajar masak. Laras mandi dulu ya, gerah. Sekalian mau suci" Laras meninggalkan semuanya dan segera mandi besar karena haidnya sudah selesai.
Duta dan Abi duduk lesehan sambil menunggu kopi buatan umi jadi.
"Gimana kantor? Makin sibuk?" tanya Abi berbasa-basi.
"Sangat bi, proyek alhamdulillah bisa goal sesuai target. Laporan alhamdulillah masuk sesuai jadwal. Kadang lelah sih, tapi itu kan konsekuensi yang harus Duta terima. Hanya perlu ikhlas dan sabar" terang Duta.
"Abi setuju. Hanya perlu ikhlas dan sabar. Ijab qobul sudah hafal?"
"Insyaallah hafal bi" jawab Duta mantap.
"Alhamdulillah, semoga nanti lancar. Abi dan umi hanya punya satu anak. Laras dari kecil selalu kami ajarkan hidup prihatin. Dia tidak pernah mengeluh begini-begini sama abi ataupun umi. Abi dan umi titip Laras sama kamu. Tolong jaga dia. Tolong sayangi dia seperti abi menyayanginya.
Tolong bimbing dia menjadi istri yang sholeha. Jadikan dia teman dalam suka dan dukamu. Jadikan dia yang terakhir untuk melabuhkan hatimu. Jangan pernah sakiti dia. Jangan pernah menduakannya. Jadikan dia satu untuk selamanya. Abi tidak bisa memberikan apa-apa selain restu dan doa" ucap Abi sambil mengusap air mata di pelupuk matanya.
Duta meraih tangan Abi dan menciumnya. "Insyaallah Duta akan menjadi imam hanya untuk Laras bi. Doakan kami"
"Pasti"
Umi datang membawa kopi untuk abi dan Duta. Umi sedikit mendengar perkataan abi.
"Tolong jaga Laras untuk kami ya Duta. Hanya itu harta yang umi dan abi miliki. Anak umi satu-satunya" timpal umi.
"Insyaallah mi, anak kalian bukan hanya Laras. Duta juga akan menjadi anak kalian"
"O iya ya, lupa abi kalau kita bakalan punya anak lanang (lelaki) lagi mi" jawab Abi
"Hahahaha, mau makan sekarang?" tanya Umi.
__ADS_1
"Nanti mi, nunggu Laras sekalian. Sudah mau isya' juga. Nanggung" terang Duta.
Mereka mengobrol hingga terdengar adzan isya'
"Sudah adzan, ayo sholat dulu. Kamu pakai baju abi ya Duta. Sebentar umi ambilkan" umi bergegas mengambilkan baju dan sarung untuk Duta.
Laras keluar dari kamar sudah dalam keadaan berwudhu.
"Besok bangun awal ya yank. Kita harus ngurus berkas nikah" jelas Duta
"Iya abang, besok Laras dijemput atau bagaimana?"
"Abang jemput"
"Oke" Laras tersenyum menampilkan deretan giginya membuat Duta gemas dan reflek mencubit pipinya.
"Iiiih abaaaang! Batal kan wudhu ku!"
"Hahaha, mana abang tahu kamu sudah wudhu. Ya sudah wudhu lagi sana"
Laras mengambil wudhu lagi. Duta segera berganti baju yang sudah disiapkan umi. Mereka melakukan sholat berjamaah. Setelahnya mereka makan malam. Seperti biasa, Laras melayani semuanya.
Di tengah-tengah makan umi berbicara. "Nanti umi mau cucu yang banyak dari kalian" ucapnya santai.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk" sontak Laras dan Duta terbatuk-batuk karena perkataan umi yang mengagetkan mereka.
"Kenapa sih?" tanya umi lagi.
"Ya gak papa dong, biar nanti kalian rajin buatnya"
Duta hanya tersenyum tersipu malu. Laras geleng kepala dengan pernyataan uminya.
"Mulai saat ini kamu banyak-banyak konsumsi makanan yang mengandung tinggi asam folat Ras"
"Bener tuh kata umi, kurma muda, buah zuriat, alpukat, apa lagi mi?" timpal Abi.
"Tanya internet atau tanya temanmu saja yang dokter kandungan itu" jawab Umi.
"Besok beli ya yank" ucapan Duta sontak mendapatkan pelototan dari Laras.
"Abang malah ikut-ikutan" protes Laras.
"Umi ngasih saran bener yank. Siap mi, besok selesai ngurus surat-surat kami berburu makanan itu. Hehehehe" jawab Duta nyengir.
"Cocok ini. Laras junior Duta junior otw bi. Hahaha"
"Makan mi makan. Jangan tertawa. Nanti keselek" Laras mengalihkan pembicaraan.
Setelah selesai makan Duta membantu Laras menurunkan undangan dan kain dari dalam mobil Laras.
__ADS_1
"Abang pulang dulu ya. Besok kamu ambil ijin saja yank. Sorenya kita kumpul sama trio mobat mabit"
"Iya, abang pulangnya hati-hati ya. Kabari kalau sudah sampai" pinta Laras.
"Iya sayang. Abi Umi Duta pamit ya. Assalamualaikum" sambil menyalami tangan kedua calon mertuanya.
"Waalaikum salam. Hati-hati ya nak" jawab abi dan umi bersamaan.
Duta masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Laras.
Laras dan keluarganya kembali ke dalam rumah. Laras langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan dirinya. Umi masuk dan duduk di samping Laras.
"Ras" panggilnya
"Iya mi" jawab Laras.
"Sini" Umi menepuk pahanya. Menyuruh Laras bantalan menggunakan pahanya.
Laras menuruti keinginan umi nya. Umi mulai membelai rambut Laras yang masih setengah kering itu.
"Sebentar lagi kamu akan jadi istri. Umi minta sama kamu, patuh dan tunduk sama suami mu ya nak. Surgamu bersama suami mu. Umi juga minta sama kamu, sering-sering mengalah jika terjadi masalah sama kalian. Ketentraman rumah tangga itu dari rasa saling mengalah nduk.
Duta itu seorang bupati, seorang yang penting. Banyak yang suka sama dia, tapi banyak juga yang ingin menjatuhkannya. Umi minta sama kamu, percayalah sama Duta. Selalu pertahankan rumah tangga kalian nantinya ya sayang" Umi memberi wejangan untuk Laras dengan mata berkaca-kaca.
"Iya mi, insyaallah Laras akan mengingat dan melaksanakan wejangan umi. Makasih ya mi, berkat umi Laras bertemu jodoh Laras. Makasih juga sudah membesarkan Laras. Ajari Laras masak mi"
"Iya, makanya dulu kalau umi suruh pulang tuh pulang. Harus diseret dulu sih kamunya"
"Mulai deh umi"
"Hahaha, iya lah. Umi sering ngomel kan karena umi sayang sama kamu nduk"
"Iya-iya. Makasih ya miii" Laras meraih tangan umi dan menciumnya.
"Sudah tidur. Umi balik ke kamar ya"
"Iya umi sayaaaaang"
Umi meninggalkan kamar Laras. "Semoga bahagia menyelimuti kalian nak" lalu tersenyum dan bergegas menuju kamarnya.
.
.
.
Like
Komen
__ADS_1
Vote
Tip