
Duta sudah purna tugas. Sekarang dirinya disibukkan dengan bisnis yang dikelolanya. A squad sudah masuk PAUD. Laras memutuskan untuk kembali bekerja di rumah sakit. Nina sudah melahirkan, anaknya laki-laki bernama Yohannes Pambudi.
Keadaan berubah seiring berjalannya waktu. Banyak pegawai dan dokter baru disana. Ais juga memutuskan untuk kembali bekerja karena Hilal dan Habib juga masuk PAUD. Klinik yang akan mereka jadikan usaha sedang dalam proses pengajuan izin. Jadwal praktek Ais dan Laras tak seperti dulu. Jika dulu mereka bisa hampir setiap hari, kali ini hanya hari-hari tertentu.
Nina dan Rena juga seperti biasa, setiap tiga bulan sekali akan mengalami rollingan. Dan mereka kembali ke poli. Sama seperti dulu, Nina menjadi asisten poli jiwa. Dan Rena menjadi asisten poli bedah.
Hari itu ada penambahan dokter bedah satu lagi. Seorang laki-laki. Orang lama. Yup, benar. Arjun Priyadi, yang sekarang memiliki gelar spesialis bedah.
Berita itu cepat menyebar ke seluruh telinga karyawan rumah sakit. Nina menghampiri Rena. "Hai sis, roman-romannya ada yang bakalan ketemu musuh lama nih di ruang ini"
Rena menautkan alisnya. "Musuh lama? Maksudnya?" Nina tepok jidat. Pasti Rena ketinggalan berita nih. Semenjak putus dengan tunangannya, Rena tak begitu peduli dengan sekitar. Menjadi cuek.
"Iya, musuh lama. Dokter Arjun Priyadi spesialis bedah. Hari ini kamu bakalan ketemu dia zeyeng, dokter Ais gak bisa masuk. Si Habib sakit" Seketika mata Rena membelalak lebar.
"A-apa kamu bilang tadi Nin? Dokter Arjun??" tanyanya masih tak percaya. Nina mengangguk dan menahan senyumnya.
"He is back!" kata Nina. Laras yang kebetulan lewat mendengar percakapan mereka. "Yes, he is back Ren. Jangan terlalu benci, nanti jadinya cinta mbuh lho yo"
Rena tertawa mendengar ucapan Laras. "Dokter Laras, gak bakalan saya jatuh cinta sama dokter sombong itu"
"Jangan begitu kamu, gak ingat Nina dan Dirga?"
"Ih, kok bawa-bawa saya sih dok?" protes Nina.
"Ya kan memang dulu kamu begitu, jadi bukan tidak mungkin kamu juga mengalami hal itu Rena"
"Wegah aku jatuh cinta sama....."
"Ehm...ehm...Selamat pagi semua, assalamualaikum" Arjun berada di belakang mereka.
"Waalaikum salam" jawab Laras dan Rena. "Apa kabar dokter Arjun?" tanya Laras berusaha ramah.
"Alhamdulillah baik. Kamu sendiri? Sudah punya anak berapa? Suami kamu udah gak jadi bupati lagi?"
"Alhamdulillah aku baik. Anak aku kembar 4, iya sekarang yang jadi bupati mas Rama, temennya bang Duta. Eh, kami tinggal dulu ya, gak enak sama pasien" Laras menarik tangan Nina untuk segera menuju poli mereka, meninggalkan Arjun dan Rena di poli bedah.
Arjun masuk ke ruangannya, Rena mempersiapkan status pasien yang sudah mendaftar dan mulai memanggilnya satu per satu. Arjun yang sekarang adalah Arjun yang lebih hangat, terbukti dari cara dia memperlakukan pasien-pasiennya.
Selesai pasien poli ditangani saatnya kunjungan bangsal. "Ikut saya ke bangsal" ucapnya pada Rena.
Rena berpikir karena tak menyebut namanya dia hanya akan diam saja. "Kamu tidak dengar?" kata Arjun lagi.
"Dokter ngomong sama saya?" jawab Rena ketus. Entah kenapa jika berada di dekat Arjun hawanya emosi terus.
__ADS_1
"Memang di ruangan ini ada orang selain saya sama kamu?"
"Saya kira dokter ngomong sama tembok! Kan gak nyebut nama saya" jawab Rena enteng.
"Pengen banget disebut namanya?" Rena membuang nafas kasar. Masih aja nyebelin! Mending aku di bangsal daripada di poli. Oh no, oh no, oh no no no no no
"Ren, ikut saya ke bangsal" ulang Arjun membuat Rena mengerjapkan matanya dan memastikan telinganya tak salah dengar.
"Buruan" kata Arjun sudah berada di ambang pintu ruangan. "Sabar ih!" jawab Rena kesal. Lalu mereka melakukan kunjungan bangsal.
Sebenarnya Rena tidak diwajibkan untuk ikut kunjungan bangsal, karena tanggung jawabnya hanyalah di pasien poli. Tapi dia juga tak bisa menolak ketika sang dokter memintanya ikut.
Selesai kunjungan bangsal mereka kembali ke poli. Mereka berpapasan dengan A squad dan papahnya.
"Archee jangan lari-lari nak" ucap Duta yang masih setia menggandeng ketiga putrinya itu. Archee tak mau digandeng, dia berlari dab bruk.
"Aduh, sakiiiittt" kata Archee. Rena yang kena tabrak Archee berjongkok. "Archee gak papa?" tanya Rena.
"Maapin Archee ya tante Rena"
Rena tersenyum. "Gak papa, tante gak sakit kok. Archee gak papa?"
"Gak papa tante" Archee berdiri. Sang papah berada di belakangnya.
Archee menggeleng. Duta melihat sosok tak asing itu. Dia bertanya pada Rena. "Itu... Arjun bukan?"
Rena mengangguk. "Betul pak, itu dokter Arjun. Dia sudah selesai pendidikannya. Dan saat ini sudah kembali bekerja disini"
Waduh, gaswat! jangan sampai dia godain Laras lagi
"Kalau begitu kami permisi ya Rena" Rena mengangguk.
Arjun duduk kembali di kursinya dan melengkapi rekam medis pasien sebelum dikembalikan ke ruangan rekam medis.
"Itu tadi anaknya Laras?" tanya Arjun. "Biasakan kalau ngajak ngomong orang sebut namanya!" Rena ketus membalas pertanyaan Arjun.
Arjun hanya tersenyum kecut. "Berani perintah dokter kamu ya"
Laras menyambut suami dan anak-anaknya itu. "Mamah" ucap mereka kompak.
"Assalamualaikum A squad dan pak Bupati kesayanganku" sapa Laras.
"Waalaikum salam mamah, tadi Archee jatuh mah. Nabrak tante Rena" adu Archee ke mamahnya.
__ADS_1
"Yang sakit mana?"
"Gak ada yang sakit. Abang kan kuat" bangga Archee.
"Uuuuwww, kuat semua anak-anak mamah" Mereka bermain di kursi terapi. Duta duduk di depan istrinya.
"Arjun balik ke rumah sakit ini?" Laras mengangguk. "Yes, he is back!"
"Awas ya. gak boleh sok akrab sama dia!" Laras geleng kepala lagi. Suaminya semakin posesif saja saat ini.
Hanya disapa oleh Adi saja cemburunya sehari. Haduh, repot urusannya kalau dia sudah cemburu begitu.
"Haduh paaah, posesifnya kumat deh, makanya anak-anak seposesif itu kalau kamu godain mamah. Kamu saja lebih parah dari mereka"
"Biarin, abang gak suka lihat cowok-cowok di luar sana senyum-senyum ke kamu"
"Laras juga gak suka kalau ciwi-ciwi di luar sana senyam-senyum gak jelas sama abang"
"Papah mamah kenapa berantem? Papah nakal ya mah?" tanya Aylin.
Mereka berdua tersenyum. "Kami tidak berantem kok. Papah gak nakal, kak, suruh abang dan adik-adiknya stop main dan kita pulang" kata Laras.
"Ndak mau pulang mah, nanti aja pulangnyaaa" rengek Adel.
"Abang, Maris, Adel. Stop mainnya, ayo kita pulang, nanti kita gak bisa main sepedaan" bujuk Aylin. Mereka semua berhenti dan mau untuk pulang.
Aylin bisa diandalkan saat seperti ini. Mereka lebih menurut kepada Aylin daripada Duta maupun Laras.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Tinggal 1 ep, tamat ya gais
__ADS_1