Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Kerjasama Membangun Rumah Tangga


__ADS_3

"Kerjasama apa pah?" tanya Ari


"Eh, kamu sudah datang mas?" Amira turun dari lantai atas dan menyapa Ari. Dibalas senyuman oleh Ari, setidaknya mengobati kerinduan yang mendera hati keduanya.


"Makan dulu yuk" ajak pak Didit kepada Ari. Ari makin penasaran kerjasama apa yang dimaksud oleh pak Didit.


"Pah, kerjasama apa?" tanya Ari saat pak Didit berdiri hendak ke meja makan.


Pak Didit tersenyum. "Nanti saja, kita makan dulu. Kamu pasti belum makan kan?" Ari menggeleng.


Amira yang sudah berada di meja makan mempersiapkan semuanya. Melayani seperti yang biasa ia lakukan di rumah Ari. "Ini semua masakan Amira lho nak Ari, ART disini hanya membersihkan rumah dan mengurus loundry. Untuk urusan masak Amira semua yang melakukan"


"Amira sewaktu di rumah papah saya juga begitu kok pak"


"Mari makan" kata pak Didit mempersilahkan Ari. Lidahnya sungguh senang dengan citarasa masakan Amira. Cepat-cepat dia menghabiskan makanan di piringnya, mungkin karena dia lapar, atau mungkin karena doyan?


"Nambah?" tanya Amira melihat piring Ari yang sudah kosong. Ari hanya menggeleng. Pak Didit sudah selesai, begitupun dengan Amira dan Ari.


Pak Didit kembali ke ruang tamu terlebih dahulu. Ari membantu Amira untuk membereskan piring kotor.


"Tinggalin aja mas, biar aku yang bereskan sendiri"


"Kamu nanti malam yakin mau dilamar? Sama siapa? Orang mana? Seperti apa? Baik gak orangnya?"


"Nanya satu-satu kek. Kenapa? Pengen tahu banget? Kamu datang kesini sebagai orang yang mau mempertahankan hatiku atau sahabat yang ingin mengembalikan hatiku yang tertambat di hatimu?"


Ari masih bisu. Hmm, ngomongo! Susah bener buat kamu ngaku kalau kamu memang punya rasa yang sama terhadapku!"


"Kamu temani papah saja" kata Amira. Ari mengangguk dan meninggalkan Amira.


Pak Didit sedang menonton acara di tv. Ari duduk kembali di tempatnya. Ingin menanyakan tentang kerjasama itu.


"Pah" kata Ari


"Ya? Kenapa?"


"Tadi papah menawarkan kerjasama, kerjasama seperti apa yang papah maksud?"


Pak Didit menatap Ari serius. "Sebenarnya bukan papah yang ingin bekerjasama denganmu. Tapi Amira. Tanggung jawabnya berat, tapi banyak untungnya. Kerjasama yang sungguh menggiurkan bukan?" Ari mengangguk.

__ADS_1


"Kerjasama membangun rumah tangga bersama Amira. Kerjasama yang sangat berat karena tanggung jawab papah nantinya akan kamu pikul sepenuhnya, banyak untungnya karena menikah itu banyak pahalanya nak"


Ari tak percaya dengan yang diucapkan pak Didit. Apalagi pak Didit belum tahu jika dia duda, pikirnya.


"Bukannya Amira akan dilamar oleh seseorang nanti malam pah?" tanya Ari. Pak Didit hanya tersenyum.


"Iya kah? Papah tahunya kamu yang datang. Kamu tadi berangkat dari rumah jam berapa?"


"Jam 9 pagi pah"


"Dan jam 12 kamu sudah sampai sini. Waktu tempuh Magelang ke Pati itu sekitar 4 jam an Ari. Kamu tadi pasti ngebut kan? Tidak berhenti untuk istirahat kan? Kenapa? Karena hati kamu itu sedang gundah. Kamu takut jika Amira akan benar-benar menjadi milik orang lain. Kalau acaranya nanti malam, kenapa jam segini kamu sudah sampai disini? Benar yang papah katakan?" Ari mencerna setiap pernyataan pak Didit. Memang benar semua dugaan pak Didit.


Ari mengangguk. "Lalu kenapa kemarin waktu Amira ada di Magelang tidak kamu cegah untuk tidak kembali ke Pati?"


"Maaf pah, Ari ini seorang duda. Ari sadar diri, Amira anak orang terpandang, akan sangat memalukan jika Amira mendapatkan duda" jelas Ari.


"Memalukan bagi siapa nak? Amira hanya anak seorang Didit Mulyadi, bupati hanya jabatan sementara papah. Sebentar lagi juga sudah tidak jadi bupati lagi. Papah tidak mempermasalahkan status nak, jangan hanya karena status kamu duda lalu membuat hati kalian saling tersakiti"


Ari diam. Amira membawakan cemilan ke ruang tamu. "Jadi bagaimana nak Ari? Kamu mau kerjasama membangun rumah tangga bersama Amira? Deal atau tidak nih?"


Ari tersenyum malu. "Papah ikhlas jika Amira mendapatkan duda?" Pak Didit mengangguk. "Status dudamu itu terjadi bukan karena kesalahanmu, tapi mantan istrimu itu yang berselingkuh dengan sahabatmu. Papah sudah tahu dari Farid"


"Jika papah ikhlas Amira mendapatkan duda, hari ini saya akan meminta Amira untuk menjadi pendamping hidup saya pah" Amira dan pak Didit tersenyum lega.


"Itu hanya karangan papah dan aku. Orang yang datang melamarku adalah kamu mas, aku mengirimkan sms itu sengaja, ingin menguji perasaanmu kepadaku. Dan kamu datang. Aku memintamu datang karena aku ingin dilamar olehmu.


Maaf jika aku terlalu agresif. Tapi aku juga tidak mau kehilangan orang yang aku cintai. Hati aku juga sakit saat jauh darimu. Menghubungi pun tidak kamu lakukan. Tega bener kamu" jawab Amira. Ari baru sadar ternyata itu semua skenario yang telah diatur oleh pak Didit dan Amira.


Pak Didit tersenyum. "Papah merestui kalian. Amira mau pesta seperti apa?"


"Nope, Amira gak mau pesta pah, Amira hanya butuh akad dan selesai"


"Nanti dikira media kamu ada apa-apa, bagaimana?" tanya pak Didit.


"Itu urusan mereka, aku tidak ingin membebani semuanya. Yang aku butuh hanya akad nikah" Begitulah Amira, selalu sederhana. Cara pikirnya tak bisa ditebak.


"Hmm, ya sudah lah, papah ke kantor sebentar ambil berkas ya. Siapkan kamar untuk Ari biar dia istirahat"


Amira mengangguk, pak Didit beranjak meninggalkan rumah. Ari mendekati Amira. "Jahil banget ngerjain orang!" katanya kesal. Amira hanya tertawa.

__ADS_1


"Ya kamu, suruh jujur aja susah. Cinta gak sih sama aku?"


"Ya cinta lah" ucap Ari malu-malu. Amira mencebik. "Hilih, kemarin disuruh bilang aja susah"


"Jalan-jalan yuk, ke toko emas" Amira yang saat itu sedang merapikan sprei menoleh. "Ngapain?"


"Ya beli cincin lah, nanti malam aku lamar kamu. Mau gak?" kata Ari dengan wajah merona. Amira mengangguk. "Tunggu aku selesaikan ini dulu"


"Biarin aja begitu, ayo"


"Iya ih, gak sabaran banget deh kamu. Sudah beres" katanya sambil berkacak pinggang. Ari hanya tersenyum. "Apa senyum-senyum?"


"Galak banget sih?"


"Masih jengkel sama kamu, sebentar, tadi kamu niatnya kesini sebagai apa?"


"Sebagai orang yang mau mempertahankan kamu" Amira tersenyum dan memeluk Ari.


"Mira, jangan seperti ini. Aku ini laki-laki normal yang sudah lama tak dijamah. Kamu gak takut aku berbuat lebih terhadapmu?"


"Makanya cepet-cepet dihalalin" kata Amira masih dalam pelukan Ari.


"Iya, sabtu depan aku bawa papah dan mamah kesini. Kita akan akad disini. Mari bekerja sama dalam membangun rumah tangga sakinah mawaddah warohmah. Karena rumah tangga itu tidak akan bisa jalan jika hanya satu pihak yang menginginkannya. Mau kan?" Amira mengangguk.


Siang itu Ari pergi ke toko emas bersama Amira. Membelikannya cincin sebagai tanda jadi. Ari juga memesan cincin untuk pernikahan mereka. Membeli seserahan, dan membeli baju pengantin.


Benar kata Ari, sebuah rumah tangga harus dijalani dengan kerjasama yang baik antara keduanya. Agar bisa menuju kehidupan yang sakinah, mawaddah, warohmah til jannah.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Terima kasih semangatnyaaaaa. Othor kembali ceriaaaa. Next ep, Amira dan Ari kita pending dulu yaaa, fokus ke bang Duta sama Laras. Happy reading all 😘😘😘


__ADS_2