Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Bahagia atau Sedih?


__ADS_3

Siang itu Duta menghubungi istrinya lewat video call. Sekedar menanyakan kabar, dan memberi perhatian.


"Assalamualaikum bang, abang sudah sholat? Sudah makan?" tanya Laras ketika menerima video call itu.


"Waalaikum salam, sudah semua, kamu sendiri?" Laras mengangguk. "Makan apa tadi?"


"Nasi megono, bikinan mbak Amira bang, enak banget. Kata kak Ais mas Ari subuh buta sudah disuruh ngantar makanan itu" katanya semangat, dia tak ingin terlalu larut dalam kesedihan. Cukup saling menguatkan satu sama lain.


"Oh ya? Wah, mbak Amira masak sejak kapan tuh? Subuh buta sudah dikirim ke rumah bang Farid"


"Hehehe, gak tahu, tahunya makan aja, hihihi. Oh ya, kata Cicit nanti sore Laras sudah boleh pulang sayang"


"Alhamdulillah, senang abang mendengarnya. Tetap tersenyum seperti itu ya, jangan ada air mata lagi. Abang tutup dulu ya, ada tamu nih"


"Iya abang, semangat ya kerjanya. I love you. Assalamualaikum"


"I love you too, waalaikum salam"


Panggilan berakhir. Duta kaget menerima tamu itu. "Assalamualaikum pak Duta" sapa seorang lelaki itu.


"Waalaikum salam, pak Didit! Sudah bebas?" tanya Duta sambil memeluk seniornya itu.


"Alhamdulillah sudah pak, saya terbukti tak bersalah. Saya dijadikan kambing hitam oleh salah satu anggota yaaa... bapak tahu sendiri lah bagaimana dunia politik"


"Alhamdulillah, ikut senang saya mendengarnya pak. Terus kesini ingin menjemput mbak Amira?" Pak Didit mengangguk.


"Saya jelaskan dulu ya pak, sebenarnya mbak Amira ini saya titipkan di rumah mertuanya bang Farid, karena waktu itu mertua saya sedang di luar kota. Tapi diperlakukan baik kok pak oleh keluarga mertuanya bang Farid. Sekarang mbak Amira ikut kerja di perusahaan kakak iparnya. Kalau mau biar saya antarkan ke sana"


"Alhamdulillah jika Amira diterima dengan baik pak, saya sangat berterima kasih kepada semuanya. Jam kerjanya sampai jam berapa pak?"


"Biasanya kalau perusahaan ya sampai jam 4 sore pak. Saya beritahu bang Farid dulu. Atau mau istirahat di rumah saya saja? Nanti sore kita ke rumah mertuanya bang Farid. Gitu saja ya?"


"Ya sudah lah, saya malah jadi merepotkan"


"Tidak merepotkan sama sekali. Mari biar diantar sama supir saya" Duta menyuruh pak Pri untuk mengantarkan pak Didit dan pengacaranya ke rumahnya. Dia juga sudah memberitahu ART nya untuk mempersiapkan kamar tamu untuk 2 orang. Dia mencari keberadaan Farid tapi tak ketemu.


.


Farid bertemu dengan istrinya saat makan siang. "Ayo dong yank, makan. Masa mas disuruh makan sendiri sih"


"Sayang, aku sudah makan tadi saat ke kamar Laras. Perutku tak muat lagi"


"Ih, kamu" jawabnya sambil memanyunkan bibirnya. Ais hanya tertawa gemas melihat suaminya bertinglah begitu. Dia menerima chat dari Duta.

__ADS_1


"Makan lihat makanannya mas, jangan lihat hp"


"Suapin yank, bapak ngechat nih" Akhirnya Ais menyuapi suaminya. "Mas Ari biasanya pulang jam berapa?" tanya Farid disela-sela makan.


"Malam, jam 7 paling cepat. Kenapa?"


"Pak Didit, papahnya mbak Amira sudah bebas dan sekarang mau menjemput mbak Amira mau dibawa pulang ke Pati" Ais segera meletakkan sendok itu, padahal Farid sudah mangap tapi tak jadi disuap.


"Kok gak jadi disuap sih??" katanya kesal. "Wait sayang, mas Ari tak telpone dulu. Sudah tahu atau belum" jawab Ais.


Akhirnya Farid makan sendiri. Ais menelpon kakaknya. "Assalamualaikum, mas, sudah tahu kalau papahnya mbak Amira sudah bebas?"


Waalaikum salam, sudah, hmm, sekarang mas bingung dek, harus bahagia atau sedih?


"Ooh, nanti sore pulang cepat ya, mbak Amira mau diajak pulang sama papahnya. Kenapa bahagia atau sedih? apa maksudnya?"


Secepat ini? Iya lah, bahagia saat ini Amira bahagia papahnya bebas, sedih karena setelah ini aku gak ketemu sama Amira. Piye?


"Lhaaaah, malah nanya, ungkapin aja kenapa sih?"


Aku takut kalau ditolak olehnya karena aku duda


"Hmm, gitu lagi alasannya. Duren kamu itu. Duda keren. Dan menurutku mbak Amira gak mempermasalahkan status mu tuh. Tentukan pilihanmu sekarang! Keburu dibawa pulang. Sudah ya, pokoknya nanti sore pulang cepat"


"Waalaikum salam"


.


Ari mengacak-acak rambutnya. Bingung. Harus mulai dari mana. Dikatakan dekat, memang mereka dekat. Tapi untuk perasaan? Sampai saat ini Ari belum tahu bagaimana perasaan Mira terhadapnya.


Dia menyuruh sekretarisnya pulang terlebih dahulu. Dia juga menyuruh Amira datang ke ruangannya selesai jam kerja. Dia ingin sendiri tak mau diganggu. Amira menghampiri ke ruangannya. Dilihatnya Ari sedang berbaring miring di sofa panjang ruangan itu.


"Mas" panggil Amira lembut. Ari diam tak menyahut. Kemungkinan tidur. Amira mencoba membangunkannya, Ari kaget dan langsung terduduk.


"Maaf membuatmu kaget. Ada apa menyuruhku kemari?" tanya Amira lagi.


"Tadi aku ditelpon Ais. Dia ngasih kabar kalau papahmu sudah di Magelang. Ayo pulang" kata Ari. Amira malah duduk disebelahnya. "Kok malah duduk?"


"Rambutmu berantakan, wajahmu kucel. Kamu sedang ada masalah?" tanya Amira. Ari menggeleng. "Lagi pusing aja"


"Pusing kenapa?" tanya Amira merapikan rambut Ari. Sungguh, Ari sedikit terkejut dengan tindakan Amira.


"Gak papa, gak penting. Ayo pulang, kamu pasti bahagia" Amira masih tak bergeming. "Aku gak tahu harus bahagia atau sedih. Aku bahagia papah bebas, tapi aku sedih harus kembali ke Pati"

__ADS_1


"Memang kamu tidak senang balik ke asalmu?"


"Untuk saat ini aku tidak senang, sedih rasanya. Karena ada sesuatu yang membuatku betah disini" jawab Amira. Kamu ngerti gak sih mas, yang bikin aku berat ninggalin Magelang ya kamu


"Apa yang membuatmu betah?"


"Pekerjaan ku sekarang" jawab Amira berbohong. Dia ingin Ari yang lebih dulu mengungkapkan perasaan itu kepadanya. Tapi Amira berpikir bahwa Ari kurang peka.


"Kan nanti bisa cari lagi disana. Apalagi nama papahmu sudah bersih dari jerat kasus itu. Pasti lah banyak perusahaan atau bank yang mau menerimamu"


Amira menghela nafasnya. "Kamu gak keberatan aku pulang ke Pati?" tanyanya masih memberi kode.


"Yaaaaa.... gak papa...., asal kamu bahagia aku juga bahagia kok"


"Benarkah? Kok jawabannya kayak gimana gitu ya, kayak gak ikhlas gitu. Yakin pengen aku pulang ke Pati? Nanti kamu gak bisa lihat wajah aku lagi lho. Kan kamu sering tuh curi-curi pandang ke aku" goda Amira. Ari hanya tersenyum tipis.


"Ayolah, pulang" Ari berdiri dan mengemasi barangnya. Amira mengekor di belakangnya. Menyandarkan bokongnya di meja Ari. Ari sampai bingung dengan tingkah Amira.


"Awas sih, aku mau beres-beres. Gak enak kalau sampai papah kamu nungguin" katanya berkacak pinggang. Amira hanya tersenyum sekilas. Dia menarik dasi Ari dan mengecup bibir Ari sekilas.


Ari sampai melotot mendapatkan ciuman itu. "Aku sengaja mengulur waktu, agar kamu bilang perasaanmu kepadaku, dari tadi aku kasih kode, tapi kamu tak juga peka. Yang membuatku berat meninggalkan Magelang adalah kamu mas. Aku... aku... aku mulai jatuh hati sama duda satu ini" terang Amira.


Ari diam bagai patung. Dia meletakkan tasnya pada kursi, mulai mendekati tubuh Amira. Melingkarkan tangannya pada pinggul Amira. "Aku takut jika papahmu tak merestui. Bagaimanapun, aku ini duda. Semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak mereka"


Amira memeluk Ari. "Memang apa salahnya? Bukan kamu yang membuat kesalahan di masa lalu"


"Pulang lah ke Pati terlebih dahulu. Mari kita sama-sama yakinkan tentang perasaan ini" Amira sedih dengan permintaan Ari. Dia segera melepaskan pelukannya dan mengambil tasnya. Berjalan meninggalkan ruangan Ari.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Mas Ariiiii, pengen tak cuwil kamu. Mastiin perasaan yang kayak gimana lagi seeeeeehhh. Maaf ya othor pisahin mereka dulu, hihihi. Happy reading all 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2