Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Mundur


__ADS_3

"Bang" ucap Laras.


"Abang gak habis pikir sama kamu. Dia itu sudah menyakiti kita. Kamu masih mau nolongin dia?" kata Duta kesal


"Laras sudah mengikhlaskan semuanya bang, abang sendiri yang bilang ke Laras, kalau tidak boleh ada air mata lagi. Dengan cara mengikhlaskan Laras tidak menangis dan keberadaan abang menjadi penyemangat untuk Laras. Jadi, Laras juga minta sama abang, buang jauh-jauh dendam itu sayang. Waktu kita tidak banyak. Di dalam ruangan sana, ada seseorang yang butuh darah abang"


Duta berdiri dan menuju ruang laboratorium tadi. Laras tersenyum melihatnya. "Alhamdulillah" ucapnya bersyukur karena suaminya akhirnya luluh. Dia menghampiri suaminya yang sedang diambil darahnya.


"Ikhlas kan sayang?" Duta mencebik. "Jangan mancing emosi" Laras malah tertawa. "Harus ikhlas lho ya, jangan begitu dooong"


"Iya bawel" Duta telah selesai diambil darahnya. Dia diberi makanan oleh petugas laboratorium tadi. "Ternyata lapar juga ya habis diambil darahnya"


"Hahaha, abang belum pernah donor?" Duta menggeleng. "Abang selalu gagal waktu mau donor. Tensi kurang lah, ini lah, itu lah. Baru ini"


"Hebat ih suami aku" Seseorang masuk ke ruangan laboratorium. Matanya sembab setelah menangis. Wajahnya sendu diselimuti mendung kesedihan.


Laras dan Duta hanya diam melihatnya. Lalu dia berlutut. Membuat Laras dan Duta seketika langsung berdiri.


"Bum, bangun" ucap Laras. Bumi menangis. Duta yang sedari kemarin menahan emosinya kali ini mencengkeram kuat kerah baju Bumi.


"Bangun! Hapus air matamu!" Bugh satu tinju dari Duta ia layangkan ke pipi Bumi. Petugas laborat tadi memisahkan Duta dari Bumi. Laras menenangkan suaminya.


"Istighfar abang, setan sedang menguasai tubuh abang. Istighfar"


"Astaghfirullahal adzim" Duta mengusap wajahnya kasar. Laras membawa Duta keluar dari laboratorium. "Abang sebaiknya mengambil wudhu agar tidak dikuasai emosi lagi"


Duta mengangguk. "Tunggu abang disini" Laras mengangguk.


Bumi menghampiri Laras dan kembali berlutut. "Aku minta maaf"


"Bangun, Bum. Jangan berlutut seperti ini"


"Tolong maafkan aku"


"Duduklah" Bumi mendongak dan Laras menepuk bangku di sebelahnya. Bumi duduk di sebelah Laras.


"Sita istri kamu?" Bumi mengangguk


"Tidak usah menjelaskan apapun ke aku, Bum. Aku sudah tahu semuanya. Kamu yang menyuruh mas Budi untuk menaruh foto Dini dalam tas bang Duta. Kamu yang menyuruh orang untuk mencelakai ajudan bang Duta, dan kamu jugalah orang yang menyebabkan aku keguguran.

__ADS_1


Dirga mengenali motor kamu. Meskipun suruhan kamu itu tidak buka suara, kami tahu kamu dalangnya. Mungkin ini karma yang kamu terima akibat ulahmu sendiri. Apa Sita tahu? Aku yakin tidak. Karena jika dia tahu, dia pasti langsung meninggalkanmu. Kamu berubah Bum. Bukan Bumi yang aku kenal. Berubahlah, sebelum kamu jatuh terlalu dalam.


Dan satu lagi, ayahmu menjadi begitu karena beliau tidak bisa mengelola stress nya dengan baik. Kamu seorang dokter, sebelum kita ambil spesialis kita diajari ilmu umumnya terlebih dahulu. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Jangan berterima kasih pada kami. Karena kami melakukannya karena solidaritas sesama manusia. Aku permisi" Laras berdiri dan meninggalkan Bumi.


Duta mengintip dari kejauhan. Hatimu terbuat dari apa sih Ay? Kamu jelas-jelas tersakiti, tapi dengan mudah kamu memaafkannya. Ya Allah, sungguh mulia hati istriku.


Sita sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Laras mencari keberadaan suaminya tapi tak ketemu. Dia menghubungi suaminya. Abang lagi di kamar mandi. Balik dulu ke ruanganmu, nanti abang susul.


Laras kembali ke ruangannya. Ingin dia menemui Sita, tapi ia urungkan niatnya. Sudah terlalu banyak ia meminta kepada suaminya hari ini.


"Pulang yuk" ucap Duta diambang pintu. "Iya, Laras ambil tas dulu" Laras segera meraih tas dan ponselnya. Lalu berjalan menuju arah Duta.


.


Amira dan Ari sedang melangsungkan akad nikah di kediaman pak Didit. Seperti permintaan Amira, dia hanya ingin akad saja. Ais dan Farid turut senang dengan pernikahan mereka.


"Bismillahirrahmanirrahim, Ari Wibisana, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya Amira Salsabila dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 5 juta dibayar tuuuunaiiii"


"Saya terima nikah dan kawinnya Amira Salsabila binti Didit Mulyadi dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar 5 juta rupiah dibayar tunai" Doa pengantin pun dibaca. Semua tersenyum bahagia atas penyatuan dua insan itu.


"Alhamdulillah mas Ari dapat pengganti yang lebih baik dan terbaik menurut Allah" kata Farid sambil tersenyum.


"Aamiin"


Keluarga Ari langsung pulang ke Magelang karena mereka harus mempersiapkan syukuran atas pernikahan Ari.


Mereka saling berpelukan di atas ranjang itu. Saling tersenyum. "Kamu bahagia sayang?" kata Ari.


"Pasti lah. Duda keren pujaan hatiku. Kamu ingat saat kamu menumpahkan air di dress ku? Mulai saat itu aku jatuh hati padamu"


"Kok sama sih?" jawab Ari. Amira tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


"Alasan kamu cerai karena kamu diselingkuhi mas?" Ari hanya mengangguk. "Insyaallah aku tidak akan melakukan hal itu mas"


"Aamiin. Kamu tahu? Aku ini duda rasa perjaka"


Amira mendongak dan menggeser tubuhnya. "Masa sih?" Ari mengangguk. "Iya. Dia selalu ada alasan untuk menolak ku. Dan mulai saat itu aku curiga"


"Aku tidak akan pernah menolakmu mas" Ari mulai melancarkan aksinya. Bayangkan sendiri apa yang terjadi. Trauma kalau nanti suruh revisi lagi. Skiiiiiiiiippppppp

__ADS_1


Tes kesehatan sudah dilakukan oleh ketiga pasangan calon itu. Hasilnya juga sudah diumumkan. Mereka bertiga lolos semua.


Waktu pilkada tinggal 2 bulan lagi. Duta semakin sibuk dengan kampanye nya. Laras ikut dalam kampanye terbuka itu. Menemani kemanapun suaminya pergi, tapi dengan tidak mengabaikan tanggung jawabnya sebagai dokter. Alias, dia akan menemani suaminya jika jam kerjanya sudah selesai.


Debat dimulai. Mereka mengikuti dengan baik. Saat debat yang kedua, Bumi membuat pengumuman yang mengejutkan bagi banyak pihak. Dia mengumumkan bahwa dirinya akan mundur dari pilbup.


"Sebelumnya saya mohon maaf, mengecewakan banyak pihak. Tapi keputusan ini saya ambil karena saya tidak ingin kota Magelang ini memiliki calon pemimpin yang licik, yaitu saya sendiri. Saya sudah licik terhadap lawan saya, yaitu pak Duta Wicaksana. Saya mohon maaf pak, karena perbuatan saya bapak mengalami banyak hal.


Saya siap diadili oleh pihak berwajib. Saya akan mempertanggungjawabkan semua yang telah saya lakukan. Sekali lagi maaf membuat semuanya kecewa. Saya mundur dari pencalonan ini" Bumi menangis saat mengatakan pengakuannya. Sungguh hatinya langsung plong saat mengungkapkannya. Polisi langsung membawa Bumi ke polres untuk dimintai keterangan.


Duta sampai tak percaya jika Bumi akan mengakuinya didepan media.


Debat sudah selesai dilakukan. Kampanye juga sudah selesai dilakukan. Sekarang saatnya masa tenang. Setelah pulang kerja, Duta akan langsung pulang ke rumah.


Laras menyambut suaminya senang. "Abang masa tenang nih, habis ini pilbup. Kok jadi Laras yang deg-deg an ya?"


"Hahaha, kamu ini, kalah menang tak masalah untuk abang sayang. Siapkan air untuk abang ya. Kamu masak apa?"


"Nasi uduk, sambel teri sama ayam ungkep digoreng panas-panas"


"Hhmmm, sepertinya lezat. Siapkan juga makannya ya"


"Iya abang, mandi dulu. Nanti kita makan bersama. Laras kangen disuapi abang"


Duta mencubit pipi Laras. "Iya nanti abang suapkan"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


__ADS_2