
Rena datang membawa undangannya untuk disebarkan ke semua penjuru rumah sakit. Dari semalam dia sudah mempersiapkan mentalnya jika akan disorak-sorai oleh semua orang yang ada di rumah sakit.
Arjun membantunya membawakan undangan itu. Ais belum datang saat mereka tiba di poli bedah. Rena menyalami tangan Arjun. "Semangat kerjanya ya sayang" Rena mengangguk. "Iya mas, pulangnya hati-hati"
"Iya sayang, nanti mas jemput jam 4 sore" Rena mengangguk. Arjun mengecup kening Rena, membuat wajahnya menjadi merah padam. Ais datang dengan ceria seperti biasanya.
"Assalamualaikum" ucap Ais.
"Waalaikum salam" sahut Rena dan Arjun. Ais bingung dengan keberadaan Arjun.
"Kamu ngapain disini, Jun? Salah jadwal kamu?"
Rena menjawab cepat. "Ada barang yang ketinggalana katanya dok" Ais hanya mengangguk.
"Sudah ketemu?" tanya Ais lagi.
"Sudah, sudah ketemu kok. Aku pamit dulu" Arjun keluar dari poli bedah dan tersenyum. "Masih aja mau diumpetin. Rena....Rena. Kenapa sih?"
Arjun pergi meninggalkan rumah sakit. Rena segera mengambil status di bagian pendaftaran. "Oke dokter, pasien poli banyak ya hari ini. Terlebih lagi, nanti dokter ada kunjungan ke bangsal"
Ais mengangguk sambil minum. "Mumpung anakku bisa diajak kompromi nih yang di dalam perut, bawaannya happy yuk mainkan"
Rena mulai memanggil pasien satu per satu. Ais memeriksa pasien-pasiennya. Ada yang menjadwalkan operasi juga, dan ada yang hanya perawatan luka.
Rena dengan telaten menjadi asisten Ais. Membantu segala keperluan untuk melayani pasien-pasien itu.
Tak terasa, waktu berputar sangat cepat. Hingga dzuhur tiba pasien itu belum rampung juga. "Ren, istirahat dulu ya. Saya lapar" ucap Ais.
Rena mengangguk. "Tinggal 3 pasien kok dok"
"Eh, cuma 3? Kalau gitu lanjutkan sekalian lah, nanggung. Kasihan mereka" Ais berubah pikiran.
"Oke siap" Rena mulai memanggil lagi. Dan setelah 15 menit, pasien itu selesai semua.
"Alhamdulillah" ucap mereka berdua. "Saya ke ruangan Laras ya, mau makan siang disana"
"Eh, tunggu dok, ini, undangan dokter" Rena memberikan undangan dan juga kain seragam untuk Ais.
Ais yang masih tidak mengetahui hubungan Rena dan Arjun menjadi penasaran. "Dari siapa? R dan A. Jum'at 5 maret 2021? Dua minggu lagi dong"
"Dari saya dok, ini kain seragamnya"
"Sama siapa? Mantan tunanganmu yang dulu?"
__ADS_1
"Bukan dok, saya nyebar ke ruang lain ya dok" Ais mengangguk. Rena sudah meninggalkan poli bedah. Ais segera membuka undangan itu.
Dibacanya mempelai prianya. "Arjun Priyadi? Jadi? Selama ini mereka pacaran? Kok aku gak tahu sih?" Ais segera ke ruangan Laras dan mendapati Rena sedang disana.
"Renaaaaaa....." teriaknya. Rena hanya nyengir. Laras dan Nina tertawa. "Kenapa dok? Mempelai prianya bikin gempar kan?" ucap Nina
"Iya ih, kalian kok biasa aja sih. Kok cuma aku yang heboh?"
"Iya lah, kita sudah pergokin mereka kemarin kencan kok" jawab Laras.
"Semuanya, datang ya.... aku mau ke poli lain dulu" Rena segera kabur dari sana.
"Renaaaaa, aku mau interogasi kamu! Jangan kabur kamu" Ais berteriak memanggil Rena.
"Undangan yang bikin gempar. Kenyang ledekan nanti dia" Nina berucap dan semua tertawa.
"Kok bisa sih?" tanya Ais masih penasaran.
"Ya bisa lah, orang jodohnya kok kak" sahut Laras. "Ooo, pantesan tadi pagi Arjun ada di ruangan. Nganterin calon bojone toh. Telat info aku cah"
.
Rena menyebarkan ke semua poli. Mereka meledekinya habis-habisan. Yang mereka dengar dan mereka tahu, Rena dan Arjun bagaikan musuh. Selalu saling pisuh. Mana pernah akur. Dan sekarang? Nama mereka berdua terukir dinundangan itu.
"Dok, masih ingat kan dulu? Mulut dia sampai ditabok pakai undangannya dokter Ais oleh dokter Arjun" kata mbak Nung.
"Ingat lah mbak Nung, aku yang pisahin mereka. Kalau nanti sudah sah, ditaboknya pakai bibirnya dokter Arjun sendiri mbak Nung" Dirga menggoda Rena habis-habisan.
Mbak Pungki sampai geleng kepala. "Baru kali ini ada yang mau nikah tapi bikin gempar. Ya kamu itu Ren. Kamu diakali sama dokter Arjun nih, harusnya dia yang nganterin undangannya berdua sama kamu. Makin habis kamu digoda sama semuanya. Wkwkwkwk"
"Puas-puaske mbak, ledekin teroooooosss" Rena kalah karena tak ada yang di pihaknya.
"Wkwkwkwk, Ren, dokter Arjun cinta sama kamu karena suara knalpot cintamu itu" goda Mbak Nung lagi.
Rena menutup wajahnya malu. "Udah ah, aku mau nyebarin ke yang lain mbak Nung, mbak Pung, dokter Dirga....."
"Hahahah, sudah puas menggoda Rena belum nih? Kalau sudah, biarkan dia di bully sama poli lain" Kata Dirga.
"Sudah, lepaskan saja lah. Kasihan nanti kalau nangis" kata mbak Pungki. Akhirnya Rena diloloskan dari IGD.
Rena benar-benar kenyang hinaan dari rekan-rekannya semua. Tak menyangka akhirnya Rena berjodoh dengan Arjun.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Ais sudah selesai kunjungan bangsal bersama Rena. Dia menuju kembali ke polinya.
__ADS_1
Arjun sampai terlebih dahulu dan menunggu di kursi tunggu. Tak lama, Farid yang sengaja pulang awal menjemput istrinya. Farid melihat Arjun di depan poli bedah.
"Ngapain kamu disini?" tanya Farid tak ramah.
Arjun tersenyum. Gak suami Laras gak juga suami Ais. Posesif semua. Dasar lelaki pencemburu.
"Aku nunggu calon bojoku" jawab Arjun. Farid menautkan alisnya. Dia mengira yang dimaksud Arjun adalah istrinya.
"Jangan ngawur kamu kalau ngomong!" Farid hampir melayangkan tinjunya. Ais dan Rena berteriak. "Stop!" kata mereka.
Farid menoleh ke sumber suara. "Ada apa ini mas?" tanya Ais mendekat ke suaminya.
"Ini nih, si dokter songong bilang, kalau dia disini nunggu calon bojonya! Enak saja dia bilang!"
Ais tertawa, pasti Farid menyangka dirinya yabg dimaksud Arjun. "Iya bener dia nunggu calonnya. Ini lho orangnya" Ais menunjuk Rena.
Farid melongo tak percaya. "Be-beneran Rena calon bojone Arjun?"
"Iya mas, tuh undangan mereka ada di dalam. Sana minta maaf ke Arjun. Aku beres-beres dulu"
Ais meninggalkan suaminya. Begitu juga dengan Rena. Tinggal Farid dan Arjun. Farid mendekatkan dirinya pada Arjun lalu mengulurkan tangannya.
"Maaf mengira yang tidak-tidak padamu. Dan selamat karena mendapatkan jodohmu. Semoga lancar sampai hari H" Arjun menerima uluran tangan itu dan mereka berjabat tangan. Arjun tersenyum.
"Gak papa, aku pantas mendapatkan perlakuan begitu karena sikap arogan ku yang dulu"
Rena dan Ais keluar bersamaan. "Selamat ya buat kalian. Meskipun bikin gempar tadi. Arjun, kasihan tuh Rena di bully satu rumah sakit"
"Hahahah, itu salah dia sendiri Is, sudah bilang jangan diumpet-umpetin, tapi dia tetep pengennya begitu. Ya jadinya begini" jawab Arjun.
"Ya sudah kami duluan ya" Ais dan Farid segera pamit.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip