Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Hari Jadi


__ADS_3

Hari berlalu dengan sangat sibuknya, semua panitia penyelenggara acara hari jadi kota Magelang bekerja dengan totalitas agar mensukseskan acara hari jadi. Para ibu-ibu PKK melaksanakan sembako murah. Para masyarakat sangat menanti acara itu. Khususnya para ibu-ibu, mereka rela antri demi mendapatkan sembako murah itu.


Laras hanya bisa membuka acara dan menemani sebentar dalam acara itu karena dia tidak enak jika harus ijin terus menerus dari rumah sakit. Sekarang Laras dikawal oleh sopir dan pengawal. Sungguh tidak bisa bebas pikir Laras. Mau membantahpun percuma. Malah jadi ribut iya.


Setelah sembako murah itu esok paginya adalah peresmian taman x, sebuah proyek revitalisasi sungai dengan mengusung penghijauan dan ruang terbuka. Taman itu sudah dihias oleh instansi-instansi kota Magelang. Nantinya keindahan dan kebersihan taman itu menjadi tanggung jawab instansi tersebut.


Duta tidak ingkar janji, saat peresmian taman, dia yang didampingi istrinya juga mengumumkan pemenang dari lomba menghias taman itu. Duta juga memberikan tiket untuk ke Semilir bagi satu instansi yang menang. Tak hanya itu, Duta mewajibkan semua pelaku usaha di kota Magelang memberikan diskon 5 persen bagi pembeli. Hitung-hitung ikut menyumbang hari jadi.


Hari sabtu ini adalah hari H. Hari jadi kota x, Duta dan Laras sudah siap dengan pakaian adat. Mereka akan melakukan kirab budaya. Masyarakat tumpah ruah di jalan untuk menyaksikan kirab itu.


"Kamu seneng yank?" tanya Duta saat naik delman menyusui kota Magelang melakukan kirab.


Laras tersenyum tulus kepada masyarakatnya, mengatupkan kedua tangan seperti Duta seakan mengucapkan terima kasih untuk semua masyarakat. "Ya seneng lah bapak bupati kesayanganku. Melihat masyarakat begitu antusias menyambut kita, mereka senang. Itu artinya kerja keras semuanya terbayarkan oleh senyum kebahagiaan dari mereka sayang"


"Gak capek?"


"Tidak, begini ya jadi bu Bupati"


"Hari jadi kali ini lebih meriah dari yang sebelumnya sayang. Malam nanti akan ada pertunjukan wayang kulit di pendopo, tapi juga disediakan layar di berbagai penjuru agar masyarakat juga bisa menikmatinya"


"Iya kah? Alhamdulillah jika ada peningkatan kemeriahan. Agar semua masyarakat senang bang"


Duta tersenyum kepada istrinya. "Terima kasih selalu mendampingi abang"


"Sama-sama sayang"


Kirab berjalan dengan lancar. Masyarakat begitu senang karena mereka bisa melihat ibu Bupati mereka. Banyak yang memuji kecantikan Laras. Bahkan ada ibu hamil yang ingin perutnya disentuh oleh Laras. Dia rela beradu mulut dengan para pengawal disana agar bisa menuruti keinginannya.


Farid sampai harus turun tangan. "Ada apa bu?" tanyanya.


"Saya ingin bu Bupati mengelus perut saya pak, sebentar saja pak"


"Maaf bu, Bu Bupatinya sedang sibuk dalam acara hari jadi. Lain kali saja ya"


"Ya Allah pak, kamu tega sama orang hamil. Tolong lah pak, hanya sebentar saja pak. Beginilah jadi orang hamil pak, tiba-tiba ingin sesuatu dan harus terpenuhi. Tolong lah pak, sebentar saja. Setelah itu saya akan pergi" ibu itu memohon hampir menangis. Akhirnya Farid memberitahukan kepada Duta dan Laras.


"Dimana orangnya mas? Suruh masuk kesini saja. Boleh kan bang?" tanya Laras.


Duta mengangguk. Farid segera membawa ibu hamil itu masuk ke pendopo. Saat itu sedang acara makan-makan. Laras mendekati ibu itu dan mengelus perutnya.

__ADS_1


"Sehat sampai lahiran ya bu, dedek sehat-sehat di dalam perut ya" ucap Laras sambil tersenyum lalu memeluk ibu hamil itu.


"Terima kasih bu, semoga anak saya nanti perempuan cantik dan baik hati seperti ibu. Dan semoga ibu dan bapak cepat diberikan keturunan"


"Aamiin" Laras memberikan makanan untuk ibu itu. Lalu ibu dipersilahkan untuk meninggalkan pendopo setelah mendapatkan keinginannya.


Malamnya Duta dan Laras membuka pagelaran wayang kulit. Mereka juga ikut menyaksikan pertunjukan itu. Hingga pukul 12 malam. Pesta semakin meriah karena ada pesta kembang api. Laras senang melihatnya.


Perayaan hari jadi kali ini sungguh meriah dan sukses seperti biasanya. Semua dapat menikmati perayaan itu. Khususnya untuk masyarakat. Duta ingin semua masyarakatnya bisa menikmati kemeriahan itu.


Laras mengantuk, dia mengajak suaminya untuk pulang. Lalu mereka pamit kepada semuanya.


.


Minggu ini Laras sudah berjanji untuk menemani Ais fitting. Akhirnya Duta juga mengikuti kegiatan mereka.


"Bang, yakin mau ikut fitting? Lama lho" tanya Laras kepada suaminya.


"Iya yakin. Dulu kan mereka yang jadi tim sukses kita yank. Bantuin dikit lah, balas budi. Lagian minggu ini aku milikmu sayang"


"Hahaha, bener ya milik Laras. Nanti tiba-tiba ada kerjaan, nanti tiba-tiba ada ini itu?"


"Insyaallah gak sayang, hari jadi sudah selesai semalam. Jadi agak lenggang"


"Nunggu pak Pri sebentar"


"Heh, ini nih. Laras sebenarnya gak suka kalau disupirin. Kenapa abang gak kayak dulu saja sih? Yang kemana-mana selalu mandiri. Hanya menugaskan mereka saat tugas kedinasan"


"Salah kamu sendiri kemarin main ngilang. Ya sekarang harus nganut. Lagian memang tugas mereka sayang"


"Mbuh lah bang"


"Hahaha, jangan cemberut dong. Abang ingin kamu aman. Dirga kan gak bisa mengawasi mu. Eh, tapi abang penasaran. Sebenarnya dia masih ada rasa gak ya sama kamu?"


"Mana Laras tahu. Tidak usah penasaran. Yang penting hati aku buat kamu"


Tak lama sebuah mobil berhenti. Pak Pri sudah sampai. Mereka lalu menuju tempat Farid dan Ais fitting baju pengantin.


Sekitar 20 menit perjalanan mereka telah sampai disana. Ais dan Farid pun sudah berada disana.

__ADS_1


"Assalamualaikum" ucap Duta dan Laras masuk ke butik itu.


"Waalaiakum salam" sahut Ais dan Farid.


"Lhoh, bapak ikut juga? Wah, jadi tidak enak saya pak. Maaf ya pak malah jadi merepotkan"


"Gak papa bang, kan dulu saya merepotkan abang dan mbak Ais" sahut Duta.


Fitting baju pun dimulai. Ais dan Farid mencoba 3 pasang baju. 1 untuk akad berwarna putih. 1 kebaya untuk prosesi siraman berwarna kuning, dan 1 gaun untuk resepsi berwarna maroon.


Kulit Ais yang putih membuatnya menjadi nilai lebih. Apapun yang dipakai Ais sangatlah cantik. Farid sampai berdecak kagum melihat calon istrinya itu.


"Masyaallah, cuantik nyaaaaa"


"Ojo lebay. Ingat ada pak Duta dan bu Laras disini. Isin aku kalau mbok godain mas" balas Ais


"Hahaha, gayamu kak. Biasanya juga malu-maluin. Mas Farid coba sini bersanding. Tak foto dulu. Mau tak buat status" pinta Laras. Farid segera mensejajarkan tubuhnya kepada Ais.


"Jangan kaku begitu to bang, sedikit luwes. Wajahmu itu lho. Kaku banget. Hahaha" Duta ikut-ikutan berkomentar.


"Senyum" ucap Laras.


"Ya Allah gusti, senyumnya jangan kayak orang maskeran takut pecah begitu. Lebih luwes ngunu lho. Angel nemen sih. Gini lho" Duta mencontohkan senyum kepada Farid. Ais tertawa karena calon suaminya begitu kaku.


"Naaaahhh gitu kan bagus. Satu... Dua.... Tiga. Siiiip"


Laras segera mengupload menjadi status di sosmednya. Menuliskan dengan caption. OTW halal.


Arjun yang mengikuti sosmed Laras melihat unggahannya itu dan malah mengumpat. "Sialan kalian, bahagia sekali kalian"


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2