Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Welcome Home


__ADS_3

Alarm Duta berbunyi pukul 2 pagi. Dia segera bangun membersihkan diri dan membangunkan istrinya untuk sholat tahajud. Pukul 3 tepat Dirga menghubungi Duta bahwa dirinya sudah sampai di stasiun x. Tak berselang lama Agus pun menghubunginya. Duta dan Laras segera menuju loby dan menjemput mereka.


Yuna dan Kinan serta Laras kembali tidur. Sedangkan para pria itu menjemput Dirga di stasiun. Waktu masih terlalu pagi. Duta tidak kepikiran untuk menambah kamar untuk mereka. Akhirnya mereka menelusuri kota Jogja di jam dini hari itu. Mereka berwisata kuliner malam dan mengobrol.


Adzan subuh berkumandang, mereka memutuskan berhenti di sebuah masjid dan melaksanakan sholat subuh. Dirga memilih untuk tidur di mobil sambil menunggu mereka sholat.


"Hoammm, ngantuk banget siiih. Padahal di kereta aku tidur terus. Pantesan mamah sering ngomel kalau aku libur. Kerjaan aku hanya tidur. Haha" gumam Dirga pada dirinya sendiri.


Iqomah terdengar, Dirga tersenyum sambil mendengarkannya. "Selalu bisa bikin hati adem denger suara adzan. Pernah berniat pindah agama karena kamu Ras. Pantesan kamu tetap menolak ku. Yang kamu mau aku masuk islam bukan karena kamu tapi karena kemauanku sendiri.


"Dirgaaaa Dirga, dasar cowok bodoh. Gimana caranya aku lupa sama rasa itu? Kalau yang ada kemungkinan bertemu selalu ada? Hah, hukumanku banyak sekali Tuhaaan, hilangkan saja rasa ini Tuhaaaan, aku tak pantas untuknya. Cari yang lain Dirgaa, banyak cewek yang masih single. Jangan suka sama istri orang. Apalagi sepupumu sendiri. Keluarganya sudah banyak membantu keluargamu. Come on" imbuhnya lagi.


Tak lama Duta, Agus, dan Farid kembali ke mobil. Dirga berpura-pura memejamkan matanya.


"Yaaah, dia tidur. Memang dasar Dirga, nempel dikit molor. Sama waktu kecilnya. Hahaha" ucap Agus yang duduk disebelah Dirga.


"Woy bangun! Tidur terus" ucap Duta melempar tisue ke arah Dirga.


"Ih Aa', lagi tidur juga" sahutnya dengan nada kesal.


"Kamu ini, memang di kereta tidak tidur?" tanya Agus.


"Nggak A', ada cewek geulis disebelah Dirga, ya aku ajak ngobrol. Kesempatan emas" jawabnya sambil menaik turunkan alisnya.


"Hahaha, dasar Dirga"


"Aa' kenapa pulang Jakarta sih? Baru juga akunya sampai"


"Ada urusan. Nanti kalau Aa' ada waktu pulang lagi kesini. Titip mamah ya Ga, jangan bikin budhe marah. Tahu sendiri kan budhe kalau marah gimana? Gak bisa tidur 3 hari 3 malam karena suara merdunya budhe" terang Agus


"Hahaha, iya A'. Dirga masih ingat dulu waktu kecil budhe marah sama kalian berdua sambil pake sapu. Akunya yang gak tahu ikut-ikutan kena marah. Setiap ditanya budhe kenapa lalu deh kayak kompor mledug"


"Hahaha, itu kan karena kamu Ga, sudah tahu budhe marah. Masih tanya budhe kenapa. Ngebangunin Angsa tidur kamu" sahut Duta.


"Hahaha" mereka semua tertawa. Farid yang tidak mengerti hanya ikut senyum-senyum sendiri.


"Jalan sekarang pak?" tanya Farid.


"Iya bang, kembali ke hotel dulu. Check out dulu. Baru nanti cari sarapan dan ngantar mas Agus ke bandara. Eh, kemarin bagaimana? Kok gak bilang sih mau lamaran? Tahu begitu kan kita pulangnya dipercepat" jawab Duta.


"Hehehe, ya saya gak mau ganggu yang lagi bahagia lah pak. Yang penting kan nanti waktu kami nikah bapak dan mbak Laras datang"


"Untung gak ditolak lagi ya Rid?" sahut Agus dari belakang.

__ADS_1


"Hahaha, jangan lah Gus, gak sia-sia aku nunggu"


"Memang selama ini abang nunggu Ais?" tanya Duta.


"Saya malu bilangnya pak, saya masih suka stalking in sosmed nya pak. Wkwkwkw"


"Ha?" kompak mereka melongo mendengar jawaban Farid.


"Hahahahah. Jangan bilang Ais ya pak, bisa jatuh harga diri saya paaaak" ucap Farid memelas.


"Ya Allah si abang, seperti ABG saja stalking in mantan"


"Et, sekarang bukan mantan dek, calon bojo kok" timpal Agus


"O iya deh, hahaha. Selamat ya bang"


"Makasih pak"


Mobil melaju meninggalkan masjid menuju hotel x. Laras dan Yuna yang sudah siap dengan barang bawaan mereka menunggu kabar dari suami mereka.


"Kak, ini oleh-oleh buat kakak. Hmm, kok sudah pulang saja sih"


"Terima kasih Ras, nanti kalau ada waktu lagi kakak pasti pulang kok. Baik-baik sama suami ya. Saling terbuka. Kalau ada masalah mamah jangan sampai tahu. Meskipun kalian sudah tidak serumah sama mamah tapi kuping mamah tuh ada dimana-mana" Yuna menasehati Laras.


"Iya kak, ini Kinan gak mau dimandikan dulu?"


Duta dan rombongan sampai di hotel x. Dia langsung menuju kamarnya untuk membantu Laras mengeluarkan barang bawaannya. Kinan yang masih tidur akhirnya digendong oleh Duta, Laras dibantu Yuna membawa barang-barang mereka.


Mereka check out dari hotel itu dan bergegas mencari makan. Setelah selesai sarapan mereka bergegas menuju bandara.


"Kalian nanti pulangnya hati-hati" ucap Agus kepada Duta dan rombongan.


"Iya mas, kalian juga hati-hati. Kakak jangan terlalu capek" balas Duta.


"Iya" sahut Yuna.


Akhirnya mereka berpisah kembali ke tujuan masing-masing. Pulang ke rumah masing-masing.


Duta dan rombongan kembali ke Magelang setelah mengantarkan kakaknya. Di perjalanan sesekali mereka bercanda. Hingga tak terasa sampailah mereka di rumah mamah Aini.


Mamah Aini yang sudah menunggu kepulangan mereka menyambut dengan hangat kedatangan mereka.


"Wel com hom" ucapnya sok-sokan pakai bahasa inggris.

__ADS_1


"Hahaha, budheeeee. Selalu belibet lidahnya. Ikuti Dirga, wel kam hom, welcome home"


"Wel kam hom"


"Nah itu" ucap Dirga.


"Hahahah, ayo masuk dulu. Kalian disini dulu kan?" tanya mamah Aini kepada Duta dan Laras.


"Kami langsung pulang ya mah, nanti sore kami kesini lagi. Ini oleh-oleh buat mamah" ucap Laras


"Aaaah, terima kasih menantu mamah. Gak usah repot begini. Cukup perut kamu cepetan blendung saja mamah sudah bahagia"


"Doakan mah. Semoga usaha kami membuahkan hasil. Ya sudah kami pulang dulu. Nanti sore kami kesini lagi. Assalamualaikum" pamit Duta kepada mamahnya.


"Waalaikum salam. Hati-hati" ucapnya sambil memeluk anaknya satu per satu.


Duta dan Laras diantar Farid kembali ke rumah mereka.


"Mas Farid, ini titip buat kak Ais ya, yang ini buat mas Farid" ucap Laras berpesan kepada Farid.


"Nggih bu, nanti saya sampaikan. Terima kasih banyak ya bu" jawab Farid dengan panggilan barunya kepada Laras.


"Makasih ya bang, pulangnya hati-hati" sahut Duta.


"Nggih pak, kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" jawab mereka. Sepeninggalan Farid mereka masuk ke rumah mereka.


"Assalamualaikum" ucapnya bersama.


"Wolcome home" ucap Laras kepada Duta. Duta tersenyum dan mencium kening istrinya. Kehidupan rumah tangga menantinya.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Author ketiduran, tak kira semalam sudah tak serahkan ke MT, eh jebule belum. Wkwkwk. Maap yak semuaaaaa. Happy reading. 😘😘😘


__ADS_2