Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Ada Rasa


__ADS_3

Pagi itu Amira sudah rapi. Dia membantu ART yang ada di rumah pak Wibi mempersiapkan sarapan dan berberes rumah.


"Mbak Mira, duduk saja disanaa, nanti saya dimarahi nyonyah" kata bi Yem.


"Gak papa bi, bibi fokus bersihin lantai saja. Urusan masak biar aku yang selesaikan"


Ari baru keluar dari kamar, melihat Amira sibuk di dapur. Dia menyandarkan tubuhnya pada tembok. Melihat Amira sambil mesam mesem tak jelas. Benar-benar ada rasa aku sama kamu Mir, terbalas gak ya? Bi Yem yang melihat itu tak tahan untuk tak menggodanya.


"Den, jangan cuma dipandangi saja. Jadikan pendamping juga dong biar bisa memiliki seutuhnya" Amira yang mendengar hal itu hanya menyimpan senyumnya.


Ari melotot kepada bi Yem. "Sebelah sini masih ada debunya tuh tuh" Ari duduk di meja makan menunggu sarapan siap. Pak Wibi dan istrinya turun menuju ruang makan yang bersatu dengan dapur itu.


"Seneng ya mah serasa ada yang beda gitu rumah kita kedatangan Amira" puji pak Wibi.


"Papah bisa saja, Mira biasa kok melakukan ini itu sendiri. Kan papahnya Mira semua keperluannya disiapin Mira semua, jadi begini ya sudah biasa"


"Bener-bener calon mantu idaman. Ri, nanti kamu carinya yang seperti Mira saja" goda papah Wibi.


Amira sungguh cekatan sekali, dia mempersiapkan sarapan dengan sangat rapi. "Papah, mamah, dan mas Ari minum kopi, teh, atau susu?"


"Susu" jawab mereka kompak. Bi Yem yang sudah selesai membersihkan lantai membantu Amira membuat susu.


"Mbak Mira duduk saja di sebelah den Ari, saya sudah selesai kok mbak" Amira mengangguk. Dia duduk di sebelah Ari. Makin tak karuan degup jantung Ari.


Saat sedang sarapan mamah bertanya, "Mira kamu mau kemana nak? Kok sudah rapi sekali"


"Cari kerja mah, buat penyambung hidup"


"Jurusan kamu apa Mir?"


"Akuntan mah, dulu jadi manager keuangan bank di Pati"


"Ri, di kantor kamu bukannya lagi butuh satu karyawan keuangan? Kan kemarin papah ambil dari kantor kamu satu buat di kantor papah" sahut papah. Ari mengangguk.


"Sudah ada yang mengisi lowongan itu?"


"Belum pah, banyak dari para pelamar minta gaji besar. Padahal di kantor kita kan sudah sesuai UMR"


"Nah, Mira kerja di kantornya Ari saja. Pulang sama berangkat nanti sama Ari" kata papah lagi.


"Iya, masukin lamaran ke kantorku aja Mir"


"Ih, pake acara buat lamaran" protes mamah


"Ya biar gak dianggap nepotisme dong maaah, kan cv karyawan harus ada untuk databased"

__ADS_1


"Saya sudah buat kok mas" Ari mengangguk. "Berangkat sama aku aja kalau begitu" Amira mengangguk. Jalannya dipermudah untuk urusan pekerjaan.


"Papah kamu sudah ada kabar Mir?" tanya papah.


"Sudah pah, hari ini dibawa ke Jakarta. Semoga kasus papah bisa cepat selesai dan saya bisa kembali ke Pati. Nanti saya akan cari kontrakan atau kos saja. Gak enak merepotkan semuanya"


Mereka semua menatap ke arah Mira. "Kok gak enak sih, kami ini diberi amanah dari papah mu, untuk menjaga mu, ini kamu malah mau ngekos" cerocos Ari. Amira hanya diam.


"Gak usah merasa gak enak Mira, mamah seneng kamu disini. Berasa punya anak perempuan lagi" Amira mengembangkan senyumnya membuat pria disebelahnya kembali salah tingkah melihat senyuman manis yang mengandung gula itu.


"Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua"


"Aamiin"


.


Duta mulai menunjukkan perhatiannya kepada Laras. Dia menepati ucapannya untuk tak pulang larut dan selalu memberi kabar. Tapi ini baru 2 hari, Laras masih ingin menguji suaminya. Seperti biasa Laras akan muntah saat malam, dan setelahnya dia akan merasa lapar.


"Bang, bisa minta tolong gak?" Duta yang kala itu akan terpejam membuka kembali matanya.


"Apa sayang?"


"Debay minta dibelikan kue cubit nih"


Duta menyangga kepalanya dengan satu tangan. "Masih ada gak ya kue cubitnya? Udah jam 10 malam. Ini yang minta debay apa mamahnya?"


"Kamu gak lagi nguji abang kan?" Laras menggeleng. "Kalau abang gak mau ya sudah, aku suruh Dirga saja kalau begitu"


"Kok Dirga lagi sih?? iya abang belikan. Tunggu disini ya" Duta segera turun dan mencari kue cubit. Keberuntungan berpihak kepadanya. Masih ada pedagang yang jual kue cubit.


"Bu kue cubitnya masih?"


"Eh pak Bupati ya? Masih pak. Mau rasa apa?"


"Iya bu, ada rasa apa saja?"


"Ini daftar menunya pak, agak sepi tadi jadi masih lengkap" penjual itu memberikan daftar menu kepada Duta. Dia lupa menanyakan kepada Laras ingin rasa apa. Dia merogoh koceknya tapi tak menemukan ponselnya.


"Semuanya bu, tiap rasa kasih 5 buah ya. Buat orang ngidam"


"Oh Ibu sedang hamil toh pak? Alhamdulillah, siap pak, ditunggu sebentar ya" penjual itu lalu membuatkan pesanan Duta. Tak berapa lama pesanannnya pun jadi.


"Semuanya 75 ribu pak" Duta memberikan uang 100 ribuan 1. Kembaliannya buat ibu saja. Semangat jualannya ya bu"


"Matur suwun pak, semoga ibu suka dengan kue nya"

__ADS_1


"Iya bu sama-sama. Saya permisi dulu. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Duta kembali ke rumah dengan kue cubit pesanan istrinya. Laras kegirangan saat Duta datang. Dengan cepat dia membuka kue itu. Harum. Terlihat menggiurkan. Masih hangat. Sesuai dengan yang dia mau.


Duta hanya tersenyum saat Laras makan dengan lahapnya. "Papah gak dikasih nih?"


Laras dengan mulut masih penuh menjawabnya "Gak boleh! Ini punya debay, kalau satu aja boleh. Tapi jangan minta lagi"


Duta malah tertawa mendengar jawaban istrinya. "Lucu banget sih, habisin tuh"


"Makasih ya bang"


"Makasih untuk apa?"


"Makasih abang sudah nuruti keinginan Laras. Makasih sudah ada rasa perhatian ke Laras dan debay"


Duta menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya. "Abang merasa sangat bersalah dengan kalian, abang seperti suami yang gila pangkat dan harta sampai tidak memberi perhatian sama kalian. Padahal memberi perhatian kan juga termasuk nafkah yang harus abang berikan untuk kamu. Maafin abang ya Ay, abang terlalu egois"


"Iya Laras maafin abang, tapi kalau sampai abang begitu lagi, siap-siap saja tidak bisa bertemu Laras"


Duta menelan salivanya. Dia melihat wajah Laras mengerikan saat mengatakan itu. "Insyaallah gak sayang, abang akan memberikan perhatian untuk kalian. Meskipun belum bisa maksimal tapi abang akan berusaha"


"Makasih abang"


"Sama-sama, jadwal USG lagi kapan? Abang ingin lihat debay"


"Nanti buat janji dulu sama Cicit, luangkan waktu abang jika Laras sudah buat janji dengan Cicit. Udah lama abang gak murotal. Laras ingin dengar abang murotal dong"


Duta segera mengambil wudhu dan mulai melantunkan ayat suci al-quran sesuai keinginan istrinya. Dia membaca surah Maryam. Sungguh merdu. Membuat Laras teringat kembali akan pertemuannya dengan Duta karena suara itu, meskipun belum tahu rupa.


Yang selalu membuatnya terhanyut dan terbuai akan merdunya. Hingga memang mereka ditakdirkan untuk bersama.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2