Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
4 Bulanan


__ADS_3

Mamah Aini datang ke rumah abi. Mereka sengaja bertemu untuk membahas acara 4 bulanan Laras. Karena umur kehamilan Laras sudah menginjak minggu ke 14. Mamah Aini mengambil alih acara ini karena melihat Duta yang sibuk dan Laras yang masih saja mengalami morning dan night sickness.


"Jadi beneran nih jeng Saodah sama pak Gunawan yang mau mengadakan syukuran?" tanya mamah Aini memastikan.


"Iya jeng, biar saya saja yang mengadakan syukuran. Kan saya belum pernah jeng" jawab umi Saodah.


"Hmm, kalau begitu saya bisa mengundang beberapa kerabat saya jeng"


"Yo tentu bisa to besan. Nanti acaranya di rumahnya mereka saja" jawab Abi cepat.


"Ya sudah, kalau begitu. Jeng, pak, saya minta maaf jika Duta terlalu sibuk"


"Halah, kayak sama siapa saja. Kami memaklumi jeng. Iya kan bi?" tanya Umi kepada Abi.


"Iya, kami sangat maklum mengingat pekerjaan Duta yang benar-benar menyita waktu. Tidak usah tak enak hati besan" sahut Abi.


Mamah Aini dan Umi Saodah menghitung umur kehamilan Laras. Mereka juga berdiskusi menentukan tanggal dan menu makanan.


"Jadi 2 minggu lagi ya jeng acaranya, tanggal 22 nanti. Terus untuk menunya bagaimana jeng?" tanya mamah Aini.


"Iya tanggal ini saja, kan hari sabtu jadi mereka agak selo. Gak sesibuk hari biasanya. Menunya seperti biasa saja jeng"


"Atau kita serahkan ke catering saja dan sekalian acaranya?" mamah Aini memberi saran.


"Halah, gak usaaah. Acara syukuran saja. Kalau diserahkan ke catering saya setuju"


"Yawes kalau begitu. Nanti kita beritahu mereka tentang acara ini" mamah Aini menyetujui ucapan umi Saodah.


.


Laras baru saja pulang dari kerja sore itu. Dia melihat ponselnya. "Hmm, kamu berubah bang" katanya Lirih. Dia menaiki tangga dengan lesu. Segera setelah sampai kamar dia membersihkan dirinya. Melihat kembali layar ponsel itu. Dia menunggu kabar dari suaminya.


Setelah 3 minggu mereka bertengkar Duta hanya menepati janjinya selama 1 minggu. Setelah itu, dia lupa lagi untuk memberi perhatian kepada Laras.


"Salah gak sih bang aku ngijinin kamu buat jadi bupati lagi? Kenapa berat sekali? Waktu luang untuk kita sama sekali tak ada" ucapnya sambil berkaca-kaca. Dia segera menghapusnya.


Dia merasa perutnya lapar, tapi dia malas untuk turun. Dia menghubungi ART nya untuk membawa makanan ke atas. Tak berapa lama bi Mar masuk dengan membawakan makanan.


"Masak apa bi?" tanya Laras.


"Masak capcay bu, sama bandeng presto. Mau ditemani makan bu?"


"Iya bi. Tunggu sebentar ya" Laras segera makan dengan lahapnya. Mamah Aini menyusul ke kamar.

__ADS_1


"Assalamualaikum mantu mamah" ucap mamah Aini dengan sumringah dan tersenyum lebar.


"Eh, waalaikum salam mah, makan mah" jawab Laras senang.


"Iya, pelan-pelan nanti tersedak. Bi Mar, Laras biar saya yang menemani"


"Nggih bu" bi Mar kembali ke dapur. Mamah Aini membelai rambut menantunya itu. Tampak bahagia sekali menikmati makanan itu. Seperti orang yang tidak makan 3 hari, sangat lahap.


Mamah Aini melihat piring Laras bersih tak bersisa. "Mau nambah? Biar mamah ambilkan"


Laras minum sambil menggeleng. "Gak mah, sudah kenyang. Mamah ada apa kesini?"


"Mamah kesini mau memberitahu tanggal 22 nanti kita adakan acara syukuran 4 bulanan di rumah ini"


"Ya Allah, mamah, jadi terharu Laras. Maaf ya mah, Laras belum kepikiran hal itu"


"Iya gak papa, tadi juga mamah sudah diskusi sama umi dan abi mu, mereka yang akan menyelenggarakannya, tapi di rumah mu ini. Nanti dicateringkan semua. Kita hanya mengundang kerabat saja kok sayang"


Laras benar-benar merasa tak enak hati. Dari kemarin dirinya hanya sibuk memikirkan suaminya yang selalu kurang memberikan perhatian padanya. Dia lupa jika orang sekitarnya malah justru memberikan perhatian yang bagai air, tak pernah putus.


"Astaghfirullah" ucap Laras sambil mengusap wajahnya.


"Kenapa?"


Mamah Aini tersenyum. "Duta tidak usah dipikirkan. Ingat, ibu hamil tidak boleh terlalu stress. Nanti bilang sama Duta ya, soal acara ini"


"Iya mah, nanti Laras bilang sama abang"


"Ya sudah, kamu mau mamah temani sampai Duta pulang?" Laras tampak berfikir. "Boleh jika mamah ada waktu luang. Kita nonton running man yuk mah" jawab Laras senang.


Mereka tertawa menonton acara itu. Hingga selepas isya' mamah Aini masih menemani menantunya. Laras mulai kembali mual muntah. Mamah Aini sampai tak tega melihatnya. Pagi dan malam seperti itu, padahal sudah lewat 3 bulan.


Seperti biasa, Laras akan lapar setelah muntah. Anehnya jika susu itu dibuatkan Duta ataupun mamahnya akan selalu cocok dilidahnya, berbeda jika para ART nya yang membuat. Padahal juga takarannya sama.


Setelah Laras tertidur barulah mamah Aini pulang, entah anaknya pulang jam berapa. Membuat hatinya sedih melihat menantunya.


Tanggal sudah mendekati acara 4 bulanan. Laras selalu mengingatkan Duta akan acara penting itu. Duta hanya bilang "Iya sayang". Selalu begitu.


Saat itu waktunya kontrol kandungan. Laras sudah membuat janji dengan Citra nanti siang, dia juga sudah memberitahu suaminya 1 hari sebelumnya. Tapi saat waktu itu tiba Duta tak kunjung datang, jadilah dia melakukan USG seorang diri.


"Gak ditemenin suami nih?" tanya Citra. Laras hanya tersenyum "USG yuk, kangen aku sama debay"


Citra hanya bisa menghela nafas dan mulai memainkan stik USG nya. Dia menjelaskan kondisi janin kepada Laras. Laras juga mendengar detak jantung janin nya itu. Sungguh terharu dia saat itu. Sayangnya papah gak bisa denger suara jantung kamu untuk yang pertama kali ya nak

__ADS_1


Citra mencetak hasil USG dan meresepkan vitamin untuk Laras. "Sehat terus calon ponakan budheee" katanya saat Laras meninggalkan ruangan itu.


Sedih? Pasti! Tapi itulah konsekuensi yang harus Laras terima.


Acara syukuran pun berlangsung. Laras pagi tadi sudah mengingatkan Duta untuk pulang awal. Hingga selesai maghrib Duta tak menunjukkan batang hidungnya. Akhirnya abi mulai memimpin acara syukuran itu tanpa kehadiran mantunya. Mamah Aini sampai geram akan Duta.


"Pak, hari ini acara syukuran 4 bulanan?" tanya Farid panik. Duta langsung melotot mendengar ucapan Farid.


"Bang, tanggal berapa sekarang?"


"22 pak"


"Astaghfirullaaaaah, kenapa bisa sampai lupa siiiih. Ngebut pak Pri" ucap Duta sudah gusar.


Farid mendapat chat dari istrinya yang menanyakan keberadaan mereka. Ais juga memberitahu tentang acara itu. Habis lah para pria itu!


Duta dengan tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Ais langsung pamit pulang bersama orang tua dan mertuanya. Tinggal mamah Aini, abi dan umi.


"Abang darimana saja??" tanya Laras sambil berurai air mata.


"Sayang, maaf. Abang tadi ada pertemuan dengan partai x"


"Hingga lupa acara untuk calon anak kita bang? Kemarin aku USG sendiri tidak kupermasalahkan. Tapi kali ini abang keterlaluan. Sampai lupa acara penting ini" Laras naik ke atas dengan berlari. Duta ingin mengejarnya, tapi dicegah oleh abi.


"Selesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Jangan menuruti emosi. Abi dan umi pamit. Abi harap kamu setidaknya meluangkan waktu untuk Laras" ucap abi. Duta mengangguk merasa bersalah. Mereka semua pamit kepada Duta.


Duta naik ke kamarnya setelah semua pulang, dia melihat istrinya masih sesenggukan dalam selimut. Laras merasa perutnya mual lagi. Dia segera berlari ke kamar mandi.


Duta benar-benar merasa bersalah. Di satu sisi dia secara tidak langsung sudah menyakiti istrinya. Di sisi lain, dia juga memiliki tanggung jawab terhadap apa yang sudah dipilihnya.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Sedih gak sih gengs?


__ADS_2