
Dirga sengaja menukar jadwalnya dengan temannya yang kebetulan bisa. Nina menjadi sedih karena tak bertemu dengan Dirga. Sebenarnya Dirga sedang menghindarinya.
"Kenapa rasanya sedih banget sih gak ketemu kamu?"
Mamah Aini dan tante Meli melihat Dirga tak seceria biasanya. Duta dan Laras yang main ke rumah mamahnya pun heran dengan Dirga.
"Kamu kenapa sih Ga? Ada masalah?" tanya Duta saat Dirga memberi makan ikan lele sambil melamun.
"Eh, gak kok A' aku gak papa. A', kalau usaha lele begini ngabisin modal berapa?"
Duta mengingat kembali dulu modalnya. "Berapa ya, lupa Aa'. Kenapa? Kamu mau belajar ternak lele?"
Dirga mengangguk. "Mmm, kalau kamu buka warung makan saja gimana? Tante Meli kan pinter banget tuh masak, jadi nanti lele nya dari Aa'. Piye? Nanti Aa' pinjami modal deh"
"Kalau itu tanya mamah dulu A'. Mau apa gak ya? Aa' cemburu gak sih kalau teteh suka ingat mantan?" Dirga tak tahan menyimpan rasa cemburunya sendirian.
Duta tersenyum "Tetehmu punya mantan? Gak ada. Tapi yang mendekatinya banyak. Termasuk kamu, dan Aa' pernah cemburu sama kamu Ga. Rasanya sakit saat melihat wanita yang kita cinta bersama atau minta tolong dengan lelaki lain"
"Hahaha, seorang Duta cemburu sama aku? Gilaaaa, hebat banget aku. Wkwkwkw. Tapi benar yang Aa' bilang, sakit rasanya. Kemarin aku lihat Nina bertemu sama sang mantan di rumahnya. Padahal waktu itu aku mau ngajak dia ketemu mamah, tapi dia lebih milih ketemu mantannya. Sakit"
Duta tersenyum kecut. "Makanya cepet-cepet dihalalin" lalu Duta pergi meninggalkan Dirga dan menyusul istrinya.
Sedang di ruang tamu, keempat perempuan yaitu mamah Aini, tante Rum, Laras, dan tante Meli sedang ngobrol seru. "Serunyaaaa, pada ngomongin apa sih?"
"Ini, Yuna lahiran. Si Kinan minta adiknya cewek aja. Padahal kan sudah keluar cowok. Piye bocah iki" terang mamah Aini.
"Iya ya, kita belum jenguk kesana. Nanti selesai pilkada ya yank"
"Iya bang, Laras ikut saja. Mamah mau berangkat sendiri tuh sama tante Meli dan tante Rum"
"Hati-hati ya, 3 nenek-nenek semua lho"
"Kita kan nenek lincah Dut. Eh, si Dirga mana?" tanya tante Meli.
"Lagi galau tuh, ribut sama Nina. Dan sepertinya agak lama marahnya, karena ada urusannya dengan sang mantan. Tante Meli, tante Rum, kalau Duta bikinkan usaha nih, rumah makan, yang olahannya sebagian besar dari lele, mau gak?"
"Lha terus nanti empangmu siapa yang jaga?" tanta tante Rum. "Mas Trisno bisa kan tante? Mending ikut Duta, daripada merantau"
"Ya sudah, coba nanti tak bilang sama Trisno dulu" Duta mengangguk lalu mengajak istrinya pulang.
Mamah Aini dan tante Meli merencanakan sesuatu. "Kita buat mereka baikan lagi. Setuju?"
"Setuju mbak, tapi mbak tahu dimana kafenya?"
"Yo mesti, mbak mu gini-gini mainnya tuh sama yang muda-muda"
__ADS_1
"Hahahaha, gayamu mbak"
"Mel, omongan mas Bambang sama mbak Endang kemarin jangan diambil hati ya"
"Iya mbak, Meli tahu kok. Meli memang salah. Tapi Meli berusaha untuk meraih maaf dari mereka. Meli akan terus berusaha" Mamah Aini memeluk adiknya. "Sabar ya"
.
Dirga sengaja tak menyapa Nina. "A' jangan menghindar dariku. Tolong dengarkan aku dulu"
Dirga menghela nafasnya. "Aku tidak ingin mendengar apapun Nin, kita akhiri saja cerita ini. Jika kamu ingin kembali bersamanya silahkan, aku sadar aku siapa. Hanya orang kere. Mantanmu lebih berada, jadi silahkan pilih dia" Dirga meninggalkan Nina. Sedangkan Nina, hari itu seperti ditusuk pisau tepat di jantungnya.
Sakit, perih, bingung, pasrah ada semua. Dia pulang dengan menangis. Hingga matanya bengkak. Padahal nanti malam dia harus manggung di kafe x.
Dirga menyesali ucapannya yang keceplosan mengakhiri hubungannya. Dia terlalu cemburu untuk melihat Nina bersama pria lain. Hingga kerja saja dia tak fokus.
Malam itu selesai pulang kerja, dia pulang cepat karena mamahnya dan budhenya ingin diantar jalan-jalan. Mau tak mau Dirga mengantarkannya, sebetulnya dirinya sedang tidak ingin kemana-mana. Suasana hatinya kacau.
Nina memakai kacamata berwarna ungu untuk menyembunyikan mata sembabnya. Dia menyanyikan lagu yang sudah di list oleh teman-temannya tadi. Hingga sampai lagu ke 3 Kenangan Terindah milik Samson. Mamah Aini dan tante Meli mencari tempat duduk paling depan, Dirga ingin masuk tapi maju mundur.
Nina menyalami kedua orang tua itu karena sedang istirahat. Dirga akhirnya memberanikan diri masuk. Melihat Nina sedang bercakap-cakap dengan mamah dan budhenya.
Dia hanya duduk dan diam. Mencuri pandang kepada Nina. Dilihatnya mata gadis itu bengkak. Apa yang kamu tangisi hingga bengkak seperti itu?
"Ha? Kok tanya ke aku? Mana aku tahu?" Budhenya geleng kepala. "Kamu mutusin Nina? Kenapa sih? Belum juga dia menjelaskan yang terjadi. Yang ada kamu menghindar"
Ngadu apaan aja dia? batin Dirga. Hingga pangunjung kafe sudah sepi, mamah Meli memberikan sebuah kotak cincin pada Dirga.
"Jadikan dia mantu mamah, gak mau tahu mamah gimana caranya. Kalau tadi siang kamu putusin dia, sekarang mamah ingin kamu rebut hatinya kembali. Mamah sama budhe sudah dijemput supir. Awas saja kalau kamu pulang cincin itu masih utuh di kotaknya"
Dirga terkesiap. "Mah, gak bisa mah. Haduh jangan gini dong. Mah, budhe"
"Semangat!" bisik budhe Aini.
Nina turun dari panggung setelah membereskan semua peralatan manggungnya tadi. Dirga menunggunya keluar dari kafe. Tak lama Nina dan kawan-kawannya keluar dari kafe. Mereka melihat Dirga dan Aldi saling berhadapan.
"Waduh, situasi genting nih. Kamu masih ada urusan sama si Aldi, Nin?" tanya Adam. Nina menggeleng.
"Mas Dirga, titip anterin Nina pulang ya, kita ada acara lain soalnya" teriak Adam. Kini Dirga dan Aldi menoleh ke Nina.
"Aku antar pulang ya, Nin" ucap Aldi menawarkan. Dirga tersenyum kecut saat mendengarnya. "Jadi bener ya kamu CLBK sama mantan kamu? Wah, hebat selama ini aku kamu kelabui"
Nina bersidekap "Kamu itu salah paham A'! Aku tidak ada hubungan dengannya. Kemarin aku hanya ingin menjenguknya" jelasnya pada Dirga.
"Wah, perhatian sekali kamu sama mantan. Hingga sakit pun kamu mau menjenguknya"
__ADS_1
"Salahnya dimana kalau dia menjenguk ku?" Aldi mulai ikut campur dalam percakapan itu.
Dirga mendekatkan dirinya pada Aldi. "Sadari posisimu!" Nina mulai takut jika Dirga kehilangan kendalinya.
"Cukup! Di, pergilah. Jangan pernah menghubungiku lagi. Kamu sudah memilih Rosa"
"Rosa tak seperhatian dirimu, tak selembut dirimu, dan... tak seenak bibirmu jika kucium" Telinga Dirga membara saat mendengarnya, membuatnya lepas kendali dan melayangkan tinjunya pada pipi Aldi. Aldi tak terima dengan pukulan itu, dengan cepat dia melayangkan tinju kembali ke wajah Dirga. Teman-teman Nina yang tadinya sudah akan pergi kembali dan melerai pertikaian mereka.
"Aa' cukup! Pergi kamu Di, kamu kurang ajar sekali, sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu!" Aldi tertawa keras.
"Kenapa? Kamu belum merasakan bibirnya itu? Tinggalkan dia, biar kembali bersamaku" ujar Aldi ngawur.
Dirga ingin kembali memukulnya tapi Nina menghalanginya. Dirga dibawa paksa menuju mobilnya.
"Bajingan kamu Di, aku bersumpah tidak akan memaafkanmu dan aku bersumpah jalan jodohmu dengan orang lain akan selalu kandas!" ucap Nina sangat serius.
"Nin, kembalilah padaku, aku mohon!"
"Cowok gila!" Nina pergi meninggalkannya dan masuk ke dalam mobil Dirga. "Makasih ya boys" Teman-teman Nina mengangguk dan mereka pamit.
Dirga melihat pada kaca spion dan mengambil tisue untuk membersihkan lukanya. "Sini aku bantu" Nina meraih tisue itu dan membersihkan luka Dirga.
"Jangan kayak preman bisa gak sih? Sakit kan?" tanya Nina. Pikiran Dirga terganggu dengan ucapan Aldi. "Kamu pernah ngapain aja sama dia?"
Nina menekan kuat luka itu agar darahnya tak keluar lagi. "Aaaaaaawww, sakit!" kesal Dirga.
"Kamu percaya aku atau percaya Aldi?" kini Nina bertanya.
"Jawab dulu pertanyaanku"
"Jawabannya ada pada kepercayaanmu. Jika kamu ragu, aku ikhlas kita putus. Jika jawabanmu percaya padaku ayo kita perbaiki semuanya"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1