
Setelah jamuan itu mereka bubar. Duta meminta sebagian ART mamah Aini untuk tinggal di rumahnya, sekitar 2 orang. Laras menunggu suaminya naik dan masuk ke kamar. Tak berapa lama Duta menemui istrinya dan berbaring disebelah istrinya.
Duta membelai rambut istrinya dan tersenyum.
"Jangan terlalu banyak fikiran bang, Laras gak mau kalau abang jadi sakit". Duta hanya tersenyum dan membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Abang mau ngomong sama kamu Ay, dari hati ke hati. Bisa?" Laras mengangguk. Lalu mereka duduk sambil berpegangan tangan. Duta mulai membuka percakapan.
"Mulai besok kita akan dikawal. Abang juga minta ART mamah disini 2 orang. Bi Sum sama bi Mar. Biar kamu ada yang nemenin kalau abang tinggal"
"Memang abang mau kemana?"
"Abang 3 hari lagi harus ke Jakarta yang, menerima penghargaan dari pak presiden"
"Alhamdulillah, kali ini menang apa lagi bang?"
"Penghargaan opini WTP oleh BPK RI sayang. Audit tentang keuangan oleh BPK"
"Jadi istilahnya kota kita itu minim penyelewengan dana gitu ya bang?" Duta mengangguk.
"Berarti 3 hari kedepan Laras tidur sendirian dong gak ada yang meluk"
"Hahaha, jangan bilang begitu dong sayang. Makin gak tega abang ninggalin kamu. Kamu lebih suka abang jadi orang biasa atau jadi Bupati?" tanya Duta
Laras berpikir dan menjawab dengan hati-hati. "Laras mengenal abang pertama kali datang ke rumah adalah sebagai anaknya mamah Aini yang hendak berta'aruf dengan Laras"
"Jadi?"
"Laras suka abang sebagai orang biasa dan sebagai pak Bupati" Jawabnya sambil mencium tangan suaminya.
"Masa jabatan abang tinggal hitungan bulan Ay, partai abang menyerahkan semuanya kepada abang. Mereka menunggu keputusan abang. Mau maju pilkada lagi atau tidak. Jika dulu yang paling utama abang ajak diskusi adalah mamah, karena sekarang abang milik kamu abang ingin diskusi sama kamu sayang.
Menurut kamu, abang harus maju lagi atau tidak dalam pilkada nanti? Abang ingin mendengar jawaban kamu. Jawaban dari lubuk hatimu. Karena jika abang maju lagi, konsekuensi yang akan kita tanggung semakin besar sayang. Abang gak pengen lihat kamu sedih hanya karena jabatan abang"
Laras diam. Dia tahu jika suaminya ikut pilkada lagi banyak yang harus mereka korbankan. Harus extra menjaga kepercayaan. Rela waktunya hilang untuk kepentingan rakyatnya. Tapi dia juga tidak mau egois, dia tahu jika tenaga dan pikiran suaminya masih sangat dibutuhkan untuk kemajuan Magelang.
"Laras butuh waktu sayang, insyaallah dalam 3 hari akan Laras jawab niatan abang untuk ikut pilkada lagi. Dan sebaiknya abang juga minta pendapat sama mamah, abi dan umi. Serta keluarga besar abang"
Duta memeluk istrinya dan mengecup keningnya. "Terima kasih"
"Sama-sama" jawab Laras. "Kalau abang sendiri, mau maju pilkada lagi atau tidak?"
Duta mengangguk mantap. "Tapi abang gak mau jadi orang yang egois, abang akan menerima apapun jawaban kamu Ay. Yang menjadi prioritas abang saat ini hanyalah kamu"
Laras tersenyum dan mendaratkan ciumannya di pipi Duta. "Terima kasih. Sekarang istirahat dulu yuk. Sudah malam"
__ADS_1
"Abang mau olahraga dulu ah, boleh kan?"
"Hahahaha, memang ada opsi untuk Laras bilang no?
"Mau dosa?"
"Ya gak mau lah"
"Hahaha, abang yang menang ya". Dan terjadilah olahraga malam itu.
.
Pagi hari seperti yang telah dirundingkan semalam Laras dan Duta dalam pengawalan. Beruntung Farid ikut dalam mengawal Duta, dia bisa say hay dengan calon istrinya. Membuat Duta ingin menggodanya.
"Laras turun dulu ya bang, abang semangat ya kerjanya. Waktu makan harus makan, sholat jangan telat. Jangan terlalu capek" ucap Laras sambil mencium tangan suaminya.
Duta tersenyum dan mencubit pipi istrinya gemas. "Perhatian banget sih sayaaaaang. Iya, insyaallah abang laksanakan semua perintah bu bos" lalu diciumnya kening istrinya membuat Farid dan pak Pri iri.
Romantis banget sih mereka. Berasa jadi nyamuk aku disini. Batin Farid
Laras turun dan menuju ruangannya. Duta menuju kabupaten.
"Bang, kosongkan jadwal saya nanti jam 4. Saya sudah janjian dengan Rama"
"Nggih pak. Oh iya pak, minggu depan saya sudah cuti pak. Saya menyuruh mas Budi untuk menggantikan saya. Karena bapak kan hanya bisa percaya saya dan mas Budi"
"Saya cek dulu pak" Farid membuka ponselnya. Belum ada email ataupun chat dari partai yang masuk ke ponsel Farid.
"Belum ada pak, jadi bapak mau maju lagi atau tidak pak?" tanya Farid kembali.
"Belum tahu bang, saya masih menunggu jawaban dari istri. Jika istri saya bilang maju, insyaallah saya akan maju calon lagi"
.
Sesuai janjinya dengan Rama. Duta menemui Rama di kantornya.
"Assalamualaikum" ucap Duta saat memasuki ruangan Rama dengan diantarkan oleh sekretaris Rama.
"Eh, waalaikum salam, Dut. Duduk, gimana kabar kamu sama Laras?" sambut Rama sambil memeluk sahabatnya dan duduk di sofa ruangannya.
"Alhamdulillah baik, kamu sama keluarga baik kan?"
"Alhamdulillah, ada apa nih pak Bupati yang super sibuk menyempatkan waktu mengunjungiku?"
Duta tersenyum dan menunjukkan foto Dini yang kemarin menjadi bahan teror untuknya dan Laras. Rama melihat foto adiknya. Bingung, tergambar jelas diwajahnya.
__ADS_1
"Apa maksudnya Dut?" tanya Rama benar-benar bingung.
Duta melihat mimik muka Rama yang benar-benar bingung. Dia membetulkan posisi duduknya. "Aku pengen ngomong dari hati ke hati sama kamu Ram"
"Silahkan"
"Kemarin istriku mendapatkan sebuah paket yang tidak ada nama dan alamat pengirimnya, dan setelah dibuka isinya foto Dini. Dan sekitar seminggu yang lalu aku juga mendapati foto yang sama tapi dengan ukuran yang kecil di tas ku ini. Aku bukan mau su'udzon sama kamu, tapi aku hanya ingin memastikan bukan kamu kan yang jahil terhadapku dan Laras?" tanya Duta panjang lebar.
"Ha? Buat apa cobaa aku jahilin kalian. Aku sudah mengikhlaskan semuanya" jawab Rama sedikit emosi.
"Sabar Ram, aku bukan menuduh. Hanya bertanya. Aku bingung harus bertanya kepada siapa"
"Bukan aku Dut yang melakukannya. Aku berani sumpah demi anak istriku. Aku tidak ada hak untuk menjahili kalian"
Duta tersenyum lalu memeluk kembali sahabatnya. "Terima kasih sudah jujur kepadaku. Aku percaya bukan kamu pelakunya"
"Tapi siapa ya Dut? Setahuku Dini bukan tipe orang yang gampang kenal dengan orang. Maksudku, sedekat apa hubungannya dengan Dini hingga memeiliki foto Dini?"
Duta mengangkat bahunya dan menghela nafasnya. "Aku juga tidak tahu Ram"
Siapa ya yang tega begini? Mungkin kah.... ah tidak mungkin. Pasti bukan dia. Tapi, siapa lagi yang bisa memiliki foto Dini jika bukan orang yang sangat dekat dengannya? Aku harus pastikan terlebih dahulu. Batin Rama dalam hatinya.
"Woy Ram, malah bengong. Sudah sore nih, aku pulang dulu lah"
"Eh, hehehe. Kasihan Laras, pasti dia cemburu ya?"
"Hmm, begitulah. Waktu awal sih cemburu. Tapi mungkin sekarang dia tahu bukan aku pemilik foto ini lagi. Alhamdulillah dia masih bisa berfikir logis dan mengalahkan cemburunya"
"Eh, ikut arisan kelompok. Biar Laras deket sama istri sahabat kita. Biar gak suntuk juga"
"Iya nanti aku bilangkan ke dia. Kalau begitu aku pamit ya. Terima kasih atas jawabanmu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam. Iya hati-hati"
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Ayo-ayo sumbangin poin nyaaaaa