
Dirga memejamkan mata karena mengantuk sekali. Dia tertidur hingga sore hari. Saat terbangun dia kaget melihat jam.
"Ya ampun, sudah jam 5? Gak enak aku sama budhe. Ini mah kebangetan akunyaa" Dirga segera mandi dan keluar kamar.
Mamah Aini sedang tertawa menonton drama korea. "Budhe, senang banget. Nonton apa sih?"
"Eh, sudah bangun kamu Ga? Ini budhe nonton drama korea. Lucu banget deh. Hahaha"
"Hahah, budhe penyuka drakor? Budhe, besok lagi kalau Dirga tidur kelamaan bangunin laaah, gak enak Dirga sama budhe"
Mamah Aini menautkan alisnya. "Ngapain gak enak sih? Heran budhe sama kamu. Orang capek habis kerja tidur ya wajar to nang. Masa mau budhe gangguin"
"Ya tetap saja budheee"
"Kamu gak mau jalan-jalan? Selama seminggu ini budhe lihat kamu kok gak pernah nongkrong gitu"
"Ya mau nongkrong sama siapa budhe? Dirga kan gak punya teman disini. Teman Dirga palingan anak rumah sakit. Dan mereka palingan juga sibuk sama dunia mereka"
"Ya sama siapa kek, pacar mungkin?"
"Budhe ini, teman saja sedikit apalagi pacar budheeee. Ya gak punya lah"
Mamah Aini membetulkan posisi duduknya menghadap ke Dirga. Mimik wajahnya berubah menjadi serius. Dirga agak takut jika budhe nya berwajah seperti itu. Karena seingatnya jika budhenya begitu berarti dia sedang marah.
"Ada apa budhe?" tanya Dirga takut.
"Budhe mau ngomong sama kamu, serius"
Dirga semakin penasaran sekaligus takut. Budhe mau ngomong apa ya? Kok jantung aku jadi dag dig dug begini. Haduuuuuuhhh
Mamah Aini menarik nafas dan mulai berbicara. "Budhe mau tanya soal kamu dan Laras"
Deg
Dirga tak tahu jika budhenya ternyata mengetahui kisahnya dengan Laras.
"Kenapa dengan aku dan teh Laras budhe?"
"Budhe sudah dengar dari Duta soal kamu dan Laras. Yang sekarang ingin budhe dengar adalah penjelasan kamu. Kamu masih ada rasa nggak sih sama Laras?"
"Aa' cerita sama budhe?" Mamah Aini mengangguk. Dirga menghela nafasnya. Mati-matian aku menutupinya dari budhe, biar budhe gak kepikiran. Ini Aa' malah bongkar di depan budhe.
"Dirga"
"Iya budhe, budhe pengen tahu banget?" ucap Dirga mencoba bercanda.
"Jawab jujur sama budhe. Budhe gak ingin nantinya ada masalah diantara kalian" Mamah Aini meyakinkan Dirga agar mengungkapkan perasaannya terhadap Laras.
"Gak budhe. Dirga sudah tidak ada rasa sama teteh. Mungkin seminggu yang lalu masih. Tapi Dirga berani sumpah demi papah budhe. Dirga sudah tidak ada rasa sama teteh. Jadi, budhe tidak perlu khawatir" ucap Dirga sambil tersenyum dan mencium tangan budhenya.
__ADS_1
Mamah Aini tersenyum lega mendengar jawaban Dirga. "Terima kasih sudah mengalah untuk anak budhe. Budhe tidak bisa membalas apapun ke kamu Dirga. Budhe hanya bisa mendoakan. Semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Laras dan juga seiman dengan kamu dan keluargamu"
"Aamiin. Budhe tidak usah berterima kasih begitu sama Dirga. Bukan jodoh Dirga. Malah harusnya Dirga dan keluarga yang berterima kasih sama budhe. Masih mau mengakui kami saudara, membantu finansial keluarga Dirga. Kami hutang budi sama kalian semua" jelas Dirga.
"Sama-sama. Sana jalan-jalan, budhe tahu kafe dekat sini yang ramai ditongkrongin anak muda"
Dirga malah tertawa mendengar omongan budhenya. "Budhe gaul juga ya, sampai tahu kafe yang ditongkrongin kawula muda. Dimana budhe kafenya?"
"Kafe x jalan Ahmad Yani no. 17. Biasanya tuh ya kalau hari weekend pasti ramainya" jawab mamah Aini semangat.
"Budhe mau nemenin Dirga gak?"
"Ha? Budhe nemenin kamu? Gak salah kamu ngajak budhe kesana?"
"Memang kenapa? Budhe kan orangnya asyik. Gimana budhe? Mau tidak?"
Mamah Aini berpikir menerawang ke langit-langit ruangan itu. "Oke, nanti selesai isya kita hangout"
"Astagaaa, budhe ku super duper gaul. Istilah keren saja tahu. Alamaaaak" Goda Dirga kepada mamah Aini. Dan mereka tertawa terbahak-bahak.
Selepas isya' mamah Aini bersama keponakannya, Dirga menuju kafe itu. Perjalanan memakan waktu 15 menit. Benar kata mamah Aini. Kafe itu ramai.
"Wiih, budhe, kafenya bagus bangeeet. Gak kalah sama kafe yang ada di Bandung" ucap Dirga senang melihat kafe itu.
"Bener kan kata budhe. Ayo masuk" Mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam kafe. Mereka mencari tempat duduk di depan panggung band pengiring. Pelayan menawarkan mereka menu. Mereka memesan makanan.
Band pengiring mulai naik ke panggung. Dirga dan mamah Aini yang mengenal Nina sontak berkata "Nina" "Jeng Nina" agak sedikit keras. Nina mencari sumber suara dan menemukannya.
Dirga dan mamah Aini menikmati penampilan dari Nina dan band nya, 5 lagu langsung dibawakan mereka. Saat istirahat bagi band itu dan digantikan oleh pengunjung yang ingin bernyanyi. Nina turun dari panggung dan menghampiri mamah Aini dan Dirga.
"Malam bu Aini, dokter Dirga" sapa Nina.
"Malam jeng Nina. Jeng Nina kerja disini juga?" tanya mamah Aini.
"Iya bu, saya nyari penghasilan lain juga disini. Sampingan. Hehehe"
"Suara kamu bagus juga Nin" kini Dirga bersuara.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya mamah Aini lagi.
Mereka mengangguk bersama. "Oooh, budhe kira kalian belum saling kenal"
"Sudah lama Nin nyanyi disini?" tanya Dirga Lagi.
"Sudah, semenjak di Magelang aku jadi band pengiring disini"
"Nanti pulang sama siapa?" tanya mamah Aini yang mulai dengan akal liciknya.
"Sama teman-teman bu. Tadi mau pakai motor sudah terlanjur dijemput sama mereka"
__ADS_1
"Antar pulang Ga, selesai jam berapa jeng?" Dirga dan Nina sama-sama saling berpandangan bingung
"Jam 10 bu. Gak usah repot-repot. Nanti ibu pulangnya kemalaman"
"Gaaaa" Mamah Aini geram dengan Dirga yang hanya diam saja.
"Oh, siap budhe. Nin, nanti tak antar pulang" Dirga memberi isyarat kepada Nina untuk tak membantah dengan mengedipkan kedua matanya.
"Nanti antar budhe dulu pulang. Terus antarkan jeng Nina pulang. Oke?"
"Siap budhe"
Nina pamit kembali ke panggung. Dirga dan mamah Aini menikmati makanan mereka. Enak. Pantas lah menjadi kafe yang recommended, rasa makanannya enak, desain interior dan eksterior ruangannya sungguh ciamik. Penampilan band nya pun sangat menarik.
Pukul 9 malam mamah Aini menyuruh Dirga untuk mengantarkannya pulang ke rumah terlebih dahulu. Setelah itu Dirga kembali ke kafe itu. Tapi dia hanya menunggu di dalam mobil. Dia mengetik chat untuk Nina.
Dirga : Aku tunggu di parkiran ya 😊
Selesai manggung, Nina melihat ponselnya dan ada chat dari Dirga. Dia tersenyum dan membalasnya.
Nina : Okay, wait me.
Nina pamit terlebih dahulu kepada teman-temannya.
"Balik bareng siapa lu?" tanya mereka serentak.
"Sama teman"
"Bukan sama Aldi kan?" tanya Topan
"Bukan, dia udah ke laut. Udah ya. Bye"
"Hati-hati" pesan mereka kepada Nina. Nina tersenyum dan melambaikan tangan kepada mereka.
Begitulah Nina diperlakukan di bandnya, seperti ratu, selalu dimanja dan dilindungi. Nina menghampiri mobil Dirga dan masuk ke dalamnya.
.
.
.
Like
Komen
Vote
Tip
__ADS_1
Kencengin vote nya doooongg. Happy reading all 😘😘😘