Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Cita-cita (Season 2)


__ADS_3

Arisan dimulai lagi. Para perempuan berada di dalam dan bercengkrama. Para lelaki menjaga para anak bermain di halaman rumah.


Kali ini bertempat di kediaman Duta. Para gengster niat menjadikan daster sebagai seragam arisan mereka. Seperti biasa, Kayla selalu nyeleneh jika berpenampilan.


Dia datang memakai sandal jepit merk swa**ow, tas pasar, daster panjang, rambut di roll dan kacamata warna pink. Senada dengan istrinya, Wisnu pun demikian. Dia memakai sarung, kaos putih dan peci mirip penjual sate.


Membuat mereka yang terakhir datang menjadi pusat perhatian. Duta berdecak kagum pada kedua sahabatnya itu. Selalu all out dan nyentrik tapi kompak.


"Masyaallah, senang aku lihat kalian datang pakai begini. Kenapa gak sekalian cuma pakai boxer dan singlet Wis?" tanya Duta.


Bayu, Candra, Rama, Farid, dan Ari tertawa mendengar Duta menyindir Wisnu. Yang disindir tak ambil pusing. Malah dia tertawa.


"Hehehe, boleh itu, besok kita pakai begitu ya kawan. Awas juragan sate Madura mau lewat" Wisnu melewati Duta dan Bayu. Duduk di tengah mereka.


"Sesek Wis, pindah kono (Sesak Wis, pindah sana)" kata Duta.


"Emoh, wong ning kono panas kok. Makane to, tanduri koyok gonku, ben adem (Gak mau, disana panas kok. Makanya to, tanamu seperti punyaku, biar adem)"


Duta mengangguk. "Besok kamu buatkan lah, ngutang dulu"


"Lhaaaahh, mantan bupati kok ngutang" sindir Candra.


"Mantan mas, jadi boleh-boleh saja. Saya juga mau lah mas Wisnu dibuatkan hidroponik seperti itu" sahut Farid.


Bayu, Ari, dan Rama tertawa. "Jadi maksudmu bupati baru kita gak boleh ngutang gitu mas Candra?" tanya Ari

__ADS_1


"Iya pasti mas Ari" sahut Bayu cepat.


Para anak-anak mulai bosan dengan permainan. Mereka menghampiri ayah mereka satu per satu.


Rama punya sebuah ide. Menanyakan cita-cita dan alasan mereka ingin menjadi itu kenapa. "Oke, jadi nanti satu per satu harus menyebutkan cita-citanya apa ya dan alasannya kenapa. Mulai dari yang paling besar dulu. Gandi, Galih, Gama, Arga, Hilal, A squad, Shanum, lalu terakhir Habib. Mengerti semuanya?"


Para krucils mengangguk tanda mengerti. "Oke mulai dari Gandi. Apa cita-cita kamu nak?" tanya Ari memulai pertanyaan.


"Cita-cita Gandi pengen jadi guru vokal. Karena Gandi budek tiap hari dengar Ayah dengan suara jeleknya bikin berisik. Jadi Gandi mau mengajari Ayah teknik vokal yang benar" jawab Gandi, anak Wisnu. Semua tertawa mendemgar penuturan Gandi.


"Berarti suara Ayah jelek ya? Besok belikan lakban dulu, lalu tempelin ke mulut Ayah. Kalau Gandi sudah lulus jadi guru vokal baru buka lagi lakbannya" sahut Candra.


"Oke, lanjut ke...." Giliran Hilal ditanya. "Hilal cita-citanya apa?" tanya Duta.


Semua saling pandang. "Maksud Hilal?"


"Iya om, Hilal mau jadi orang dalam yang bisa meloloskan orang-orang biar gak susah cari kerja" jelas Hilal. Semua terperangah mendengar cita-cita Hilal, tapi mereka tak mau membuat krucil satu itu kecewa. Semua bertepuk tangan bangga.


"Oke, kalau begitu, Hilal jadi orang dalam untuk perusahaan Hilal sendiri ya nak, dan gak boleh tuh minta imbalan sama mereka. Oke nak?" Farid menjawab dengan sangat hati-hati. Entah darimana anaknya itu tahu istilah orang dalam.


Para anak ditanya satu per satu dan tiba giliran Archee. "Bang Archee, cita-citanya apa?" tanya Ari lagi.


"Pengen jadi tentara om" kata Archee.


"Kenapa ingin jadi tentara? Sini coba lihat giginya. Waaaa, kok sudah ompong begini yang sebelah sini" Jawab Wisnu.

__ADS_1


"Memang kenapa om kalau ompong? Kan tentara mainnya tembak-tembakan bukan gigit-gigitan. Kalau yang gigit-gigitan itu papah sama mamah" jawab Archee polos. Papahnya sampai tersedak saat minum dan keluar air dari hidungnya. Semua orang dewasa laki-laki yang ada disana tertawa terpingkal-pingkal.


"Memang kapan papah sama mamah gigit-gigitan?" tanya Bayu. Duta melarang anaknya untuk bercerita lebih lanjut.


"3 hari yang lalu, waktu itu mamah masih tidur. Papah sudah bangun. Archee mau bobok sama mamah, terus lihat leher mamah merah. Archee tanya, mah, ini kenapa merah? Mamah sambil merem bilang, digigit papah kamu. Gitu om"


Para suami menepok jidat mereka masing-masing. "Ya Allah pak pak. Kamu ini gimana bisa kecolongan sih?" tanya Farid.


Duta hanya bersembunyi dibalik kaosnya tak bisa menjawab. Malu, anaknya terlalu polos. Dia hanya bisa pasrah.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Maaf ya othor beberapa hari menghilang. Othor sangat sibuk di dunia nyata. Happy reading all 😘😘😘. And happy weekend

__ADS_1


__ADS_2