
Sejak hari itu Dirga tidak pernah bertemu dengan Laras. Duta meminta Dirga untuk tidak perlu lagi menjaga Laras. Terkadang mamah Aini yang datang ke rumah mereka. Karena beliau tahu cerita tentang Laras dan Dirga. Bertambahnya status sebagai suami ataupun istri membuat mereka kadang kewalahan. Tapi mereka menjalani dengan penuh keikhlasan.
"Capek Ay?" tanya Duta saat berbaring bersama Laras.
"Capek sedikit. Abang capek?" tanyanya.
"Hmm, iya. Besok jangan lupa ada pertemuan PKK kamu ikut ya, perkenalan sebagai ketua PKK kabupaten. Nanti ada bu Sri istri pak wakil, dia akan mendampingimu. Besok kamu ijin ya"
"Iya bang, Laras ingat kok" katanya sambil bangkit dan duduk. Dia menepuk pahanya. "Sini" ucapnya.
Duta langsung menjadikan paha Laras sebagai bantalan kepalanya. Laras mulai memijat kepala dan tengkuk Duta. "Nikmatnya" ucap Duta penuh syukur.
Laras tersenyum. "Enak?" Duta mengangguk. "Sebentar lagi hari jadi yank. Kita akan semakin sibuk"
"Dijalani saja. Lelah boleh, ngeluh jangan. Abang mau....? Ah gak jadi deh" ucapnya malu-malu
Duta yang tadinya memejamkan matanya sekarang membuka mata lagi. "Mau apa?"
"Gak papa, tidur yuk"
"Mau apa?" tanya Duta tak.mau berpindah dari bantalannya.
"Minggi ah, tidur aja yuk"
"Ngomong dulu dong, jangan bikin abang penasaran. Nanti abang gak bisa tidur"
"Bukan apa-apa"
"Kamu mau menawarkan abang?"
"Nawarin apa?" tanya Laras sambil menahan senyumnya. Sama-sama malu untuk mengungkapkannya.
"Nawarin abang untuk memakan kamu. Bikin juniornya kita?"
Laras mengangguk malu. Duta menarik wajah Laras mendekat dengan wajahnya dan mencium bibirnya. Akhirnya olahraga panas terjadi lagi malam itu setelah beberapa hari terakhir tidak saling menjamah.
.
Pagi itu seperti biasa Laras menyiapkan segala keperluan suaminya. Mulai menyiapkan baju kerja dan tas kerjanya. Entah mengapa Laras ingin membuka tas itu. Akhirnya dia membuka isi tas itu. Niatnya adalah untuk mengecek perlengkapan suaminya. Tapi matanya menemukan sebuah foto.
"Foto ini" gumamnya. Hatinya tiba-tiba menjadi panas. Air matanya berkumpul di pelupuk matanya. Dengan cepat dia menutup lagi tas itu dan menaruh foto itu kembali ke tempatnya. Laras meninggalkan kamar dan segera melakukan aktivitas sebagai ibu rumah tangga.
"Tega sekali dia. Dia membawa kenangannya dalam rumah kami. Ya Allah, apakah suamiku masih mencintainya?" ucapnya sambil berurai air mata. Dia segera menghapusnya dan menyajikan makanan. Dia hanya membuat sandwich untuk mereka berdua.
Lalu segera menyajikan kopi dan menjemur pakaian yanh semalam telah ia cuci. Tak lupa dia menyalakan vacum cleaner untuk menyapu lantainya.
__ADS_1
"Selamat pagi sayang" ucap Duta memeluknya dari belakang dan mencium keningnya.
"Hmm"
"Kok cuma hem doang sih. Senyum yang super manis kemana?"
"Udah deh, waktunya mepet. Sana duduk dan sarapan. Kopinya hampir dingin tuh"
Duta heran dengan perubahan istrinya. Tadi malam saja dia yang minta bercinta. Sekarang kenapa kayak orang ngambek begitu? Dia kenapa sih? Apa aku membuat kesalahan ya tadi malam? Sepertinya tidak.
"Ay"
"Hmm"
"Ay, kamu kenapa sayang? Abang ada salah pagi ini? Ngomong dong yank, biar abang tahu kesalahan abang"
Laras memutar badannya. "Abang merasa bersalah? Berarti abang melakukan kesalahan. Abang melakukan kesalahan apa?"
"Kok malah tanya abang. Abang gak tahu sayang, makanya abang tanya sama kamu. Sikap kamu berubah mendadak Ay. Abang bingung"
"Cari tahu sendiri kenapa Laras begini. Abang yang main umpet-umpetan sama Laras" ia meninggalkan suaminya untuk berganti seragam PKK.
Duta semakin yakin istrinya sedang tidak baik. Dia akhirnya duduk sendirian. "Hanya sandwich? Kenapa tidak memasak seperti biasanya?"
Akhirnya, mau tidak mau Duta memakan sarapan itu dan menghabiskan kopinya. Setelah itu memakai sepatu dan segera memanasi mobil. Laras tak berselera untuk makan. Akhirnya dia membiarkan makanan itu tetap di atas meja tak tersentuh.
Laras tertawa kecut. "Abang merasa melakukan kesalahan?"
Pertanyaan yang sulit kujawab. Menjebak. Harus jawab apa ini?
"Jawab, jangan bengong saja" Duta menggeleng. Laras semakin kesal.
"Ya sudah, kalau abang menggeleng artinya jawabannya tidak kan??"
"Tapi kenapa kamu semarah ini Ay?"
Ponsel Duta berdering. Farid menelponnya. Memberitahukan jika ada tamu penting dari luar kota. Akhirnya dia tak melanjutkan perdebatan itu dengan istrinya.
"Nanti setelah pulang kerja kita obrolin lagi ya" Duta melajukan mobilnya. Di dalam mobil mereka hanya saling diam.
Duta tidak berani bicara, takut jika istrinya akan tambah marah padanya. Sampai di kabupaten pun tak ada yang bersuara.
Laras menyalami Duta. Saat hendak mencium kening Laras, istrinya membuang muka dan segera keluar dari mobil. Duta hanya bisa pasrah dengan tingkah istrinya.
Dia segera menemui tamu penting itu. Laras segera bergabung dengan ibu-ibu PKK itu. Memperkenalkan diri dan mengikuti kegiatan yang akan diselenggarakan untuk hari jadi nanti. Rencananya adalah peresmian taman, pertunjukan wayang kulit, dan sembako murah.
__ADS_1
Laras sudah selesai mengikuti acara PKK itu. Dia tidak mau menunggu suaminya. Dia memesan taksi online tapi bukan untuk pulang ke rumah. Melainkan ke rumah Abi.
Sesampainya Laras di rumah orang tuanya dia langsung merebahkan diri di kamar. Umi yang tahu jika putrinya sedang tidak baik-baik saja menghampirinya ke kamar.
Umi duduk di ranjang Laras. "Kamu kenapa nak?" tanya Umi sambil membelai rambut Laras.
Laras malah menangis. "Laras kesel sama bang Duta mi"
"Apa masalahnya? Coba ceritakan dengan tenang"
"Pagi tadi Laras menyiapkan keperluan bang Duta. Gak tahu kenapa Laras pengen banget buka tasnya. Setelah Laras tahu isinya hati Laras jadi sakit mi"
"Memang apa yang kamu lihat?"
"Laras melihat foto Dini didalam tas itu. Padahal seingat Laras foto itu sudah dibuang sendiri oleh bang Duta ke dalam tong sampah. Tapi kenapa bisa ada lagi?"
"Duta tahu alasan kemarahanmu?" Laras menggeleng.
"Kan sudah umi katakan nak, saling terbuka. Saling mengalah. Jangan seperti ini. Nanti kalian akan sama-sama terluka. Mungkin bukan Duta yang menaruh foto Dini di tas nya. Bukan maksud umi mau su'udzon, tapi kamu tahu sendiri kan, Duta selain dicintai juga dibenci"
"Lalu Laras harus bagaimana mi? Bang Duta saja tidak mau mengakui kesalahannya"
"Bukan tidak mau mengakui sayang, mungkin memang bukan dia pelakunya. Mungkin ada orang lain. Entah siapa dan dengan maksud apa. Coba bicarakan dulu dengan abangmu nak"
Laras bangun dan memeluk uminya. "Terima kasih ya mi"
"Sama-sama. Jangan seperti anak kecil ya. Kalian itu sudah sama-sama dewasa. Lakukan penyelesaian masalah dengan hal dewasa juga. Saling bercerita, saling jujur, dan saling terbuka" umi menasehati putrinya.
"Kamu sudah makan?" tanyanya kepada Laras. Laras menggeleng.
"Makan dulu, bawa bekal juga untuk pulang nanti. Kabari suamimu kalau kamu disini. Kamu pasti tadi kabur-kaburan kan?" Laras hanya tersenyum dan mengangguk.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Hayo ngaku siapa yang naruh foto Dini? Hadeeeeh. Gak suka banget sih lihat orang bahagia. Wkwkwkw. Happy reading all 😘😘😘