
"Besok gak usah berangkat bawa mobil Ga, mobil Aa' banyak dirumah. Pakai aja salah satu. Yang itu biar disini. Buat kontrol papah ke rumah sakit" ucap Duta.
"Gitu A'? Gak merepotkan?" sahutnya.
"Ya nggak lah, nanti kamu temenin budhe ya. Aa' kan sudah pindah rumah. Tapi masih dekat sih dengan rumah budhe"
"Siap, kalau begitu aku pesan tiket kereta saja lah. Aku harus turun di stasiun mana kak? Semarang atau Jogja?"
"Jogja lah, Semarang kejauhan. Minta nomor ponsel kamu, nanti Aa' tunggu kamu disana. Pulangnya bareng"
"0815769xxxxx"
Duta mengetik nomor yang disebutkan Dirga lalu menyimpannya. "Oke"
"Nanti jangan suka merepotkan budhe. Kasihan budhe sudah tua" kata tante Meli.
"Iya mah, bawel ih. Budhe masih bawel kayak mamah gak sih A'?"
"Masih lah, orang mereka sedarah. Pasti sama bawelnya. Hahahaha"
"Hahahaha" mereka semua tertawa. Laras hanya tersenyum.
"Kalian makan siang disini ya. Tante siapkan"
"Gak usah tante, kita mau kembali saja ke hotel. Sepertinya Laras kecapekan" ucap Duta melihat istrinya hanya diam saja daritadi.
"Pasti gara-gara kamu kan dia kecapekan?"
"Mamaaaaah" ucap Dirga mengingatkan mamahnya.
"Laras mau istirahat dulu di kamar tamu? Biar tante siapkan"
"Oh gak usah tante, kami kembali ke hotel saja. Yuk bang"
"Ayo. Abang ke toilet sebentar ya. Sudah kebelet"
"Ayo tante tunjukkan kamar mandinya" tante Meli mengantar Duta ke kamar mandi. Tinggal Laras dan Dirga.
"Kamu kenapa diam terus? Aku sudah melupakan yang lalu. Melupakan semua tentang kita. Bisa kita jadi teman?" tanya Dirga kepada Laras.
"Hmm? Teman? Bukankah dari dulu kita memang berteman?"
"Tapi pertemanan kita saat itu tercemar oleh perasaanku. Aku tulus ingin berteman dengamu. Tanpa embel-embel rasa itu. Yang terpenting sekarang untuk ku adalah papah. Gara-gara aku, beliau sampai begini. Toh nanti kita satu rumah sakit. Jadi bisakah kita berteman?" tanya Dirga sambil menaik turunkan alisnya.
"Iya" jawab Laras singkat. Duta kembali dari toilet dan keheningan kembali terjadi.
"Tante kami pamit dulu. Tante yang sabar merawat om. Dirga biar fokus cari biaya untuk pengobatan om"
"Iya Duta, terima kasih sudah mau mengunjungi kami. Sampaikan maaf tante kepada semuanya. Tante sudah membuat mereka kecewa" ucap tante Meli sambil berkaca-kaca.
"Sudah mah, mamah masih punya Dirga dan Papah" ucap Dirga mengusap-usap punggung mamahnya.
__ADS_1
"Tante jangan begitu doong, mana tantenya Duta yang super energik? Yang selalu semangat meski kakinya sudah letih melangkah? Mana yang selalu bilang, hey dunia akan aku buktikan padamu bahwa aku tidak akan pernah menyerah dengan keadaan"
"Hahahaha, masih ingat saja kamu dengan ucapan tante waktu itu. Ya sudah, kalian hati-hati pulangnya. Kapan-kapan main kesini ya"
"Insyaallah tante" ucap Laras lalu memeluk tante Meli dan mencium punggung tangannya. Duta juga melakukan hal yang sama kepada tantenya. Lalu mereka berpamitan kepada om Kusman dan meninggalkan rumah itu.
Laras masuk terlebih dulu ke dalam mobil. Duta masih berbincang dengan Dirga.
"A', Aa' beruntung mendapatkan Laras. Tolong jaga dia ya A'. Dia perempuan yang sangat baik dan tulus" ucap Dirga sambil tersenyum. Duta hanya mengangguk dan tersenyum.
Ada apa sama mereka sebenarnya? Apa hubungan mereka dahulunya? Kenapa Laras hanya diam saja?
"Aa' pamit dulu. Besok pulang ke Magelang bareng. Kita ketemu di Jogja. Oke?"
"Siap pak Bupati!"
"Hahahaha. Aa' pamit"
"Hati-hati"
Duta melajukan mobil kembali ke hotel. Di dalam perjalanan mereka saling diam. Tak tahu apa isi hati dan kepala mereka. Waktu menunjukkan mendekati dzuhur. Perut Laras keroncongan.
"Bang, mau makan dulu gak?" tanyanya hati-hati kepada Duta.
"Hmm? Kamu lapar?"
Laras mengangguk. "Mau makan apa?" tanya Duta lagi.
"Terserah abang, aku ikut saja"
"Kurang kenyang, makan nasi saja. Junk food boleh?"
"Gak boleh, ya sudah kita mampir di resto itu dulu"
Akhirnya mereka melipir dulu ke sebuah resto. Untuk mengisi perut. Mereka mencari tempat duduk di sudut ruangan. Laras membaca menu yang ada.
"Abang mau makan apa?" tanya Laras masih sibuk membaca daftar menu itu.
"Abang gak makan, kamu aja yang makan" jawab Duta melihat ponselnya.
Laras berhenti membaca menu itu. Menatap wajah suaminya. Abang kenapa ya?.
"Bang"
"Hmm"
"Abang kenapa?"
"Gak papa Ay, abang gak lapar kamu saja yang makan"
"Ya sudah, teh" Laras memanggil pelayan resto x.
__ADS_1
"Iya bu, mau pesan apa?"
"Pesen udang saus padang 2 porsi pakai nasi ya teh, terus chocolava nya 2, teh hangatnya 1 sama kopi hitam dengan 1 sendok gula 1 ya teh. Semuanya dibungkus. Tolong diberi alat makannya sekalian ya teh"
"Iya bu, baik. Saya ulangi lagi pesanannya, udang saus padang 2 porsi pakai nasi, chocolava 2, teh hangat 1 sama kopi hitam dengan 1 sendok gula 1. Semuanya dibungkus dan diberi alat makan ya bu" ucap pelayan itu mengulang pesanan Laras.
"Iya teh. Makasih ya"
"Sama-sama bu, mohon ditunggu sebentar" Pelayan itu meninggalkan meja Laras dan Duta.
Duta masih sibuk memainkan ponselnya. "Bang, abang kenapa? Laras punya salah sama abang?"
"Gak, gak ada"
Laras tidak melanjutkan obrolan itu. Dia tahu suaminya sedang tidak mood untuk berbicara dengannya. Apa karena Dirga? Kenapa malah begini sih?
Tak lama pesanan Laras pun datang. "Makasih teh" ucapnya.
"Sama-sama bu"
"Ayo bang" ucapnya pada Duta.
"Lhoh, kamu gak makan?" tanya Duta yang tak mengetahui ternyata makanan itu dibungkus.
Laras menunjukkan bungkusannya. Dia berjalan menuju kasir dan membayar makanan itu. Duta hanya bisa diam.
Astaghfirullah Dutaaaa, kamu ini kenapa sih? Istri kamu sampai mengeluarkan uangnya sendiri untuk bayar makanan. Memang kebangetan kamu.
Laras menuju mobil dan menunggu Duta membukakan pintu. Duta dan Laras masuk ke dalam mobil dan mereka saling diam. Sampai di hotel pun mereka hanya diam.
Laras menyimpan makanan itu di atas meja. Dia segera membersihkan dirinya dan sholat. Ya dia sholat sendirian tanpa mengajak Duta. Mau tidak mau Duta juga sholat sendiri.
Laras yang sudah selesai sholat menyiapkan makanan itu. Dia memanggil Duta yang sudah selesai sholat untuk makan.
"Bang, ayo makan dulu"
"Abang gak lapar Ay, abang capek. Abang mau tidur ya. Kamu makan sendiri saja"
Laras semakin yakin jika suaminya sedang tidak baik-baik saja. Diajak ngomong memang nyahut, tapi tidak dengan ekspresi wajahnya. Datar. Seperti menghindar. Laras yang tadinya lapar kehilangan selera makannya.
Dia mendekati suaminya yang tengah bermain ponsel. Dia melihat suaminya dan merebut ponsel milik suaminya. "Abang kenapa?"
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip