
Kehamilan Laras sudah memasuki minggu ke 38. Dia kembali kontrol ke Citra. Melihat perkembangan dan pertumbuhan janin-janin mereka.
Laras naik ke bed seperti biasa, posisi telentang, sungguh susah untuk dirinya. Citra mulai mengoleskan gel itu dan melihat calon keponakannya.
"Bismillah" ucap Citra. Ia mengamati satu per satu janin itu. "Alhamdulillah, si abangnya beratnya udah jadi dua ribu dua ratus. Semoga nanti lahirnya gak beda jauh dari taksirannya. Si adek-adeknya juga udah dua ribu tujuh ratus. Mereka emang kompak ya. Suka aku sama mereka" jelas Citra.
Laras dan Duta mengucap syukur. Ternyata si adik-adik ini mau membagi nutrisi dari sang mamah untuk si abang. "Tapi sekarang masalah kita adalah posisinya. Kalau untuk berat badan jangan terlalu dikhawatirkan. Nanti kalau sudah lahir bisa kita booster pakai ASI"
"Kenapa posisinya dok?" tanya Duta sambil terus memperhatikan monitor USG itu. Citra memperbesar gambarnya.
"Si abang gak dikasih tempat sama lainnya. Abang posisinya melintang. Sedangkan yang lain enam sembilan enam. Artinya dua sungsang, satu presentasi kepala dan satu lintang"
"Terus gimana Cit?"
"Mau gak mau ya harus SC. Mungkin nanti kalau mereka bertiga sudah lahir duluan si abang bisa berubah kali posisinya, tapi kemungkinannya kecil. Piye?"
Laras menatap Duta. "Lakukan yang terbaik dok. Jika memang harus SC lakukan saja"
Citra melirik ke sahabatnya. Laras mengangguk. "Oke, seminggu lagi cukup untuk melahirkan mereka. Kita program dulu ya. Paru-paru mereka sudah sangat matang kok, meskipun taksiran berat mereka masih ada yang dibawah normal. Tapi tenang saja, nanti kasih ASI saja, biar cepet nambahnya"
"Manut dokter saja, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya"
Citra mengangguk. "Baik, pak. Pendonornya siapa nanti? Buat jaga-jaga"
"Abi gak mungkin, beliau lagi sakit. Siapa dong bang?"
Duta menghubungi kepala PMI Magelang. Menanyakan stok darah golongan A. Alhamdulillah stoknya melimpah. Jadi sudah tak perlu dikhawatirkan lagi.
"Ckckck, enak memang punya suami orang penting. Telpon ada telpon iya" Citra berdecak menyaksikan Duta yang sedang menelpon.
"Hehehe. Cuma tanya stok dok" jawab Duta beralasan.
.
Laras dan Duta kembali ke rumah. Laras mempersiapkan tiga buah tas, dua tas untuk keperluan bayi-bayi mereka, dan satu lagi untuk keperluannya.
Duta yang baru saja selesai menelpon langsung ikut membantu istrinya. "Kamu baring saja. Biar abang yang siapkan"
Laras tersenyum "Laras masih bisa kok sayang. Sudah kasih tahu umi, abi, dan mamah?" Duta mengangguk sambil memasukkan baju-baju bayi itu.
__ADS_1
"Mereka juga sama seperti kita, ingin yang terbaik untuk kamu dan bayi-bayi kita. Jika harus SC ya sudah"
Laras duduk di tepian ranjang. Nafasnya ngos-ngosan. Begitulah dia di kehamilan tua ini. Aktivitaa sedikit langsung ngos-ngosan. Meskipun dia sudah belajar menguasai nafas, tapi tetap saja.
"Capek sayang?" Laras mengangguk. "Bang, Laras mau eskrim coklat"
Duta menghentikan aktivitasnya. "Es krim dan coklat? Atau eskrim rasa coklat?" Duta memastikan keinginan Laras kembali. Karena pernah dia salah beli malah membuat istrinya itu menangis.
"Eskrim rasa coklat sayang, dua ya" Duta tersenyum. Sekarang tak cukup jika hanya satu. "Iya, tunggu sini sebentar ya"
Duta segera mencari yang diinginkan istrinya. Tak lama dia kembali dengan pesanan itu. "Nih" kata Duta.
"Udah gak pengen" jawab Laras enteng. Duta menganga mendengar jawaban itu. Selalu begitu. Dia merasa seperti Laras sedang mengerjainya. Tapi memang Laras begitu, sebentar-sebentar ingin tapi sebentar tak lagi.
"Sayaaaang"
"Taruh saja di kulkas, nanti kalau mau Laras makan. Pengen makan sama lele goreng hangat, disuapin sama abang" Duta setengaj berlari dan menyuruh bi Mar menggoreng lele itu.
Setelah matang dia menyuapi istrinya. Duta senang melihat Laras lahap. Mengingat awal kehamilan Laras tersiksa dengan yang namanya hiperemesis gravidarum.
"Abang kenapa senyam senyum?"
"Gak papa, seneng lihat pipi kamu chubby. Gemes pengen gigit"
"Iya, tapi abang suka. Kamu makin sexy hamil ini sayang".
"Uhuk uhuk uhuk. Ehm.... minum bang" Duta memberikan minum kepada Laras.
"Sexy dari mana? Gembrot iya. Udah ah, jangan ngomongin fisik. Nanti kalau harus SC kira-kira Laras bisa mandiri gak ya ngurus bayi-bayi kita bang?"
"Gak usah khawatir sayang, umi dan mamah siap bantuin. Abang juga bakalan bantu merawat kamu dan bayi-bayi kita nantinya"
Laras tersenyum mendengar jawaban Duta. Duta yang sekarang selalu hangat terhadapnya, selalu memperhatikannya, selalu menomor satukan dia dalam segala hal.
"Makasih ya bang, Laras itu istri bupati paling beruntung. Karena abang selalu menepati janji abang kepada kami" ucapnya sambil melirik ke arah perutnya yang sangat membuncit.
"Sama-sama sayang, abang gak mau kehilangan kamu. Kamu adalah dunia abang, kalau kamu hilang, maka dunia abang akan runtuh. Abang tahu dulu abang pernah berbuat salah dengan tidak memperhatikanmu menomorduakan kamu. Dan itu membuat abang sadar, bahwa tanpa kamu abang hancur. Kemarahan kamu bagai cambuk di tubuh dan hati abang"
Duta mengecup kening Laras. "Selalu dampingi abang, karena abang dan anak-anak kita butuh kamu. You are my sunshine, you are my everything Ay"
__ADS_1
Laras tersenyum dan mengangguk.
.
Laras sudah masuk ruang operasi. Dia dijadwalkan akan operasi hari ini. Duta mendampinginya saat proses operasi itu berlangsung.
Citra bersama timnya akan memimpin jalannya operasi saesar itu. Pukul 8 malam Laras sudah dimasukkan ke ruang operasi, dibius lokal di bagian tulang belakangnya. Duta berada di atas kepalanya. Harap-harap cemas menanti kelahiran buah hati tercinta.
Citra mulai memimpin dengan doa. "Scalpel" perawat itu memberikannya kepada Citra. Darah keluar dari luka goresan itu.
Mungkin yang dulu dirasakan Farid saat ini mendera Duta. Benar yang dikatakan Farid. Tak twga ia melihat istrinya disayat seperti itu. Duta menitikkan air mata.
"Abang nangis?" kata Laras yang masih setengah sadar. Duta segera menghapus air matanya.
"Ehm, gak, abang cuma kelilipan. Sakit gak sayang?" tanya Duta yang melihat Duta menyayat perur Laras bagian dalam.
"Gak bang"
Sungguh, mengerikan menurut Duta. Proses persalinan dengan menyayat seperti itu, banyak darah yang keluar, banyak alat yang masuk. Membuat Duta bergidik ngeri.
Citra mulai memecah ketuban Laras dan mengeluarkan bayi-bayi itu. "Jam 20.43 bayi pertama jenis kelamin perempuan lahir" ucap Citra dan segera memberikannya kepada dokter spesialis anak.
"Bayi kedua, jenis kelamin perempuan jam 20. 45 lahir" ucap Citra lagi.
"Bayi ketiga, jenis kelamin perempuan jam 20.47 lahir"
"Bayi keempat, jenis kelamin laki-laki jam 20.50 lahir. Alhamdulillah, bayinya lahir selamat semua"
"Oekk....oeeeekkkk....oekkkk.....oekkkkk..." para bayi itu menangis saat sedang ditangani oleh dokter spesialis anak dan para perawat.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip