Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Rujak Serut Tiga Bungkus


__ADS_3

Amira dan Ari melihat berita penangkapan Arman dan Gita. Mendengarkan dan melihat kesaksian mereka di depan media.


"Semoga hukuman kali ini membuat mereka jera" kata Ari.


Amira menoleh pada Ari "Aamiin, kamu gak pengen nengokin dia mas?"


"Ih, buat apa?"


"Hehehe, kasih selamat karena usaha mereka sia-sia. Ada pasangan model begitu. Astaghfirullah" ucap Amira.


"Biarkan saja lah. Mas mau menjamahmu"


Amira tersenyum. "Monggo masku sayaaaaang"


Amira mempersilahkan Ari menjamah setiap jengkal dari tubuhnya, sama-sama menikmati moment yang tercipta.


.


Farid dan Ais sedang keluar mencari makanan yang diinginkan Ais. Entah ada atau tidak malam-malam begini.


Ais ingin makan rujak serut. Dan biasanya, rujak serut itu ada di siang hari. Mereka mengitari jalan berharap ada yang jual.


"Mana sih yank? Kok daritadi gak ada" Ais mulai putus asa.


"Sabar dong sayang, ini juga lagi dicari. Bikin status gih, siapa tahu ada yang tahu belinya dimana" saran Farid dan Ais mengangguk.


Dengan cepat Ais membuat status di WA, instagram, dan juga facebook nya. Berharap ada yang membaca dan memberitahunya.


Nina yang sedang istirahat karena baru saja selesai pindahan rumah, membaca status WA dari Ais. Dengan cepat dia membalas.


"Mas, ke rumah Nina di alamat ini. Katanya ada yang jual, deket rumahnya. Ayo cepet" ucap Ais sambil menunjukkan alamat kepada suaminya.


"Siap, suruh Nina pesan dulu, biar gak habis"


"Oke bosque" jawab Ais dengan semangat.


Nina keluar dan memesan rujak serut sesuai permintaan Ais. "Tiga bungkus ya pak" ucap Nina memesan.


"Ya mbak, ditunggu sebentar ya" Nina duduk di sebuah kursi dan menunggu pesanannya jadi.


Tak lama, rujak serut itu pun jadi. Nina segera kembali ke rumah karena tadi tidak pamit kepada Dirga yang sedang mandi.


"Dari mana sih??" tanya Dirga heran karena sejak tadi kelimpungan mencari keberadaan istrinya.


Nina nyengir. "Maaf lupa ijin, kebiasaan dulu sendiri main nyelonong. Iniiii, beliin dokter Ais rujak serut. Bumil lagi ngidam nih kayaknya"


"Ooohh, untung ada yang jual. Kalau gak ada kan kasihan bayinya"


"Heem, untung masih ada tadi. Padahal bapaknya udah mau tutup lho yank" terang Nina.


Dirga melihat isi kresek itu. "Busyeeet, tiga bungkus?" Nina mengangguk. "Mintanya begitu kok, rujak serut tiga bungkus"


"Orang hamil makannya banyak juga ya?"


Tak lama, ada sebuah mobil berhenti di depan rumah mereka. Ais dan Farid segera turun. Melihat sekeliling rumah. "Wuisss, mantep nih nganten anyar, udah pindahan aja" sapa Farid ketika melihat pintu depan terbuka.


"Ah, A' Farid bisa saja. Silahkan duduk A', teh. Yank, tolong buatkan minum untuk mereka"

__ADS_1


Ais menggeleng. "Gak usah, aku mau makan rujaknya dulu. Mana Nin?"


Nina memberikan bungkusan plastik itu. Ais kahet melihatnya. Ternyata banyak. Nina mengambilkan pirin dan sendok untuk Ais.


Ais membuka satu bungkusan itu lalu dengan cepat melahapnya. "Enak dok?" tanya Nina. Ais hanya mengangguk.


"Banyak banget porsinya, aku kira dikit, makanya minta belikan tiga. kalau ini mah satu aja udah cukup"


Farid tepok jidat mendengar jawaban istrinya. "Terus yang dua ini gimana?"


"Hihihi, abang satu, mereka satu"


"Tuh kan, makin melar nih badan abang"


"Nemenin istrinya melar kan ya gak papa" kata Ais.


Nina mengambilkan air putih untuk mereka berdua dan piring lagi. Nina membuka rujak itu dan menyantapnya.


"Astaga, pedes banget. Dokter gak kepedesan?" Ais menggeleng.


"Teh Ais memang suka pedes ya?" tanya Dirga.


"Gak terlalu sih, tapi hamil ini malah suka banget"


"Rasanya hamil gimana dok?" tanya Nina sedikit malu.


Ais menerawang. "Mmmm. Gimana ya? Seneng, kadang kalau mau sesuatu gak dapat tuh jengkelnya minta ampun. Kemarin pernah aku minta dibelikan sesuatu sama mas Farid. Tapi gak keturutan. Dongkol di hati"


"Emang minta apa teh?"


"Ya dia mintanya aneh coba Ga, dia minta dibelikan kostum badut upin ipin"


"Iya Nin, gak tahu kenapa ya, seneng gitu lihat badut upin ipin. Tapi tetep gak dibolehin. Ya sudah tinggal dongkol aja"


"Ga, beli rumah ini berapa?" tanya Farid.


"Ini nyicil A', sisanya dilunasi sama A' Duta"


Mereka mengangguk. "Tanah kita mau diapain yank? Masa hadianlh dari bapak mau dianggurin gitu" kata Farid lagi.


Mereka semua berpikir. "Gimana kalau buat klinik?"


"Modalnya banyak teh" kata Dirga.


"Memang itu tanah sudah mulai dibangun?"


"Sudah, tapi baru pondasi dan bata merah keliling sih. Kita patungan buat bikin klinik. Tenang, kita ajak Laras, siapa tahu dia mau" jelas Ais.


"Jangan, kita cari investor aja. Kita jadikan sertifikatnya sebagai jaminan dulu. Nanti bayarnya diangsur. Itu biar jadi dulu. Urus IMB nya dulu deh mendingan" Dirga memberi saran.


"Setuju sama kamu Ga, IMB gampang, biar aku urus. Perijinan juga biar aku urus. Tinggal cari investor. Aaah, tahu nih orang yang tepat" Farid tersenyum senang.


"Siapa?" tanya mereka semua.


"Mas Wisnu"


"Mas Wisnu seorang investor mas? Waw, gak nyangka, orang sesomplak dia bisa jadi investor"

__ADS_1


"Sebenarnya itu punya bapaknya mbak Kayla, istrinya, tapi kan mbak Kayla gak bisa mengelolanya, jadi deh mas Wisnu merangkap sana sini"


Mereka mengangguk. "Ya sudah, sudah malam yank, pulang yuk" kata Farid.


Ais mengeluarkan uang untuk mengganti biaya memberi rujak serut tiga bungkus tadi.


"Gak usah dok" Nina menolak.


"Terima saja Nin, rejeki gak boleh di tolak. Itung-itung buat nabung".kata Farid cepat.


"Tak ambilkan kembaliannya dulu"


"Gak usah, buat kamu saja" kata Ais.


"Ya sudah lah, terima kasih ya dok, pak"


"Sama-sama" jawab Ais dan Farid. "Kami pamit ya" kata mereka.


"Hati-hati A', jangan ngebut-ngebut" pesan Dirga kepada Farid.


Lalu mereka pulang. Nina dan Dirga masuk kembali ke rumah mereka.


"Aneh-aneh aja orang ngidam" celetuk Dirga.


Nina hanya tersenyum "Jangan menyepelekan sayang, itu juga bukan maunya dokter Ais"


"Tidur yuk, Aa' punya tugas nih"


Nina mengernyitkan dahinya. "Tugas? Tugas apaan?" tanyanya sambil berlalu ke toilet.


Dirga juga ikut masuk ke dalam dan menggosok giginya. Setelah itu, dia memastikan jendela dan pintu sudah terkunci, dan lampu sudah di matikan. Mereka masuk ke dalam kamar.


"A', tugas apaan?"


"Mau tahu banget?" Nina mengangguk masih bingung.


"Buka baju kamu" Nina semakin bingung.


"Urusannya tugas Aa' sama aku buka baju apaan?" tanya Nina.


"Karena tugas Aa' adalah, membuat kamu hamil"


Dirga mendekatkan dirinya ke Nina dan mulai menghujani Nina dengan ciuman. Nina mulai membuka baju yang dikenakan Dirga dan memulai olahraga malam yang bergelora itu.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Maaf ya, othor semalam ngantuk banget, habis vaksin yang kedua. Sumpah, yang kali ini ngefek buanget. Ngantuknya kebangetan


__ADS_2