
Malam itu Ais sedang dipijiti oleh suaminya. Farid memijat kaki Ais sambil bermain ponsel. Ais saat ini sudah tidak aktif lagi di rumah sakit. Karena dia harus mengurus dua anak laki-lakinya.
Ya, Hilal memiliki adik laki-laki saat usianya tepat satu tahun. Kata orang namanya kesundulan. Saat tahu dirinya hamil lagi, dia menangis. Malu jika dikatakan orang.
Tapi Farid dan mertuanya selalu menguatkannya. Sehingga ia bisa menerima titipan amanah itu.
Adik Hilal bernama Habib. Kedua bocah itu sudah tidur anteng bersama neneknya.
"Mas, kamu gak capek apa? Kok mau mijitin kaki aku? Kan kerjaan kamu makin banyak sayang"
Farid masih fokus dengan ponselnya. "Hmm? Capek? Capeknya mas ilang kalau lihat kamu dan anak-anak"
"Lha kamu juga tiap libur bantuin aku nyapu, ngepel, jemurin pakaian, ngajak main anak-anak. Kamu juga gak capek?"
"Gak lah, apaan sih? Kita itu tim. Rumah tangga ya begitu. Kita harus solid sebagai tim. Gak bisa kita mendidik mengasuh mengasihi anak-anal kita secara individual. Kita harus bareng-bareng.
Lagian nih ya, capek aku gak sebanding sama capeknya kamu ngurus semua keperluan keluarga kita sayang"
Ais tersenyum mendengar jawaban suaminya. "Kamu gak takut dibilang sama temen-temen kamu? Nanti kalau kamu dibilang ih kok mau jadi jongosnya bininya sih? Piye?"
Farid berhenti memainkan ponselnya dan menatap Ais. "Siapa yang bilang begitu? Siapa? Sini mau mas kasih pelajaran soal rumah tangga. Kan sudah mas bilang toh, rumah tangga itu bagaikan tim sayang. Gak ada itu istilah suami jadi jongos istrinya, istri jadi babu suaminya.
Kita ya harus sama-sama. Karena kita satu tujuan. Jadi kalau ada yang berpikiran seperti itu berarti jalan pikirnya perlu dilurusin!"
"Aaaahh, so sweet. Sini tak kasih kiss dulu" Farid memanyunkan bibirnya dan mendapatkan kecupan dari Ais.
Dia kembali memijit kaki Ais sambil bermain ponsel. "Yakin ya ikhlas bantuin aku?"
"Iya bunda, ayah ikhlas lahir batin bantuin kamu. Eh yank, lihat ini" Ais melihat video yang sedang ada di ponsel Farid.
"Apa?" tanya Ais bingung.
"Iki lho, bocah wedok cilik, ayu nemen. Awakmu gak pengen ngunu yank ngasih hadiah mas maneh? (Ini lho, bocah perempuan kecil, cantik sekali. Dirimu gak ingin gitu yank ngasih hadiah ke mas lagi?)"
Ais paham maksud pembicaraan Farid. "Gah, wegah, wes loro wae cukup. Iling slogan KB sing digembar gemborno pak Duta mas, loro cukup, lanang wadon podo wae (Males, males, sudah dua saja cukup. Ingat slogan KB yanh digembar gemborkan pak Duta mas, dua cukup, laki perempuan sama saja)"
"Lha wong iku cuma digembar gemborke kok, pak Duta karo bu Laras wae anake papat lho. Yo yank, ayo gawe maneh (lha itu cuma digembar gemborkan kok, pak Duta dan bu Laras saja anaknya empat lho. Ya yank, ayo bikin lagi)"
Ais geleng kepala. "Maaaas, kamu tuh begitu. Kamu gak pernah ngerasain sakitnya kok" protes Ais.
"Halah, nyatanya Habib juga langsung brojol lho. Yuk yank, semoga jadi cewek yank. Ya ya ya?" tanyanya sambil tersenyum jahil dan berbaring di sisi istrinya.
__ADS_1
"Kamu nih ya, kalian para suami memang seneng kalau punya anak banyak. Kami ini yang rempong"
"Biar jadi anak perempuan pakai gaya apa yank? Nungging atau apa?" tanya Farid sambil membuka kancing piyama Ais. Ais malah malu ditanya Farid begitu.
"Gaya bebas!" jawab Ais dan mengalungkan tangannya di leher Farid. Farid mulai menyerang Ais. Dan malam menjadi hangat di kala hujan turun.
Selesai bercinta mereka saling lempar senyum "Besok lepas IUD kamu ya, mas pengen keluarga kita ramai. Mas pengen di hari tua kita, kita tidak kesepian. Mas cinta sama kamu"
"Iya-iya, besok aku datang ke Citra deh buat lepas IUD"
"Nah gitu dong, tim itu harus kompak. Habib udah dua tahun lebih, Hilal juga udah 3 tahun lebih. Mas kangen tangisan bayi"
"Hmm, gayamu, kemarin-kemarin mereka nangis kamu malah bingung gitu kok"
"Hehehe, ya kan mas sudah belajar dari masa lalu yank. Ah, pengen mas punya anak cewek. Eh, mas mau ngomong penting"
Ais membelai rambut suaminya. "Apa mas?"
"Kalau mas pindah tugas kamu setuju gak?" Ais menautkan alisnya.
"Pindah? Ke luar kota maksudnya?" Farid mengangguk.
Ais berpikir menerawang. "Kita LDR an?" tanyanya sedih.
Farid tersenyum melihat ekspresi istrinya. "Takut LDRan sama mas? Hmm?" Ais membenakan wajahnya di dada Farid.
"Gak bisa kalau LDRan sama kamu mas" katanya sendu.
"Mas nglajuh kok, mas pulang tiap hari sayang. Kalau mas bawa kamu dan anak-anak pindah kasihan ibu kesepian. Jangan sedih dong. Gak nyangka kamu sesedih ini. Dulu aja kayak es! Dingin!" ejek Farid yang mendapatkan cubitan diperutnya.
"Cintaku sama kamu itu tumbuh semakin besar setiap harinya sayang. Kamu selalu memupuknya dengan kasih sayang setiap hari"
Farid mencium kening istrinya. "Terima kasih sudah mau mencintai mas. Besok jangan lupa, cabut IUD nya"
"Iya ih bawel! Kalau nanti hasilnya cowok lagi gimana mas?"
"Ya bikin lagi, kok susah. Wkwkwkw"
"Enak banget ya ngomongnya, bikin lagi, kamu kira kita sedang membuat kue, kalau gagal coba lagi? Ha?"
Farid mendapatkan cubitan sangat keras di perutnya membuatnya mengaduh tanpa suara. Takut membangungkan anak-anaknya.
__ADS_1
"Sakit yank! Merah nih! Kalau merahnya karena dicupang sih gak papa. Ini kena cubitan kamu"
"Ya habisnya kamu ngomongnya gitu" jawab Ais sebel.
"Hahaha, apapun yang nantinya dititipkan ke kamu mas terima. Tiga cukup lah. Tapi gak tau ding kalau nanti berubah pikiran lagi. Hehehe"
Ais hanya tersenyum "Sak karepmu lah mas. Asalkan kita adil membagi rasa sayang kita ke mereka"
"Lagi ah, sudah mulai tegang nih yang bawah" kata Farid sambil membalik tubuh istrinya agar menjadi telentang.
"Percuma mas, masih ada IUD nya"
"Gak papa, belum jadi juga. Mas kangen sama kamu"
"Berubah lagi kan alasannya"
"Mau kamu dilaknat sama malaikat sampe menjelang subuh?" Farid mengancam dengan dalil pamungkasnya.
"Yo gak mau, aku milikmu mas, puas-puaskan malam ini. Karena jarang-jarang kita bisa berduaan begini"
"Iya lah, untung tadi bujuk rayu mas berhasil. Wkwkwkw"
"Emang udah kamu rencanain kan ini? Dasar suamiku mesum banget sih ya?" Farid menghujani istrinya dengan ciuman dan kembali bercinta.
Mereka kembali melakukan penyatuan tubuh. Saling menikmati ritme permainan. Saling membutuhkan satu sama lain.
Itulah arti rumah tangga. Membangun suatu tim yang solid untuk menuju tujuan bersama yaitu menjadi jodoh hingga ke jannah-Nya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1