
Farid sudah kembali bekerja. Masa cutinya telah habis. Dia harus kembali kepada aktivitasnya. Seperti biasa, mengatur segala keperluan untuk Bupati. Surat dari partai sore itu turun. Segera dia sampaikan kepada Duta.
Duta yang kala itu sudah berada di rumah baru ingat, jika Laras belum memberikan jawaban kepadanya terkait pencalonannya. Apakah Laras akan setuju atu justru menolak.
"Yank" katanya lembut kepada sang istri yang kini tengah asyik nonton drakor itu.
"Iya bang" tolehnya pada Duta. "Lagi apa?"
"Nonton, kenapa?"
"Abang mau tanya sesuatu sama kamu. Bisa?" Laras mengangguk.
"Bagaimana keputusan kamu tentang pilkada nanti? apakah abang boleh untuk maju pilkada lagi?" tanya Duta penuh harap.
Laras menatap dalam mata Duta. Tersirat keinginan yang sangat kuat untuk maju pilkada nanti. Tapi kembali lagi, sebagai perempuan dia juga ingin dicintai seutuhnya. Dia sering cemburu, bukan karena wanita lain. Tapi cemburu kepada waktu. Karena Duta nantinya akan lebih sibuk dalam pencalonan.
"Bismillahirrahmanirrahim. Laras ikhlas abang maju pilkada lagi. Tenaga dan pikiran abang masuh sangat dibutuhkan untuk kemajuan Magelang selama 5 tahun ke depan nanti" Duta tersenyum sumringah dan memeluk istrinya.
"Terima kasih sayang. Doakan abang bisa lolos untuk segala persyaratannya ya" Laras mengangguk menyunggingkan senyum.
Tak lama Farid datang dengan membawa surat itu. "Assalamualaikum pak"
"Waalaikum salam" sahut keduanya. "Duduk mas, Laras bikinkan minum dulu"
Laras hendak berdiri tapi dicegah oleh ucapan Farid. "Oh gak usah bu, saya cuma sebentar saja. Nanti kalau dibuatkan minum malah bisa sampai malam"
"Oh ya sudah kalau begitu"
"Pak, ada surat turun dari partai. Minggu depan agendanya pak" jelas Farid sambil menyodorkan surat itu.
Duta membacanya. "Oke, kosongkan jadwal saya bang"
"Siap pak, dan untuk besok jumat ada wawancara dari tv x. Terkait 5 tahun kepemimpinan bapak saat ini. Bapak dan Ibu diundang hadir dalam acara itu. Bagaimana pak?" Duta menoleh ke Laras. Seakan tahu isi hati suaminya Laras mengangguk.
"Oke bang, atur saja" jawab Duta lagi.
__ADS_1
.
Malam itu Laras dan Duta telah siap untuk acara tv x. Pembawa acara membuka acara tersebut. Menampilkan profil kota Magelang dan juga Duta.
"Duta Wicaksana, 36 tahun, lulusan ekonomi bisnis. Memimpin sejak tahun 2016 hingga saat ini. Banyak prestasi yang didapat kota kita tercinta ini di bawah kepemimpinan seorang Duta. Kalpataru, Adipura, WTO oleh BPK RI, dan masih banyak lagi. Kota Magelang semakin banyak ruang hijau terbuka. Gorong-gorong selalu diperbarui alias kita bebas banjir, ya.
Jalan rusak juga minim. Pembangunan desa tertinggal sudah terealisasi sekitar 50%. Sungguh pencapaian yang luar biasa. Langsung saja kita sambut, bapak Bupati kita beserta ibu. Duta Wicaksana dan Ayu Larasati. Beri tepukan yang meriah" Penonton bertepuk tangan menyambut Duta dan Laras.
"Assalamualaikum, mbak Nujma" ucap Duta sambil menangkupkan tangan di depan dada. Laras memeluk Nujma dan cipika cipiki dengannya.
"Waalaikum salam, selamat malam bapak dan ibu. Kita bertemu lagi ya. Tapi kalau sekarang statusnya berbeda. Jika dulu masih belum halal ini sudah halal ya. Silahkan duduk" Laras dan Duta duduk berdampingan.
"Saya iti suka melihat bapak dan ibu, serasi. Sofa sepanjang ini juga masih sisa banyak ya, duduknya memang harus berdekatan begini ya?" Sontak mengundang tawa penonton.
"Iya dong mbak, kalau jauhan nanti dikira berantem. Hehehe" jawab Duta santai.
"Bapak dan ibu apa kabar? Baik ya pastinya. 5 tahun, perkembangan Magelang sangat pesat. Dibawah kepemimpinan bapak, sungguh luar biasa. Apa sih rahasianya pak?"
Duta membetulkan posisi duduknya. "Rahasia? Gak ada rahasia. Saya bekerja ya sesuai kemampuan saya. Dibantu para staff, kemajuan Magelang bukan hanya karena saya mbak. Banyak pihak yang terlibat. Jadi mereka juga bekerja keras membantu saya"
"Hebat sekali. Bapak ini dari dulu sampai sekarang memang selalu sederhana. Oke, kita masuk sesi ekspektasi versus realita. Slide pertama" menampilkan Duta yang tidak dikawal oleh rombongan dimanapun dia berada, lebih banyak menyetir sendiri. "Selalu sendiri, biasanya bupati itu selalu dikawal tapi ini beda. Next"
Menampilkan Duta yang tinggal di rumah mamah Aini dan dirumahnya saat ini, tanpa pengawalan. "Bisa dijelaskan pak?"
"Hmm, Saya ini bingung harus menjelaskan dari mana. Begini, sebelum saya jadi bupati saya itu hanya orang biasa. Jauh dari kemewahan. Lalu untuk apa kemewahan itu saya pamerkan saat saya menjabatnya?"
"Gitu ya pak? Kenapa tidak bersama rombongan ajudan pak?"
"Simpel mbak, saya gak suka kebebasan saya terganggu. Tapi sekarang saya sudah dikawal kok"
"Iya kah? Apa karena sudah ada ibu? Makanya mau dikawal sekarang?"
"Biar lebih mudah mengetahui keberadaan istri saya. Dia kalau sudah sibuk jarang sekali memberi kabar ke saya. Ya kan yank?" Laras hanya tersenyum.
"Biasanya nih, bupati itu selalu sibuk hingga lupa menyapa. Tapi bapak ini lebih banyak bertegur sapa dengan rakyat daripada dengan para pejabat. Yang ketiga, kenapa bapak tidak tinggal di rumah dinas pak? Sayang lho pak rumah dinasnya dianggurin begitu saja"
__ADS_1
"Heheh, dulu kan selama dua tahun saya tinggal di rumah dinas mbak. Tapi..., waktu itu kan papah saya sakit dan meninggal. Mamah mengalami depresi, saya gak bisa dong kalau harus meninggalkan mamah sendirian. Makanya saya pindah ke rumah mamah lagi"
"Enak di rumah sendiri mbak, jadi nanti kalau masa jabatannya habis tidak pusing pindahan" jawab Laras mengundang gelar tawa dari penonton.
"Ooo gitu ya. Benar juga yang ibu katakan. Haha, next" menampilkan Laras yang pergi ke pasar naik motor bersama Duta.
"Bisa dijelaskan?" tanya Nujma. "Ini belanja ke pasar mbak" jawab Laras.
"Kenapa tidak menyuruh ART bu?"
"Heheh, pengen ke pasar sama abang. Milih sendiri bahan yang ada. Biar makin romantis"
"Gini mbak, saya itu pernah bertemu seorang bupati juga. Istrinya seorang penjual ayam bakar. Dia juga pergi sendiri ke pasar, tanpa pengawalan, berjalan sendirian untuk usahanya. Kita itu hanya dititipi jabatan dan kemewahan, kita tidak tahu kapan hal itu akan diambil. Kalau saya, lebih menyukai kesederhanaan. Jadi memang berbeda sekali dengan ekspektasi yang ada. Hehehe" imbuh Duta.
"Luar biasa, begini nih yang dibutuhkan kota Magelang, bukan hanya Magelang, seluruh daerah juga sepertinya butuh sosok pemimpin seperti bapak ini. Satu pertanyaan terakhir, untuk periode depan, maju gak nih pak?" tanya Nujma.
"Penonton? Kira-kira saya maju atau tidak?" tanya Duta kepada para penonton.
"Majuuuuuu" seru penonton.
"Insyaallah maju lagi mbak"
"Semoga terpilih lagi ya pak? Sungguh luar biasa. Kita banyak mengambil pelajaran dari kesederhanaan seorang Duta. Tidak perlu bermewahan karena semua itu hanya titipan. Akhir kata saya pamit. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Sumbangin puin-puin nya dooong