
Bukan hanya Duta yang terkena imbas kelalaian. Farid pun terkena omelan istrinya. Minggu itu pun menjadi minggu kelabu untuk Farid. Bagaimana tidak, dia merayu istrinya untuk membuatkan nasi goreng saja Ais tak mau.
"Beli sana di pinggir jalan. Banyak kok" Ibu Farida yang mendengarnya hanya geleng kepala.
"Makanya, kalian itu bukan perjaka lagi. Kalian itu sudah ada yang memiliki, ada yang menantikan kalian. Salah sendiri bikin kesalahan, ibu setuju sama Ais. Sana beli sarapan sendiri"
"Yaaaah, sebenarnya nih yang anak ibu Farid apa Ais sih? Kok sekarang selalu belain Ais" Farid kesal
"Kalian berdua anak ibu. Tapi kamu memang keterlaluan Rid"
"Kan yang salah pak Duta bu, kok yang dimarahi aku. Salah sasaran ini maaah"
"Ya tugas kamu kan mencatat semua kegiatan pak Duta mas, harusnya kamu bisa ngingetin dong. Kamu gak tahu kan gimana aku nguatin Laras tadi malam? Perempuan juga butuh perhatian mas, mentang-mentang pada sibuk acara penting begitu sampai lupa"
"Ya kami kerja kan demi kalian juga, kenapa selalu salah? Eh, mas lupa, kalian kan punya undang-undang sendiri ya?" sahut Farid.
"Meskipun kerja buat kami tapi jangan menjadikan kami nomor dua dong. Coba kamu tak nomor duakan? Mau kamu mas?"
Farid mengacak-acak rambutnya kasar. "Mas butuh sarapan sayang, bukan butuh omelan"
Ponsel Farid berdering. Dari mamah Aini. "Tumben mamah telpon, perasaanku kok jadi gak enak ya? Haduuuh" Farid mengangkat panggilan itu.
"Assalamualaikum mah" Ais menoleh ingin tahu siapa yang menelpon.
Waalaikum salam, ke rumah mamah sekarang. Mamah mau bicara sama kamu
Farid menepok jidatnya. "Eee, ada apa ya mah? Saya mau jalan sama Ais nih" bohongnya.
Jangan bohongi mamah Rid, mamah sudah wa Ais katanya dia juga sedang marah padamu. Cepet kesini. Mamah tunggu
"Nggih mah siap" jawab Farid lesu.
"Sayaaaang, ikut mas yuk. Jenguk bu Laras. Kamu gak kangen apa sama bu Laras?"
Ais yang sedang menyiang sayuran bersama ibu hanya melirik Farid. "Ogah, kamu mau dihakimi sama mamah Aini, aku gak mau ikutan. Terima hukumanmu mas"
Farid memukulkan kepalanya pada meja berulang kali. Ibu dan Ais hanya bisa menahan senyum.
.
__ADS_1
Duta yang kala itu akan terpejam mendengar ponselnya yang sejak semalam tak ia sentuh berdering. Dia melepaskan pelukan istrinya dan menerima panggilan itu.
"Assalamualaikum mah" jawabnya
Waalaikum salam, ke rumah mamah sekarang
"Ada apa mah?" tanya Duta takut karena suara mamahnya penuh penekanan tiap katanya.
Perlu ada apa-apa dulu baru mau ke rumah mamah??
"Iya mah, Duta mandi dulu" Duta tahu mamahnya masih marah perkara semalam. Dia tak mau membantah lagi. Dengan cepat dia pergi ke kamar mandi dan bersuci. Laras mendapati ranjang disampingnya kosong, dia memakai lagi pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.
Duta yang sedang bershampo melihat Laras masuk. Ternyata dia muntah lagi. Duta segera menyelesaikan mandinya dan menghampiri istrinya. "Kok masih mual muntah sih yank? Udah 4 bulan lho" Laras hanya menggeleng.
"Mau mandi sekalian?" Laras mengangguk. Duta menyiapkan air untuk istrinya. Dia juga memandikan Laras. Sungguh tersanjung Laras diperlakukan bak putri lagi oleh Duta. Tapi dia tak mau mudah percaya, dia ingin tahu seberapa besar Duta ingin berubah menjadi pribadi yang lebih perhatian.
Selesai mandi, Duta membantu Laras memakai baju. Menyisirkan dan mengeringkan rambut panjangnya.
"Abang ke rumah mamah sebentar ya Ay, kamu mau ikut abang?" Laras menggeleng. "Ngomong to sayang, jangan diam membisu. Kamu masih marah sama abang?"
Laras kembali menggeleng. "Gak. Laras hanya capek. Capek hati dan pikiran" jawabnya sambil menarik selimut lagi. Entah mengapa kali ini dia merasa pusing sekali. Dia hanya ingin memejamkan mata. Mungkin karena kebanyakan menangis, pikirnya.
Duta tak bisa membantah ucapan Laras, dia hanya diam. Dia mengecup kening dan perut Laras. "Papah ke rumah eyang dulu ya, jagain mamahnya ya sayang. I love you Ay, tunggu abang pulang ya"
"Assalamualaikum mah" sapa Farid sambil cium tangan mamah Aini.
"Waalaikum salam, duduk, kita tunggu 1 orang lagi" Farid hanya mengangguk. Dia tak berani menatap wajah mamah Aini. Duta datang dan mencium tangan mamahnya. Dia juga melihat ada Farid. Membuatnya semakin yakin mamah akan merunyak kemana-mana.
"Kalian pasti sudah tahu alasan mamah memanggil kalian kesini. Jujur saja, mamah kecewa sama kalian berdua. Terutama kamu Duta, semenjak pencalonan kamu jarang bahkan tidak pernah memperhatikan istrimu. Dia sedang hamil anak kamu, sedang butuh perhatian yang sangat besar dari kamu.
Kalian itu bukan perjaka lagi, kalian memiliki tanggung jawab sekarang. Farid, mamah gak mau kejadian seperti ini terualang lagi. Mamah gak mau tahu gimana caranya, jam 8 malam kamu sudah harus di rumah Duta. Atur jadwal bos mu untuk seterusnya Rid"
"Nggih mah" jawab mereka berdua kompak.
"Mamah mau masak, kalian kalau mau pulang silahkan" kata mamah Aini meninggalkan mereka.
Nasib mu Rid Rid, bapak yang salah, kamu yang kena sasaran amarah orang-orang. Hadeeeh. Farid menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Pulang bang, kalau kita pulangnya telat bakalan ada omelan selanjutnya" Farid setuju dengan ucapan Duta. Lalu mereka pamit kepada mamah Aini dan pulang ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Farid membawa mobil dinas milik Duta, karena besok harus di service, karena tempat service dekat dengan rumahnya maka dibawa sekalian oleh Farid.
Dia mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang, hatinya kesal, sudah lah tidak mendapatkan sarapan, malah dapat banyak omelan.
Seorang pengendara sepeda motor dengan sengaja memepet mobil Farid, hingga ia harus membunyikan klakson berulang kali. Tapi tak diindahkan oleh sang pengendara motor.
Saat ditikungan dengan sengaja pengendara motor itu mengerem mendadak, hingga Farid membanting setirnya dan naik ke trotoar dan menabrak pohon.
Orang-orang yang ada di sekitar sana membantu Farid. Mereka menghubungi ambulance dan melarikan Farid ke rumah sakit.
Berita cepat sekali menyebar, hingga Bumi, orang yang ada dibalik layar kecelakaan ini geram.
"Sialan! Bodoh kamu! Sasaran kita bukan ajudannya! Sasaran kita Duta!" marahnya meledak saat menyaksikan berita di tv.
"Berarti saya salah sasaran ya bos?"
"Pikir sendiri!" Bumi meninggalkan orang itu sendirian.
Ais dan bu Farida langsung menuju rumah sakit setelah mendengar kabar itu, mereka mencari di IGD kebetulan saat itu Arjun yang berjaga.
"Maaaas" ucapnya saat mengetahui Farid terbaring di bed.
"Mas gak papa sayang" Ais menoleh ke Arjun. "Dia baik-baik saja, hasil rontgennya sebentar lagi keluar" jawabnya singkat.
"Arjun" panggil Ais membuat Arjun menghentikan langkahnya. "Terima kasih" ucapnya lagi.
"Sama-sama" jawab Arjun.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip
Sumbangsih nya kakaaaaaak heheheh. Puin-puinnya doooong.... biar othor makin semongko nulisnya