Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Sedang Diinterogasi


__ADS_3

Pukul 9 malam mereka baru sampai rumah, tapi bukan rumah mereka, melainkan rumah mamah Aini. Mereka rindu dengan orang tuanya. Mamah Aini yang baru saja diantar oleh Dirga sangat senang dengan kedatangan anak dan menantunya itu.


"Assalamualaikum" ucap mereka sambil mencium punggung tangan mamah Aini


"Waalaikum salam, tumben main kesini. Mamah kira sudah lupa sama mamah"


"Hahaha, gak lah mah. Tadi nemenin kak Ais sama mas Farid fitting, terus diajak jalan sama anak mamah ini" jawab Laras


"Aa sama teteh dari mana?" sapa Dirga kepada mereka berdua.


"Dari kencan, kamu mau kemana lagi Ga?" sahut Duta.


"Cie yang habis kencan, aku mau nganterin temen dulu. Yok semuanya, Dirga jalan dulu" Dirga melajukan mobilnya sebelum ditanya lebih lanjut oleh Duta.


Laras dan Duta saling berpandangan, "Memang dia punya teman yang disini?" Laras hanya mengangkat bahu tanda tak tahu.


"Ayo masuk, ngapain bengong" ajak mamah Aini.


Mereka mengobrol di ruang tv.


"Dut, Ras tadi sore mamah sudah tanya ke Dirga tentang perasaannya terhadap Laras. Mamah sih percaya ya sama dia"


Duta menyela ucapan mamahnya "Dia ngomong gimana mah?"


"Sebentat dong Dutaa, mamah ngomong jangan dipotong aja dong"


"Iya maaf, ayo buruan cerita mah" jawabnya tak sabar.


"Dirga bilang sudah tidak ada rasa lagi sama istri kamu. Jadi mamah juga berharap kalian tidak gimana-gimana lagi terhadap Dirga"


"Mamah yakin Dirga gak bohong kan mah?" Laras juga penasaran dengan hal ini.


"Iya, mamah yakin. Dan sepertinya dia mulai membuka hati untuk yang lain"


"Siapa?" tanya Duta dan Laras kompak. Bukannya menjawab mamah Aini malah tertawa.


"Hahahahaha, kompak banget sih. Kemal kalian"


"Kemal apaan mah?" Duta tak tahu istilah itu.


"Kepo maksimal, kamu itu kudet banget sih. Jangan bilang kudet juga gak tahu ya?"


"Tahu lah, kurang update. Mamah ini gaul banget sih. Sampai kalah Duta. Hmm, semoga saja yang diucapkan Dirga benar adanya, jadi tuh kami bisa agak bebas main kesini. Terus tadi mamah sama Dirga habis darimana?"


"Kafe"


"Ha?" Laras dan Duta kembali kompak.


"Ih, kalian kenapa sih? Biasa saja dong jawabnya. Memang mamah gak boleh ke kafe?"


"Boleh mah, siapa bilang gak boleh. Terus tadi Dirga mau kemana lagi mah?" sekarang giliran Laras menjadi kemal.


"Ngantar temennya pulang. Mamah berasa seperti sedang diinterogasi sama kalian deh"


"Teman? Memang dia punya teman disini mah? Anak rumah sakit?" lanjut Laras.


"Iya"


"Cewek apa cowok temennya mah?"

__ADS_1


"Cewek"


"Laras kenal sama orangnya?" Duta ikut antusias menunggu jawaban dari mamahnya


"Ya Allah sayaaaang, kalian ini kepo banget sih. Iya kamu kenal, jeng Nina. Ada yang mau ditanyakan lagi?"


Laras hampir tak percaya dan tiba-tiba senyum sendiri. "Mereka tadi mamah yang mengenalkan atau mereka sudah kenal sendiri?"


"Sek, sebentar. Mamah sedang diinterogasi nih ceritanya sama kalian?"


"Iya, ayo dong mah, cerita lengkapnya sama kami" paksa Laras.


"Hmm, mereka kenal sendiri. Gak tahu sejak kapan. Tapi pas tadi di kafe yang niatnya mamah mau mengenalkan mereka berdua tapi ternyata sudah kenal duluan. Sepertinya ada yang lagi pendekatan secara tersembunyi nih. Untung tadi mamah punya ide briliant"


"Apa mah?" tanya Duta.


"Mamah nyuruh Dirga mengantarkan pulang Nina. Besok kalian gantian interogasi Nina sama Dirga lah"


"Mamah pinteeeer banget kalau suruh begini. Dulu juga kan? Waktu Kinan diruangan Laras, Duta disuruh jemput kesana biar tahu duluan kan Laras bagaimana orangnya?"


"Hahaha, memang iya mah?"


Mamah Aini mengangguk mantap. Membuat anak-anaknya tepok jidat dengan tingkah mamah Aini.


.


Pagi menjelang, mereka melakukan aktivitas seperti biasanya. Laras tak sabar ingin menginterogasi Nina secara langsung. Ais yang baru saja tiba juga tersenyum kepada Laras.


"Assalamualaikum bu bupati, waaah, sepertinya ada yang baru nih. Secara ya kan postingannya melted aku yank. Hadeeeh. Itu pengikut pak Duta yang ciwi-ciwi langsung baper semuaaaa"


"Waalaikum salam. Hahaha, iya dibeliin bang Duta kemarin. Kencan yang kedua. Itu undangan kak?"


"Iya"


"Hei, penting apaan? Lebih penting dari nyebarin undangan aku gak nih?"


"Lebiiiih. Jiwa kepo kakak akan senang mendengarnya" ucap Laras sambil berlalu membuat Ais penasaran. Rena yang sudah kembali bekerja menyapa Laras saat melintasi ruangan Ais.


Nina sedang merapikan meja ruangan Laras. "Assalamualaikum, selamat pagiii"


"Pagi dokter, senang sekali kayaknya. Waaah, ada yang baru niiiih"


"Hehehe, iya. Alhamdulillah, kamu juga kayaknya ada yang baru"


Nina bingung dengan pernyataan Laras. Dia melihat dirinya sendiri. Tidak ada yang baru.


"Bukan barang, tapi kayaknya yang dihatimu yang baru Nin"


"Maksudnya?" tanya Nina tak paham.


"Gak papa, pasien berapa?"


"Banyak dok, kan kemarin dokter ijin. Sekitar 30 pasien. Mamah papah nya Riana juga ingin bertemu dengan dokter"


"Oke, nanti makan siang disini saja. Saya sedang ingin menginterogasi mu. Kamu pesankan saya kak Ais Rena dan kamu makan ya. Apapun menunya, saya traktir"


"Oke siap bu bos Bupati!" jawab Nina bersemangat dan mulai memanggil pasien satu per satu.


Jam makan siang pun tiba. Ais menunda kunjungan bangsalnya nanti jam 2 siang karena penasaran dengan Laras. Dia juga mengajak Rena untuk ke ruangan Laras.

__ADS_1


Nina mengambil makanan dari kurir ojek online. Lalu kembali ke ruangannya. Dirga yang saat itu juga shift pagi melihatnya melintas di depan IGD.


"Wuih, banyak nih. Aku dibelikan juga gak nih?" Sapa Dirga mengagetkan Nina.


"Astaga, bikin jantungan aja sih. Awas ah. Udah ditunggu sama dokter Laras"


"Oo punya teteh, padahal aku mau ngajak kamu makan siang. Yaaah, kecewa deh aku"


"Lain kali saja ya. Bye"


Mereka berpisah. Kecewa sekali wajah Dirga. Nina hanya menyimpan senyumnya sebelum ketahuan sama yang lain.


Laras sudah menceritakan kepada Ais dan Rena. Mereka sepakat untuk menginterogasi Nina. Mereka menghabiskan makanannya lalu mulai mencecar pertanyaan kepada Nina.


"Nin, kamu kemarin minggu malam diantar pulang sama siapa?" tanya Laras


Nina menjadi gugup. Jawab jujur gak ya? Kalau bohong pasti ketahuan, ada dokter Ais, Rena, haduuuh


"Jawab woy, malah bengong" Rena menoel lengan Nina.


"Ehm, sama dokter Dirga" jawabnya sok datar.


"Kenapa bisa diantar sama Dirga? Kalian ada hubungan apa?" Kini Ais yang mencecarnya.


"Ketemu di kafe, cuma temen"


"Sejak kapan temenan sama dokter Dirga? Perasaan aku kok gak ditawari pertemanan juga ya?" Kini Rena bersuara.


"Ehm, sejak ketemu di gereja, kamu mau juga jadi temennya? Nanti tak bilangkam ke dia?"


"Cieeeee, dia" serentak mereka membuka suara.


"Apaan siiih?" Wajah Nina menjadi merah padam karena malu. "Cuma temen ya, hanya teman. Tolong digarisbawahi. T E M A N. Teman"


"Percaya kita, teman. Ya gak teman?" Rena bertanya kepada Ais dan Laras.


"Hati-hati, temen jadi demen nanti. Yok Ras sholat" Ais mengakhiri interogasinya dan mengajak Laras sholat.


"Eh, gak berlaku untuk saya ya dok. Teman ya teman, gak ada tuh istilahnya temen jadi demen"


"Jangan ngomong begituuuu, aku sih gak percaya kalau ada cowok sama cewek sekedar temenan" ejek Rena.


"Beneran"


"Beneran kan untuk sekarang, belum tentu besok, 1 bulan lagi, 1 tahun lagi? Hati gak ada yang tahu Nina sayaaaang"


Mereka meninggalkan Nina sendirian dan menuju masjid untuk Sholat.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Ayo doooong komen dan votenya dikencengin. Udah 2x up lho niiiih. Happy reading all 😘😘😘


__ADS_2