Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Teror


__ADS_3

Setelah selasai sholat, Laras bertemu dengan orang tua Riana. Kemajuan Riana sangat pesat, selain tidak histeris lagi Riana sekarang bisa curhat dengan kedua orang tuanya. Semakin pesat kemajuannya.


Ais menyuruh Rena dan Nina untuk menyebarkan undangannya. Dia harus kunjungan bangsal. Mereka menyebarkan undangan Ais dari bangsal ke bangsal dan terakhir di IGD. Pas saat pergantian shift.


Dirga menjelaskan kondisi beberapa pasien yang masih dirawat di IGD kepada Arjun. Saat itu Nina dan Rena memberikan undangan kepada perawat jaga disana.


"Mbak Nung, titip ya buat anak-anak IGD" ucap Nina.


"Wokeh siap. Ini dokter Ais nikah sama siapa Nin?"


"Sama ajudannya pak bupati mbak" jawab Rena cepat dan sengaja dikeras-keraskan.


Arjun dan Dirga kembali ke nurse station. Arjun mendengar ucapan Rena. Lantas dia membuka salah satu undangan itu. Lalu Arjun tersenyum kecut.


"Kenapa senyum begitu? Haha, kasihaaaan deh ditolak sama 2 dokter cantik kebanggaan rumah sakit ini" ejek Rena. Memancing emosi Arjun.


Arjun melempar undangan itu ke muka Rena dengan keras. Dirga yang membereskan barangnya sampai mendelik dengan sikap kasar Arjun.


"Mulut kayak kompor mledug!"


"Biarin! Daripada punya kelakuan minus!" balas Rena tak ingin kalah. Arjun mengepalkan tangannya dan mengangkat kerah baju Rena.


"Eeh, stop dokter Arjun. Ini cewek lho!" hardik Nina.


"Temen kamu duluan yang nyolot! Pergi kalian!" bentak Arjun.


Rena menjulurkan lidahnya dan berbalik bersama Nina. Arjun semakin emosi lalu menjambak rambut Rena. Sampai Rena mengaduh kesakitan. Dirga melerai pertengkaran itu.


"Kalian cepat pergi dari sini deh" ucap Dirga dijawabi anggukan oleh Nina. Arjun ditenangkan oleh mbak Nung dan Dirga.


Enak saja kalian semua mempermalukanku seperti ini. Lihat saja apa yang akan kulakukan. Akan kutebar teror itu


.


Laras pulang terlebih dahulu dijemput oleh supir dan pengawal Duta. Saat sudah sampai di gerbang rumah, pak Ron yanh saat itu berjaga memberikan sebuah paket kepada Laras.


"Ini dari siapa pak?" tanya Laras bingung karena tak ada nama dan alamat si pengirim.


"Saya kurang tahu bu, kurir yang mengantarkan kesini juga tidak tahu itu dari siapa.


Pengawal itu memberitahukan Farid tentang kejadian itu. Farid segera menyampaikannya kepada Duta. Dia melihat jam di tangannya. Masih kurang setengah jam lagi. Duta secepatnya menyelesaikan pekerjaan itu dan tepat pukul 5 sore dia pulang ke rumah.

__ADS_1


Laras yang selesai mandi dan masak, membuka paket itu. Tidak tahu siapa yang mengirimkan. Dia penasaran. Saat membuka paket itu hatinya jadi kesal.


Duta pulang dan disambut oleh istrinya. Lalu dia segera membersihkan diri dengan mandi. Setelahnya dia turun menemui istrinya. "Mana paketan yang tidak ada namanya?"


Laras menunjukkan isinya dengan muka cemberut. Duta melihat isi paketan itu. Foto Dini lagi. Jika yang minggu lalu berukuran kecil sekarang berukuran 16r dengan tulisan cinta yang selalu dihati.


"Kenapa ada foto Dini lagi bang?" tanya Laras dengan tenang meskipun dengan wajah cemberut. Tapi kali ini dia tak ingin terpancing emosi.


"Abang juga tidak tahu, tapi abang yakin ada seseorang entah siapa sedang menebar teror untuk rumah tangga kita sayang. Tolong percaya sama abang, bukan abang yang melakukannya. Abang sama sekali tidak mempunyai barang-barang Dini lagi. Abang berani sumpah"


Laras tersenyum dan memeluk suaminya. "Laras percaya kok sama abang. Bukan abang pelakunya. Laras percaya. Tapi siapa? Tolong cari tahu. Laras gak ingin kita ribut karena masalah Dini, orang yang jelas sudah meninggal"


"Terima kasih telah percaya sama abang. Ayo kita bakar foto ini"


"Jangan!" cegah Laras. "Jadikan foto ini bukti, kita tunjukkan bahwa kita tak terpengaruh apapun dengan adanya foto ini. Kita tunjukkan pada orang yang ingin melihat kita hancur"


Duta mengecup kening istrinya. "Maaf karena abang kamu merasakan hal yang seperti ini"


"Bukan karena abang, ya sudah. Ayo makan dulu. Biar Laras siapkan dulu makanannya"


Duta mengangguk. Laras segera menuju dapur untuk mempersiapkan makanan untuk suaminya.


Duta meraih ponselnya dan menghubungi Farid.


Nggih pak sendiko dawuh


"Kumpulkan anak-anak, saya ingin membicarakan hal penting"


Nggih pak


Panggilan telpon berakhir


Farid yang baru saja sampai rumah hanya mengusap mukanya kasar. "Hadooooh, kenapa lagi si bapaaaakk"


Maghrib usai. Sesuai perintah Duta, Farid mengumpulkan para pengawal. Laras membuatkan minum untuk semuanya. Sekitar 10 orang ada disana.


"Ada apa pak? Sepertinya penting sekali" Farid duduk dan membuka percakapan.


"Mulai besok kalian harus menjaga rumah ini. Hari ini istri saya mendapatkan sebuah paket tanpa nama pengirim. Isinya ada foto almarhuman Dini. Seminggu yang lalu juga saya menemukan di tas saya ada foto yang sama di tas saya.


Saya ingin memberi tugas untuk kalian. Bang Farid bagi tugas untuk semuanya. Kalian dibawah komando bang Farid. Cari tahu siapa yang menaruh foto di tas saya. Lalu cari kurir yang mengantarkan paket itu.

__ADS_1


Saya juga ingin mulai besok mengawal istri saya. Laporkan segala kegiatannya kepada saya. Saya tidak ingin hanya karena foto merusak keharmonisan rumah tangga saya. Beri laporan kepada saya secepatnya bang Farid"


"Nggih pak, sendiko dawuh" jawab semuanya kompak. Farid mengambil alih perintah tugas.


"Bagi kelompok menjadi berpasangan 2 orang. Kelompok 1 mengecek cctv yang ada di area kabupaten. Kelompok 2 mengecek dan mencari kurir paket itu. Kelompok 3 mengawal ibu dan bapak berangkat dan pulang. Kelompok 4 dan 5 berjaga di rumah bapak. Laporkan kepada saya dalam waktu seminggu ini" titah Farid kepada anggota keamanan kabupaten itu.


Duta memesan makanan untuk jamuan, setelah pesanan itu sampai Laras dibantu oleh ART mamah Aini yang sebelumnya sudah disuruh datang oleh Duta menyajikannya. Farid berbicara serius kepada Duta.


"Pak, mungkinkah pak Rama yang melakukan ini? Maksud saya mungkin kemarin hanya tipu muslihatnya saja"


"Jangan su'udzon sama orang bang. Kita belum mempunyai bukti apapun. Saya berencana menemui Rama besok selesai kerja. Tapi saya ragu jika dia yang melakukannya. Rama meskipun jahil tapi jika dia sudah memaafkan tidak akan mengusik lagi bang"


"Atau mungkin ini ada hubungannya dengan politik pak?" duga Farid lagi.


Duta diam sejenak memikirkan perkataan Farid. "Maksud abang saingan saya dulu?"


"Iyap"


Duta mengusap mukanya kasar. "Huft, konsekuensi jadi orang penting begini banget siih"


"Hehe, sabar pak"


"Saya kasihan sama Laras bang, dia selalu dihantui perasaan cemburu. Ini baru foto besok apalagi coba. Hadeeeeh. Pusing saya. Mana 3 hari lagi kita harus berangkat Jakarta. Malah tambah kepikiran saya"


"Mmm, pak, mungkin ini waktunya kurang tepat. Tapi harus segera saya sampaikan. Sebentar lagi pencalonan, bapak mau maju lagi atau tidak? Karena partai menunggu keputusan bapak"


Duta semakin pusing. Dia mengacak-acak rambutnya. "Nanti saya diskusi dulu sama Laras bang, kalau teror ini terus begini mending saya tidak maju. Demi keharmonisan rumah tangga"


Farid hanya mengangguk mendengarkan penjelasan Duta.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


Hay guys, mulai besok sampai tgl 5 othor hanya bisa up 1 episode ya. Soalnya othor ada keperluan selama 10 hari kedepan. Mohon pengertian dari semua yaaaa. Happy reading all 😘😘😘


__ADS_2