
Duta terduduk lesu. Laras mengemasi barang-barangnya. Hendak keluar dari rumah itu. Duta mencegahnya. "Jangan keluar dari rumah ini Ay, abang akan buktikan kepadamu bahwa abang dijebak"
Laras menangis berjongkok. Hatinya sakit. Pilu. Melihat lelakinya berbagi tubuh dengan wanita lain.
"Kasih abang waktu sayang, abang akan buktikan kepadamu, bahwa abang dijebak oleh seseorang"
"Laras beri waktu 2 hari, jika sampai hari pemilu tiba abang tidak bisa membuktikan kepada Laras, maka ceraikanlah aku" Laras kembali ke kamarnya. Menumpahkan air matanya.
Malam berganti pagi. Duta dan Farid masih sibuk mencari bukti. Laras kehilangan semangatnya. Saat menuang air panas ke dalam gelas saja sampai tumpah mengenai tangannya.
"Aw panas!" pekiknya. Bi Sum mendekatinya. "Ya Allah bu, tangan ibu terluka. Saya ambilkan obat dulu bu" Bi Sum segera mengambil kptak obat melewati Duta.
"Kenapa bi?"
"Tangan ibu terkena air panas pak" Duta meraih kotak obat itu dan menghampiri istrinya yang sedang menangis. Duta mengobati luka itu.
"Maafkan abang yang selalu membuatmu menangis, Ay. Tapi abang tidak pernah melakukan apa yang diberitakan. Abang mohon. percayalah kepada abang. Jika bukan kamu yang mendukung abang, siapa lagi?"
"Laras ingin percaya bang, tapi sampai sekarang abang tidak bisa mendapatkan buktinya" Laras berlari kembali ke kamarnya. Duta bingung harus bagaimana.
Pagi itu Duta bersama anggota partai lainnya didampingi kuasa hukumnya melakukan klarifikasi terhadap kasus yang sedang menderanya.
"Malam itu, saya mendapatkan chat yang mengatakan bahwa ada rapat dadakan di hotel x. Saya berangkat dari rumah bersama ajudan dan pengawal saya. Waktu itu memang agak mencurigakan, karena sepi tidak ada atribut partai dan penyanbutan seperti biasanya.
Pikir saya, ini mendadak. Jadi tidak ada persiapan. Saat akan masuk ke ruangan yang dimaksud ada yang membekap saya dan ajudan saya, dan setelah itu gelap. Ini bukti chat nya" Duta menunjukkan isi chat itu kepada para wartawan.
"Berarti ini seperti jebakan ya pak? Tapi apa ada bukti yang menguatkan jika ini memang jebakan? Dan kira-kira siapa pelakunya?" tanya salah seorang wartawan.
Kuasa hukum Duta, pak Dimas menengahi pertanyaan itu. "Kami masih mengusahakan buktinya. Kami tidak mau menduga-duga. Jika nanti ada bukti yang menguatkan kami akan bagi ke teman-teman semua"
"Bagaimana jika ada sampai besok tidak ada bukti pak? Apakah bapak ikhlas harus didiskualifikasi dati pencalonan? Mengingat besok adalah hari pencoblosan" tanya wartawan yang lain.
__ADS_1
"Saya terima apapun keputusan KPU dan partai saya nantinya. Yang penting saya tidak melakukan hal itu. Biar Allah saja yang menentukan jalan takdir saya" jawab Duta pasrah. Farid menyetop pertanyaan dari wartawan dan segera membawa Duta masuk ke rumah.
.
Mamah Aini sampai syok, dia tak mau makan dan mengalami demam karena pemberitaan tentang Duta. Hingga akhirnya Dirga harus menginfusnya di rumah.
Keadaan menjadi kacau tak terkendali, Abi juga sampai jatuh sakit, hingga tak bisa menemani putrinya. Abi dan Umi hanya bisa mendoakan semoga anak-anak mereka diberi kekuatan.
Ari sampai kaget melihat pemberitaan. "Kegilaan macam apa lagi yang kalian ciptakan??" geramnya kepada Gita dan Arman.
Amira menyajikan susu hangat untuk suaminya. "Itu mantan istri kamu kan, mas?" Ari menyerutup susu hangat itu dan mengangguk.
Ais datang dan menginap di rumah Duta sesuai permintaan suaminya. Dia membujuk Laras agar mau makan, karena sudah hampir sehari Laras hanya duduk termenung dan menangis.
"Hey, adik kakak. Kamu ini seorang ahli kejiwaan. Kamu mampu mengendalikan emosi dari para pasien mu, harusnya kamu lebih bisa mengendalikan emosimu sendiri. Tanya sama hati kecil kamu. Mungkinkah seorang Duta melakukan perbuatan zina itu?
Siapa yang akan mendukung dia? Dia hanya punya kamu Laras. Dia butuh dukungan kamu. Dia dibawah mati-matian mencari kebenaran, bukan peduli lagi dengan pemilihan, tapi untuk membangun keyakinan, keyakinan dalam hati kamu sayang. Kakak minta sama kamu, bangkitlah. Bangkit menjadi pribadi tegar yang selalu kakak kenal.
Jangan pernah meninggalkannya, jika kamu bimbang, kita masih punya Allah, curahkan semua isi hati kamu sama Allah. Jangan pernah minta perceraian. Kamu hanya perlu berdiri kokoh dibelakangnya, menguatkannya dari terpaan badai yang sedang menggoyahkan pondasi rumah tangga kalian"
"Sekarang makan dulu ya, kamu seharian tidak makan, jangan sampai sakit. Jangan sampai nambah beban pikiran keluarga yang lain. Mamah Aini sudah sakot, kamu jangan sampai terpuruk juga" Laras mengangguk. Dia disuapi oleh Ais. Kadang air matanya masih menetes.
Setelah Laras tertidur Ais masuk ke kamar tamu. Duta ikut berbaring di sisi istrinya. Dilihat mata bengkaknya. "Suami macam apa aku ini, selalu menggoreskan luka di hatimu. Maafkan abang sayang. Abang akan membuktikan bahwa itu hanya jebakan"
Ais masuk ke kamar tamu. Dia melihat Farid sedang kebingungan. Ais memeluk suaminya. "Capek ya?" tanyanya.
Farid mengangguk. "Mas gak tega lihat bu Laras, secara tidak langsung, itu melukai perasaannya, menodai kepercayaannya terhadap bapak. Gita.... Gita... Apa yang sedang kamu lakukan? Terlalu jauh kamu berada di dalam lubang kegelapan"
Ais mengeratkan pelukannya. "Kita fokus sama pak Duta dan Laras saja. Aku yakin kok mas, kebenaran akan terungkap, dan karma akan segera mereka bayar. Tidur yuk. Apapun yang terjadi besok, adalah takdir dari Allah"
Farid mencium kening istrinya. "Coba waktu itu mas dan bapak gak pergi, pasti tidak akan seperti ini"
__ADS_1
"Jangan mendikte Allah sayang, ada hikmah dalam setiap kejadian"
.
Waktu penentuan tiba. Hari pemilihan umum. Duta pasrah karena sudah mencari bukti kesana kemari hasilnya tetap nihil. Partai Duta pun pasrah. Dia mencium kening istrinya sangat lama. "Percayalah dengan abang Ay, meskipun abang tidak berhasil mendapatkan bukti itu. Tapi sungguh sayang, abang tidak berbuat zina"
Laras menatap mata Duta dan meneteskan air mata. Laras mengangguk. Mereka berpelukan. "Terima kasih sudah mau peecaya dengan abang. Terima kasih sayang"
KPU mengumumkan Duta dan Sholeh didiskualifikasi dari daftar calon bupati dan calon wakil bupati.
Semua hanya bisa pasrah. Mereka hanya berfikir mungkin itu kehendak Allah.
Ari dan Amira mengunjungi Laras dan Duta. Memberi support mental bagi mereka. Ari berbicara dengan Duta dan Farid.
"Arman terlalu licik, dia menggunakan istrinya sendiri untuk menjatuhkan lawan. Sungguh hal yang sangat memalukan. Apalagi Arman bilang dia adalah korban, tapi akan mempertahankan rumah tangganya. Kok aneh, itu jadi istriku pasti langsung kuceraikan"
Duta hanya tersenyum tipis. "Biarkan saja lah mas, jika dia ingin bermain dengan cara licik, nantinya juga akan terkena imbasnya sendiri"
Amira menenangkan Laras yang kadang masih menangis. "Mbak Laras yang tegar ya mbak, saya yakin kok pak Duta tidak seperti itu. Anggap ini sebagai ujian naik level keimanan mbak Laras dan pak Duta"
"Terima kasih mbak Amira" kata Laras sambil memeluk Amira.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip