
Laras diperbolehkan pulang bersama dengan keempat anak-anaknya. Sungguh senang hatinya. Akhirnya, perjalanan barunya sebagai seorang ibu akan dimulai. Laras cemas jika para bayi itu rewel bersamaan. Pasti akan repot, pikirnya.
"Haduuuuhh, Laras gak sabar banget ngurus mereka" ucapnya sambil harap-harap cemas saat di mobil.
Laras duduk di depan bersama Duta, sedangkan para bayi itu bersama dua nenek mereka. "Nanti umi di rumah kamu sampai kamu selesai nifas deh, bantu kamu ngurusin mereka biar gak terlalu repot. Umi gak bisa ngebayangin kalau mereka nangis satu nangis semua"
"Terus Abi gimana?" tanya Laras.
"Abi bisa ngurus dirinya sendiri" sahut umi singkat.
"Mamah juga tidur di rumah kalian deh, bantu kalian juga"
Duta tertawa saat dua nenek itu ingin tinggal bersama cucu-cucunya. "Udah mi, mah, gak usah. Duta sama Laras mau brlajar mandiri. Kalau pas Duta kerja, silahkan mamah dan umi temani Laras. Nah ini kan Duta masih cuti seminggu lagi"
"Kok kamu gitu sih Dut? Gak mau kalau mamah dan umi mu bantu kalian?"
Duta geleng kepala. "Bukan gak mau mah, mi. Tapi kami ingin belajar mandiri. Jika dari awal kami sudaj dibantu mamah dan umi, pas kebetulan mamah dan umi gak bisa bantu, kami kan gak bisa jadi mandiri"
"Nanti kalau kalian kerepotan gimana?" tanya umi.
"Itulah nikmatnya dititipi amanah sebanyak itu umi sayang. Nanti saja kalau Duta sudah masuk kerja, umi dan mamah ke rumah setiap hari silahkan" jelas Duta kembali agar mertua dan mamahnya bisa mengerti bahwa mereka ingin belajar mandiri.
"Hmmm, ya sudah lah. Umi setuju sama kamu Dut. Tapi umi sama abi boleh kan main tiap hari ke rumah kalian?"
Laras menoleh ke belakang dan tersenyum "Pintu rumah kami selalu terbuka untuk kalian. Masa mau ketemu cucu dilarang?"
"Mamah juga nanti saben hari ke rumah kalian. Mereka ini ngangenin" ucap mamah Aini sambil mencium satu per satu pipi Adel dan Aylin.
Tak lama mereka sampai di rumah. Duta membantu istrinya turun terlebih dahulu, lalu mengambil Archee dari umi agar umi bisa turun. Archee digendong oleh Laras, sedangkan Amaris digendong umi.
Aylin berada di gendongan Abi yang juga baru sampai dan Adel masih setia tidur di gendongan mamah Aini. Duta menurunkan barang-barangya dibantu oleh bi Mar dan bi Sum dan pak Ron.
Saat memasuki rumah dan mengucapkan salam mereka terkejut dan bahagia. Penyambutan untuk keempat bayi mungil dan Laras sedang dimulai.
__ADS_1
"Surprise!" kata semuanya. Ada Amira, Ais dan Hilal di gendongan bu Farida, mamah Rina dan pak Wibi, tante Meli, tante Rum, pakdhe Bambang dan budhe Endang.
"Ya Allah, terima kasih semuanya. Penyambutannya meriah sekali" ucap Laras terharu.
"Lucu banget sih anak-anak kamu" kata Amira dan Ais. Duta dan Laras hanya tersenyum. Mereka menjadikan bayi-bayi itu obyek foto yang menggemaskan.
.
Malam menjelang, Laras menyusui satu per satu bayi itu. Yang dua lainnya disusui menggunakan pipet. Laras dan Duta sepakat tak mau menggunakan dot karena bisa menyebabkan bayi bingung pu*ting.
Waktu menunjukkan jam 8 malam. Semua bayi-bayi menggemaskan itu sudah terlelap. Laras segera ikut tidur. Dia diberi saran oleh Ais dan para orang tua lainnya, jika bayinya tidur, maka ikutlah tidur.
"Bang, Laras tidur duluan ya?" pamit Laras. Duta mengangguk.
"Tidurlah sayang, biar papah yang jaga anak-anak. ASI nya di kulkas juga masih ada kok. Nanti kalau mereka kebangun biar papah susuin dulu pakai ASI perah" Laras mengangguk dan segera memejamkan mata.
Duta masih belum bisa terpejam. Akhirnya dia mengambil wudhu dan mengaji. Tak terasa sudah jam 10 malam. Saat dirinya akan terpejam Amaris menangis.
Dengan sigap Duta menghampiri putrinya itu, ternyata Amaris mengompol. "Sayangnya papah ngompol ya, papah ganti dulu ya nak" Duta membersihkan Amaris dari ompolan itu lalu memindahkan di sisi Adel.
"Ya Allah si adek, kenapa kakaknya juga diompolin?" kata Duta. "Eh, papah ding yang salah, kenapa juga tadi dijejerin"
Duta segera mengganti baju mereka berdua. Dan membereskan ompolan itu. Mereka berdua tidak kembali terpejam melainkan tidur. Hingga Duta memberikan ASI perah hingga habis pun mereka tetap tak kembali terpejam. Duta menyenandungkan sholawat agar mereka tertidur tapi tak kunjung merem dua bayi itu.
"Kak, Dek, bobok yuk sayang. Papah sudah ngantuk nih. Nyesel nolak mamah sama umi yang mau nginep sini. Ternyata repot. Astaghfirullah Duta, jangan ngeluh. Kamu belum ada satu malam udah ngeluh saja. Apa kabar dengan Laras yang kemarin bawa empat bayi ini sekaligus selama sembilan bulan?" Duta menyesali ucapannya.
Adel dan Maris diletakkan kembalu ke box mereka, dan sekarang si abang Archee ikut-ikutan terbangun. "Oeeeeeekkk....oeeeekkkk"
"Kenapa abang? Bang Archee ngompol?" Duta memeriksa popok Archee tapi masih kering. Lapar mungkin. Duta memberikan ASI perah kepada Archee. Hingga ASI itu habis, Archee juga tak terpejam.
"Kalian gak ngantuk apa nak? Hoam... papah ngantuk nih sayang. Bobok yuk" Mereka malah menangis secara bersamaan dan membangunkan Aylin.
"Oeeeekkkk.....oeeeekkkk...ooooeeeeekkkk..." tangis mereka semua. Membuat Duta panik dan repot menenangkan satu per satu mereka. Laras terbangun dan tersenyum melihat Duta yang sedang panik.
__ADS_1
"Kenapa anak-anak mamah nih? Diapain papah sih nak?" Laras mengambil Amaris yang menangis paling kencang. Dia mulai menyusui anaknya. Aylin disusui Duta menggunakan ASI perah.
Archee dan Adel masih menangis membuat Duta bingung dan repot. Selesai menyusui Amaris Laras mengambil Archee dan Adel bersamaan. Posisinya kepala bayi saling membelakangi. Dua payu*dara itu dihisap kuat oleh bayi-bayi itu.
Tak lama para bayi itu terpejam. "Huft, repot juga ya mah" ucap Duta.
"Jangan bilang begitu pah, amanah lho. Kan biar kita belajar mandiri. Tolong pompa ASI pah, mamah mau mompa. Jam deras-derasnya nih" Duta mengambil pompa itu dan memberikannya kepada istrinya.
"Papah kalau ngantuk tidur saja. Biar mamah yang gantian jaga mereka"
"Benar?"
"Iya pah" ucap Laras sambil memasang pompa elektrik itu. Hampir 8 botol ASI itu terisi penuh. Selesai memompa, Laras melihat jam menunjukkan pukul 1 dini hari. Dia merasa sangat lapar.
Akhirnya dia membuat makanan. Sandwich dengan telur mata sapi. Setelah selesai makan, Aylin kembali menangis. Laras tersenyum saat mendapati anaknya mengompol. Dia segera mengganti popok dan baju Aylin sebelum membangunkan yang lainnya.
Belum selesai Aylin diganti, Adel ikut menangis dan mengompol lagi. "Alhamdulillah, repot mamah ngurus kalian. Tapi mamah senang. Tantangan tersendiri bagi mamah sayang"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
Hadeeeehhh, repotnya ngurus mereka berempat. Tapi ada kepuasan tersendiri saat berhasil menenangkan bayi-bayi itu. Pejuang dua garis semangaaaaattt.
__ADS_1
Othor sekedar kasih tips nih, semua Allah yang tentukan. Makan toge mentah seakar-akarnya, selama sebulan full pasutrinya. Minum vit. E, konsumsi makanan dan suplemen tinggi asam folat. Bentuk ikhtiar othor dulu begitu. Semoga bisa bermanfaat untuk kalian yang sedang berjuang