
"Mas yakin gak papa?" tanya Ais dengan wajah sendu.
"Iya mas gak papa" Farid bangun dari bed dan menunjukkan bahwa dirinya tak apa-apa. Hanya saja dia mengalami benturan dengan setir mobil tadi. Dan kerusakan mobil juga tak cukup parah. Beritanya saja yang heboh.
"Makanya kalau nyetir itu jangan sambil melamun" kata Ais sambil mencubit perut Farid dan menggeram. Bu Farida hanya tertawa melihat tingkah mereka yabg seperti anak kecil.
"Aaaa, sakit yaaaaaankk" Bukannya nangis-nangis malah makin galak dia. Nasibmu Rid. Apes-apes.
"Oh ya, abi dan umi titip salam, gak bisa nengokin soalnya mereka lagi di Aceh jenguk saudara umi yang sakit"
"Iya gak papa"
.
Malam itu menjadi malam paling menyedihkan untuk Amira. Ayahnya dibawa oleh tim Koordinasi dan Supervisi Pencegahan (Korsupgah) KPK karena diduga terlibat kasus suap eksploitasi ikan.
Hati Amira seketika hancur. Tak menyangka ayahnya yang selalu sederhana melakukan hal itu. Ayahnya merasa bersalah pada anak ketiganya itu. "Maafkan papah nak. Papah berjanji akan membuktikan kepadamu bahwa papah tidak bersalah" kata papahnya saat akan digelandang oleh petugas itu.
"Amira hanya bisa mendoakan papah. Semoga yang papah ucapkan benar"
Amira pergi mencari pertolongan kepada kakak-kakaknya, bukan mendapatkan apa yang diperlukannya malah mendapat malu.
Dia diperlakukan buruk oleh kakak-kakaknya sendiri. "Dulu sampai sekarang kan kamu yang selalu dimanja papah, ya sekarang harusnya kamu yang bantuin papah" Wajar saja Amira dimanjakan, karena dia anak perempuan satu-satunya.
Amira kembali ke rumah bingung harus mencari pertolongan kemana. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah menghubungi pengacara papahnya. Bahkan dia tak memikirkan keadaannya yang sudah dipecat oleh tempatnya bekerja. Dia meminta bantuan untuk papahnya, setidaknya masih ada yang membantunya.
Duta melihat berita di tv yang mengabarkan penangkapan bupati Pati. Dengan cepat dia menghubungi Farid dan menyuruhnya merescedhule jadwalnya besok.
"Besok abang berangkat ke Pati Ay, menjenguk teman sekaligus senior abang. Boleh kan?" Laras mengangguk. "Iya, hati-hati. Mas Farid bisa ikut?"
"Bisa, tadi hasil pemeriksaannya baik semua. Akhirnya kamu mau ngomong lagi dengan abang. Sekali lagi maafkan abang ya, abang janji besok jam 8 malam abang sudah pulang"
.
Pagi-pagi sekali Duta sudah berangkat menuju Pati. Langsung menuju kantor kepolisian kabupaten Pati karena pak Didit masih ditahan disana dan akan digelandang ke Jakarta besok pagi. Sayang sekali saat sampai disana Duta tak boleh menjenguk. Dia mengenal salah satu polisi itu. Dia meminta bantuan untuk dipertemukan dengan pak Didit.
Duta diijinkan masuk hanya 5 menit waktu yang diberikan. "Pak Duta, tolong bawa Amira ke Magelang, saya titip dia sebentar hingga saya bisa membuktikan diri saya tidak bersalah. Saya mendengar dari pengacara saya bahwa dia tidak diterima dengan baik oleh kakak-kakaknya dan dipecat oleh bank tempatnya bekerja"
Duta tampak berpikir lama, hingga polisi itu bilang bahwa waktunya sebentar lagi akan habis. "Iya pak, saya bawa mbak Amira bersama saya ke Magelang. Saya minta alamat bapak, biar hari ini langsung saya bawa pak"
Duta mendengarkan dan menghapalkan alamat itu. Lalu dia pamit kepada pak Didit.
__ADS_1
"Pak Pri ke jalan jeruk nomor 54 ya. Kita bawa mbak Amira bersama kita" kata Duta saat sudah berada di mobil. Farid sampai menoleh karena kaget.
"Kok bawa mbak Amira pak?"
"Amanah bang"
Farid memijit kepalanya yang tak pusing itu. "Tenang saja bang, kita bawa Amira tapi tidak ke rumah saya, tapi kita titipkan ke rumah abi"
"Abi dan umi sedang pergi ke Aceh untuk beberapa minggu kedepan pak, saudara umi ada yang sakit. Ais kemarin cerita ke saya"
"Addduuuuhhh" kini Duta pusing karena ternyata solusinya tak bisa ia terapkan.
Farid menemukan sebuah ide. "Gimana kalau kita bawa ke rumah Ais pak?"
"Mantap, gas pak"
Amira awalnya menolak, tapi karena itu adalah amanah dari papahnya mau tak mau dia harus ikut Duta kembali ke Magelang. Dua pria itu tak ingin terkena masalah. Mereka menghubungi istri mereka masing-masing, menjelaskan dengan hati-hati tentang Amira. Sedikit berdebat, tapi para istri mengalah.
Duta menepati janjinya untuk pulang pukul 8 malam. Amira berkenalan dengan Laras dan berbincang sebentar, lalu Farid membawa Amira menuju rumah orang tua Ais, dimana sebelumnya Farid sudah meminta ijin dahulu. Orang tua Farid senang, karena mereka akan memiliki anak perempuan lagi menggantikan posisi Ais yang sudah diboyong Farid.
Keluarga Ais menyambut hangat kehadiran Amira. Begitu juga dengan Ais.
"Mbak Mira, pakai saja kamar saya, barang-barang saya kebanyakan masih disini sih tapi gak papa kalau mau disingkirkan" kata Ais sambil masuk ke dalam kamar lamanya.
Eh, dia seorang perempuan yang hangat ternyata. "Ya sudah mbak, istirahat saja. Saya sama mas Farid langsung pulang ya. Gak usah sungkan. Anggap rumah sendiri"
"Sekali lagi terima kasih mbak, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua"
Ais tersenyum "Aamiin"
Ari yang baru pulang langsung masuk kamarnya untuk membersihkan diri. Kaar Ari dan Ais hanya bersebelahan. Saat Ari keluar kamar ingin makan, dia melihat sosok yang ia kenal sedang mencuci piring.
"Ais bukan sih?" tanyanya karena heran dengan penampilan adiknya.
Amira menoleh "Bukan, saya Amira"
Deg deg deg deg deg deg deg deg. Jantung Ari menjadi tak karuan iramanya. Senang? Sudah pasti, ingin rasanya dia melompat-lompat karena senang.
"Am-amira? Anaknya pak bupati Pati?" tanya Ari dengan senyum sumringah. Amira mengangguk. "Iya mas, kita pernah bertemu di nikahannya mas Farid dan mbak Ais" jawab Amira yang sudah selesai mencuci piring.
"Mas namanya siapa? Hehe, saya lupa"
__ADS_1
"Ari"
"Mas Ari mau makan? Mau saya ambilkan?" tanya Mira karena itulah kebiasaanya. Selalu melayani papahnya. Ari bagai mendapat hembusan angin segar. Dia mengangguk senang.
Mamah Ari datang dari lantai 2, melihat Amira sedang melayani Ari. "Eh, sudah pulang kamu Ri. Ini Amira, dia akan tinggal beberapa saat disini. Hingga kasus ayahnya selesai dan beliau tidak terbukti bersalah"
"Hmm, Ari sudah dengar dari Amira mah"
"Mira, ini anak mamah yang pertama. Dia duda. Tau tuh mau nyari ganti kapan"
"Maah, udah deeeh" Mamah Ari bingung dengan yang tersaji. "Ini semua kamu yang siapin Mira?" Amira mengangguk.
"Waaah, telaten sekali kamu, sudah siap jadi calon mantu"
"Uhuh uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk"
Amira memberikan minum kepada Ari. "Mamah mendingan tidur, makin malam omongan mamah makin melantur"
"Kan mamah ngomongnya sama Amira, bukan sama kamu. Atau jangan-jangan....."
"Udah sih maah" Wajah Ari merah padam.
"Ya sudah deeeh, mamah ke kamar lagi. Mira terima kasih ya udah dibantu cuci piring. Besok lagi biar bibi yang lakuin itu semua"
"Iya mah, gak papa"
Dia manggil mamah dengan sebutan mamah? Gak salah denger nih aku?
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Cieeee, yang lagi kasmaran. Udah triple up ya gays. Jangan lupa sumbangin puin-puin dan vote juga. Happy reading all