
Dirga baru saja menjemput mamah dan budhenya di stasiun Tugu. Pukul 3 pagi Dirga sudah berada di parkiran stasiun menunggu kereta datang.
Tak lama budhe Rum yang mengenali mobil Dirga mengetuk kaca mobil. Dirga ketiduran. "Eh, mamah sama budhe sudah sampai? Maaf Dirga ketiduran"
"Gak papa, kamu mau tidur dulu apa langsung pulang?" tanya dhe Rum.
"Langsung saja budhe, istirahat di rumah saja. Nanti masuk pagi" Mereka mengangguk. Dirga mulai melajukan mobilnya membelah dinginnya malam.
.
Nina yang saat itu sedang shift malam dari semalam tidak bisa tidur. Matanya selalu ingin melihat ponselnya. Dia membuka ponselnya kembali. Melihat chat yang masuk. Chat dari seorang laki-laki, dengan menggunakan nomor baru, Aldi. Sang mantan.
"Aku sakit, bisa datang menjenguk tidak?"
^^^--Aldi--^^^
Itulah pesan singkat yang sekarang membuat Nina galau. Dia ingat betul jika Aldi sakit dulu dirinya lah yang merawat. Aldi kalau sakit pasti manja. "Kenapa minta dijenguk? Kemana tuh si Rosa?" katanya pelan. Akhirnya dia duduk di nurse station bersama dengan mbak Nung.
"Kok bangun Nin? Baru juga gantian" kata mbak Nung.
"Gak bisa tidur mbak, lagi galau"
"Galau kenapa?"
"Kalau mbak Nung punya mantan, trus mantan itu sakit dia minta dijenguk sama kita, mbak Nung bakal datang tidak?" Mbak Nung menautkan alisnya.
"Ngapain juga datang? Bukan urusan kita lagi. Sakit ya biarin, dia juga pernah buat hati kita sakit kok. Tapi, kasihan juga siiih" jawaban Mbak Nung ternyata tidak memberikan solusi. Makin bingung iya.
Subuh berkumandang, mbak Nung pamit kepada Nina untuk sholat. "Jenguk, tidak, jenguk, tidak, jenguk. Yaaaah, kok jenguk siiih" katanya sambil menghitung kancing.
Tak lama seorang pasien dengan nyeri pinggang hebat datang. Nina segera menanganinya melupakan sejenak urusan jenguk mantan.
Saatnya operan. Dirga melihat pacarnya seperti orang linglung. Dia mendekatinya dan bertanya. "Nyawa kamu belum terkumpul semua? Kok kayak orang bingung sih?"
"Astaga, ngagetin tahu! Gak kok gak bingung. Aku pulang dulu ya" katanya dengan tersenyum tipis. Dia kenapa ya?
__ADS_1
"Hari ini kamu libur kan? Mamah sudah di Magelang. Nanti temui mamah ya?" Makin puyeng kepala Nina. Pikirnya nanti siang dia akan menjenguk Aldi sebentar. Bukan apa-apa, hanya sebatas rasa empati terhadap sesama manusia.
"Nanti gak bisa, aku ada urusan soalnya. Besok setelah shift aja gimana?" kata Nina, membuat Dirga semakin penasaran, urusan apa?
"Ooh, ya sudah, tidak apa-apa. Hati-hati pulangnya ya" Nina tersenyum dan mengangguk. Dirga merasa Nina aneh. Mbak Nung masih beres-beres. Dirga mendekati mbak Nung bertanya tentang Nina.
"Mbak Nung, Nina kenapa ya? Kok aneh?" tanya Dirga.
"Ha? Gak tahu saya dok, cuma memang, dia agak aneh sih tadi. Gak bisa tidur, terus tanya kalau mantan sakit dijenguk atau tidak. Gitu dok"
"Oooh, oke mbak Nung, makasih infonya" Dirga duduk di kursi dan tampak berpikir. Jadi kamu lebih mentingin mantan daripada mamah pacar kamu sendiri? Bagus! Lanjutin aja! Bakal aku bongkar sendiri. Batinnya dalam hati.
Nina mengistirahatkan dirinya sebentar, rencananya nanti siang akan menjenguk Aldi. Detik berganti, menit menuju jam. Waktu berputar dengan cepat. Dirga selesai shift. Dia meninggalkan mobilnya di rumah sakit, meminjam motor salah satu perawat IGD. Ia ingin membuntuti Nina.
Nina baru saja melajukan motornya meninggalkan kontrakannya, Dirga hampir saja kehilangan jejaknya. Dia membuntuti Nina dari jauh. Tak berapa lama, Nina tiba di rumah seseorang, dia mengetuk pintu rumah itu. Dan yang keluar adalah Rosa, pacar Aldi.
"Ngapain kesini?" tanya Rosa judas. Aldi mendengar Rosa sedang berbicara dengan seseorang. "Siapa yank?" tanyanya dan ikut melihat siapa yang datang. Aldi seperti orang yang tertangkap basah sedang selingkuh.
"Aku rasa sudah ada yang merawatmu, tadinya aku iba dan ingin menjengukmu, tapi kurasa percuma" kata Nina sambil bersidekap.
"Apa kamu bilang? Rindu? Sama dia?" Rosa tak terima Aldi bicara seperti itu. Nina menggeleng dan meninggalkan kediaman Aldi.
Saat akan naik ke motornya Dirga muncul dan berkacak pinggang. "Urusan yang lebih penting daripada ketemu calon mertua. Oke gak papa. Silahkan dilanjut ketemu sama sang mantan" Dirga kembali ke atas motor dan meninggalkan Nina.
"A' aku bisa jelasin, ini gak seperti yang kamu kira. Aa' dengar dulu dong" Nina berusaha mencegah jalan Dirga tapi percuma. Bisa-bisa dia kena tabrak.
Sungguh kecewa yang sekarang mendera hati Dirga. Nina lebih memilih menjenguk Aldi datipada bertemu mamahnya. Dia kembali ke rumah sakit dan mengambil mobilnya. Kembalu ke rumah dengan keadaan hati yang sedang membara karena api cemburu.
Nina menangis, menyesal karena datang ke rumah Aldi. "Dasar bodoh bodoh bodoh!" rutuknya untuk dirinya sendiri. "Kenapa kamu nekat menemui Aldi?? Jelas-jelas dia bersama Rosa, Ninaaaaaa, kamu ini kenapa siiiih?? Lihat sekarang Dirga jadi salah paham!" Nina masih mengumpat dirinya di depan cermin sambil mondar mandir.
Dia menghubungi Dirga tapi tak diangkat, chat pun hanya dibaca. Dia bingung harus bagaimana. Dia melihat jadwal, besok dirinya jaga pagi bersama Dirga. Mungkin bisa jadi waktu untuknya menjelaskan tentang kejadian kemarin. Pikirnya.
Dirga menjadi uring-uringan karena melihat kejadian tadi siang. "Nina gak kamu jemput kesini?" tanya mamah Meli melihat anaknya yang sedang memberi makan ikan lele Duta.
Dia menggeleng. "Dia lagi sibuk mah, nanti kalau sudah ada waktu senggang ya"
__ADS_1
"Iya, kapan kamu mau nikahin Nina? Mamah sudah jual mobil dan rumah, sebagian untuk membayar hutang, dan masih ada sisa. Bisa untuk modal kamu nikah" Dirga tersenyum.
"Jangan mikirin Dirga mah, Dirga punya tabungan sendiri. Mending uang itu dibuat usaha, kan gak enak kalau kita ngerepotin budhe Aini terus"
"Siapa yang bilang ngrepotin? Budhe seneng kita bisa kumpul Dirga" sahut mamah Aini yang ikut nimbrung dengan tante Meli dan Dirga.
Dirga hanya tersenyum. "Gak tahu lah mah, Dirga nikahin Nina kapan. Hatinya aja masih bisa main-main sama yang lain sebelum jafi istri Dirga. Apalagi nanti. Dirga ke kamar dulu ya?"
Mamah Aini dan tante Meli bingung dengan ucapan Dirga. "Mereka sedang ada masalah ya Mel?"
"Gak tahu mbak, ditanya juga begitu. Mbak nanti sore aku mau ke rumah mas Bambang dan mbak Endang"
"Aku antar"
"Gak usah mbak, biar aku kesana sendiri"
"Ojo, mereka masih marah sama kamu. Tak temenin wae"
"Ya sudah kalau mbak maksa"
Dirga menatap langit-langit kamarnya. Menerawang jauh kesana. "Aku ragu Nin, kenapa harus dia yang kamu temui? Sakit hatiku, panas, mendidih. Aku cemburu"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Duta dan Laras, Ais dan Farid lagi pada masa tenang ya gengs. Jangan diganggu dulu. Nanti ada masanya. 2 ep ini bahas si Nina dan Dirga dulu. Hehe. Happy reading all 😘😘😘