Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Jenguk Zafran


__ADS_3

Duta dan Laras menyempatkan waktu untuk bertolak ke Jakarta menjenguk anak Agus dan Yuna, Zafran Kusuma Wicaksana. Mamah Aini, tante Rum, dan tante Meli ikut juga kesana. Kecuali Nina dan Dirga, mereka baru saja habis masa cutinya, jadi tidak bisa izin.


"Bang Farid, padatkan jadwal saya sampai nanti malam. Besok saya izin, karena harus ke Jakarta"


Farid menautkan alisnya. "Ke Jakarta pak?"


"Iya, jenguk Zafran. Anak keduanya mas Agus" Farid mengangguk. "Boleh titip kado, pak?"


Duta melihat Farid. "Boleh. Kenapa gak ikut sekalian?"


"Ais sedang hamil pak, masih rentan kalau naik pesawat ataupun perjalanan jauh. Takut kenapa-napa pak"


Duta mengangguk. "Hmm, kapan lah saya sama Laras diberi kepercayaan lagi sama Allah. Besok suruh pak Pri antarkan kami ke bandara jam 5 subuh ya bang"


"Sabar pak, semua sudah ada waktu dan porsi masing-masing. Ikhtiarnya dikencengin pak. Nggih pak, nanti saya bilangkan ke pak Pri"


"Makasih bang"


Terkadang Duta dan Laras merasa kesepian. Mereka menginginkan seorang anak, sebagai pelengkap kebahagiaan. Rindu akan hadirnya buah hati tapi Duta takut menyakiti menyakiti istrinya jika dia terus menerus menanyakan sudah telat datang bulan atau belum.


Ikhtiar selalu dilakukan, konsumsi makanan tinggi asam folat, konsumsi vitamin E, kurma muda, buah zuriat, segala macam yang dibilang orang ini itu, demi mendapatkan kepercayaan lagi oleh Allah dengan kehadiran seorang anak, namun itu belum terjadi.


Ya, mereka harus banyak bersabar, banyak berikhtiar, dan berdo'a.


.


Malam itu Laras segera mempersiapkan barang bawaannya, tak banyak hanya 2 lembar pasang pakaian dan handuk peralatan mandi, peralatan make up, dan jaket, karena saat ini musim penghujan.


Setelah dirasa semuanya sudah masuk, Laras segera membersihkan dirinya, gosok gigi dan mengusap-usap wajahnya di depan cermin.


Ritualnya kurang sebentar lagi, suaminya sudah pulang. "Assalamualaikum bohay"


"Eh, waalaikum salam. Abang udah pulang? Sudah makan belum, sayang? Atau mau mandi dulu?" tanyanya sambil mengambil tas suaminya dan mencium tangan Duta.


Duta selalu tersenyum saat istrinya bertanya seperti itu. "Abang sudah makan tadi pas rapat, maaf ya pulangnya telat, harus menyelesaikan kerjaan dulu sebelum besok berangkat ke Jakarta"


"Iya, gak papa, kalau gitu Laras siapkan air dulu" Tangan Laras seketika ditarik oleh Duta sehingga tubuh Laras kini berada di dekapan suaminya.


"Eh, abang kenapa sih?" tanya Laras sedikit mendorong tubuh Duta.


"Gak papa, kangen sama kamu. Abang mandi nanti saja, mau kangen-kangenan sama kamu dulu"


Laras tersenyum dalam pelukan itu. "Ih, abang apaan sih? Bau sayang, mandi dulu"


"Dulu waktu kamu hamil, abang mau keringetan kayak apa juga bakalan kamu endus-endus" protes Duta.


"Hahaha, beda dong sayang. Itu kan yang mau debay, bukan Laras". Duta melepas pelukannya.


"Oooh, jadi gak suka nih sama bau keringet abang?"


"Ih, ngambek. Bukan gitu, Laras suka kok. Tapi apa abang gak gerah?"

__ADS_1


"Gak, cukup basa-basinya, adik abang udah gak sabar. Lapar abang lihat kamu" Laras hanya tertawa dan mencoba menghindar saat akan diserang oleh Duta, tapi percuma saja, Duta tak akan menyerah sebelum memakannya.


.


Subuh itu, Laras dan Duta satu mobil dengan pak Pri, sedangkan mamah Aini, tante Rum, dan tante Meli satu mobil dengan sopir mamah Aini.


Segera setelah mereka tiba langsung chek in, karena hampir saja mereka ketinggalan pesawat. Di jalan ada kemacetan.


.


Perjalanan dimulai, hanya butuh waktu 1 jam untuk sampai di Jakarta. Mereka langsung dijemput Agus dan sopirnya.


"Assalamualaikum" ucap Agus menyambut semuanya.


"Waalaikum salam" Agus menyalami satu per satu dari mereka kecuali Laras yang hanya mengatupkan tangannya di depan dada.


Mamah Aini dan adik-adiknya bergegas menuju rumah bersama sopir Agus. Sedangkan Duta dan Laras satu mobil dengannya.


"Mas banyak mendengae cerita tentang kalian. Mas ikut prihatin dengan keguguran kamu Ras, mas juga bahagia kamu bisa dilantik lagi Dut"


"Makasih mas" jawab pasutri itu.


"Kinan gak ikut jemput mas?" tanya Laras.


"Dia lagi gemes-gemesnya sama Zafran, awal-awal aja dia minta adiknya ditukar perempuan. Haha, dasar Kinan"


"Hahaha, enak saja main tukar, dikira mainan apa?" celetuk Duta asal.


.


Para nenek itu langsung bergantian menggendong Zafran. Setelah mereka puas barulah Laras mencoba menggendongnya. Kaku. Belum pernah sama sekali menggendong seorang anak.


"Kamu kaku banget sih Ras, begini lho" tante Rum membenarkan posisi tangan Laras.


Laras hanya meringis mendengar pernyataan tante Rum. "Wajar lah Laras kaku, dia kan belum pernah gendong bayi. Nanti juga terbiasa sendiri" bela tante Meli.


"Nantinya itu lho kapan, sudah beberapa bulan setelah keguguran kok juga belum isi lagi sih kamu Ras, kapan mau kasih mamah cucu? Niat ngasih cucu ke mamah gak sih? Kok gak hamil-hamil!" kata mamah Aini agak sedikit pedas.


Clekiiiit. Sakit hati Laras saat mamah Aini berkata seperti itu. Tak terasa.air matanya tiba-tiba saja menetes membasahi pipi Zafran yang sedang terlelap itu.


"Maaaah" ucap Yuna mengingatkan mamahnya untuk sedikit menjaga perasaan Laras.


Laras ingin menjawab tapi bibirnya kelu. Zafran diletakkan kembali dalam box bayi itu. Agus dan Duta masuk ingin melihat Zafran juga.


"Abang mau kopi? Laras bikinkan ya?" ucapnya sambil menghapus air matanya. Lalu berlalu meninggalkan kamar Zafran.


"Astaghfirullah, mbak Aini ini piye sih, dia baru saja kehilangan lho mbak. Perasaannya masih sensitif, mbok yo bilangnya perlahan mbak" protes tante Rum.


"Ada apa sih?" tanya Duta bingung.


"Dek, susul istrimu. Dia butuh kamu" kata Yuna. Agus seakan mengerti situasi. "Sana Dut, temani Laras"

__ADS_1


Sungguh mamah Aini menyesal melontarkan pertanyaan tadi. Tak tahu jika melukai perasaan menantunya.


"Mah, mamah kalau bicara hati-hati dong. Mereka itu baru saja melewati banyak cobaan" Kata Agus memberitahu mamahnya. Mamah Aini hanya mengangguk dan menyesal.


Duta melihat Laras membuat kopi tapi dengan sesenggukan. Dia menyentuh bahu istrinya dan membalikkan badannya.


Laras menunduk tak mau terlihat sedang menangis. Duta membawanya ke dalam pelukannya. "Kenapa?" Laras hanya menggeleng tapi menumpahkan semua air matanya.


Duta hanya diam menunggu sampai Laras tenang. Tak lama Laras sudah agak tenang. Duta menarik kursi dan mengajaknya duduk disana.


"Cerita sama abang, ada apa?"


"Gak ada apa-apa. Cuma terharu aja bisa gendong Zafran. Mungkin, jika waktu itu Laras tak keguguran, saat ini kita menanti kelahiran debay" ucapnya berbohong.


Duta hanya tersenyum "Semua sudah tertulis dalam takdir kehidupan kita, sayang. Ikhlaskan, nanti Allah ganti yang lebih indah"


Laras mengangguk. "Ini kopinya bang" Duta menyeruput kopi itu. "Jenguk Zafran lagi yuk"


"Abang duluan saja, Laras mau mandi dulu. Laras tinggal ke kamar ya" Duta mengangguk. Dia tahu jika istrinya berbohong tak ingin bercerita.


Apa yang kamu sembunyikan sayang? batin Duta. Agus menemaninya minum kopi.


"Laras mana?" tanya Agus


"Mandi"


"Dia pasti sedih, mamah nih kadang mulutnya gak bisa ngerem" Duta menghentikan aktivitasnya menyeruput kopi.


"Mamah?"


"Iya, Laras nangis karena ucapan mamah, mamah bilang, niat kasih cucu ke mamah gak sih? Kok gak hamil-hamil"


"Astaghfirullah mamaaaah"


"Laras.gak bilang?" tanya Agus yang mengetahui ekspresi Duta.


Duta hanya menggeleng. "Duta susul Laras dulu mas"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Mertua oh mertua.... baik, tapi sekalinya ngomong langsung bikin suakiiiiittt mak clekiiiiiitt hehehehe gak semua begitu kok. Sabar Larasss


__ADS_2