Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Akad


__ADS_3

Laras dan Duta mulai dipingit. Mereka tidak boleh saling bertemu. Tapi pingitan zaman sekarang enak, tidak bisa bertemu? Tenang ada ponsel pintar. Masih bisa saling bertatap muka. Hahaha


Farid dan Ais semakin disibukkan dengan penyebaran undangan. Hanya kota dan kabupaten yang dekat dengan Magelang mereka sambangi. Untuk yang jauh Farid sudah mengirimkan undangan via digital.


"Capek mas?" tanya Ais.


"Sedikit" jawab Farid singkat.


"Depan ada rest area. Kita istirahat ya"


"Nggih den ayuuu (Ya raden ayuuu)"


Mereka saling lempar senyum. Maklum lagi kasmaran.


.


Hari berlalu tanpa terasa. Bagi kita. Tapi berat bagi Duta dan Laras. Hingga tiba hari siraman dan pengajian. Beberapa stasiun tv lokal menyiarkan pernikahan Duta dan Laras. Mulao dari hari siraman hingga resepsi.


Di kediaman Laras sedang dilakukan prosesi siraman dan pengajian. Pun di kediaman Duta. Prosesi itu berjalan lancar dan mengharu biru. Mereka meminta doa restu kepada orang tua mereka masing-masing. Meminta maaf atas kesalahan mereka.


Tiba saat malam midodareni. Keluarga Duta mengirimkan seserahan berupa makana. dan baju yang akan dipakai besok.


Qiroah subuh terdengar samar-samar di telinga. Semua bersiap melaksanakan sholat subuh. Setelahnya mereka bersiap.


Pukul setengah 6 pagi Laras sudah mulai dirias. Semua anggota keluarga yang lain juga mulai dirias. pukul 8 Laras dan semua selesai dirias. Mereka bersiap menuju pendopo.


"Tenang" ucap umi menggenggam tangan anaknya seakan bisa membaca mimik Laras.


"Iya mi. Siapa yang gugup sih?"


"Kamu lah, kebaca dari wajahmu. Ini tangan kamu dingin lagi. Yang seharusnya gugup itu Duta karena dia akan mengucapkan ijab qobul"


"Laras juga gugup lah mi, kalau sampai salah gimana? Kan malu-maluin? Ditonton orang se Magelang lagi"


"Tenang Ras, pikir yang positif saja" Abi mengusap punggung anaknya dan tersenyum.


"Iya bi"


.


Di pendopo Duta sudah siap. Gantengnya paripurna. Terpancar aura bahagia dari dalam tubuhnya. Wajahnya segar dan bersih. Berseri.


Gugup melanda dirinya. Kaki nya tidak bisa diam. Selalu bergerak tak beraturan. Agus sesekali tersenyum dan menenangkan adiknya itu.


Rombongan Laras sudah datang dan langsung digiring ke ruangan khusus sebelum akad. Abi langsung menuju pendopo tempat dilaksanakannya akad. Hanya tinggal menunggu penghulu.


Waktu menunjukkan pukul 9 pagi. Sudah saatnya untuk akad. Yang bertindak sebagai saksi adalah pak Wibisana papah Ais dan wakil bupati yang mendampingi Duta selama menjabat.

__ADS_1


Lancarkanlah ucapan ku ya Allah


Penghulu memulai acara akad. Dimulai lantunan ayat suci al qur'an, lalu pengucapan ijab qabul.


"Pak Bupati, silahkan dijabat tangan orang tua mbak Laras" ucap penghulu itu.


Duta menjabat tangan abi dengan mantap. Dingin dan gemetar. Menandakan dirinya benar-benar sangat gugup


"Bismillahirrahmanirrahim. Duta Wicaksana, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan anak saya yang bernama Ayu Larasati binti Gunawan dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas batangan 3 buah dibayar tunai" ucap Abi mantap.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ayu Larasati binti Gunawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" ucap Duta dalam sekali nafas dan lancar.


"Para saksi?" tanya penghulu itu.


"Sah" ucap mereka bersamaan.


Penghulu membacakan doa setelah ijab dan Laras dibawa keluar. Didudukkan di samping Duta. Mereka saling lempar senyum. Lega, bahagia, haru menjadi satu.


"Silahkan ditandatangani buku nikahnya" penghulu itu menyodorkan 2 buah buku nikah untuk ditandatangani oleh Laras dan Duta.


Moment itu diambil oleh beberapa wartawan tv lokal yang memang meliput acara itu. Setelahnya penyematan cincin di jari manis mereka masing-masing.


Laras mencium tangan Duta, yang sekarang sudah sah menjadi suaminya. Duta mencium kening Laras, agak lama hingga bisa diabadikan oleh para wartawan itu.


Setelahnya adalah prosesi temon dan sungkeman. WO mengkoordinir prosesi itu. Terdengar pembawa acara berbicara dalam bahasa jawa halus dan diiringi gamelan.


Prosesi masih berlanjut, Duta menuangkan beras dan uang koin pada kain yang dipegang Laras. Lalu disimpan ke sebuah kendil. Melambangkan bahwa suami memberikan nafkah bagi istri dan kewajiban istri adalah menerima, menyimpannya, dan menggunakannya dengan baik.


Dilanjutkan dengan saling menyuapi yang melambangkan rasa cinta dan sayang. Setiap pernikahan harusnya didasari oleh 2 rasa itu.


Setelah itu dilanjutkan oleh sungkeman. Meminta doa restu kepada orang tua masing-masing secar bergantian. Suasana mengharu biru saat meminta doa restu itu.


Dilanjutkan dengan sesi foto sebelum resepsi. Lalu mereka berganti baju karena akan dimulai resepsinya. Resepsi ini dibagi menjadi 2 sesi. Yaitu pukul 11 hingga 13 adalah untuk keluarga, teman, dan tetangga. Sedangkan jam 13 hingga 15 untuk orang perkantoran.


Tepat pukul 11 Duta dan Laras sudah berada di panggung resepsi. Band pengiring yang tampil adalah guyon waton, yang mengiringi langkah para tamu undangan yang datang. Satu persatu menyalami Duta dan Laras. Memberi ucapan dan doa untuk pernikahan mereka.


Kedatangan trio mobat mabit ditambah keluarga Rama yang datang bersama menambah kebahagiaan yang terjadi.


Trio mobat mabit membawa hasil bumi. Sungguh kado dan sumbangan yang luar biasa bukan?


Wisnu memangul beras 1 karung dan istrinya Kayla membawa magic com baru. Candra membawa 1 tundun pisang dan singkong yang masih lengkap dengan batang dan daunnya. Lila membawa Lele hidup sebanyak 5 kilogram yang ada di dalam wadah plastik besar.


Bayu membawa tumpengan dari tomat, terong, cabai, jagung, daun kemangi, kacang panjanh dan wortel. Sedangkan Ririn membawa 1 set pisau dan 1 set panci anti lengket. Rama dan istrinya ikutan gila karena mereka. Rama membawa kulkas 2 pintu dan Shila membawa cobek dari batu ukurannya besar dan satu set peralatan makan.


Sontak kedatangan mereka menjadi sorotan dan bahan candaan bagi yang melihat. Duta sampai geleng kepala melihat tingkah para sahabatnya itu. Laras, Mamah Aini dan umi Saodah sampai terpingkal-pingkal melihatnya.


"Wong gendeng kabeh (orang gila semua), ini alasan mereka gak bisa nemenin akad?" ucap Duta dengan berkacak pinggang melihat tingkah mereka.

__ADS_1


Sebelum menyalami Duta dan Laras mereka sengaja meminta sebuah sudut sebelum naik ke panggung diberi meja untuk meletakkan hadiah gila mereka itu.


Lalu mereka bersalaman satu per satu naik ke panggung.


"Selamat bro!" ucap mereka berempat.


"Kalian ngapain bawa begituan? Hadeeeeh?"


"Kitanya bingung mau ngasih kado apa. Kamu pasti belum punya itu semua. Makanya kita kasih itu semua. Hahahaha" ucap Candra


"Panen Dut, makane digowo mrene. Ameh tak dol ning pasar nggo nyumbang awakmu mesti intuk e suitik. Nek ngene kan ketok barange wkwkwkwk (panen Dut, makanya dibawa kemari. Mau aku jual di pasar untuk nyumbang kamu juga nanti dapatnya sedikit. Kalau begini kan kelihatan barangnya wkwkwkwkw)" timpal Wisnu.


"Gimana bagus kan kado kita-kita? Pasti gak ada yang ngasih beginian?" tanya Bayu sambil.menaik turunkan alisnya.


"Hahahaha, iya juga sih. Tapi itu merusak estetika dekorasiiiii" jawab Duta.


"Ora ngunu kok mas. Sansoyo keluar nilai estetika ne (gak gitu kok mas, semakin keluar nilai estetikanya)" jawab Kayla.


"Haish mbuh lah karepmu. Matur suwun nggih sedanteeen ( Haish gak tahu lah, terserah kamu. Terima kasih ya semuaaaa)" jawab Duta dan Laras bersamaan.


Mereka berfoto bersama dan turun dari panggung. Duta memeluk Rama cukup lama.


"Makasih Ram, sudah mau datang di acara kita"


Rama melepaskan pelukannya. "Banyak wartawan, nanti dikira kamu suka sama aku. Hahaha. Iya sama-sama"


Mereka turun dari panggung dan menikmati kuliner yang disediakan. Mereka juga menyumbang beberapa lagu.


Bupati dari Pati dan anaknya, Amira datang memberikan selamat kepada Duta.


Pantas menolakku, mbak Laras lebih cantik dari fotonya. Batin Amira.


Mereka memberi selamat kepada Duta dan Laras dan berfoto juga.


Trio mobat mabit masih ada disana hingga acara resepsi itu selesai.


.


.


.


Like


Komen


Vote

__ADS_1


Tip


__ADS_2