Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Butuh Perhatian


__ADS_3

Minggu berlalu dengan cepatnya. Benar yang dikatakan oleh mamah Aini. Duta makin sibuk. Berkabar saja bisa dihitung jumlahnya. Selalu pulang terlambat. Kadang Laras merasa kesepian. Tapi pikirannya segera dia tepis, karena bagaimanapun juga dia ikut andil dalam pengambilan keputusan itu.


Malam itu seperti biasa, Laras muntah-muntah kembali. Setelah selesai muntah, Laras merasa ingin memakan sesuatu. Waktu menunjukkan jam 9 malam. Dia ingin makan sate ayam. Dia menghubungi suaminya tapi tak diangkat. Chatnya pun hanya bercentang 2. Pikirnya biar dibawakan sekalian oleh suaminya, tapi sepertinya tidak akan bisa.


Akhirnya Laras memesan lewat aplikasi online. Dia turun ke bawah menunggu pesanannya datang. Hampir 20 menit dia menunggu tak kunjung datang juga. Saat hampir menghubungi drivernya terdengar bel pintu berbunyi


Laras hendak membukakan pintu, tapi Bi Sum sudah lebih dulu datang. "Biar saya saja bu, ibu duduk saja" Laras mengangguk.


Bi Sum menyajikan makanan itu kepada Laras yanh berada di ruang tv. "Makasih bi, bisa tolong buatkan es susu gak bi?"


"Bisa bu, tunggu sebentar ya bu"


Bi Sum kembali ke dapur untuk membuatkan es susu pesanan Laras. Setelah jadi dia kembali menyajikan kepada Laras.


"Makasih bi, bibi kalau ngantuk tidur saja. Saya mau nunggu bapak"


Tak tega sebenarnya bi Sum meninggalkan Laras seorang diri. Tapi dia bisa apa? "Bu, orang hamil tidak boleh tidur terlalu malam" nasehat bi Sum kepada Laras.


Laras tersenyum dan mengangguk "Iya bi, terima kasih sudah diingatkan. Bibi tidur saja" Bi Sum kembali ke kamarnya.


Laras makan seorang diri, entah mengapa air matanya menetes. Segera dia meraih tisu "Kok malah jadi nangis sih? Jangan melow Laras, jangan sedih. Harus kuat. Ini konsekuensinya Ras, jangan menyerah" katanya menyemangati dirinya sendiri.


Sate itu telah habis dimakannya, dia menegak es susu itu. "Kok beda ya?" tanyanya sambil memperhatikan es susu itu. Dia tidak menghabiskannya, hanya separuhnya saja. Lidahnya merasa susu itu beda.


Laras membereskan semuanya. Melihat jam menunjukkan pukul 10 malam. Suaminya tak kunjunh datang. Matanya mengantuk, akhirnya dia terlelap di sofa ruang tamu.


Duta baru tiba di rumahnya pukul 11 malam. Dia mrasa letih sekali. Saat hendak naik ke kamarnya, dia melihat Laras tertidur di sofa.


Dia kembali menuju sofa itu dan membelai pipi istrinya lembut. "Maafkan abang sayang" ucapnya lirih takut membangunkan Laras.


Laras merasa ada yang menyentuhnya, seketika ia membuka matanya. "Abang baru pulang?" tanyanya sambil terduduk dan menguap.


"Kenapa tidur disini?" Laras mencium tangan suaminya. "Oh, Laras ketiduran disini"


"Kan sudah abang bilang, jangan nunggu abang sayang" ucap Duta sedikit kesal karena istrinya menunggunya pulang.


"Salah kalau Laras nunggu abang? Salah istri nunggu suami?" Jawab Laras terpancing emosi. Tak habis pikir dia dengan Duta.

__ADS_1


"Gak salah sama sekali, tapi ingat kondisi kamu. Kamu itu sedang berbadan dua. Jaga kondisi kamu dan calon anak kita" Duta menaikkan lagi intonasi suaranya.


Bi Sum yang belum tidur sampai mendengar ucapan Duta.


"Udah lah bang, gak usah diperpanjang. Laras tadi habis makan sate dan minum susu, ngantuk dan ketiduran disini. Laras mau balik tidur" ucap Laras kesal tapi tak mau memperpanjang lagi perdebatan kecil itu.


Laras meninggalkan Duta dan berlalu ke kamarnya. Dia menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya.


.


Pagi itu seperti biasa Laras menyiapkan segala keperluan Duta, Laras merasa ingin muntah lagi. Dia segera menuju kamar mandi dan saat yang bersamaan Duta keluar.


"Hoeek,.... hoeekkkk... hooooeekkk.... hoeeekkk" Laras memuntahkan isi perutnya kembali. Duta merasa sangat bersalah terhadap istrinya. Dia memijat tengkuk istrinya tapi ditepis oleh Laras. Selesai muntah Laras segera keluar kamar meninggalkan Duta.


"Maafkan abang Ay" sesalnya. Laras melihat mamah Aini sibuk di dapur.


"Mamah? Kok pagi-pagi begini sudah sampai sini sih?" tanya Laras kepo.


"Heheeh, mamah kangen sama kalian. Makanya mamah kesini. Duta mana?"


"Masih siap-siap" Laras merasakan perutnya kembali bergejolak. Segera dia berlari ke kamar mandi tamu yang ada di sana


"Masih mau muntah lagi?" tanya mertuanya. Laras menggeleng. "Sudah mah"


Duta yang baru saja turun tak mendapati keberadaan Laras. "Ay" panggilnya. Mamah Aini memapah Laras dan mendudukkannya di meja makan.


"Laras disini sama mamah, di ruang makan" sahut mamah Aini.


"Mamah? Kok ada mamah?" Duta menuju ruang makan. "Tumben mamah disini pagi-pagi banget"


"Duduk" kata mamah Aini singkat. Duta semakin bingung. Dia hanya menuruti perkataan mamahnya.


"Layani istri kamu, jangan bisanya minta dilayani" ucap mamah Aini agak sarkas. Duta sampai tersentak kenapa mamahnya bilang begitu. Duta mengambilkan nasi goreng dan telur dadar untuk Laras.


"Makan nak" ucap mamah Aini kepada Laras. Hanya diangguki oleh Laras. Karena tubuhnya benar-benar lemas. Mereka makan dengan tenang. Laras lahap sekali dengan menu itu, dia juga menghabiskan susu buatan mamah mertuanya.


Selesai makan mamah Aini mengajak Duta dan Laras untuk berbincang sebentar. "Mamah dengar kalian ribut tadi malam. Benar?"

__ADS_1


Oalah, ini alasan mamah sepagi ini datang ke rumah? Benar kata kak Yuna, mata-mata mamah ada dimana-mana. Batin Laras.


Mereka mengangguk. "Perkara apa?"


"Duta memarahi Laras karena dia menunggu Duta pulang" jawab Duta.


"Bukan nunggu bang, Laras awalnya habis makan sate terus kekenyangan, niatnya sekalian nunggu abang, tapi malah ketiduran"


"Ya sama saja dong, kamu nungguin abang. Kan abang sudah bilang, gak usah nungguin" bentak Duta lagi. Laras kaget karena baru kali ini dibentak oleh suaminya. Air matanya seketika tumpah. Dia meninggalkan meja makan dan berlari menuju kamar.


"Duta! Kamu ini keterlaluan sekali. Perkara kecil kamu besar-besarkan. Istri kamu itu sedang hamil, dia butuh perhatian! Bukan butuh omelan! Dia itu perhatian sama kamu, sampai rela menunggu dan ketiduran! Tidak seharusnya kamu memarahinya! Cukup kamu ingatkan saja.


Mood orang hamil itu berubah-ubah Dut, dia rela muntah begitu setiap hari demi anak kamu, hasil perbuatan kamu, seenaknya kamu memarahinya. Sana minta maaf! Kalau kamu begini mending mundur dari pencalonan!" hardik mamah Aini kepada Duta. Duta hanya mengangguk dan segera menyusul istrinya.


Dia membuka pintu kamarnya dan melihat Laras duduk di tepi ranjang sambil menangis. Dia berjongkok dan mengecup tangan Laras. Laras menolak tapi dia tak mampu menandingi kekuatan Duta yang mencengkeram tangannya.


"Abang minta maaf sayang, tidak seharusnya abang begitu kepadamu"


"Abang keterlaluan! Aku hanya butuh perhatian dari kamu bang, aku menunggumu karena ingin melihat wajahmu dan ingin mencium keringatmu! Apa kamu tahu itu? Kamu hanya bisa menyalahkan tanpa bertanya, menghakimi tanpa tau proses" ucap Laras sambil masih menangis. Duta hanya diam.


"Abang minta maaf"


"Abang tahu tidak semalam Laras chat dan menghubungi abang minta dibelikan sate ayam? Tidak kan? Dan sekarang abang bentak-bentak Laras. Salah kalau aku ingin perhatian dari suamiku sendiri?" Duta hanya diam memberi kesempatan untuk Laras menumpahkan segala unek-uneknya.


"Maafkan abang sayang, abang salah. Abang minta maaf, tolong maafkan abang ya?" Laras diam dan mulai menenangkan dirinya. Ketika tangisan sudah tak terdengar lagi Duta mendongak. Laras mengangguk memberi maaf kepada suaminya. Mungkin Duta juga banyak pikiran makanya sampain terbawa emosi. Pikir Laras.


Duta mencium sekilas bibir istrinya itu dan memeluknya. "Abang janji akan lebih perhatian sama kamu"


.


.


.


Like


Komen

__ADS_1


Vote


Tip


__ADS_2