Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Menang Mutlak


__ADS_3

Arman dan Gita tersenyum senang mendengar keputusan KPU. Hari pemilihan berlangsung. Meski surat suara tak bisa ditarik lagi, dan sebagian waga masih ada yang mencoblos Duta dan Sholeh, tapi suara itu tak akan berpengaruh. Karena Arman adalah lawan tunggal dalam pemilihan kali ini. Jadi, secara tidak langsung dia menang mutlak.


"Apa aku bilang, kamu itu sangat membantu sekali sayang. Mas bisa menang mutlak karena kamu. Teruma kasih sayang"


"Iya, jangan lupa, uang bulanan dan uang jajan aku" sahut Gita.


"Sudah aku transfer, buka saja hp mu" Gita meraih ponselnya dan mengecek saldo rekeningnya. Bertambah. Dia tersenyum senang saat melihat pundi-pundi tabungannya bertambah.


Pemilu berjalan lancar, hasil quick count pun keluar. Duta dan Sholeh unggul di atas Arman dan Bagus. Di setiap bagian daerah Duta dan Sholeh menang telak mengalahkan Arman dan Bagus. Tapi sekali lagi, itu semua sia-sia. Karena mereka sudah dinyatakan gugur sebelum berperang.


"Apa keputusan KPU tidak bisa diubah?" tanya salah seorang anggota partai.


"Asal kita punya bukti yang dihadapkan ke KPU bisa" sahut ketua itu.


"Jika foto itu adalah foto asli, berarti pemainnya pun asli. Kenapa tidak kita jebak balik dan membuat mereka mengaku?"


"Ide bagus, tapi siapa yang akan dijadikan umpan. Dan pak Duta pasti tidak akan mau terlibat jika urusannya balas membalas" sahut yang lain.


"Ya itulah permasalahannya, mungkin Allah sudah mengatur takdir lain untuk jalan kita ke depannya" ucap ketua itu pasrah.


Duta juga dinonaktifkan sebagai Bupati karena kasus itu. Tak masalah baginya, karena menurut dia, rezeki tak hanya dari kedudukannya yang lalu.


.


Satu bulan setelah pemilu


Duta memiliki kesibukan baru setelah lepas dari jabatannya sebagai Bupati, fokus dengan usaha ternak lelenya, dan juga meubelair. Laras masih bekerja sebagai dokter spesialis kejiwaan.


Meski kenangan itu masih membekas, Laras mencoba untuk menepis rasa yang bisa membuatnya sedih kembali.


Siang itu Duta sengaja membawakan makan siang untuk istrinya. Dia menjadi semakin perhatian terhadap istrinya.


"Assalamualaikum" ucapnya menyapa istrinya yang sedang sibuk menggambar komik.


"Waalaikum salam, abang! Katanya sibuuuuk, kok disini?" Laras cepat-cepat merapikan gambarnya dan menyembunyikannya kembali.


"Iya, sengaja mau bikin kejutan buat kamu. Lihat dong gambarnya"


"Jangan! Gambar Laras jelek"

__ADS_1


"Abang udah pernah lihat, bagus kok. Kasih lihat dooong" rengek Duta.


"Mau makan kan? Yuk makan, setelah itu sholat. Menunya apa niiiih?" tanya Laras mencoba mengalihkan perhatian Duta.


Duta membuka makanan yang tersaji. "Yummyyyy, sambal goreng kentang hati. Masakan mamah bang?" Duta mengangguk. "Berdo'a dulu sayang" kata Duta saat Laras hendak menyendokkan makanan ke mulutnya tanpa berdo'a.


Laras nyengir. "Hehehe, hampir saja. Mau Laras suapin?" Duta mengangguk senang. Lalu mereka berdoa.


"Hmm, kamu tahu? Abang bersyukur didiskualifikasi dari pencalonan. Abang banyak waktu sama kamu. Bisa lebih memperhatikan kamu. Hikmahnya ya ini"


Laras tersenyum. Dila, yang menggantikan posisi Nina mengetuk pintu, memberitahukan ada pasien 1 lagi.


"Permisi dokter, pak Bupati" Duta dan Laras tertawa mendapat panggilan itu lagi. "Mbak Dila, saya sudah bukan pak Bupati lagi. Panggil nama saja"


"Hehehe, bapak akan selalu menjadi bupati di hati warga Magelang meskipun sudah lengser sekalipun pak. Ada pasien satu ya dok? Cowok yang kemarin....." Laras memberi kode untuk Dila untuk diam dengan meletakkan jari telunjukkan di tengah bibir.


"Cowoknya ganteng gak mbak Dila?" Kata Duta yang masih sibuk dengan makanan di hadapannya.


"Ah, lebih gantengan bapak. Dia mah cuma kentang" jawab Dila enteng.


"Bentar ya, selesaikan makan dulu, habis itu pasien" ucap Laras mengakhiri obrolan dengan Dila. Tidak seperti Nina yang bisa menjaga rahasia. Dila lebih ceplas ceplos tanpa mengerti situasi.


"Abang tunggu di ruangan mu ya" Laras heran, biasanya Duta langsung pulang. Laras hanya mengangguk. Dia berjalan mendekati pintu dan membukanya.


"Yuk" katanya menyuruh Dila untuk memanggil pasien itu masuk ke ruangannya.


"Mas Gandi, silahkan masuk!" ucap Dila sambil tersenyum ramah. Gandi masuk dan menyapa Laras. Duta mengintip ingin melihat rupa sang pasien.


"Siang dokter Laras" sapa Gandi dengan senyum sumringah seperti biasanya. Gandi, usia sekitar 25 tahun, memiliki kepribadian ganda.


"Siang mas Gandi. Lhoh, kok sendirian, mamahnya mana?" tanya Laras sambil membalas senyuman Gandi.


"Sebentar dok, sedang ke kamar mandi"


"Oooh, oke, kalau kita mulai langsung gak papa?" Gandi mengangguk.


"Silahkan duduk di kursi terapi" Laras mempersilahkan Gandi seperti biasanya. Laras membawa catatan kecil dan pulpen.


"Oke mas Gandi, selama seminggu ini, siapa yang lebih sering muncul? Mas Gandi sendiri atau pak Kusumo?"

__ADS_1


"Gandi, dok. Saya sebisa mungkin mengatur pikiran saya agar tidak menjadi papah"


"Waaah, bagus sekali mas Gandi. Ini dahinya kenapa lebam?" tanya Laras saat mengetahui ada lebam kebiruan di dahi Gandi.


"Itu perbuatan papah dok. Dia menjedotkan saya ke salah satu sudut meja, hingga lebam seperti itu" Laras tahu jika pak Kusumo ini sudah meninggal, maka Laras tahu siapa yang dimaksud papah oleh Gandi. Yaitu dirinya sendiri.


Laras semakin yakin jika Gandi mengalami kepribadian ganda. Mamah Gandi masuk dan menceritakan kepada Laras tentang luka lebam itu.


"Mmm, begitu. Oke mas Gandi, sudah cukup untuk hari ini. Semingu lagi, curhat.ke dokter tentang masa lalu ya" Saat menyebut itu kepala Gandi langsung sakit.


"Tarik nafas mas Gandi, kuasai pikiran mas Gandi sebagai diri mas sendiri. Buang jauh-jauh kenangan yang menyakitkan. Tatik nafas dalam secara perlahan" Laras mencoba membantu Gandi agar tetap menjadi Gandi.


Setelah sesi konsultasi selesai, Gandi dan mamahnya pamit. Duta keluar dari tempat persembunyiannya dengan berkacak pinggang.


"Besok lagi pakai masker, jangan tersenyum kepada lelaki lain kecuali sama abang. Mengerti??" ucapnya tegas. Laras menautkan alisnya.


"Abang kenapa sih?"


"Abang gak suka lihat kamu tebar-tebar senyum ke lelaki selain abang!"


Laras malah tertawa mendengar ucapan Duta. "Ya Allah suamikuuuu, abang cemburu?" tanya Laras. Duta menggeleng. "Cemburu hanya untuk pria lemah.... dan abang sedang lemah sekarang" katanya pelan dan menunduk tapi madih bisa didengar oleh Laras.


"Ya Allaaaaaah, hahahahha, tenang sayang. Meskipun banyak cowok bening di luaran sana, tetap kamu yang menang mutlak di hatiku"


"Tahu, abang tahu. Tetap saja. Besok pakai masker!"


"Iya-iya, besok Laras pakai masker. Lagian siapa juga yang mau sama orang berkepribadian ganda begitu. Ayo sholat" Laras mengambil mukenanya dan meraih tangan Duta untuk melaksanakan sholat. Laras suka jika suaminya cemburu, meski menyebalkan tapi itu membuatnya berarti, karena cemburu itu tanda cinta.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2