
Duta masih memasang muka cemberut setelah keluar dari masjid rumah sakit. Orang yang berpapasan dengannya tersenyum dan menyapanya masih dengan sebutan pak Bupati. Padahal Duta sudah diberhentikan secara tidak hormat, alias dilengserkan karena kasus yang sama sekali tak ia lakukan.
Laras yang berjalan bersamanya menahan tawa. "Sayang, sudah dong cemberutnya. Jelek ih" rayu Laras kepada Duta yang sedari tadi bersidekap.
"Au ah. Gerah banget deh, ini salah bahan bajunya apa gara-gara mata abang yang lihat ada yang senyum ke cowok lain ya?" Laras hanya tertawa menjawab pertanyaan Duta.
"Malah ketawa, seneng banget lihat abang cemburu?" Laras mengangguk. Mereka melewati IGD. Bertemu dengan Nina dan Dirga yang sedang shift siang.
"Ehm, berduaan mulu" goda Laras. Mereka sama-sama tersenyum malu dan menggaruk tengkuk mereka yang tak gatal.
"Gak usah malu-malu meong kamu, Ga. Kalian dari mana?" tany Duta.
"Makan A', eh teh, kakak senior Arjun pamitan tuh"
Laras dan Duta saling berpandangan. "Pamitan?" ucapnya kompak.
"Iya dok, dokter Arjun keterima PPDS, besok minggu depan sudah mulai kuliahnya. Jadi sementara waktu gak ada orang rese di IGD. Rena tuh sering banget dikerjain kalau pas lagi jaga sama dia" jelas Nina.
"Wow, hebat juga otaknya. Kok aku gak tahu sih?" jawab Laras.
"Ya gimana teteh tahu, kan kemarin banyak masalah teh, sampai mau jenguk anaknya A' Agus aja gak jadi"
"Itu dia nyogok apa gimana tuh Ga? Ambil bagian apa?" tanya Duta penasaran.
"Gak tahu, yang jelas dia lolos PPDS bagian bedah"
"Sama kayak kak Ais dong. Nanti kalau sudah lulus terus balik kesini lagi jadi partner kak Ais dong. Seru tuh kayaknya"
"Ya sudah, kami kembali dulu ke IGD dok, pak, gak enak sama yang lain" ucap Nina.
Duta dan Laras mengangguk. Mereka kembali berjalan dan bertemu dengan Arjun yang datang dari arah barat. Kemungkinan dari lantai dua.
"Assalamualaikum, Arjun" sapa Laras. Sungguh Duta tak rela istrinya memanggil nama dokter yang dulu pernah mengganggunya itu.
"Waalaikum salam".jawab Arjun singkat dan membuang wajah ke sembarang arah.
"Dari mana?" tanya Laras, Duta memberi kode dengan menarik baju Laras untuk tak usah mengobrol dengan dokter sombong itu. Tapi Laras tak menghiraukannya.
"Ruang HRD"
"Oowh, eh kamu lolos PPDS? Selamat ya"
"Makasih"
"Semoga kuliahnya lancar, bisa lulus tepat waktu, dan ilmunya bisa berguna untuk orang lain yang membutuhkan"
"Makasih, permisi aku duluan" Arjun pergi meninggalkan Laras dan Duta.
__ADS_1
"Tuh lihat, orang sombong kayak begitu kamu ajak ngobrol terus. Heran abang sama kamu. Besok gak usah ngobrol-ngobrol lagi sama dia" Kata Duta berkacak pinggang.
"Sudaaah, jangan marah-marah terus. Ayo pulang. Lagian gak bakalan ketemu dia lagi kok. Kan dia habis ini pendidikan lagi. Hehehe"
"Masih bisa nyengir kamu. Abang gak suka ya kamu ngobrol atau bertegur sapa dengan dia" kata Duta mengejar Laras yang sudah jalan duluan.
"Kamu kalau cemburu emang ngeselin sumpah. Begini salah begitu salah marahnya meleber kemana-mana. Haduuuuh. Malah pusing Laras"
"Ya kamu, kamu itu sudah punya suami. Gak boleh tuh ngobrol sana sini sama laki-laki" kata Duta sambil mengikuti istrinya masuk ke dalam ruangannya.
Laras hanya geleng kepala mendengarnya. Akhirnya Duta diam saat diberi kecupan lembut di bibirnya oleh sang istri. "Ngomelnya sudah ya sayang. Balik yuk" Laras tersenyum dan menggandeng tangan Duta.
Farid menjemput Ais di rumah sakit, dan bertemu dengan Duta. "Assalamualaikum pak, jemput ibu pak?" sapa Farid berjabat tangan dan memeluk Duta.
"Waalaikum salam bang, sehat kan?" balas Duta.
"Alhamdulillah, ya.... begitu lah pak. Sejak bapak lengser dan pak wakil yang menggantikan karena belum ada pelantikan saya seperti yang jadi bupati. Heheheh"
"Dinikmati mas Farid. Hehehe" jawab Laras.
Ais datanh dan menyapa. "Ramai nih, meet up yuk. Udah lama kan kita gak jalan barengan. Ayolah ayolah ayolah" rengek Ais.
"Ide bagus tuh yank, ayolah pak, bu, hitung-hitung nuruti bumil" kata Farid. Duta dan Laras saling toleh.
"Kakak hamil? Alhamdulillaaaaah, berapa bulan?" tanya Laras antusias
"Hehehe, masuk 2 bulan, kemarin-kemarin gak tahu.kalau sudah telat datang bulan"
"Hayuk aja lah, kalau bapak ajudan satu ini tidak sibuk dan tidak lelah. Hahaha" jawab Duta.
"Meluncur" mereka masuk ke mobil masing-masing. Ais segera menghubungi Ari dan menyuruhnya ke kafe x.
Tak berapa lama mereka sampai. Mereka memesan makanan dan masih menunggu Amira dan Ari. Setelah menunggu 15 menit Ari dan Amira bergabung.
"Assalamualaikum" sapa Amira.
"Waalaikum salam" jawab mereka kompak.
"Udah pada pesen ya?" tanya Ari. Mereka mengangguk. "Yank, kamu mau makan apa?" tanya Ari kepada istrinya.
Amira menunjuk beberapa menu dan memesannya.
"Kak, si Arjun lolos PPDS tuh, ambil jurusan bedah lhooo"
"Iya kakak tahu" jawab Ais singkat.
"Ih, kalian apaan sih? Kakak adik yang dibahas dokter sinting itu" jawab Ari heran mereka masih membahas Arjun.
__ADS_1
Farid dan Duta menelengkan kepala mereka melihat istri mereka dengan tatapan tajam.
"Bisa ya ngomongin laki-laki lain saat ada suaminya??" kata Farid geram.
"Masih mending cuma diomongin bang, tadi ada juga yang ngajakin ngobrol. Panaaaaasssssss, mendidiiiiiih. Hah" sahut Duta.
Amira dan Ari tertawa melihat tingkah para suami itu. Para istri hanya nyengir menampilkan deretan gigi putih mereka.
"Jangan marah dong sayang, kan cuma ngomongin aja" jawab Ais.
Makanan datang, Farid dan Duta langsung menyantap makanan mereka tanpa membaginya ke istri mereka.
"Dasar para lelaki, kalau cemburu begini nih. Makanya, kalian hati-hati. Apalagi nanyi pas dirumah. Siap-siap di terkam kalian" Ari hanya tertawa saat istrinya mengatakan itu. Persis seperti gambaran dirinya yang sedang cemburu kala Amira bertemu dengan mantan rekan-rekannya yang laki-laki.
"Mas Ari kalau cemburu begitu mbak?" tanya Ais.
"Jangan ditanya Is, habis aku gak dikasih istirahat"
"Kamu sih Ras"
"Mana aku tahu kalau reaksi mereka bakalan begitu. Runyam mah ini urusannya. Sayaaaang, bagi makanannya dooong" Laras merayu suaminya.
"Moh" jawab Duta singkat.
"Kamu yakin mau menghabiskan itu sendirian? Nak, ayah kamu pelit ya, bunda dan dedek kelaparan, ayah makan kenyang. Sedih aku tuuuuuhhh"
Farid tak tega saat istrinya bilang begitu. "Makan, jangan bahas yang lain" Ais tersenyum senang.
Laras memanyunkan bibirnya, Duta meletakkan sendoknya dan mulai.makan menggunakan tangan. "Sini abang suapkan"
Semua yang disana meleleh melihay sikap romantis Duta.
"Mau kayak gituuuu" rengek Amira. "Siap nyonyah" Ari pun melakukan apa yang Duta lakukan.
"Ora usah ngrengeeek, iyo-iyo tak dulang ( Gak usah merengek, iya-iya tak suapin)" kata Fatid seakan tahu isi hati istrinya.
Ah romantisnya ketiga pasangan ini.
.
.
.
Like
Vote
__ADS_1
Komen
Tip