Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Romantis Ya Kalian


__ADS_3

Duta tersenyum melihat Laras dibelakangnya. Tak menyangka Laras akan memberinya kejutan seperti ini. Dia mengira bahwa Laras benar-benar tidak tahu hari lahir dirinya.


"Buruan ditiup Dut, bengong aja" ejek Wisnu.


"Berdoa dulu, kamu gak sabaran banget sih pengen kue nya!" timpal Bayu.


Duta memejamkan mata dan meniup lilin nya. Lalu mengecup kening Laras.


"Woohooo, si Duta sekarang berani bro sama cewek" ejek Candra.


Laras tidak bisa mengelak saat Duta mengecup keningnya. Membuat dia merona lagi.


"Silahkan duduk dokter" Nujma mempersilahlan Laras duduk di dekat Duta.


"Kita lihat video sebentar ya" tambah Nujma.


Video yang diputar adalah saat Lala meminta Laras untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk Duta di ruangannya. Duta tersenyum bahagia sambil melirik Laras.


"Tuh pak, dokter gak lupa kan ya dok? Tolong pak Duta, diperkenalkan lagi perempuan nan cantik ini" pinta Nujma.


"Hahaha, bahagia sekali saya ulang tahun kali ini. Banyak mendapatkan kejutan. Jadi ini yang namanya Ayu Larasati, yang biasa saya panggil Ay, tapi kesehariannya dipanggil Laras"


Laras mengatupkan kedua tangan di depan dadanya dan tersenyum "Assalamualaikum semua" sapa Laras masih kaku.


"Gak nyangka ya pak ya?"


"Iya lah, orang barusan ditelpon aja ngomongnya masih jalan sama kakak nya. Sengaja nih tadi abang ajak kesini gak bisa. Ternyata pengen buat kejutan untuk abang"


Laras hanya tertawa kecil dan malu-malu.


"Dokter Laras...." ucapan Nujma terpotong.


"Panggil mbak aja, mbak" terang Laras.


"Mbak Laras, kalau panggil pak Duta siapa?"


"Abang. Dulu pernah panggil pak, tapi dilarang sama orang tua"


"Kok dilarang?" sahut Candra.


"Iya jadi waktu itu kami diperkenalkan lewat jalan ta'aruf. Dia ini waktu ngambilin makan saya panggilnya pak, serasa tua banget kan? Kan niatnya dikenalkan bukan sebagai Bupati tapi sebagai calon suami" ucap Duta sambil melirik Laras. Dan Laras ganti meliriknya dan tertawa geli.


"Apa sih?" tanya Laras.


"Duuuuuh, ciwi-ciwi jomblo sudah remuk ya hatinya lihat mereka berdua main lirak lirik begini? hahahaha" ucap Nujma menangkap gerak gerik mereka.


"Mbak Laras, pak Duta orangnya seperti apa sih kalau boleh tahu?"


"Mmm, apa ya? Baik, perhatian, suka goda-godain aku, amanah, dan romantis" tutur Laras.


"Uuuuu, so sweet. Hahaha. Itu suka goda-godain cuma sama mbak Laras saja kan pak?" tanya Nujma memastikan.


Duta mengangguk malu.


"Hahahah, Duta bisa begitu juga ya ternyata. Kita kira masih kaku kayak gagang sapu" sahut Bayu.


"Pernah marah gak mbak?"


"Saya yang marah, kalau abang ini lebih ngemong saya sebenernya. Saya yang suka marah sama dia" jawab Laras sambil menepuk lengan Duta.


"Idaman semua ciwi-ciwi ini mah, sayang udah mau halal sama mbak Laras. Pak Duta, mbak Laras yang duluan jatuh cinta siapa?" tanya Nujma.


"Saya" jawab Duta dan Laras bersamaan. Mereka saling toleh.


"Waaah, romantis ya kalian" ucap sahabat Duta.


"Kalian juga romantis, daritadi jawabnya kompak terus" sahut Duta.


Sontak semuanya tertawa.


"Jadi cinta pada pandangan pertama nih?" tanya Nujma.


"Abang dulu aja yang jawab"


"Kamu lah, kamu kan tadi juga bilang saya. Gitu"


"Ih, abang" Laras melotot kepada Duta. Membuat semua yang disana iri.


"Aaaah, so sweettttt" kompak semua berkata begitu.


"Hahahaha, iya-iya. Saya melihat dia pertama kali itu saat mau jemput keponakan saya di ruangannya. Saya kira hanya rasa kagum. Tapi kok hati saya selalu berdesir saat melihat dia lagi. Dari situ saya merasa jatuh cinta sama dia duluan"

__ADS_1


"Mmm, kalau mbak Laras?"


"Hahaha, malu saya ceritanya. Jadi waktu saya sholat di masjid rumah sakit saya itu dengar pria bermurotal. Jaraaaang sekali di masjid ada yang bermurotal. Adem kalau denger suara nya bermurotal. Dari situ saya berdoa sama Allah, tolong kasih saya satu saja yang seperti itu. Alhamdulillah didengar dan diijabah Allah. Kami dipertemukan dalam ta'aruf"


"Wah waah, kalau jodoh gak akan kemana ya? Oke, satu pertanyaan terakhir sebelum pak Duta dan the geng tampil nyanyi. Kapan nih diresmikan pak? Magelang punya gawe nih"


"Doakan saja, saya sih maunya cepat-cepat. Ya Ay" ucap Duta menahan senyum sambil menaik turunkan alisnya.


"Doakan saja secepatnya mbak, insyaallah dekat-dekat ini"


"Horeeeee, Magelang mantu Magelang mantu" ucap Wisnu girang.


"Kok anda yang girang pak Wisnu?" tanya Nujma.


"Ya pasti lah mbak, dia ngincer kulinernya. Hahahha" jawab Candra.


"Ternyataaaa. Oke mau bawain lagu apa nih?" tanya Nujma


"Tolong, Budi Doremi" jawab Bayu cepat.


"Emang budi doremi kenapa perlu ditolong?" tanya Wisnu polos.


"Maksudnya lagu judulnya tolong, miliknya budi doremi Wis. Kamu kalo makanan aja cepet, giliran mikir lama" ejek Candra.


"Ohh, ku kira. Yok pada posisi" ucap Wisnu. Dan mereka memposisikan dirinya masing-masing.


Duta pada vokal, Wisnu pada keyboard, Candra pada gitar, Bayu pada Drum. Semua menyamakan nada terlebih dahulu. Dan Duta memberikan kata pembuka.


"Hadeeeh, baru kali ini saya ulang tahun, dapat kejutan, tapi masih harus disuruh nyanyi. Harusnya kan saya ya yang dapat kado. Ini saya malah diberi kado"


"Wes Dut, durasi. Aku yo iseh pengen diwawancara mbak Nujma canteeekk. Selak durasi ne ntek Dut" ucap Wisnu.


"Hahaha, ngebet banget sih. Oke. Lagu ini saya nyanyikan untuk calon istri saya. Ayu Larasati, semoga kamu memang ditakdirkan untuk abang"


Laras tersenyum melihat Duta.


Kurasa 'ku sedang jatuh cinta


Karena rasanya ini berbeda


Oh, apakah ini memang cinta?


Mengapa aku begini?


Hilang berani dekat denganmu


Ingin 'ku memilikimu


Tapi aku tak tahu


Bagaimana caranya?


Tolong katakan pada dirinya


Lagu ini kutuliskan untuknya


Namanya selalu kusebut dalam doa


Sampai aku mampu


Ucap maukah denganku


Kurasa 'ku sedang jatuh cinta


Karna rasanya ini berbeda


Oh, apakah ini memang cinta?


Selalu berbeda saat menatapnya hu


Di sini aku berdiri


Menanti waktu yang tepat


Hingga akhirnya kumampu


Katakan padamu oh


Tolong katakan pada dirinya


Lagu ini kutuliskan untuknya

__ADS_1


Namanya selalu kusebut dalam doa


Sampai aku mampu


Ucap maukah denganku


Tolong katakan pada dirinya


Lagu ini kutuliskan untuknya


Namanya selalu kusebut dalam doa


Mungkinkah dia tahu


Cinta yang kumau oh oh


Tolong katakan pada dirinya


Lagu ini kutuliskan untuknya


Namanya selalu kusebut dalam doa


Sampai aku mampu


Ucap maukah denganku


Ho oh maukah kau dengan aku


"Tepuk tangab yang meriah untuk Bupati kita and the gank. Silahkan kembali kesini" Nujma mempersilahkan semuanya kembali duduk pada tempatnya.


"Kalau boleh tahu, band nya itu namanya apa sih?" tanya Nujma lagi.


"Wayang band" jawab Bayu.


"Kok bisa?" tanya Nujma.


"Personil kita itu 3 diantaranya namanya kayak tokoh pewayangan. Makanya namanya wayang band. Eh kita nih dari tadi gak ngeh ya. Baju kita bertiga sama, celana coklat atasan putih. Nah Duta sama mbak Laras juga sama, Biru dongker dan abu-abu. Cie cie cie" ucap Wisnu.


Laras dan Duta menoleh, dan memperhatikan satu sama lain.


"Iya ya? Saya baru ngeh. Beneran ya. Memang kalau jodoh itu seperti melihat diri sendiri. Ini memang janjian atau gimana nih?" ucap Nujma.


"Kita janjian Ay?" tanya Duta.


"Gak, aku aja ngumpet-ngumpet dari abang waktu kesini"


"Waaaahh, cocok" ujar Bayu.


"Oke pertanyaan terakhir sebelum closing. Doa apa yang terpanjat untuk pak Bupati kita?"


"Selamat menempuh hidup baru Dut" ucap sahabat Duta kompak.


"Hahahaha, ditanya apa jawabnya apa. Wes, gesrek kabeh" sahut Duta.


"Dari mbak Laras?"


"Semoga panjang umur, semakin sukses, semoga yang ingin disegerakan dapat terwujud. Daaaaan, semoga kita cepat halal. Aamiin" ucap Laras sambil mengusap wajahnya.


"Aamiin" jawab semuanya.


"Kode keras Dut, hayuk lah, kita jadi pengiring manten" sahut Candra.


"Tunggu abang ya?" Ucap Duta tersenyum kepada Laras.


"Haduuuuuh, pemirsa. Saya sudah klepek-klepek dengan keuwuan mereka. Terima kasih sudah bersedia hadir disini Pak Bupati, pak Wisnu, pak Bayu, pak Candra, dokter Laras. Seru sekali malam ini. Saya dan kru mengucapkan selamat ulang tahun buat pak Duta. Kita kembali besok minggu depan dengan tokoh yang berbeda. 1 jam lebih dekat, pasti lebih hangat. Saya pamit undur diri. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip


Baca novel lain dari author ya. Tunangan Bayaran. Seru kocak nagih. Hahaha. Dibaca juga yaaaa. Makasih readers. Happy reading all 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2