
Bulan berganti, tak terasa perjalanan cinta mereka akan menyambut anniversary. Pagi itu Laras membungkus kado yang sudah ia siapkan beberapa bulan lalu. Tapi, Laras merasa badannya agak kurang sehat. Seperti meriang. Mungkin karena cuaca, hawa dingin di Magelang semakin dingin saat musim penghujan turun.
Dia melihat kalender. "Telat 4 minggu? Berarti dua bulan aku sudah tidak menstruasi dong. Terakhir bulan Desember, dan ini sudah Februari. Mungkinkah?" tanyanya pada dirinya sendiri. Dia segera turun tanpa pamit dengan suaminya, membeli alat tes kehamilan di apotik dekat rumahnya.
Dengan cepat dia kembali dan mendapati suaminya masih bermurotal. Dia segera mengetes air seninya. Harap-harap cemas saat dia memasukkan benda panjang piph itu.
Air seninya sudah mulai naik hingga melewati garis maksimum. Dia memejamkan matanya untuk menunggu beberapa saat. "Ya Allah, semoga ini jawaban dari rasa sabar kami. Aamiin"
Duta mencari istrinya. "Yaaankk,..." panggilnya. Laras menyimpan alat itu dan membuang bekasnya.
"I-iya bang, ada apa?" teriaknya dalam kamar mandi.
"Lagi ngapain? Baju dinas abang kok belum disiapkan?" tanya Duta heran. Tak biasanya istrinya begini. Saat dia selesai melakukan aktivitasnya pasti semua akan siap tersedia.
"Sebentar sayang, Laras kebelet tadi. Gak tahan" ucapnya sambil menghapus air matanya. Laras mencuci mukanya dan membersihkan sisa air itu dengan handuk.
Duta menghampiri istrinya yang baru saja keluar kamar mandi. "Kamu sakit yank? Kok pucat banget sih?"
"Iya bang, Laras agak meriang. Laras hari ini izin tak masuk kerja saja lah. Tolong nanti antarkan surat izin Laras ke bagian HRD ya bang"
Duta mengangguk. "Ya sudah, kamu istirahat saja. Biar abang yang mempersiapkan keperluan abang sendiri" Laras menggeleng dan tersenyum.
"Laras gak papa sayang, Laras siapkan bajunya dulu ya" Duta menarik tangannya dan menyuruhnya berbaring di tempat tidur.
"Bobok disini, jangan kemana-mana. Abang izin sama bang Farid untuk datang terlambat. Abang bikinkan teh dulu ya?" Laras mengangguk. Air matanya kembali menetes.
"Huft, tenang Laras, jangan nangis" katanya menyemangati dirinya sendiri.
Duta kembali dengan segelas teh hangat di tangannya. "Minum dulu sayang" katanya dan memberikan teh itu kepada Laras.
Laras meminumnya sedikit. Lalu meletakkannya di atas nakas. "Mau makanannya dibawa kesini?" tanya Duta. Laras menggeleng. "Laras tiduran saja bang, kepala Laras tiba-tiba pusing"
"Ya sudah tidurlah, abang pijitin sebentar" Laras mengangguk dan mulai memejamkan mata.
"Bang, nanti malam jangan lupa ya, anniversary kita" sambil merasakan pijatan dikepalanya. Membuatnya sedikit rileks.
"Hmm, kamu sakit begini masih mikirin anniversary. Ditunda saja ya" Laras menggelengkan kepalanya kuat.
"Jangan, pokoknya malam ini harus terlaksana! Laras nanti malam sudah sembuh kok. Laras janji"
"Baiklah kalau kamu maksa. Abang hanya undang temen-temen abang, Farid- Ais, Ari-Amira, Abi-Umi, Dirga-Nina, sama keluarga mamah"
__ADS_1
"Iya, tante Meli sama tante Rum, sudah siap dengan cateringnya kok. Abang kalau mau berangkat gak papa. Laras pengen tiduran saja"
"Tidurlah, abang akan menemanimu sebentar" Duta tetap memijit kepala Laras hingga istrinya benar-benar terpejam.
Duta segera bersiap dan bergegas ke rumah sakit, langsung memberikannya kepada HRD rumah sakit itu.
"Tadi via telpon kan gak papa pak Duta, semoga dokter Laras segera sembuh" ucap pak To.
"Saya sudah ixin terlambat kok pak, terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam, hati-hati pak" Duta segera bergegas ke kantornya.
.
Di kantor Duta tak fokus sama sekali dengan pekerjaannya. Dia menelpon rumah untuk memastikan keadaan Laras. Bi Sum mengatakan bahwa Laras masih tidur.
Padahal saat itu Laras sedang menyelesaikan gambarnya. Menambahkan beberapa gambar untuk kado anniversarynya nanti.
Farid menyuruh Ais untuk menjenguk Laras, tapi tak bisa. Karena dia ada operasi siang ini. Duta menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Tepat pukul 5 dia sudah selesai dengan tumpukan laporan dan tanda tangan itu.
Pak Pri langsung bergegas mengantarnya pulang, karena Duta sudah tak sabar ingin bertemu istrinya.
"Waalaikum salam" jawab semua yang ada disana. Ternyata umi, abi, mamahnya, tante Meli, tante Rum, Dirga, dan Nina sudah datang untuk membantu persiapan.
Duta menyalami semuanya, kecuali Nina. "Laras dimana?" tanyanya.
"Sedang murotal kayaknya" jawab mamah Aini. Duta segera naik ke lantai dua untuk memastikan keadaan istrinya, dan ternyata benar, dia sedang murotal surat Maryam.
Duta lega melihat istrinya, dia segera bergegas mandi. Laras yang mengetahui kepulangan suaminya segera mengakhiri bacaannya. Mempersiapkan keperluan suaminya. Memilihkan baju senada dengan dirinya.
"Sayang, sudah sembuh?" tanyanya melihat wajah Laras masih pucat.
"Sudah bang" jawabnya sambil meraih tangan Duta dan menciumnya. Acara anniversary itu dimulai setelah maghrib.
Persiapan sudah selesai dilakukan. Trio mobat mabit bersama anak istrinya dan juga Rama-Shila datang dengan membawa kado tak terduga di tangan mereka.
Membuat orang-orang terpingkal-pingkal. Para suami membawa obat kuat berdus-dus. Sedangkan para istri membawa lingerie lengkap dengan manequin nya.
"Allahu akbar, kalian memang ya!" Duta ingin menjotos teman-temannya itu.
"Hahaha, sabar Dut. Nanti kamu bakalan terima kasih sama kita" ucap Rama.
__ADS_1
"Iya, Rama aja pesen terus ke aku" sahut Bayu
"Aku hanya ikut-ikutan lho Dut, jane mau meh ngado sing pil perangsang. Bayu duwene iku kok, wkwkwkw (tadinya mau kasih kado yang pil perangsang. Bayu punyanya itu kok, wkwkwk)" timpal Wisnu.
"Bobrok kabeh kan koncomu Dut? Termasuk aku. Hahaha" sahut Candra. Laras yang melihat manequin itu geli sendiri. Membayangkan setiap hari menggunakan baju kurang bahan begitu, bisa-bisa masuk angin pikirnya.
"Makasih ya semuanya, silahkan dinikmati sajiannya" ucap Laras.
"Capcus" Kayla langsung berburu makanan dengan suaminya. Anak-anak mereka asyik menikmati penampilan Dirga dan Nina di atas panggung.
"Cah, nyanyi yok" ajak Rama. "Ayok" sahut semuanya.
Farid dan Ais baru saja tiba. Mereka memberikan selamat kepada Laras dan Duta.
"Ini kado titipan mbak Amira dan mas Ari, mereka gak bisa datang. Mas Ari lagi gak enak badan katanya" ucap Ais.
"Makasih. Malah ngrepotin. Sana kak makan dulu, mas monggo"
"Iya, nanti kami ambil sendiri. Kamu masih pucat banget sih. Besok lagi kalau lagi sakit jangan pake lipcream warna peach dong dek, kasih yang agak gelap, pakai yang terracotta kek. Biar lebih cerah gitu" protes Ais dan mengeluarkan lipcreamnya.
Memoleskan pada bibir Laras, Duta dan Farid hanya geleng kepala menyaksikannya. Acara inti telah tiba. Laras meninggalkan suaminya dan berdiri di atas panggung.
Mengucapkan terima kasih kepada semuanya. Dan mengutarakan perasaannya lewat bait lagu.
"Izinkan ku lukis senja, mengukir namamu disana, mendengar kamu bercerita, menangis tertawa. Biar kulukis malam, bawa kamu bintang-bintang, tuk temanimu yang terluka, hingga kau bahagia" Laras berjalan mendekati suaminya dan memberikan kadonya.
Duta menerima itu dan segera membukanya. Sebuah komik yang menceritakan tentang perjalanan mereka satu tahun itu. Dan saat membuka lembaran terakhir Duta melihat istrinya dengan berderai air mata.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1