Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Khawatir


__ADS_3

Duta memindahkan semua barang-barangnya dari lantai dua ke lantai dasar. Dia tak ingin sesuatu terjadi pada istri dan calon anak-anaknya.


Laras hanya mengikuti kemauan suaminya. Dia hanya menunggu hingga kamar siap. "Mau rebahan?" tanya Duta.


"Iya, nanti. Laras mau nonton drama korea dulu"


"Kamu pengen sesuatu?" tanya Duta lagi. Laras tersenyum dan memeluk suaminya. "Sayang, Laras cuma pengen peluk. Gak pengen apa-apa kok. Abang gak usah lebay begitu ah. Bukan pertama kalinya Laras hamil bang"


"Iya abang tahu, tapi ini pertama kalinya dititipi amanah sebanyak itu sayang. Ingat kata Citra ya, gak boleh kecapekan. Makan dan vitamin harus ekstra"


"Iya abang, Laras gak sabar pengen cepet-cepet lihat mereka lagi di monitor USG"


Duta tersenyum. "Abang sebenarnya khawatir sayang"


Laras menautkan alisnya. "Tentang?"


"Kehamilan kamu, khawatir kalau nanti kamu mengalami kesulitan saat mengandung mereka...." ucapan Duta terpotong saat jari Laras menempel pada bibirnya.


"Abang, Laras sudah siap menanggung semuanya. Sudah kodratnya perempuan sayang. Kita yang menginginkan kehadiran mereka, kita yang minta sama Allah. Jadi, Laras mohon sama abang, syukuri kehadiran mereka. Meski nantinya ada sedikit kesulitan.


Selalu kuatkan Laras dalam hal apapun. Kita jalani sama-sama. Kita nikmati anugerah dari Allah yang dititipkan ke kita. Bersyukur sayang, diluar sana banyak yang belum diberi kepercayaan sama Allah. Berjuang bersama. Okey abangku?" jelas Laras panjang lebar.


"Makin cinta abang sama kamu. Terima kasih sudah menjadi wanita terkuat untuk abang" Duta melepaskan pelukan istrinya dan sekarang sedang berbaring di pangkuan Laras. "Assalamualaikum anak papah semuanya, dengarkan papah nak. Kalian di dalam sana harus berbagi ya, berbagi apapun. Bantu mamah, kuatkan mamah. Papah menantikan kalian sayang. Tumbuh sehat disana ya?"


"Iya pah, kita kerjasama ya nak, mamah jaga kalian, kalian jaga mamah. Oke calon anak-anak mamah?" Duta menghujani perut Laras dengan ciuman. Membuatnya kegelian.


"Geli abang, ahahaha. Udah stop. Mandi gih, setelah itu kita makan" Duta segera bangun dan melaksanakan perintah istrinya.


Laras memberi kabar kepada Ais bahwa dirinya hamil kembar empat. Dia juga memberitahu abi, umi, dan mamahnya. Semua yang mendengar kabar itu mengucap syukur tak terhingga.


Mamah Aini bergegas berbelanja semua keperluan ibu hamil untuk Laras. Umi pun sama. Mereka datang pada saat yang bersamaan. Membawa belanjaan masing-masing.


"Assalamualaikum" sapa Abi dan Umi yang mengetahui mamah Aini berada di depan pintu rumah Duta dan Laras hendak memencet bel.


"Eh, waalaikum salam, pak Gunawan, jeng Saodah. Walah, belanja untuk Laras juga ini ceritanya?" Mereka mengangguk.

__ADS_1


"Sebentar lagi kita punya cucu empat jeng" kata umi senang.


"Iya jeng, sudah tidak sabar saya menggendong cucu-cucu kita" mamah Aini membayangkan cucu-cucunya itu sudah lahir.


"Kita masuk dulu ya bu ibu" Abi memotong obrolan itu. Mereka tertawa.


Bi Sum membukakan pintu saat ada yang memencet bel. Mempersilahkan masuk. "Bi, ini dibawa, ditata, semuanya untuk Laras. Usahakan masak yang bergizi tinggi ya bi" perintah mamah Aini.


"Nggih nyonyah" sahut bi Sum. Lalu mereka menghampiri Laras yang sedang asyik menonton drama korea.


"Assalamualaikum" ucap mereka. "Eh, abi, umi, mamah! Kok datang barengan? Janjian ya?"


Laras menyalami semuanya. "Enggak, umi kebetulan ketemu mamah kamu di depan. Kami bawakan segala kebutuhan kamu"


"Duta mana?" tanya Abi. "Lagi mandi bi" tak lama Duta keluar.


"Abi, umi, mamah?" Duta menyalami semuanya.


"Kamarnya udah pindah di bawah kan?" tanya mamah Aini dan dijawabi anggukan dari keduanya.


"Dut, dijagain ya Larasnya. Ada amanah yang begitu besar di dalam rahimnya" kata Abi.


Mamah Aini meraih ponselnya dan menelpon Farid. Menyuruh Farid untuk datang ke rumah Duta. Mereka mengobrol seputar kehamilan kembar. Laras tak memungkiri, ada sedikit kekhawatiran tapi ia coba tepis. Dia bertekad untuk berjuang dengan kehamilannya.


Tak lama Farid datang. Mamah Aini berpesan kepadanya jika jam kerja Duta harus dibatasi hingga selepas maghrib. "Mamah gak mau tahu, kalau kunjungan luar kota bisa diwakilkan, wakilkan. Mamah gak mau ya kejadian dulu terulang lagi"


Farid mengangguk paham. "Nggih mah. Tante Meli bisa bikin catering untuk 4 bulanan tidak mah?" tanya Farid.


"Bisa"


"Ais sudah masuk 4 bulan nak Farid?" tanya Abi.


"Nggih bi, rencananya 2 hari lagi mau mengadakan syukuran"


"Ya sudah, nanti umi ke rumah kalian bantu-bantu disana" kata umi.

__ADS_1


.


Laras merasakan perutnya bergejolak. Kepalanya mulai pusing. Sepertinya drama kehamilannya sudah dimulai dari kemarin.


Laras sedikit tergesa-gesa saat ke toilet. Duta segera menyusul istrinya. Memijit tengkuknya seperti yang lalu. Laras memuntahkan semua isi perutnya.


Laras dipapah oleh suaminya kembali ke ranjang. Dia butuh minuman hangat dan makanan. "Bang, tolong buatkan Laras teh tapi jangan manis-manis. Sama ambilkan buah"


Duta segera membuatkan pesanan istrinya. Mencuci buah-buahan dan segera kembali ke kamar. Dilihatnya istrinya muntah lagi.


"Kamu gak papa sayang?" tanya Duta khawatir. Laras tersenyum "Gak papa bang, abang jangan takut" Duta membopong tubuh Laras kembali ke ranjang.


Laras segera meminum teh itu, dan memakan buah-buahan yang ada. Dia lebih memilih yang asam. "Yank, bukannya teh gak boleh buat ibu hamil?" Laras mengangguk. "Tapi kan gak setiap hari bang, besok-besok minum susu deh. Tapi malam ini Laras ingin teh sama buah-buahan"


"Makan nasi sedikit ya? Kasihan dia kalau cuma dikasih makan buah. Ingat ada empat nyawa lho didalam rahim kamu" Laras sebenarnya enggan, tapi dia tak mau egois. Di dalam tubuhnya ada empat nyawa lain yang hidup bersama dirinya. Akhirnya dia mengangguk.


Duta segera mengambilkan nasi dan lele. Dia mencuci tangannya dan mulai menyuapi Laras di dalam kamar. "Anak abang banget ini, kamu gak papa nyium yang amis-amis begini?" Laras menggeleng. Menikmati suapan yang masuk ke dalam mulutnya.


"Sudah bang, nanti kalau kebanyakan malah muntah lagi" Laras menolak suapan dari suaminya.


Laras lebih memilih menghabiskan buah-buahan itu daripada nasinya. Hingga pukul 11 malam Laras baru bisa tidur.


Laras sudah benar-benar terpejam. Duta meraih ponselnya dan berselancar mencari informasi tentang kehamilan kembar. Banyak hal membahagiakan tapi ada pula yang mengkhawatirkan. Seperti yang diucapkan Citra. Duta membaca dengan seksama tulisan-tulisan itu.


"Terima kasih kamu sudah mau menjadi wanita tangguh untuk abang dan anak-anak kita kelak sayang. Abang akan selalu menemanimu. Kekhawatiran ini akan kita lalui bersama. Menatap masa depan bahagia bersama anak-anak kita. Terima kasih, Ay" Duta meletakkan ponselnya kembali ke atas nakas. Mengecup lembut kening istrinya dan ikut terpejam disamping istrinya.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2