Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Dirga?


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Mereka masih di Bandung. Masih meneguk nikmatnya yang namanya honeymoon. Semua tempat wisata mereka kunjungi. Dari yang ada di daerah Lembang, Ciwidey, Dago, Cibaduyut semua mereka jelajahi. Mulai dari yang instagramabel hingga yang berbau alam.


"Yank, beli oleh-oleh dulu ya. Setelah itu kita ke tempat tante abang. Tante Meli" ucap Duta saat keluar dari hotel.


"Oke sayang, mau beli oleh-oleh apa?" tanya Laras sambil membuka pintu mobil.


"Terserah kamu. Kamu hafal banget ya daerah Bandung?" tanyanya sambil melajukan mobil.


"Ya gak hafal gimana sayaaaang, aku disini hampir 5 tahun. Magang disini. Pasti hafal lah"


"Banyak dong temen-temen kamu disini. Kenapa gak meet up bareng mereka?"


"Mereka sudah kembali ke kota mereka masing-masing. Ada sih yang masih asli sini. Tapi aku gak punya kontaknya" jelas Laras.


Duta hanya mengangguk oooo, dia melajukan mobilnya menuju tempat pusat oleh-oleh. Tak berapa lama mereka sampai disana.


Mereka turun dan masuk toko itu. Brownies, bolu susu, moci, coklat, gepuk, picnic roll, peuyem, basreng, wajit cililin, cireng. Ada semua. Laras memilih beberapa makanan itu lalu segera membayarnya.


"Tambah satu ini Ay, tante Meli suka banget sama ini" ucap Duta disamping Laras yang sedang berada di kasir.


"Iya"


Selesai membayar, mereka langsung menuju daerah Pasteur. Berkunjung ke rumah tante Meli. Duta menceritakan tentang tante Meli kepada istrinya itu.


"Ay, tante Meli nih adek mamah paling bontot. Mereka 5 saudara, mamah anak nomor 3, yang kemarin dampingin mamah itu pakdhe nomor 2, yang nomor 1 sudah meninggal. Yang nomor 4 perempuan yang kemarin nyapa kamu itu, ikut bantuin abang mengelola lele. Nah ini yang nomor 5.


"Tapi, dia ikut agama suaminya. Alias non muslim. Jadi nanti jangan kaget saat masuk. Dulu sih keluarga mamah musuhin dia banget, tapi mamah dan tante Rum yang nomor 4 itu gak tega lihatnya. Para paman gak ngebolehin mamah dan tante Rum menjenguk ataupun ngasih makanan ke mereka"


"Oooh, suaminya katanya sakit. Sakit apa bang?" tanya Laras.


"Sakit stroke, sudah tidak bisa berjalan. Hanya mampu duduk di kursi roda. Anaknya dokter. Dengar-dengar sih, gaji anaknya habis untuk mengobati ayahnya. Mana dia disini cuma wiyata puskesmas. Kan gak seberapa tuh pendapatannya"


"Dokter umum bang?"


"Iya, dia kemarin ikut BLUD. Satu rumah sakit sama kamu nanti Ay"


"Ya syukur alhamdulillah ya bang, sekarang dia keterima sebagai dokter BLUD"


"Iya, semoga om Kusman diberi kesembuhan. Aamiin"


"Aamiin. Mereka punya berapa anak bang?"


"Hanya 1 sayang"


Setelah melewati perjalanan cukup jauh karena macet, sampailah mereka di sebuah rumah sederhana. Disana terparkir sebuah mobil yang tampak tak asing bagi Laras.


Kayak pernah kenal mobil itu. Tapi punya siapa ya?. Batin Laras dalam hati.


tok tok tok. Duta mengetuk pintu rumah itu.


"Permisi" ucapnya.

__ADS_1


"Yaaa" terdengar sahutan seorang perempuan dari dalam. Pintu dibuka. ceklek.


"Aaaa, Dutaaa. Apa kabar sayang?" ucap perempuan itu sambil memeluk Duta.


"Alhamdulillah baik tante" jawab Duta sambil menyalami tantenya. Laras juga menyalami yang ia yakini adalah tante Meli.


"Ini pasti istri kamu kan? Cantiknyaaaa" ucap tante Meli sambil memeluk Laras.


"Iya tante, saya Laras, istri bang Duta" jawabnya. "Ini untuk tante"


"Terima kasiiih. Ayo masuk. Om ada di kamarnya, ada Dirga juga didalam" ucap tante Meli sambil tersenyum.


Deg deg deg. Dirga? Dirgantara Pambudi?


"Ay, ayo" ucap Duta menyadarkan Laras.


"Eh, iya bang" balasnya tersenyum dan masuk ke dalam rumah.


"Mau langsung ketemu sama om?" tanya tante Meli.


"Iya te" jawab Duta. Mereka dibawa tante Meli masuk ke kamar om Kusman. Saat melewati ruang tamu Laras melihat foto Dirga.


Saat memasuki kamar om nya, sedang ada Dirga yang menyuapi papahnya itu.


"Aa'!" pekik Dirga melihat Duta masuk ke dalam kamar papahnya sambil tersenyum.


"Hai Ga, om Kusman" sahut Duta.


"Laras?" ucapnya saat bertemu dengan Laras.


"Lhoh, kamu kenal sama istri Aa'?" tanya Duta.


"Kenal A', ini istri Aa'?"


"Iya, saya istri bang Duta, kakak sepupu kamu" Laras bersuara.


Kenapa Laras bisa kenal Dirga? Mungkinkah... ah sudahlah. Jangan curiga Duta.


"Ooh, sudah jadi istri orang ternyata. Selamat ya Ras" ucap Dirga kecewa.


Duta duduk disamping om nya. Menyapa om nya. "Apa kabar om? Maaf Duta baru sempat kesini. Kenalkan om, ini istri Duta. Laras namanya. Seorang dokter jiwa"


Om Kusman hanya bisa menggerakkan matanya.


"Cepat sembuh om, kita semua pengen om sehat kembali" ucap Laras.


"Ya sudah, ngobrolnya di ruang tamu saja yuk. Biar om bisa istirahat" ucap tante Meli.


"Kami tinggal dulu ya om. Cepat sembuh" ucap Duta. Mereka meninggalkan kamar om Kusman dan beralih ke ruang tamu.


Dirga berada di dapur membuatkan minuman untuk mereka. Tersungging senyum tipis dibibirnya.

__ADS_1


"Kenapa senyum begitu? Kamu kenal sama istri Duta?" tiba-tiba tante Meli sudah berada di belakang Dirga.


"Ih mamah ngagetin saja. Kenal mah. Dia yang dulu Dirga ceritakan"


"Maksud kamu dia gadis yang membuatmu ingin masuk Islam dan membuat papah stroke begitu?"


Dirga mengangguk. "Iya mah, dia orangnya. Dia yang Dirga perjuangkan. Tapi memang hatinya bukan untuk Dirga"


"Ya sudah, memang bukan jodoh kamu. Cari yang lain saja. Eh, tapi kamu sudah tidak ada rasa kan sama Laras? Mamah tidak mau kamu menjadi perusak hubungan orang nak"


"Mamah tenang saja. Dirga sadar diri kok mah. Dirga dibandingkan Aa'? Jauh lah mah, bagai langit sama bumi. Agama kami juga berbeda. Jadi tidak akan mungkin kami bersatu"


"Syukurlah kalau kamu mengerti. Budhe Aini sudah banyak membantu keluarga kita nak"


"Iya-iya mamahku sayaaang, tidak usah khawatir" ucap Dirga sambil melempar senyum.


"Ya sudah, cepetan minumnya. Mamah menemani mereka dulu"


"Iya mah"


Tante Meli menemui Duta dan Laras yang duduk di ruang tamu.


"Memang bukan jodoh, mau dipaksa kayak apapun tidak akan aku genggam. Huft. Mari berdamai dengan masa lalu Dirgaaa, fokus untuk kesembuhan papah" ucapnya tersenyum dan mengantarkan minuman itu.


Sedangkan di ruang tamu, Laras dan Duta sama-sama diam. Tidak tahu apa yang harus diungkapkan. Lebih tepatnya, mau mulai darimana?. Tante Meli datang dari arah belakang.


"Kok pada diem siiih? Itu ada cemilan, dimakan atuh. Minumannya baru dibuatkan Dirga"


"Iya tante, terima kasih. Oh ya tante, Dirga berangkat ke Magelang kapan?"


"Besok katanya. Kalian masih lama di Bandung?"


"Kami besok juga kembali ke Magelang tante. Honeymoonnya sudah selesai. Nanti Dirga satu rumah sakit sama Laras te" sahut Duta.


"Oh ya? Tante titip Dirga ya Duta, kalau nakal jewer saja yang kenceng sampai telinganya merah"


Dirga datang dengan membawa minuman. "Dirga sudah besar seperti ini masa iya dijewer sih maaaah. Malu atuh"


Obrolan mengalir begitu saja. Laras hanya diam mendengarkan cerita tentang keluarga itu.


.


.


.


Like


Vote


Komen

__ADS_1


Tip


__ADS_2