Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Lamaran (3)


__ADS_3

Pagi itu mereka bersiap untuk pulang, pesawat mereka akan terbang pukul 10 pagi. Laras dengan cepat mengepak barang-barang mereka. Memastikan tak ada yang tertinggal.


"Sudah semua yank?" tanya Duta.


"Sampun bang, kita naik taksi kan? Sudah pesan taksi online nya?"


"Gak jadi naik taksi, kita diantar pakai mobil travel"


"Waaah, baik sekali mereka. Alhamdulillah. Mau sarapan disini atau nanti di bandara bang?"


"Bandara saja, sudah siap semua kan?" tanya Duta lagi sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Sudah, abang kenapa sih? Ayo turun dan check out"


"Hmmm, liburannya sudah selesai. Padahal abang masih pengen berdua-duaan sama kamu. Berat rasanya mau pulang ke Magelang. Maunya honeymoon terus"


"Hahaha. Nanti kan bisa honeymoon lagi kalau ada waktu libur"


"Kamu pengen honeymoon kemana lagi? Ke Korea gimana?"


"Yakin ngajak aku ke Korea? Nanti kalah saing sama oppa-oppa disana cemburu lagi. Orang sama sepupu sendiri aja kayak begitu apalagi ini yang lebih bening dan kinclong"


"Wes wes wes, yang penting aku yang ada dihatimu. Bukan mereka para yang lain. Eh, abang lupa tanya Dirga. Dia sampai Jogja jam berapa. Tak telpon dulu deh" Duta melepas pelukannya dan menelpon Dirga.


Laras mendorong koper-kopernya keluar kamar dan segera memakai sepatunya. "Oke" ucap Duta menutup telpon itu.


"Sudah?" tanya Laras.


Duta mengangguk. "Nanti kita nginep di hotel Jogja 1 malam. Dia sampai sana pukul 3 pagi yank"


Laras mengangguk. "Ayo"


"Tunggu" ucap Duta menarik tanga Laras dan mencium bibirnya.


"Abang kenapa sih?" tanya Laras kaget mwndapat ciuman itu.


"Mulut abang lagi hambar, butuh pemanis" terangnya dengan senyum jahil dan menoel pipi istrinya itu.


Laras mencubit perut suaminya itu dan malah menggodanya. "Paling bisaaa kalau suruh godain Laras. Yakin cuma butuh pemanis mulut saja? Gak lebih?"


Duta melihat jam nya. "Masih ada waktu 1 jam sih. Bisa untuk satu ronde" ucapnya dengan senyum devilnya.


"Wooo, jangan. Jangan sekarang maksudnya. Sudah ayo, nanti bisa terlambat"

__ADS_1


"Iya-iya"


Mereka akhirnya check out dari hotel itu. Mereka mendapat bingkisan dari hotel karena telah stay lama disana. Mereka diantar oleh supir penyewaan mobil. Mereka juga mendapatkan bingkisan dari sana. Sungguh berkah honeymoon mereka.


Di bandara mereka memilih untuk sarapan terlebih dahulu. Masih ada waktu 30 menit. Duta mengirim pesan untuk Farid untuk menjemputnya besok jam 3 pagi di hotel x.


"Siap Pak, besok saya jemput di Jogja jam 3 pagi. Doakan acara saya lancar hari ini ya pak. Hari ini saya melamar Ais. Doakan lamaran saya diterima"


Itulah balasan pesan dari Farid kepada Duta. Duta sampai mengerjap-kerjapkan matanya untuk membaca lagi pesan itu.


"Ay"


"Dalem bang (Ya bang)"


"Ais sama bang Farid hari ini lamaran. Kamu tahu gak?" tanya Duta sambil memperlihatkan isi pesan dari Farid.


"Aaaaaa, kak Aiiiiis, kelewatan nih mereka. Masa gak bilang sama kita sih. Awas besok kalau sudah balik" ucapnya sambil menyipitkan mata.


"Tahu gitu kita percepat pulangnya kemarin ya yank?"


"Yakin mau dipercepat? Tadi katanya masih kurang?" goda Laras


"Pinter godain abang ya sekarang" sahut Duta sambil mencubit pipi istrinya.


.


Farid datang bersama ibunya dan keluarga Duta ke rumah Ais. Disana juga ada abi dan umi yang menyambut kedatangan keluarga Farid. Ya, hari ini Farid memenuhi janjinya kepada Ais dan keluarganya untuk melamarnya.


Agus ditunjuk sebagai perwakilan menyampaikan maksud kedatangan keluarga Farid dan rombongan ke rumah Ais.


"Bismillahirrahmanirrahim, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh"


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh" jawab semuanya.


"Saya Agus Wicaksana, hari ini datang ke rumah bapak Wibisana dengan tujuan untuk melamar putri bapak yang bernama Aisyah Wibisana untuk diri saya" canda Agus yang akhirnya mendapat sorakan dari semuanya. Yuna hanya bisa tertawa dengan ulah suaminya.


"Hahahaha, salah-salah. Maksudnya ingin melamar Aisyah Wibisana untuk sahabat saya, yang sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, yaitu Farid Baihaqi. Seperti yang kita dengar, dahulunya mereka memang sudah pernah melakukan ta'aruf tapi mungkin belum waktunya hingga mereka dipertemukan lagi" terang Agus.


"Insyaallah, mas Farid ini orangnya bertanggungjawab pak Wibi, dia selalu bekerja keras. Dan yang penting, gadis yang didekati oleh mas Farid ini hanya mbak Ais. Begitu ya mas Farid?"


Farid hanya mengangguk. "Dia menjadi bujang lapuk begini hanya untuk menunggu mbak Ais. Jadi saya mohon pak Wibi dan keluarga, diterima saja mas Farid ini" imbuh Agus sedikit memaksa.


Semua tertawa dengan ucapan Agus. "Agak maksa ya?" tanya pak Wibi dengan senyuman. "Bismillahirrahmanirrahim, Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh. Saya Wibisana, selaku wali dari anak saya Aisyah Wibisana sungguh tersanjung atas kehadiran semua di rumah kami.

__ADS_1


Saya sebagai ayah dari Aisyah memang sudah cocok dengan Farid dari dahulu, anaknya memang pekerja keras. Tidak suka neko-neko alias dia hanya lempeng saja kesana. Saya kira 7 tahun setelah ditolak dia akan mencari yang lain. Ternyata memang dia jodoh untuk anak saya. Dulu memang ada alasan untuk anak saya menolak. Tapi sepertinya sekarang dia yang selalu ingin dekat dengan Farid. Begitu Ais?" tanya pak Wibi membuat Ais malu.


"Langsung saya tanya saja kepada anak saya, Aisyah, hari ini ada seorang lelaki yang bernama Farid Baihaqi datang ke rumah papah. Dia mengatakan kepada papah lewat wakil keluarganya hendak melamarmu. Menjadikan engkau istrinya. Apakah kamu akan menerima lamaran ini? Atau kau ingin menolak lamaran nya lagi seperti 7 tahun lalu?"


"Ais menerima pah" jawab Ais cepat.


"Alhamdulillaaaaaaaaah" semua mengucap syukur atas jawaban yang diberikan oleh Ais.


"Nak Farid, sudah mendengar ya jawaban Ais? Dia menerimanya kali ini. Mari kita berembug untuk menetapkan tanggal pernikahan mereka"


Akhirnya para lelaki tertua di rumah itu berdiskusi untuk menetapkan tanggal pernikahan Ais dan Farid. Sedangkan yang wanita menyiapkan hidangan yang akan dijamukan untuk makan siang.


"Akhirnya broooo, jadi ipar ku juga. Gak sia-sia dong ya, penantian 7 tahun" ucap Ari menepuk bahu sahabatnya itu.


"Alhamdulillah Ri, haahhahahah. Sekarang tinggal kamu. Kamu mau begini terus? Gita biar berlalu. Cari yang lain Ri, kamu itu mapan, sukses, masih muda pasti lah banyak yang mau"


"Malah aku lagi. Gak usah mikirin aku. Nanti kalau sudah nemu yang tepat tak pikirin lagi mau nikah lagi apa gak"


"Yaaah, masih dipikirin lagi. Memang cewek-cewek di kantormu atau kolegamu tidak ada yang bikir ser-seran?"


"Hahahah, ser-seran. Tau ah, yang penting adek ku sudah menemukan jodohnya. Aku gampang"


"Berarti sudah move on dong dari Gita?"


"Sudah, buat apa mengharap yang sudah menyakiti? Dia milih jalannya begitu ya sudah. Mau diapakan lagi" ucap Ari sambil tersenyum kecut.


"Sabar bro, semua yang kita perbuat akan dicatat oleh Allah. Kita kan juga tidak tahu rumah tangga Gita sama Arman sekarang bagaimana?" Farid menguatkan sahabatnya itu.


"Urusan mereka mau bahagia atau tidak. Aku sudah tidak mau ambil pusing. Yang penting sekarang mengembangkan bisnis"


"Sip lah"


Akhirnya lamaran Farid untuk Ais diterima. Mereka selesai berembug. Hari pernikahan mereka akan dilangsungkan satu bulan kedepan. Akad dan resepsi akan digelar dikediaman pak Wibisana.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2