Larasati & Pak Bupati

Larasati & Pak Bupati
Kado


__ADS_3

Setelah acara ditutup oleh Nujma, mereka semua bercanda. Duta berkumpul dengan para sahabatnya. Laras hanya diam dan menemaninya.


"Dutaaaaaaaa" mereka memeluk Duta bersamaan.


"Lepasin Wis, sesek aku nya. Ora iso ambegan. Hah hah" ucap Duta kepada Wisnu.


"Sing meluk wong telu kok sing disalahke aku. Huhuhu sedih aku" jawab Wisnu.


"Iya kita memang meluk, tapi yang bikin sesak kan kamu Wis" timpal Bayu.


"Hahahah, kalian apa kabar?" tanya Duta lagi.


"Kami alhamdulillah sehat. Kamu itu yang susah banget diajak kumpul" sahut Candra.


"Hahaha, mohon maklum. Aku juga pengennya kumpul bareng, tapi tahu sendiri lah"


"Kamu sama Rama gimana? Dia masih marah atas kejadian meninggalnya Dini?" tanya Wisnu serius.


"Aku sudah mencoba menjelaskan tapi yaaaa begitulah. Gak tahu lagi harus gimana"


Ya, Rama adalah sahabat Duta. Rama juga adalah kakak Dini. Orang yang sampai saat ini masih tidak bisa menerima kematian adiknya itu. Menurutnya kematian adiknya adalah hal yang disengaja dilakukan.


Duta sudah mencoba menjelaskannya. Yang menjadi korban adalah dirinya dan Dini. Sopir truck yang menjadi tersangka. Tapi Rama masih tidak bisa menerima kepergian Dini yang untuk selama-lamanya.


Laras hanya mendengarkan percakapan mereka hingga Duta memperkenalkan Laras kepada para sahabatnya itu.


"Ay, sini. Kenalkan. Ini sahabat abang. Yang gendut tukang makan ini namanya Wisnu, yang punya mata empat tukang tidur ini namanya Candra, yang dulu pake behel gigi ini si playboy namanya Bayu"


"Hai mbak Laraaaaass, assalamualaikum?" sapa mereka bertiga sambil melambaikan tangan ke arah Laras.


"Hahahah, waalaikum salam. Mereka lucu ya bang, selalu kompak" jawab Laras tertawa lepas.


"Ooo jelas mbak. Kami ini trio mobat mabit" jelas Bayu.


"Kok bisa?" tanya Laras penasaran.


"Iya, saya yang sibuk makan, dia yang kekenyangan. Kekenyangan ngegombalin cewek. Bayu yang sibuk ngegombalin cewek, Candra yang mabuk kepayang sampai pingsan bablas tidur. Hahaha" terang Wisnu.


Sontak membuat Laras tertawa. "Hahahaha, mereka lucu ya. Ada orang begini ya. Sudah punya anak berapa mas mas nya ini?"


"Alhamdulillah mbak, 1 anak 2 istri" ucap Candra.


"Ngawur kalau pada bicara" timpal Duta sambil menyikut perut Candra.


"Maksudnya nomor 1 anak nomor 2 istri ngunu lho Dut. Ojo salah resepsi dulu"


"Gundulmu resepsi, persepsi" sahut Bayu.


"Opo?" tanya Candra.


"Per sep si, persepsi" ucap Bayu

__ADS_1


"Per sep si, resepsi. Alah mbuh, kuwi lah pokoke" jawab Candra.


"Dia memang begitu mbak Laras. Suka susah ngomong yang bahasa tingkat dewa. Maklum lidahnya pendek. Hahahahh" ucap Wisnu.


"Nanti kapan-kapan ikut kumpul sama istri kami mbak. Kami punya grup arisan kok. Ada istrinya Rama juga. Nanti bisa saling kenal" terang Bayu.


Laras.mengangguk. "Insyaallah, kalau diijinkan bang Duta. Hehehehe"


"Besok jam 9 pagi kalian sama keluarga kalian ikut jadi pengiring ku menanyakan Laras ya"


"Siap bos!" ucap mereka kompak lagi sambil memberi hormat. Membuat Laras semakin terpingkal-pingkal melihat tingkah mereka.


"Hahaha, wes ayo podo muleh, bojo mu ngenteni awakmu ning omah" ucap Duta membubarkan trio mobat mabit itu.


Mereka semua keluar gedung. Laras melihat mobilnya masih ada di parkiran. Itu tandanya Ais belum pulang.


"Bang, aku ke mobil sebentar. Kak Ais masih nunggu ternyata" Duta mengangguk. Laras segera menuju mobil.


Laras mengetuk kaca mobil. Ais yang masih sibuk dengan game nya segera melihat siapa yang mengetuk.


"Sudah?" tanya Ais sambil menurunkan kaca mobil.


"Sudah, kakak masih nungguin aku?" tanya Laras ganti.


Ais keluar dari mobil dan mengobrol dengan Laras. "Kakak malas pulang sebenarnya. Tapi malas pula mau ke RS. Capeeeek"


Duta mendekati mereka dan menyapa Ais. "Assalamualaikum mbak Ais"


Laras segera mengambil kado itu dan diberikan kepada Duta.


"Apa nih?" tanya Duta.


"Buka aja" jawab Laras cepat.


Duta membuka bingkisan itu, ternyata isinya parfum yang biasa dipakai oleh Duta. Duta tersenyum dan menautkan alisnya.


"Kok tahu parfum kesukaan abang? Tanya mamah ya?" selidik Duta kepada Laras.


"Gak lah, coba-coba tebak aja. Mengingat wanginya dan menyamakannya dengan yang ini. Hehehe"


"Emang kamu pernah nyium wangi parfum pak Duta? Kapan?" tanya Ais bingung.


Laras gelagapan ingin menjawab apa. Dia hanya nyengir. "Pulang yuk, udah malam. Abang pulang sendiri ya. Aku nyetirin kak Ais, dia capek katanya"


"Weh, kata siapa capek. Gak kok kakak gak capek. Sudah sana pulang sama pak Duta. Mobil kamu kakak bawa pulang ke rumah ya" terang Ais berbohong.


"Eh, bentar mbak Ais. Ini sudah malam, bahaya pulang sendirian. Saya telpon seseorang dulu" Duta langsung menghubungi Farid.


Setelah menunggu sekitar 10 menit, Farid datang menggunakan setelan casual. Lebih segar dan terlihat agak muda saat mengenakan pakaian bebas seperti itu. Ais langsung kaget saat yang datang Farid.


"Jalan kaki bang?" tanya Duta.

__ADS_1


"Iya pak, kan deket dari rumah kesini. Hehehe"


"Mbak Ais, pulangnya diantar bang Farid ya. Laras biar sama saya. Ya sudah bang, kami permisi dulu ya. Besok jangan lupa jam 9, sama ibu sekalian. Nanyakan Laras" terang Duta. Lalu mereka meninggalkan Ais dan Farid berdua.


"Mau pulang sekarang?" tanya Farid kikuk.


Ais hanya mengangguk dan berjalan ke kursi belakang.


"Kamu kira aku supir kamu? Duduk depan" ucap Farid agak membentak.


Ais sampai kaget mendapati Farid berbicara begitu kepadanya. Biasanya dia bersikap lembut. Ais tak ingin membantah dan berdebat, maka dia menuruti keinginan Farid. Saat akan menyentuh gagang pintu, dengan cepat Farid membukakan pintu untuknya.


"Makasih" ucap Ais datar.


Farid menuju kursi kemudi dan melajukan mobilnya.


"Mau pulang ke rumah sakit atau rumah?" tanya Farid


"Rumah" jawab Ais masih datar. Mereka sekarang dalam keadaan hening.


Ais merasa tidak enak hati kepada Farid. Sudah lah dia diantar pulang tapi masih dingin saja dengan cowok di sampingnya.


"Kenapa tadi gak nolak saja saat disuruh mengantar aku pulang?" tanya Ais memecah keheningan.


Akhirnya, ngomong juga kamu Is. Farid hanya diam tak menjawab.


"Aku lagi ngomong sama kamu ya. Tolong dijawab" ucap Ais lagi. Farid masih diam tak menjawab.


Biarin penasaran kamu sama aku. Aku juga bukan robot yang bisa kamu minta lakuin ini itu tanpa memikirkan perasaan aku. Kamu kira enak apa pura-pura gak kenal? Batin Farid dalam hati.


"Ya Allah, kalau gak ikhlas menepi saja! Biar aku pulang sendiri!" ucap Ais emosi karena diacuhkan oleh Farid


"Bukannya kamu ingin kita pura-pura tidak kenal? Aku hanya menuruti keinginanmu. Dan tolong kalau berbicara dengan orang sebut namanya. Aku juga punya nama. Nama aku Farid Baihaqi" ucap Farid tak kalah emosi.


Ais yang disebelahnya benar-benar tak percaya. Tapi dia berpikir lagi. Memang dia yang salah. Dia yang mulai bersikap dingin seperti es. Jika Farid airnya, dan didekatkan ke es yang beku maka suhunya pun akan mengikuti dinginnya es itu.


"Maaf" ucap Ais sambil menoleh ke Farid.


.


.


.


Like


Vote


Komen


Tip

__ADS_1


Author lagi jreng nih mata sama otaknya. Udah 4x up lho yo. Vote kencengiiiin. Jangan lupa juga, baca TUNANGAN BAYARAN. Happy reading semuanyaaaa 😘😘😘


__ADS_2