
Ara dan Sisil sudah berada di depan rumah Sisil.
"Eh, lo gak mau masuk nih?" Tanyanya karena hanya melihat Ara yang tidak ada pergerakan ingin keluar dari dalam mobilnya.
Ara melongo sebentar menatap keluar kaca mobilnya yang terbuka. Lalu ia pun menggelengkan kepalanya, menolak tawaran Sisil yang mengajaknya masuk ke rumahnya.
Sudah kurang lebih empat tahunan ia tidak berkunjung ke rumah adik dari maminya itu. Meski sebenarnya ia juga sangatlah kangen ingin bertemu dengan Om dan tantenya itu, tapi rasa kangen itu harus ia tahan dulu. Apalagi kalau bukan ia sedang terburu-buru ingin segera pulang. Mungkin sekarang Ziyyan sudah diantar kembali oleh Zayn ke rumahnya.
Sisil sedikit mengerucutkan bibirnya melihat penolakan Ara. Akan tetapi ia segera kembali tersenyum, mengerti kalau Ara mungkin sedang tidak sabar ingin segera pulang menunggu kedatangan Ziyyan.
"Oke dah. Gue masuk ya?" Sisil mulai keluar dari mobil yang ditumpanginya.
"Entar kalo Ziyyan sudah pulang, jangan lupa bawa main ke rumah. Pasti mama sama papa senang lihat anak lo." Sisil masih menyapanya dari luar mobilnya.
Ara hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.
"Makasih ya, udah anter gue pulang." Sisil pun tersenyum ramah sambil melambaikan tangannya.
"Apaan sih, kayak kita orang lain aja!" Ara terkekeh melihat Sisil yang menurutnya sedikit lebay.
Mereka pun akhirnya sama-sama melempar senyum termanisnya. Dan tak lama setelah itu mobil yang dibawa Ara telah benar-benar melaju pergi dari area rumah Sisil.
Wanita itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Meski sebenarnya ia juga bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi agar bisa segera sampai ke rumahnya, akan tetapi kali ini ibu muda itu harus lebih berhati-hati. Ia tak mau celaka atau mati konyol karena kecerobohannya, karena ia masih ingin melihat senyum bahagia Ziyyan hingga pada masa dewasanya kelak.
Setelah sekian menit berlalu lalang di keramaian ibu kota yang terkenal macet, akhirnya Ara telah sampai lagi di rumahnya. Wanita itu segera turun dari mobilnya. Sudah sangat tidak sabar ingin menemui anaknya yang ia duga Zayn telah membawanya kembali.
"Mami!"
Ara dibuat kaget oleh keberadaan Viona yang tiba-tiba muncul dari dalam ruang kerja Haris. Setahunya, meski Viona adalah nyonya di rumah tersebut, Ara tidak pernah melihat papinya itu membiarkan siapa saja masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa seijinnya. Termasuk Ara dan juga Viona.
Viona memasang muka sebal memandang kepada Ara, ia masih berdiri mematung didepan pintu ruang privasi milik suaminya.
Ara menggeser jaraknya lebih mendekat kepada Viona. "Mami kenapa bete begitu?" Tanyanya sambil menyentuh lengan maminya.
"Ck!" Viona hanya berdecak kesal. Entah apa yang membuatnya berkerut kening sekarang.
"Ziyyan di mana, Mi?" Wanita itu tolah-toleh melihat keadaan rumah yang sepi.
"Itu dia masalahnya!" Viona menyahut sebal.
Viona melangkah lebar menuju sofa di ruang tamunya kemudian langsung duduk di sana sambil tetap menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya.
Ara ikut duduk bersama Viona. Wanita itu mencoba menenangkan perasaan maminya meski perasaannya sendiri sedang tak karuan.
"Jadi sebenarnya Zayn itu ayahnya Ziyyan?"
Ara tertunduk mendengar pertanyaan maminya itu. Semalas bagaimana pun ia mendengar bahasan tentang Zayn, akan tetapi pria itu memang mantan masa lalunya. Dan memang dialah ayah biologis dari Ziyyan.
"Huuuft...." Terdengar helaan nafas panjang berhembus dari Viona saat melihat Ara yang hanya terdiam.
__ADS_1
Sebenarnya Viona masih sangat shock saat Haris baru saja memberitahunya tentang siapa Zayn yang sebenarnya. Meski dalam lubuk hatinya ia masih sulit menerima kenyataan itu, akan tetapi ia harus bisa menerimanya. Apalagi jika teringat tentang video yang sudah menyebar luas itu.
.
.
Satu jam sebelum kedatangan Ara ke rumahnya.....
Haris masuk ke rumahnya dengan raut wajah yang sangat stress. Sebelah tangannya menjinjing tas kantornya, sedang sebelahnya lagi mengepal dengan begitu erat.
Viona yang saat itu sedang duduk santai sambil membaca surat kabar terbitan hari ini di ruang tamunya, tentu dapat melihat jelas raut wajah suaminya itu.
"Vi, kita perlu bicara," sapanya sambil lalu melangkah masuk ke dalam ruang kerja atau ruang privasi milik Haris.
Viona menyudahi bacaannya, ia masih menatap heran pada suaminya yang sudah masuk ke dalam ruang kerjanya. Masalah apa lagi ini?
Viona tak segera menyusul suaminya itu. Sebab ia masih merasa sebal kepadanya dan tentu juga sedang berasumsi dengan pikirannya sendiri. Tentu suaminya itu mengajaknya berbicara serius pasti masalah perjodohan Ara dengan calon pilihannya itu. Jika benar mau membahas itu, Viona sudah merasa malas duluan.
"Vi!" Haris kembali memanggilnya dengan menyembulkan kepalanya sedikit dari balik pintu ruang kerjanya.
Akhirnya Viona pun beranjak berdiri menuruti panggilan suaminya. "Awas saja kalau masih keras kepala mau jodohin Ara sama orang itu!" Gerutunya dalam hatinya saja.
Tak lama kemudian Viona sudah berada di ruang privasi milik Haris. Ini baru ketiga kalinya ia menginjakkan kaki berada di ruangan ini, meski ia sudah menjadi nyonya Haris selama dua puluh enam tahun di sini, Viona tak pernah berani masuk ke ruangan ini tanpa seijin dari suaminya.
Viona melihat Haris tengah berkutat dengan ponselnya. Pria itu sedang duduk di sofa dengan wajah yang sangat serius menatap sebuah video dari ponselnya itu.
"Kemarilah, Vi!" ajaknya saat mengetahui istrinya sudah berada satu ruangan dengannya.
"Itu Sisil kan?" Tanya Viona tak percaya.
Haris hanya mengangguk. Sedang matanya masih menatap tajam pada video yang Wisnu berikan padanya.
"Aaaaahhh????"
Mulut Viona menganga tanpa sadar begitu menyadari bahwa lelaki yang di tampar oleh Sisil itu adalah ayah kandung dari cucunya.
"Dia kan?" Viona masih tak percaya dengan wajah lelaki yang berada di video tersebut.
"Bukankah dia yang mau di jodohkan mas Haris untuk Ara?" Bathinnya mulai bertanya-tanya.
Haris menyudahi memutar video yang sangat membuatnya marah hari ini. Bagaimana tidak, ia yang sengaja datang bekerja ke kantornya setelah lama tidak ngantor karena sakit kemarin, harus menerima kabar buruk dari Wisnu karena adanya video tersebut.
Karena video itu sudah terlanjur menyebar, dan juga beberapa dari koleganya ada yang mengenali wajah Zayn sebagai COO dari Rahardian Group, tentu sebagian relasinya itu memutuskan kerjasama dengannya hari ini. Dan hal itulah yang membuat Haris sangat stress sekarang.
Haris menyandarkan tubuhnya di sofa berwarna maroon itu. Terdengar helaan nafas beratnya keluar berulang-ulang darinya yang sedang berpikir sendiri dengan pikirannya.
"Kamu sudah mengerti kan, kenapa aku keras kepala sekali ingin menjodohkan dia dengan Ara?" Tanyanya sambil menatap lekat kepada Viona yang masih terlihat sangat shock dengan apa yang dilihatnya baru saja.
"Jadi dia itu memang benar ayah kandungnya Ziyyan?" Viona balik bertanya, dan Haris mengangguk yakin.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu tahu itu? Kenapa kamu tidak terus terang sama aku kalau calon pilihanmu itu adalah lelaki yang pernah merusak masa depan Ara?" Viona mulai mencercanya dengan berbagai pertanyaan sekaligus rasa kecewa karena selama ini suaminya itu menyimpan rahasia itu sendiri.
"Ceritanya panjang, Vi." Haris meraih tangan istrinya untuk ia genggam.
"Kalau kamu sudah tahu kalau laki-laki itu tidak bertanggung jawab dengan anak kita, kenapa kamu menyetujuinya, Mas? Kenapa kamu malah semakin berkeinginan menjodohkan mereka?"
"Viona," Haris semakin mengeratkan genggaman tangannya. Ia menatap lekat netra istrinya yang mulai berkaca-kaca, lalu setelahnya Haris pun perlahan menceritakan semuanya. Dari awal ia mengetahui keberadaan Zayn, hingga sampai kejadian di kantornya hari ini, semua Haris ceritakan tanpa ada kebohongan sedikitpun.
Viona mendengus pasrah setelah mendengarkan semua cerita dari suaminya itu.
"Trus, apa rencanamu setelah ini, Mas?" Tanyanya sudah semakin pasrah dengan keputusan suaminya setelah ini.
"Aku berencana akan menikahkan mereka secepatnya." Haris menyahut yakin.
"Apa?!" Viona melotot tak percaya.
"Kalau kita tidak segera menikahkannya, akan bertambah banyak omongan miring dari orang-orang, Vi. Belum dari rekan kerja, keluarga besar kita, beban mental yang akan ditanggung oleh cucu kita." Haris menghela nafas panjang lagi.
"Dari ceritaku tadi apa kamu masih ragu menikahkan anak kita dengan Zayn?"
Haris memang juga telah menceritakan kepada Viona tentang kerja keras Zayn selama bergabung dengan Rahardian Group yang sangat bisa di andalkan. Meski lebih tepatnya berada dibawah tekanan yang ia buat untuknya, semata untuk balas dendam di awal ia mengetahui siapa orang yang telah merusak masa depan putri semata wayangnya itu.
"Baiklah!" Viona menyahut sedikit pelan.
Terukir senyum mengembang dari sudut bibir Haris karena istrinya telah menyetujui dengan rencananya itu.
"Tapi aku gak rela ya, Mas, kalau suatu saat perusahaan kita kamu atasnamakan ke dia!" Viona masih memasang muka cemberutnya.
"Itu tidak mungkin lah, Sayang." Haris menangkup pipi Viona, kali ini mereka terlihat seperti pasangan muda yang sedang merajuk.
"Kali aja kamu kelewat sayang sama dia. Kamu sendiri kan yang bilang kalau anak kita sudah tidak bisa diandalkan menangani perusahaan kita. Kamu juga bilang kalau cuma dia satu-satunya yang bisa kamu percaya untuk melanjutkan perusahaan kita."
Haris hanya bisa tertawa renyah mendengar ocehan istrinya yang seakan menduga ia akan menjatuhkan aset perusahaannya atas nama Zayn.
"Viona sayang. Ara kita memang sudah terlanjur putus sekolah. Tapi kita punya generasi penerus, kita punya Ziyyan sebagai pengganti Ara, pewaris perusahaan kita. Percayalah dengan ucapanku, Zayn bukan orang penggila harta atau jabatan. Aku yakin dia tidak akan masalah dengan kita mengatasnamakan Ziyyan sebagai penggantiku."
Mendengar ucapan Haris yang demikian tentu Viona sudah merasa lega. Seakan ia telah terlupa dengan rencananya sendiri yang ingin menjodohkan Ara dengan Keanu.
Seketika Haris merengkuh tubuh Viona ke dalam pelukannya.
"Tunggu, Mas!" Viona tiba-tiba melepas pelukan suaminya itu.
"Aku mau keluar. Aku mau menunggu Ziyyan." Viona pun mulai beranjak berdiri.
"Kamu telpon dong ayahnya Ziyyan itu, tanyakan kenapa Ziyyan masih belum dibawa pulang," pinta Viona kepada Haris.
"Biarkan dia lebih lama lagi bersama anaknya." Haris kembali sibuk dengan gawainya. Ia berencana akan menghubungi Wisnu untuk secepatnya bisa menyelesaikan masalah video yang sudah terlanjur tersebar itu.
Lagi-lagi Viona cemberut melihat suaminya yang terkesan cuek dengan permintaannya itu. Ia pun akhirnya memilih keluar dari ruangan tersebut untuk bisa menyambut kedatangan cucunya, jika jadi diantar oleh Zayn hari ini.
__ADS_1
*