
Pria itu terlihat dengan lihainya menyiapkan olahan nasi goreng menu khas andalannya. Dua orang yang tengah duduk di meja makan itu masih terus memperhatikannya. Terlihat Ziyyan yang seakan sudah tak sabar lagi untuk segera menyantapnya. Sedangkan wanita itu ia pun tak terasa kembali terngiang akan masa-masa mereka berpacaran dahulu. Tak dipungkiri jika ia terbilang sering memakan nasi goreng buatannya itu, disaat ia sedang berkunjung ke rumahnya dulu.
"Iiish...." Ara menepuk jidatnya sendiri begitu menyadari bahwa ia kembali terbuai dengan nostalgianya itu.
"Bunda kenapa?" Ziyyan yang kebetulan duduk disampingnya menanyakannya heran.
"Pusing!" Jawab Ara sekenanya.
Lantas ia kembali memandang kepada Zayn yang rupanya sudah mendekat kepada mereka sambil membawa satu piring cukup besar berisi nasi goreng buatannya.
"Nasi goreng sudah siap!" seru Zayn sambil meletakkannya di atas meja makan tersebut.
"Hmmmm....." Ziyyan sampai terpejam sambil menghirup aroma wangi khas nasi goreng.
"Yuk, kita makan!" Tangan Zayn sudah bersiap memegang sendok di tangannya.
Rupanya Zayn sengaja menaruh tiga sendok diatas piringnya. Pria itu tentu ingin mengajak mereka makan bersama dalam satu wadah. Sebuah moment yang bisa menciptakan kebersamaan antara mereka dan tentu akan sangat menyenangkan baginya.
"Kak, kita harus bicara!" Tiba-tiba Ara bersuara.
Zayn menatapnya sekilas. "Kita makan dulu, mumpung masih panas," tolaknya secara halus.
"Kita harus bicara sekarang!" Nada bicara Ara penuh penekanan.
Kemudian Zayn mengurungkan makannya. Beralih ia memandang Ziyyan yang rupanya sedang memperhatikan mereka. Ia pun kemudian tersenyum kepadanya sambil mengusap kepalanya penuh kasih.
"Ziyyan makan sendiri bisa kan? Ayah sama bunda masih ada urusan sebentar," ucapnya begitu lembut.
Bocah itu langsung mengangguk begitu menurut. Lantas kemudian ia pun memulai makannya sendiri meski tanpa ditemani kedua orangtuanya. Beralih kepada Zayn yang seakan menuntun wanita itu melangkah mengikutinya masuk ke kamarnya lagi.
Ceklek.
Pintu kamar itu sudah tertutup dan Zayn sengaja menguncinya.
Ara terlonjak kaget melihat Zayn yang demikian. Pikirannya pun sudah tak karuan kemana-mana, sebab semalam saja pria itu berhasil mencuri ciumannya. Dan bagaimana kalau sekarang ia akan berbuat yang lebih lagi.
"Kenapa pintunya dikunci?" Wanita itu bertanya sedikit gugup, terlihat jelas dari mimik mukanya yang sedikit berubah.
"Kalau nanti tiba-tiba Ziyyan masuk gimana?" Jawabnya enteng.
__ADS_1
Pria itu malah memilih duduk di ranjangnya. Lalu ia menepuk disebelahnya. "Kemarilah! Bukannya kamu mau bicara sesuatu kan?" Ajaknya.
"Tidak! Di sini saja!" Ara langsung menolak ajakan Zayn yang mengajaknya duduk berdampingan.
Wanita itu tetap berdiri di tempat semula. Ia memandang curiga pada pria yang menatapnya penuh seringai. Bagaimana nanti jika pria itu berbuat macam-macam kepadanya? Berbagai pikiran negatif tiba-tiba memenuhi benaknya sekarang.
Zayn menghela nafasnya, lantas ia melangkah mendekat kepada Ara lagi.
"Apa yang mau kamu bicarakan?" Zayn berucap sambil menatap lekat tepat di netra wanita itu. Sorot matanya pun seakan berubah dingin terhadapnya.
Sejenak Ara menelan salivanya sendiri. Bagaimana mungkin ia kembali merasakan getaran yang hebat begitu pria itu bermuka dingin terhadapnya.
Sebisa mungkin Ara mencoba biasa-biasa saja, meski tak dipungkiri ada rasa aneh yang tiba-tiba saja mengusik ketenangan hatinya. Wanita itu menghela nafasnya begitu kasar. Ia sudah memantapkan niatnya untuk bisa mengatakan uneg-unegnya itu.
"Ku mohon jangan ganggu hidupku lagi. Aku yakin kamu masih ingat ucapanku semalam itu kan?"
Zayn hanya berpura-pura mengingat kembali didepannya. Siapa juga yang tak ingat kalau semalam wanita itu memintanya untuk menjauhinya? Bahkan rasa sakit hatinya itu kembali menusuk tiap kali teringat permintaannya itu.
"Kita sudah sama-sama dewasa. Tentu kamu tahu bagaimana rasanya harus kembali berada dengan masa lalu yang begitu pahit. Aku tidak ingin kembali ke masa itu. Aku tidak mau mengulangnya dengan orang yang pernah melukaiku."
"Kamu tidak bisa semudah itu ingin menghindar dariku, Ra." Zayn berucap sambil memegang kedua pundak wanita itu.
Ara mengibas tangan Zayn yang memegangi pundaknya. Wanita itu tersenyum getir menatap kepadanya.
"Jangan kau bawa-bawa Ziyyan. Kau jangan memanfaatkan keberadaan anak itu!" Ara berkata penuh penekanan.
"Hampir empat tahun hidupku sudah tenang dengan Ziyyan. Karena kedatanganmu, dia jadi anak tidak patuh lagi. Entah sudah kamu racuni apa saja pikirannya dia?! Selama ini aku baik-baik saja meski Ziyyan hidup tanpa kamu. Ziyyan tidak butuh kamu!!" Wanita itu semakin menumpahkan segala uneg-unegnya selama ini sambil berderai air mata.
"Jangan menangis, Ra. Ku mohon jangan menangis lagi." Seketika Zayn merasa semakin bersalah melihat Ara yang rupanya masih belum bisa memaafkannya sepenuhnya.
"Ku mohon, Ra. Aku nggak sanggup harus jauh dari kamu lagi, apalagi sama Ziyyan." Bendungan air mata itu terlihat mengembun di mata Zayn.
Namun yang ada wanita itu terus menggeleng, seakan telah tak sudi lagi meski sekedar sesaat bersamanya.
Dadanya seakan bergemuruh tiap mendengar permohonan wanita itu. Apalah daya dia juga tidak boleh egois. Jika memang itu permintaannya yang bisa membuatnya lebih tenang dan bahagia, tentu ia akan berusaha mengabulkannya. Meski hati dan perasaannya yang harus ia korbankan.
"Baiklah kalau itu maumu." Zayn memilih menyeka air matanya yang hampir menyeruak. Ia sudah putus asa, tak tahu harus bagaimana lagi caranya agar wanita itu bisa memaafkannya dengan tulus.
"Aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku tidak akan menemuimu lagi. Tapi ku mohon kau jangan larang aku untuk menemui Ziyyan. Dia juga anakku!"
__ADS_1
Yah, menjauh. Mungkin ini adalah satu-satunya cara agar mereka bisa kembali intropeksi diri dalam menjalani sikapnya, demi kebahagiaan buah hatinya.
Pria itu sudah dibuat patah hati olehnya. Tentu ia harus kuat menahan sakitnya dipaksa menjauh dari orang yang begitu dicintainya. Akan tetapi ia harus tetap kuat. Ini demi Ziyyan. Dan semoga saja anak itu nanti akan menjadi perantara mutlak sebagai pengerat hubungan orangtuanya yang harus begini jalannya.
Zayn melangkah pergi dari kamarnya. Ia meninggalkan wanita itu begitu saja tanpa mau menoleh lagi kepadanya. Bukan ia tega, ia hanya takut tak sanggup menahan air matanya sendiri disaat kembali menatap wanitanya yang sedang menangis tersedu.
"Waah... anak ayah rupanya sudah pintar makan sendiri ya?" Zayn langsung menyapa Ziyyan yang terlihat telah selesai dengan sarapannya, meski terlihat sedikit morat marit di mejanya.
Pria itu meraih tubuh Ziyyan kemudian memangkunya. Ia ciumi pucuk kepala anak itu hingga berulang-ulang. Sebulir tetes air matanya rupanya berhasil lolos dari pelupuk matanya.
"Maafkan ayah, Ziyyan. Maafkan ayah," rintihnya sedih.
"Ayah kenapa?" Tanyanya saat mendengar suara ayahnya yang parau.
"Ayah pilek, Nak, makanya ayah menangis karena kepala ayah pusing." Pria itu harus pandai-pandai menutupi luka hatinya demi mental anaknya juga.
"Ayah sudah minum obat?" Tanyanya seakan percaya.
Zayn hanya mengangguk. Pria itu lantas mendekap tubuh bocah itu begitu eratnya. Rasanya ia ingin lebih lama lagi bersama dengannya, andai tidak begini keadaannya.
"Ziyyan." Tiba-tiba Ara sudah muncul dari arah belakang mereka.
Bocah itu menoleh, begitu juga dengan Zayn. Tapi tatapan Zayn kali ini sudah berbeda. Ia terlihat membuang muka ke arah lainnya saat wanita itu tak sengaja menatapnya juga.
"Ayo kita pulang!" ajaknya lagi.
"Pulanglah! Lain kali ayah main lagi ke rumah Ziyyan." Sepintas bocah itu menatap seolah tak percaya dengan yang diucapkan ayahnya.
"Ayah janji!" Zayn mengangkat jari kelingkingnya, kemudian diikuti oleh Ziyyan yang mengaitkan jari kelingkingnya juga.
"Ayo, ayah antar sampai depan pintu." Pria itu turut mengantar Ziyyan yang masih berada dalam dekapannya.
Ceklek.
Pintu apartemen itu telah terbuka lebar. Tak menunggu lama Ara dan Ziyyan telah benar-benar pergi dari sana. Bocah itu pergi sambil terus melambaikan tangannya pada Zayn yang terus memandanginya hanya dari pintu saja.
Tanpa mereka sadari ternyata ada sepasang mata yang menyorotnya tajam tanpa setahu mereka.
Siapakah dia?
__ADS_1
*