
"Ara?"
Mata Zayn tak sengaja melihat wanita yang sedang dibicarakan bersama Tommy sedang masuk ke restoran yang mereka datangi. Ara datang bersama Ziyyan dan juga ibu Narsih. Terlihat wanita itu sudah mulai duduk di tempat yang paling ujung, sedangkan Ziyyan dan Narsih pergi ke arah toilet umum.
Wanita berkacamata hitam itu masih belum menyadari kalau Zayn juga berada di tempat yang sama dengannya. Tommy pun juga tidak tahu kalau Ara juga berada di restoran itu, sebab selain posisi duduknya memang membelakangi tempat Ara berada, Zayn juga tidak terlalu nampak gelisah melihat kedatangan Ara. Pria itu tetap terlihat tenang hingga Tommy sama sekali tidak menyadari kalau sahabatnya itu sedang curi pandang dengan Ara.
"Eh, Zayn, gue cabut dulu ya," pamitnya yang kemudian langsung berdiri menghalangi pandangan Zayn kepada Ara.
Dan Zayn hanya mengangguk tanpa menanyakan kenapa Tommy terburu-buru pergi.
Melihat Tommy sudah benar-benar pergi Zayn pun memilih pindah tempat duduk agar lebih dekat sedikit dengan posisi Ara berada. Zayn tahu kalau Ara juga sudah melihat keberadaannya, terlihat dari pergerakan tangannya yang tak tenang sambil membetulkan kacamata hitam yang dipakainya berulang-ulang.
Diam-diam pria itu hanya menyunggingkan senyum tipisnya tanpa mau mempedulikan lagi keberadaan wanita itu. Matanya disibukkan dengan gawai yang dipegangnya, pria itu sengaja mendiami wanitanya yang mulai terlihat gelisah karena keberadaannya.
"Kok bisa ketemu dia lagi sih?" Wanita itu menggerutu sendiri dan mulai sedikit salah tingkah.
"Jakarta seluas ini kenapa harus ketemu dia disini?" Protesnya lagi.
"Apa dia nggak tahu kalau aku juga disini?" Batinnya pun bertanya-tanya karena melihat Zayn yang hanya cuek tanpa menyapanya, padahal tadi tatapan mereka sempat bertemu pandang walau sesaat.
"Yah, mungkin dia emang nggak tahu kalau aku disini." Wanita itu menduga kalau penyamarannya yang sedang menggunakan kacamata hitam cukup berhasil. Padahal sebenarnya kacamata itu hanya untuk menutupi matanya yang sembab saja.
Ara kembali gelisah karena Ziyyan dan Narsih tak kunjung datang dari toilet. Sebenarnya ia bisa menyusul mereka di sana, hanya saja ia takut pria itu nanti akan semakin menyadari keberadaannya.
Melihat Ara yang semakin tak tenang, Zayn hanya mengulaskan senyum kecilnya diam-diam.
"Mungkin benar, kita harus begini dulu, Ra. Aku ingin lihat seberapa kuat kamu dengan permintaanmu itu. Aku tidak akan memanfaatkan Ziyyan seperti ucapanmu. Kamu sendiri nanti yang akan datang mencariku." Bathin Zayn berkata sambil menatap lekat pada Ara dengan sengaja.
"Sial! Rupanya dia tahu kalau aku disini juga." Wajah Ara langsung tertunduk sambil pura-pura membaca buku menu yang teronggok di mejanya.
Zayn kembali tersenyum tipis. Pria itu semakin geli dengan keputusannya yang memilih mendiami wanitanya hingga sampai berhasil memancing perasaannya kembali.
Tiba-tiba dering ponsel Zayn berbunyi. Pria itu semakin melebarkan senyumnya disaat mengetahui siapa yang sedang menghubunginya.
"Abang, aku udah di depan pintu apartemen nih. Abang masih kemana?"
Ternyata Cinta, adik perempuan Zayn yang sedang menghubunginya.
"Iya, tunggu sebentar dulu, abang masih di luar." Pria itu terpaksa harus segera pergi dari tempatnya dan sengaja memilih lewat di sebelah Ara berada.
"Awas jangan lama-lama loh." Suara Cinta terdengar sedikit mengancam.
__ADS_1
"Iya, sayangku.... Nggak sabaran amat sih. Nih aku udah dijalan. Tunggu ya."
Pria itu menghentikan langkahnya saat tepat berada di sebelah Ara dan sengaja mengeraskan suaranya.
"Kamu mau aku belikan apa? Ini mumpung aku ada diluar," katanya lagi, masih berada disamping Ara duduk.
"Terserah Abang. Pokoknya abang cepet balik!" Gadis diseberang sana tentu merasa sedikit gelisah karena memang kondisi sekitar apartemen Zayn yang amat sepi.
"Kenapa tidak langsung masuk aja sih, Yang? Bukannya kunci duplikatnya kamu juga punya?" Pria itu semakin membual dengan dramanya sendiri.
"Iih, Abang ngomong apaan sih? Kesambet? Geli aku dengarnya manggil sayang sayang nggak jelas. Udah! Pokoknya cepat balik, nggak pake lama!"
Cinta langsung menyadari obrolan Zayn yang memang sengaja dibuat seperti itu. Makanya ia pun memilih menyudahi saja dari pada bertambah geli mendengar gaya bicara Zayn yang seperti sedang merayu kekasihnya saja.
Zayn pun menyudahi obrolannya juga sambil menyunggingkan senyum nakalnya. Sebelum benar-benar pergi ia menoleh sekilas pada wanita disebelahnya yang pasti juga mendengar obrolannya itu.
Jangankan senyum hangat yang akan Ara dapatkan dari Zayn. Tatapan dinginnya itu yang kembali ia dapatkan, lalu kemudian pria itu pergi begitu saja tanpa saling bertegur sapa.
"Hah! Apa-apaan ini?" Tiba-tiba hati Ara sedikit merasa tak terima melihat perlakuan dingin Zayn barusan.
Baru semalam pria itu memohon sambil menangis agar ia tidak meninggalkannya. Dan sekarang lihatlah yang terjadi. Pria itu seakan telah lupa dengan perkataannya yang katanya tak sanggup berpisah jauh dengan Ara.
"Ziyyan," sapanya hangat.
"Ayah?" Bocah itu langsung berhambur ke arah Zayn berada.
"Loh, nak Zayn?" Narsih tentu kaget melihat kedatangan Zayn di tempat itu.
"Iya, Bu." Kemudian Zayn meraih telapak tangan Narsih dan langsung menciumnya takdzim.
"Ayo, Nak kita di depan saja. Ibu kesini juga sama Ara," ajaknya yang langsung mendapat respon gelengan kepala dari Zayn.
"Tidak usah, Bu. Aku kesini juga kebetulan saja. Dan sekalian mau pamit sama Ziyyan." Lantas ia menatap lekat anaknya yang sudah berada didekapannya.
"Ayah mau kemana?" Bocah itu bertanya seakan paham dengan maksud perkataan Zayn barusan.
"Ayah harus kerja lagi. Mungkin beberapa hari ini kita tidak bisa bertemu. Tapi ayah janji nanti kalau ayah sudah pulang dari kerja, ayah langsung jemput Ziyyan. Kita borong mainan banyak-banyak. Oke?"
Dan bocah itu langsung mengangguk paham.
"Kalau Ziyyan kangen ayah, Ziyyan minta bunda Telpon ayah saja ya?" Tentu ini juga termasuk bagian modus Zayn. Dan bocah itu mengangguk lagi.
__ADS_1
"Ibu, aku pamit. Aku titip Ziyyan ya, Bu," ucapnya sambil menyerahkan Ziyyan ke dalam dekapan Narsih.
"Iya, Nak. Tapi apa tidak sebaiknya kamu pamit sama Ara juga?"
"Tidak perlu, Bu. Dan aku juga minta tolong sama ibu, tolong rahasiakan pertemuan kita ini dari Ara." Sekilas Zayn menatap anaknya lagi.
"Ziyyan jangan bicara sama bunda kalau bertemu ayah disini," ujarnya yang langsung diangguki Ziyyan. Kemudian Zayn mencium lama pipi anaknya itu sebelum akhirnya benar-benar pergi lewat pintu belakang restoran itu.
"Lama amat, Bu? Ziyyan kenapa di toilet?" Cerca Ara begitu Narsih dan Ziyyan sudah duduk bersama.
Sedangkan pesanan makanan dan minuman yang dipesan Ara sudah tersedia lima menit yang lalu.
"Ini tadi Ziyyan sedikit mules perutnya. Habis Ziyyan selesai, eeh... malah perut ibu yang mules." Tentu ini hanya alasan Narsih saja.
Ara hanya mendengus saat mendengar pengakuan Narsih. Lalu kemudian ia segera mengajak Narsih dan Ziyyan untuk menyantap hidangannya selagi masih hangat.
"Bunda," sapa Ziyyan disela-sela mereka menikmati sarapannya.
"Kenapa Ziyyan?"
"Iyyan kangen ayah," akunya yang langsung membuat Ara dan Narsih terhenyak kaget saat mendengarnya.
Ara menghentikan sejenak makannya, Narsih pun juga. Wanita tua itu langsung was-was saja takut cucunya itu akan membongkar pertemuannya dengan Zayn barusan.
"Kan semalam sudah ketemu, Sayang." Ara berusaha merayu anaknya yang sudah berwajah cemberut.
"Bunda telpon ayah. Iyyan kangen," rengeknya dengan wajah tertunduk.
Tentu Ara langsung menoleh jengah dengan permintaan anaknya itu. Kalau sudah begini bagaimana ia bisa benar-benar menjauh dari pria itu?
"Kita telpon nanti saja ya, Nak. Sekarang kita habiskan dulu makannya. Setelah ini kita lanjut jalan-jalan lagi." Narsih turut merayu Ziyyan yang masih ngambek.
"Ziyyan...." Ara kembali menyapanya sambil mengangkat dagunya.
"Nanti bunda telpon ayah ya?" Bocah itu kembali merengek.
"Iya." Ara pun dengan terpaksa menyetujuinya seiring helaan nafasnya yang berhembus kasar.
Dan Narsih dapat tersenyum lega kembali, setelah menyadari ternyata cucunya itu bisa diajak kompromi dengan kesepakatannya tadi bersama Zayn.
*
__ADS_1