Love Of Aurora

Love Of Aurora
Part 122


__ADS_3

"Ini dia calon pengantinnya."


Cinta langsung menyambut kedatangan Ara dan Zayn yang ikut bergabung dengan keluarga mereka di ruang keluarga itu. Meski rasanya Ara masih terlalu malu karena sedari kemunculannya kedua orangtua Zayn menatapnya terus, apalagi ia bertambah risih saat mendengar ucapan Cinta tadi.


Wanita itu pun langsung mendudukkan diri tepat disebelah Rahayu, karena disaat Viona melihat kemunculannya tadi maminya itu menuntunnya untuk duduk bersebelahan dengan calon ibu mertuanya.


Dan disebelahnya lagi Zayn turut duduk bersejajar dengan Ara. Otomatis mereka saat ini menjadi pusat perhatian seluruh keluarga yang berkumpul, mereka semua sudah penasaran tentang bagaimana keputusan akan acara lamaran yang mendadak ini.


Sedang Ziyyan, bocah itu sedari tadi tetap anteng berada dipangkuan aunty Cinta, gadis muda yang beberapa menit sebelumnya Ara begitu cemburu terhadapnya. Pandangan Cinta saat ini begitu senang begitu melihat kakaknya itu berhasil membawa Ara sekedar berkumpul bersama.


"Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh."


Suara Malik tiba-tiba memecah keheningan di ruang itu.


"Wa alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh."


Mereka yang berkumpul di sana langsung menjawab salam dari Malik, calon besan keluarga Rahardian.


Jangan tanyakan bagaimana Ara saat ini, sebab wanita itu saat ini sudah tidak bisa berucap apa-apa lagi meski sekedar menjawab salam dari calon ayah mertuanya itu. Lidahnya seketika terasa kelu, suhu tubuhnya terasa panas dingin, denyut jantungnya pun jangan ditanyakan lagi. Sudah meletup-letup tak karuan. Jemarinya terus-terusan dipilin, Hingga pria yang juga duduk bersebelahan dengannya menyadari kegugupan yang dirasa oleh Ara saat ini.


Perlahan Zayn meraih tangan Ara, ia menggenggamnya erat. Mencoba memberinya ketenangan juga berusaha menghilangkan rasa nervous nya itu. Bukannya bertambah tenang malah Ara semakin dibuat malu. Karena lirikan mata Malik langsung tertuju padanya, disaat Zayn menggenggam erat tangannya itu.


"Lebih baik saya langsung saja mengatakan maksud kedatangan keluarga kami kesini." Malik berucap lagi, namun pandangan matanya masih tertuju pada Zayn dan Ara.


Merasa malu dipandang seperti itu tentu Ara berusaha melepas genggaman itu, akan tetapi pria itu malah menambahkan satu tangannya lagi. Yang akhirnya Zayn benar-benar telah menguncinya dengan genggaman kedua tangannya.


"Tentu bapak Haris sudah tahu sebelumnya, selagi sekarang sudah ada nak Ara maka saya akan menyampaikannya sekali lagi. Mm-- nak Ara--" Malik semakin melekatkan pandangannya.


Dan Ara hanya bisa mengangguk pelan sapaan ayahnya Zayn sambil menyunggingkan senyum tipisnya kepadanya.


"Saya ayahnya Zayn. Kedatangan saya dan keluarga kesini adalah karena ingin melamar kamu untuk menjadi menantu saya, menjadi calon istri dari anak saya, Zayn. Bersediakah kamu menerima lamaran ini?"

__ADS_1


Deg deg deg deg....


"Tuhan.... Kenapa dengan jantungku sekarang? Rasanya aku ingin menghilang saja dari sini. Andai itu bisa." batin Ara bermonolog gugup.


Wanita itu masih tertunduk disaat keluarga besarnya menunggu jawaban darinya. Setitik peluh dinginnya menetes di keningnya saking gugupnya ia sekarang.


"Bagaimana, Ara?" Tiba-tiba suara Haris menyapa Ara yang hanya terdiam.


"Bismillah!" Wanita itu hanya menyebutnya dalam hati sambil kembali mengangkat wajahnya.


Di saat wajahnya terangkat ia langsung dihadapkan dengan senyum ceria Ziyyan. Bocah itu saat ini terlihat begitu senang telah dikelilingi oleh orang-orang yang begitu menyayanginya. Apalagi disaat ia melihat Cinta, sepertinya adik kandung Zayn itu sangat menyayangi Ziyyan. Dan mungkin saja semua keluarga Zayn akan menyayanginya juga.


Lalu Ara melirik sekilas kepada kedua orang tuanya yang duduk berseberangan dengannya, terlihat di sana raut wajah Haris dan Viona yang tersenyum tiada tekanan. Pertanda jika keduanya begitu senang melihat Ara telah dilamar oleh keluarga Zayn.


Dengan satu tarikan nafasnya, akhirnya ia pun harus menjawab keputusannya yang telah ditunggu oleh mereka.


"Saya..."


Seketika tangan Rahayu menyentuh tangan kanan Ara, ia mengusap pelan punggung tangan calon menantunya itu dengan penuh kasih.


"Huft. Oke!" Wanita itu bergumam lagi, tetapi kali ini sudah lebih mantap. Sebab ia sudah bisa menilai sendiri jika wanita paruh baya yang menggenggam tangannya itu adalah tipekal calon ibu mertua yang baik dan penyabar. Dan mencari sosok yang seperti itu tentu masih sulit adanya.


"Saya-- saya menerima lamarannya," ucapnya singkat. Sesingkat tarikan nafasnya yang keluar disaat mengucapkan keputusannya itu.


"Alhamdulillah......" Seru Malik dengan lega.


Semua keluarga saat ini tersenyum bahagia karena apa yang telah menjadi keinginannya terjawab sudah karena diterimanya lamaran itu oleh Ara.


Terlebih Zayn. Rasanya pria itu ingin melompat dan berteriak sekencang-kencangnya saking bahagianya, andai saat ini hanya ada dia dan Ara saja sudah tentu ia akan memeluknya erat. Akan tetapi ueforianya itu harus ia tahan, meski sebenarnya saat ini ia sangat ingin membagi kebahagiaannya itu dengan cara apa saja.


Rahayu membuka kotak bludru berwarna merah yang sedari tadi hanya disimpan didalam tasnya, kemudian ia membuka kotak itu yang isinya adalah sebuah cincin emas sederhana yang kemudian ia tautkan dijari manis Ara.

__ADS_1


"Ibu hanya bisa memberimu ini. Cincin ini adalah warisan dari eyang buyut Zayn. Beliau berwasiat kalau cincin ini pemilik terakhir yang sah adalah cicit menantunya. Akhirnya sekarang ibu bisa memakaikan sendiri di jari menantuku. Semoga kamu bisa menerimanya ya, Nak, meski tidak sebagus cincin permata yang lain," ujarnya begitu hangat.


Beralih kemudian Ara menyalimi tangan Rahayu, akan tetapi setelah ia ingin beranjak untuk menyalimi Malik sebelah tangannya masih tertahan oleh genggaman tangan Zayn.


"Ehem..." Haris berdeham dibuat-buat sekerasnya. Tentu hal itu langsung berhasil membuat Ara terlepas dari genggaman itu dan seketika raut Zayn berubah semu begitu menyadari perbuatannya itu.


"Hai, Kak." Kini giliran Cinta yang ingin bersalaman dengan Ara.


Wanita itu masih terdiam sejenak. Rasanya ia ingin sekali mengomeli gadis itu saat ini juga karena telah membuatnya cemburu dengan kata-kata sayang dan manja yang sering ia ucapkan kepada Zayn.


"Sini, biar Ziyyan aku bawa ke kamarnya." Tiba-tiba Viona mendekat lalu mengambil Ziyyan yang rupanya sudah terlelap dari pangkuan Cinta.


"Aku Cinta, adiknya bang Zayn. Maaf ya kalau aku pernah buat kakak cemburu kemarin," ucap Cinta sambil nyengir tanpa salah.


Lalu kemudian Ara dan Cinta saling berjabat tangan dan tentu gadis muda itu langsung mencium tangan Ara, karena merasa dia adalah sebagai kakak iparnya mulai sekarang.


Spontan Ara langsung menarik tangannya setelah adik iparnya itu menyalaminya. Karena sebenarnya ia masih risih diperlakukan seperti itu oleh Cinta. Tak lama setelahnya mereka pun hanya saling melempar senyum.


"Karena keputusannya sudah terjawab, bagaimana kalau kita makan dulu?" Haris mengajak mereka untuk makan malam bersama.


"Terimakasih pak Haris. Tapi sebenarnya ada yang masih ingin saya bicarakan." Malik mencegahnya dengan perkataannya yang menggantung.


Semua sorot mata tertuju padanya yang sudah berwajah serius, bahkan lebih serius dari tadi.


"Melihat kedua anak kita yang sudah begini, bagaimana kalau kita mempercepat pernikahan mereka?" Malik berucap demikian karena sedari tadi ia melihat sendiri Zayn yang sudah tidak mau melepas genggaman tangan Ara, meski didepan keluarga besarnya.


"Itu lebih baik. Jadi kapan rencananya?" Haris menyambut hangat usulan dari besannya.


"Secepatnya lebih baik. Bagaimana kalau besok?" Malik berujar begitu mantap.


"Besok?" Bersamaan Ara dan Zayn dibuat kaget setelah mendengarnya.

__ADS_1


Waduh 😬


__ADS_2