
Pagi ini wajah Zayn terlihat uring uringan dan juga terlihat sangat masam. Dirinya yang masih betah menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut tebal itu, menatap heran kepada Ara yang seakan tak pernah melakukan kesalahan terhadapnya semalam.
Setelah penyatuan raganya semalam yang seharusnya bisa mencapai beberapa ronde, ternyata harus selesai satu ronde saja. Itu pun berhenti secara terpaksa akibat Ara yang benar benar tak mau diajak lanjut bercocok tanam lagi.
Kejadian itu masih dipicu oleh hal yang sama, yaitu tiba tiba Ara merasa sangat terganggu oleh aroma keringat Zayn yang sebenarnya tidak bau. Entah mengapa penyebabnya, yang pasti Ara sangat tak suka dan bisa benar benar marah jika Zayn tak menuruti perintahnya untuk segera membersihkan diri guna menghilangkan bekas keringatnya itu.
Perdebatan kecil sempat terjadi diantara mereka semalam. Dari mulai protes Ara yang terus-terusan mengancam Zayn bahwa dirinya lebih baik pisah ranjang jika Zayn tak segera mandi untuk menghilangkan jejak keringatnya. Apalah daya, Zayn yang benar benar tak mau kejadian pisah ranjang itu terjadi, lebih baik mengalah dan menurutinya saja.
"Sudah mulai siang loh, Mas. Masih betah aja dikasur," sapa Ara begitu sudah selesai merias diri.
Zayn tetap bergeming. Meski sebenarnya ia sudah penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya itu, akan tetapi ia memilih menahan rasa penasarannya itu. Sebab kali ini badannya sungguh terasa tak enak, roman romannya seperti sedang masuk angin, efek semalam mandi dalam kondisi tubuh berkeringat.
"Mas.." Ara mendekat ke arah Zayn berbaring. Setelah itu ia duduk tepat disebelahnya sembari ingin membuka selimut yang dipakai Zayn.
"Aku masih ingin tidur lagi," cegah Zayn, sambil menarik kembali selimutnya, menutupi tubuhnya sebatas lehernya.
Kali ini giliran Ara yang bergeming. Ia merasa ada sedikit yang berbeda dari sahutan Zayn barusan. Terkesan cukup singkat, simple, tanpa ada nada nada manja serta panggilan sayang.
Apa mungkin suaminya itu lagi mode merajuk efek kejadian semalam? Jika itu benar, sungguh Ara sangat menyesalinya. Sesungguhnya ia tak pernah berkeinginan mempermasalahkan bau keringat itu, sebab sebelumnya Ara memang tak pernah mempermasalahkannya. Akan tetapi entah mengapa belakangan ini Ara sangat tak suka bila berdekatan dengan Zayn dengan tubuhnya penuh keringat.
"Mas..." Beralih Ara memeluk erat tubuh suaminya yang masih terbungkus selimut.
"Jangan begini, entar yang ada aku disuruh mandi lagi." Meski memprotesnya, tetapi Zayn tak berniat memindah lengan istrinya yang melingkari badannya. Pria itu tentu sangat menikmati dipeluk oleh istri seperti ini.
"Nggak akan." Tentu Ara menyahut begitu karena memang saat ini Zayn sama sekali tak berkeringat. Dan Ara merasa baik baik saja.
"Bangun dong, Mas. Kita turun, aku sudah lapar nih..," ajak Ara, masih dalam posisinya yang berbantalkan dada bidang suaminya.
"Kamu kenapa tiba tiba nggak suka kalau aku berkeringat? Bau?"
Ara menggeleng lemah. Ia benar benar tak bisa menjelaskan mengapa dirinya bisa begitu.
__ADS_1
"Perasaan sebelumnya kamu nggak gini deh."
"Aku nggak tahu, Mas. Tiba tiba saja bau keringatmu itu bikin aku ilfil."
Zayn memilih diam, tak berniat memperpanjang rasa penasarannya itu. Beralih kedua tangan pria itu turut memeluk tubuh istrinya yang membenamkan sebagian tubuhnya diatas badannya yang masih terlentang.
"Jadi sekarang aku nggak bau keringat?"
Ara menggeleng yakin. Sedetik kemudian ia mengangkat tubuhnya, lalu duduk kembali menatap heran pada suaminya yang tidak berkeringat sama sekali meski sedang berselimut tebal.
"Mas baik baik saja 'kan?" Tangannya terulur untuk menyentuh kening Zayn.
"Aku memang lagi sedikit demam, Sayang.."
"Iya, agak hangat."
"Makanya aku mau tidur lagi. Kamu bisa pesan makanan kesini kalau emang sudah sangat lapar."
Meski tak menyahut, akan tetapi wanita itu lekas beranjak mengambil ponselnya. Ia memang sedang memesan makanan lewat sebuah aplikasi pengantar makanan. Tak lupa ia juga memesan obat pereda gejala masuk angin buat suaminya.
Setelah menunggu hampir setengah jam lamanya, akhirnya pesanan pun datang. Dua kantong kecil berisikan berbagai macam jajanan gorengan langsung disantap nikmat olehnya.
"Katanya lapar, kok cuma pesan gorengan?" Tanya Zayn, sambil mencermati istrinya yang begitu lahap menggigit gorengan jenis tahu.
"Lagi kepingin makan ini," sahutnya, masih begitu asyik menikmati gorengan ditangannya.
"Aku pesanin kamu bubur ayam. Masih hangat loh, Mas." Wanita itu melangkah mendekat ke arah Zayn berbaring.
Pria itu lekas merubah posisinya untuk segera duduk bersandarkan papan ranjangnya. Harapannya tentu ia ingin istrinya itu memanjakannya lewat menyuapinya. Akan tetapi ekspektasi tak sesuai harapan. Ara mengatur jarak kembali begitu lagi lagi mencium aroma keringat dari tubuh Zayn.
"Mas, mandi gih.." perintahnya tiba tiba.
__ADS_1
"Aku berkeringat gini pertanda aku nggak jadi demam, malah disuruh mandi."
"Tapi aku nggak suka baunya, Mas.." Kali ini diikuti Ara menutup hidungnya dengan sebelah tangannya.
"Oke, aku pake parfum." Zayn turun dari ranjangnya, berjalan cepat mengambil parfumnya.
"Sudah wangi kan?" ungkapnya percaya diri, melangkah mendekat kepada istrinya.
"Kamu ganti parfum, Mas. Aku nggak suka baunya.." Rupanya Ara semakin menjauh dari keberadaan Zayn.
Pria itu berdiri mematung sambil menciumi aroma tubuhnya yang dirasa sangat wangi, efek disemproti banyak parfum olehnya.
"Wanginya seger kok. Aku nggak pernah ganti parfum loh, Sayang.."
"Mas, jangan mendekat. Tetap disitu. Atau aku.."
Huweeeek.... Huweeeeek....
Ara berhambur berlari kedalam kamar mandi setelah tubuhnya terasa tiba tiba bergejolak. Melihat istrinya begitu, pasti Zayn turut menyusulnya.
"Stop! Jangan ikut masuk." cegah Ara dengan mengangkat sebelah tangannya kepada Zayn yang tertahan diambang pintu saja.
"Kamu tuh sakit, Sayang." Pria itu sama sekali tak mengindahkan ucapan istrinya. Ia masuk kesana dan langsung membantu memijiti tengkuk istrinya yang masih terus muntah muntah.
Rasa panik bercampur gelisah tentu menjadi satu. Sebab selama ia hidup bersama Ara, sama sekali ia tak pernah melihat istrinya itu muntah muntah sepagi ini.
"Kita ke dokter ya? Kamu periksa. Aku khawatir kamu begini.." tutur Zayn disela memijiti punggung istrinya begitu perhatian.
"Kamu keluar, Mas. Aku jadi tambah mual."
Huweeek... Huweeek....
__ADS_1
Meski sangat tak tega, akhirnya Zayn pun melangkah mundur. Tatapannya tentu masih terheran heran. Baru saja istrinya itu baik baik saja, kali ini berubah begini hanya karena bau keringat bercampur parfum. Aneh!
*