
[Selamat menempuh hidup baru abangku yang paling tampan seantero jagad raya, yang paling baik dan pastinya kesayanganku๐๐๐]~Cinta
[Terimakasih adikku yang paling cantik]~Zayn
[Jangan lupa berdo'a dulu ya, Bang]~Cinta
[Do'a? Maksudnya?]~Zayn
[Do'a itu loh, Bang๐]~Cinta
[Apaan sih? Abang nggak ngerti!]~Zayn
[Yaelaaah... Abang pake pura-pura nggak ngerti lagi. Sebelum memulai pertempuran pembuatan keponakanku]~Cinta
[Aiiih?? ๐๐๐]~Zayn
"Kampret nih anak!"
Seketika Ara langsung menyudahi bacanya dengan umpatan kesalnya setelah tadi diam-diam membaca pesan yang Zayn bilang dari Cinta, adiknya.
Bahkan wanita itu sempat berpikir sendiri sekaligus merasa sedikit takut bercampur malu andai saja Zayn benar-benar akan meminta haknya malam ini seperti yang Cinta bahas di obrolan chat nya itu.
Merasa penasaran lagi akhirnya Ara kembali melanjutkan bacanya, selagi Zayn masih belum selesai dari kamar mandi.
[Pokoknya buatkan aku ponakan cewek yang cantik. Secepatnya! Nggak pake lama! Titik!]~Cinta
[Kan sudah ada Ziyyan, Ta?]~Zayn
[Ziyyan kan cowok, Bang. Aku pinginnya punya ponakan yang lengkap, ada cowok sama cewek]~Cinta
[Baiklah adik abang yang bawel. Akan abang buatkan!]~Zayn
[Asssyyiiiiik......๐ค]~Cinta
"Aaaargggh...... Nih anak masih bau kencur gitu udah bahas hal yang--" Ara tak jadi melanjutkan umpatan herannya itu, karena ia sendiri terlalu risih untuk meneruskan kalimatnya.
Ceklek.
Secepatnya Ara langsung mengembalikan ponsel Zayn itu ke tempat semula begitu mendengar suara pintu kamar mandinya terbuka. Wanita itu kembali berpura-pura melanjutkan aktifitasnya yang ternyata masih belum selesai melepas kerudung yang dipakainya.
__ADS_1
Zayn keluar dengan rambut yang sedikit basah dengan wajah yang sudah segar dipandang mata. Beruntung saja tadi Cinta membawakannya pakaian ganti, karena jika tidak bisa jadi ia akan terus memakai pakaian pengantinnya atau mungkin akan meminjam pakaian Haris. Tapi rasanya tak mungkin Zayn akan meminjam pakaian milik mertuanya, malu dong?
Pria itu mendekat kepada Ara yang masih betah di tempatnya yang tadi.
"Masih belum selesai?" Tanyanya tanpa basa-basi setelah mengetahui ternyata Ara masih belum selesai melepas gaun pengantinnya itu.
Wanita itu hanya bergeming. Ia masih saja menyibukkan diri tanpa ingin dibantu siapapun membuka kerudungnya, padahal itu lumayan sulit melepasnya.
Zayn memilih kembali diam karena sepertinya Ara sedang tak mau diajak mengobrol. Ia masih tetap berdiri dibelakangnya sambil ikut bercermin dan turut menyisir rambut basahnya hanya dengan jarinya.
"Aduh!" Ara bersuara lirih, ketika tak sengaja jarinya tertusuk jarum kecil pengait hijab yang digunakannya.
"Kenapa?" Zayn langsung menarik tangan Ara, rupanya jari telunjuk wanitanya itu telah mengeluarkan setetes darah.
"Eh eh... mau diapakan?" Ara langsung panik ketika Zayn semakin menarik jarinya lebih mendekat ke wajahnya.
"Kamu pikir mau aku apakan?" Beralih Zayn mengambil selembar tissue yang kebetulan juga berada diatas meja rias itu, lalu kemudian mengusap bersih darah yang menetes dijari Ara begitu pelan.
"Aku kira mau dimasukkan ke mulut kayak di film-film lebay itu." Bathin Ara mengoceh.
"Makanya hati-hati." Zayn menyudahi kegiatannya.
"Lain kali kalau suami mau bantu tuh jangan membantah, biar nggak ketusuk lagi jarinya." Tanpa menunggu persetujuan dari Ara, tangan Zayn langsung melepas satu persatu jarum kecil yang masih menempel di kerudung Ara.
Dan Ara hanya terdiam lagi dengan pikirannya yang mencoba mencerna ucapan dari pria yang sudah berhasil melepas kerudungnya.
"Sudah, selesai kan?" Ujarnya sambil merangkum pundak Ara dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Ara, saling berpandang lewat pantulan cermin didepannya.
Ara sedikit mengulaskan senyum kecilnya, akan tetapi seketika ia berubah panik ketika Zayn juga ingin membuka pakaiannya.
"Aku bisa sendiri!" Tolaknya dan langsung menyingkirkan tangan Zayn dari tubuhnya.
"Oh, ya sudah." Beranjak Zayn malah pergi duduk ditepi ranjang sambil terus memperhatikan Ara yang masih tak kunjung melepas pakaiannya.
"Ngapain kamu masih disitu?"
Tentu Ara tak akan mau melepas pakaiannya selagi ada Zayn, karena ia masih belum terbiasa. Meski sebenarnya sudah tidak ada dosa lagi diantara mereka, memperlihatkan tubuh terbukanya hanya kepada pasangan halalnya.
"Duduk." Zayn menyahut sekenanya. Dan Ara hanya bisa menatap jengah kepadanya.
__ADS_1
"Ia aku tahu kamu lagi duduk. Maksudku kenapa kamu masih di sini?"
"Nunggu kamu." Pria itu masih terlihat santai, meski ia sudah melihat ada raut kesal yang terpancar dari Ara.
"Aku nggak perlu ditunggu. Kalau kamu sudah lapar, langsung kebawah saja. Aku mungkin akan lama."
Seakan mengerti dengan maksud ucapan Zayn, ia pun langsung menyuruhnya untuk makan dulu, mungkin kedua orangtuanya sudah menunggu mereka dibawah.
"Aku tetap akan tunggu kamu sampe selesai mandi." Zayn tetap dengan pendiriannya.
Meski sebenarnya perutnya sudah terasa sedikit melilit meminta diisi, akan tetapi ia masih menahannya. Ia bisa saja keluar sendiri untuk makan malam bersama keluarganya dibawah, akan tetapi ia tak mau perbuatannya itu akan menimbulkan tanda tanya baru dikeluarga Ara. Pastinya mereka akan menduga kalau diantara dirinya dan Ara ada suatu hal yang sedang tidak baik, secara mereka masih menjadi pasangan pengantin baru yang biasanya terkesan sangat mesra dan romantis.
"Kalau kamu mau buka, silahkan." Zayn kembali bersuara.
Seketika sorot mata Ara melotot sempurna kepadanya. Menyadari dibegitukan, Zayn hanya bisa terkekeh, kembali gemas dengan istrinya yang malu-malu bercampur kesal kepadanya.
"Aku nggak mungkin lihat, selagi kamu belum ikhlas aku lihatnya," ujarnya yang sedikit bisa mengurai kepanikan Ara saat ini.
"Beneran nggak lihat? Awas loh kalo ngintip!" Ara pun hanya bisa pasrah, masih sambil melontarkan ancamannya kepada Zayn.
"Iya!" Zayn mengangguk.
"Sana tutup matanya!" Ara sudah tak sabar ingin segera melepas pakaiannya, yang membuatnya terasa menyulitkan pergerakannya.
Pria itu tidak menuruti perintah Ara, ia malah memilih berbaring di ranjang itu kemudian membalik tubuhnya membelakangi Ara.
"Sudah. Aku begini saja," ucapnya kemudian.
Merasa sudah aman karena Zayn tak merubah posisinya, akhirnya Ara segera melepas pakaiannya sedikit lebih cepat.
Satu pakaian atasnya sudah terlepas, tinggal kaos dalam yang masih melekat dan tentu kain jarit yang juga masih terpakai. Ara kembali melihat kepada Zayn yang tetap tak bergerak, terukir senyum tipisnya karena ternyata pria itu menepati ucapannya.
Akhirnya ia pun memilih melanjutkan membukanya didalam kamar mandi saja, demi keamanannya, karena masih ragu takut-takut pria itu akan membalikkan badan disaat dirinya asyik melucuti satu persatu pakaian terdalamnya.
Hingga pada sampai Ara sudah selesai dengan kegiatannya dikamar mandi, rupanya Zayn masih tetap dengan posisinya yang semula.
Wanita itu mencoba mendekatinya karena merasa ada yang aneh dengan Zayn yang tidak bergerak sama sekali. Langkahnya sedikit berjinjit takut kepergok olehnya. Samar-samar terdengar dengkuran halus dari balik punggung pria yang begitu nyaman berbaring di ranjang miliknya.
"Loh, tidur?"
__ADS_1
*